Tiga hari.
Sudah tiga hari dia tinggal di rumah itu—dunia yang tak mengenal pagi, tak peduli malam, dan hanya punya satu hukum: kehendak pria itu. Pria yang menepati janji seperti iblis, dan menyayangi dengan tatapan yang tak bisa ditebak.
Dia belum tahu nama lengkap pria itu. Semua orang menyebutnya "Tuan." Kadang "The Devil." Kadang hanya... "Dia."
Tapi hari itu, untuk pertama kalinya, dia mendengar seseorang memanggil nama aslinya.
“Rafael.”
Suara berat itu datang dari seorang pria berjubah hitam yang tiba-tiba muncul di lorong rumah. Tubuhnya tinggi, kulitnya pucat seperti hantu, dan matanya... biru es.
Rafael—atau The Devil—muncul dari balik pintu ruang kerjanya. Tatapannya langsung berubah dingin.
“Dante,” katanya datar.
Wanita itu berdiri di tengah lorong, tak tahu harus ke mana. Pria asing ini terasa... berbahaya. Tapi bukan seperti Rafael. Bahayanya berbeda. Lebih gila. Lebih... haus darah.
“Sudah kubilang jangan datang ke rumahku tanpa izin,” kata Rafael pelan, tapi nadanya mengancam.
Dante tersenyum tipis. “Aku datang sebagai teman lama. Dan pembawa pesan.”
“Aku tak suka pesan. Apalagi dari mereka.”
“Mereka sudah tahu kau menyembunyikan dia.”
Jantung gadis itu mencelat. Siapa yang dia maksud dengan "mereka"?
Rafael melangkah maju, menutupi tubuh wanita itu dengan tubuhnya. Protektif.
“Kalau mereka menyentuhnya... aku akan membakar kota ini.”
Dante tertawa kecil. “Lucu. Kau bilang seperti itu juga lima tahun lalu. Tapi saat itu, kau malah menyelamatkan seorang gadis rendahan.”
“Jaga mulutmu,” desis Rafael. “Dia bukan rendahan. Dia milikku.”
Dante menatap wanita itu untuk pertama kalinya. Wajahnya datar, seolah sedang menilai.
“Dia... belum siap,” gumamnya. “Tapi dia akan jadi pemicu perang kalau tetap di sini.”
---
Setelah Dante pergi, Rafael menutup semua tirai rumah. CCTV digandakan, penjagaan diperketat. Gadis itu tak diizinkan menyentuh apapun yang bisa memberi sinyal ke luar. Bahkan kamarnya diperiksa setiap malam.
Dia menahan marah, tapi juga... bingung.
“Apa maksud semua ini?” tanyanya saat malam turun, dan mereka berdua duduk di ruang kerja Rafael.
Rafael menatapnya dalam-dalam. “Dunia bawah tak pernah lupa wajah.”
“Siapa ‘mereka’?”
“Orang-orang yang dulu ingin kau jual kepada kartel.”
Gadis itu tercekat. Luka lama mengoyak kembali.
“Aku pikir... mereka sudah mati semua.”
“Mereka hanya mundur. Sekarang mereka tahu kau hidup. Dan aku menyembunyikanmu.”
Dia menggigit bibir. “Kenapa kau lakukan itu? Kau bisa saja menyerahkan aku dan bebas dari semua ini.”
“Karena kau milikku.”
“Kenapa?!” bentaknya, berdiri. “Kenapa aku?! Dari semua perempuan yang bisa kau miliki... kenapa aku?”
Rafael berdiri perlahan. Suaranya dalam dan gelap.
“Karena kau satu-satunya yang melihat darahku dan tidak lari.”
---
Malam itu, gadis itu tak bisa tidur. Dia mengendap keluar kamar, menyelinap ke perpustakaan—tempat Rafael jarang menyentuhnya.
Di sana, dia menemukan berkas tua. File hitam. Tanpa label.
Dia membukanya dengan tangan gemetar.
“Rafael de Castagna.”
Foto hitam putih. Usia sekitar 17. Luka di pipi. Tatapan penuh dendam.
“Eksperimen gagal proyek ‘Iblis Putih’ oleh organisasi X.”
Tangannya bergetar. Halaman demi halaman berisi catatan eksperimen manusia. Rafael—diculik, dilatih, ditempa menjadi senjata hidup.
Dan ketika proyek gagal, dia melarikan diri... membentuk kekuatan sendiri... dan membalas dendam ke setiap ilmuwan yang menyentuhnya.
“Satu-satunya objek eksperimen yang berhasil bertahan hidup. Memiliki daya tahan tubuh abnormal, dan tidak merespons racun.”
Air matanya jatuh.
Rafael bukan hanya iblis... dia adalah hasil buatan manusia yang gagal paham tentang Tuhan.
---
Saat dia menutup berkas itu, suara pintu terbuka perlahan.
“Jangan sentuh yang bukan milikmu.”
Dia membalikkan badan. Rafael berdiri di ambang pintu, wajahnya datar. Tapi matanya... luka.
“Aku hanya ingin tahu kebenaran.”
“Kebenaran tak akan membuatmu bahagia.”
“Kau masih manusia, Rafael.”
Dia mendekat. “Bukan. Aku... adalah sisa dari manusia yang dibentuk menjadi monster.”
Rafael mengambil berkas itu dari tangannya. “Mereka menyiksaku. Tapi kau... kau menyelamatkanku hanya dengan menatapku tanpa takut.”
Dia mendekat. Tangannya terangkat, menyentuh pipi gadis itu. Hangat. Aneh.
“Aku tak bisa mencintai seperti orang normal.”
Dia tak menjawab.
“Tapi aku bisa menghancurkan dunia demi satu orang.”
Dan saat dia mendekat, hampir menyentuh bibirnya...
Terdengar suara ledakan di luar jendela.
Alarm rumah berbunyi.
Dan neraka... baru saja dimulai.
---
✦
Kadang, yang paling ingin melindungimu adalah yang paling rusak. Dan saat iblis mencoba mencintai... langit pun belajar gemetar.