Ruangan itu terlalu besar untuk ditinggali seorang diri.
Langit-langitnya tinggi, dindingnya dihiasi lukisan tua bergaya Eropa yang menatap seperti tahu terlalu banyak. Tempat tidurnya berukuran king, sepreinya putih bersih. Tapi tak ada kehangatan. Hanya sunyi… dan ketakutan yang perlahan merayap di sela-sela waktu.
Gadis itu duduk di pinggir ranjang, menggenggam ponsel tanpa sinyal. Sejak dia dibawa ke rumah ini—atau lebih tepatnya, istana neraka—tidak ada yang bisa dia akses dari dunia luar. Tak ada koneksi. Tak ada jalan keluar.
Hanya satu pintu. Dan satu kunci yang tak pernah dia pegang.
---
Pagi itu, pintu kamarnya diketuk pelan.
“Masuk,” gumamnya lemah.
Seorang wanita paruh baya muncul, mengenakan seragam pelayan berwarna hitam dengan apron putih. Wajahnya datar, tapi sopan.
“Tuan ingin bertemu Anda. Sekarang.”
Dia meneguk ludah. “Di mana?”
“Di ruang makan utama.”
“Dia... suka makan pagi?”
Wanita itu menunduk ringan. “Tuan tidak sarapan. Tapi Anda harus ada di sana.”
---
Ruang makan utama seperti museum kerajaan. Meja panjang dari kayu ek tua, lampu gantung kristal, dan jendela besar yang memperlihatkan kabut pagi.
Dan di ujung meja itu, duduklah dia.
The Devil.
Mengenakan kemeja hitam, kancing atas terbuka, memegang secangkir espresso yang mengepul ringan. Tatapannya tajam, seperti selalu bisa menebak ketakutan yang belum sempat kau ucapkan.
“Kau terlambat,” katanya pelan, tanpa menoleh.
“Aku tak tahu jam berapa…”
“Di rumah ini, jamku adalah waktumu.”
Dia duduk, perlahan. Piring berisi roti panggang dan buah-buahan sudah tersedia di depannya. Tapi dia tak menyentuhnya.
“Apa ini... awal dari penyiksaan mental?” tanyanya, mencoba terdengar berani.
Sang iblis menoleh, menatapnya langsung. “Jika aku ingin menyiksamu, kau tak akan sempat bicara.”
Diam.
Dia mengambil napas. “Kenapa aku di sini, sebenarnya? Kau bisa membunuhku sejak dulu, tapi kau malah... mengurungku seperti boneka mahal.”
Pria itu menyandarkan tubuhnya ke kursi, jari-jarinya mengetuk meja perlahan.
“Karena aku ingin kau tahu,” katanya. “Dunia ini tidak seperti dongeng. Dan aku bukan pangeran. Aku adalah akhir dari segalanya.”
“Aku bukan bagian dari dunia ini.”
“Kau telah menjadi bagian dariku sejak lima tahun lalu. Sejak kau menerima hidup yang kuberi.”
“Karena aku tidak punya pilihan!”
Dia berdiri, marah. Tapi pria itu tetap duduk tenang.
“Kau bisa pergi sekarang juga… jika siap melihat orang-orang yang kau cintai mati satu per satu.”
Matanya melebar. “Kau—”
“Aku tidak mengancam. Aku memberi kenyataan.”
---
Siang hari, dia diberi tur rumah oleh pelayan yang sama. Ada ruangan perpustakaan luas, lorong rahasia, dan ruang senjata tersembunyi di balik dinding.
“Berapa banyak orang yang tinggal di sini?”
“Hanya Tuan dan Anda. Pelayan hanya bertugas siang hari.”
“Dan malam?”
“Dia sendirian. Tidak pernah tidur.”
---
Malam itu, dia keluar dari kamar. Tak bisa tidur. Pikiran kacau. Dia menyusuri lorong, hingga menemukan ruangan dengan pintu sedikit terbuka. Ada cahaya api dari dalam.
Dia mengintip. Dan melihat punggung pria itu.
Dia sedang berdiri di depan perapian. Di tangan kirinya—pistol. Di tangan kanannya—gelas whiskey.
Tubuhnya berotot, penuh luka bekas tembakan. Tapi yang membuatnya terpaku adalah... punggung pria itu penuh tato. Ada simbol iblis, tulisan Latin, dan angka yang diukir seperti bekas neraka.
“Menikmati pertunjukan?”
Dia terlonjak. Pria itu menoleh. Matanya bersinar karena cahaya api. Nafasnya berat. Tapi tidak marah.
“Masuklah. Kalau kau ingin tahu siapa aku sebenarnya.”
Gadis itu ragu. Tapi langkah kakinya melawan logika. Dia masuk. Pintu tertutup pelan di belakangnya.
---
“Apa semua ini?” tanyanya pelan.
“Lukaku. Kebenaranku. Dosa-dosa yang kubawa di tubuhku.”
“Kau tidak takut... semua akan berakhir?”
Pria itu mendekat. Jarak mereka hanya beberapa jengkal.
“Segalanya akan berakhir. Tapi sebelum itu terjadi, aku ingin satu hal.”
“Apa?”
Dia menunduk. Menatap wajah gadis itu yang kini mulai terbakar oleh intensitas pandangan mereka.
“Bahwa sebelum semuanya musnah... kau sudah benar-benar menjadi milikku.”
---
Tak ada ciuman. Tak ada sentuhan. Tapi udara di antara mereka terlalu tebal. Terlalu panas.
Dan di balik dinginnya sang iblis… ada sesuatu yang lebih berbahaya dari peluru.
Perasaan.
---
✦
Ketika iblis jatuh cinta, dunia tak akan terbakar. Tapi akan membeku... menunggu kehancuran berikutnya.