Ledakan itu mengguncang seluruh rumah.
Cahaya merah membelah langit malam. Kaca jendela retak, alarm meraung seperti lolongan serigala yang terluka. Gadis itu terjatuh ke lantai, membekap telinganya sambil menatap Rafael yang langsung berubah—wajah dingin itu kini kembali jadi mesin pembunuh yang selama ini tersembunyi di balik tatapan tajam.
“Jangan ke mana-mana,” katanya cepat.
Dia keluar dari ruangan, pistol besar tergenggam di tangan kanannya, sementara tangan kirinya menekan earpiece kecil di telinganya.
“Perimeter barat, masuk dari sisi selatan! Siapkan posisi tembak! Jangan biarkan satu pun masuk!”
Suara tembakan mulai terdengar. Peluru-peluru memecahkan malam. Tapi gadis itu tidak tinggal diam. Meski tubuhnya gemetar, dia tahu... kali ini, dia tidak bisa hanya menunggu.
Dia berlari ke kamarnya, membuka laci kecil yang ternyata berisi senjata kecil—pisau perak yang pernah ditunjukkan Rafael padanya waktu mereka latihan bela diri dua malam lalu. Dia ragu. Tapi kemudian menggenggamnya kuat-kuat.
“Aku bukan gadis lemah yang dulu...” bisiknya.
---
Di halaman luar, pasukan berpakaian hitam bersenjata lengkap sudah masuk. Mereka bukan penjahat biasa. Gerakan mereka terlatih. Kepala mereka ditutupi helm dengan simbol serigala putih.
“Target harus hidup!” teriak salah satu dari mereka. “Yang lainnya boleh mati!”
Rafael melompat dari balkon lantai dua dan mendarat dengan sempurna. Senjatanya langsung meledakkan dua kepala musuh dalam satu tembakan.
Tapi jumlah mereka terlalu banyak.
Darah mulai membasahi rumput. Mayat berserakan. Rafael bertarung seperti iblis sungguhan—tanpa ampun, tanpa suara, hanya kematian.
Tapi seorang sniper muncul dari balik atap tetangga, dan...
DOR!
Satu peluru menembus bahu Rafael.
Dia terhuyung. Tapi tak jatuh.
Sniper itu bersiap menembak lagi.
Lalu…
SRET!
Pisau kecil menancap di leher sniper dari belakang. Gadis itu berdiri di belakangnya, napas terengah, tangan berlumuran darah.
“Aku bilang jangan ke mana-mana,” kata Rafael, separuh marah, separuh terkejut.
“Aku bukan bonekamu,” jawab gadis itu.
---
Setelah 20 menit neraka, rumah itu sunyi lagi. Mayat-mayat musuh bergelimpangan. Tapi bukan itu yang menakutkan.
Yang menakutkan adalah pesan yang tertulis di dinding dengan darah:
> "KITA TAHU SIAPA DIA. DAN DIA TIDAK MILIKMU SEORANG."
Rafael berdiri diam di depan tulisan itu. Bahunya masih berdarah, tapi matanya... jauh lebih luka.
---
Di dalam rumah, luka Rafael dibersihkan oleh gadis itu. Mereka duduk di sofa panjang. Lampu temaram. Wajah mereka hanya berjarak beberapa inci.
“Aku pikir... dunia gelap ini hanya tentang pembunuhan dan kekuasaan,” katanya pelan.
“Dunia ini tentang bertahan. Siapa yang lemah, dilumat.”
“Dan aku bagian dari semua ini sekarang?”
Rafael menatapnya. Lama. Dalam.
“Kau lebih dari itu.”
Gadis itu menghela napas. “Kau bilang mereka tahu siapa aku. Tapi... siapa aku sebenarnya?”
Rafael menunduk. Tangannya perlahan menggenggam jemarinya.
“Kau bukan gadis biasa. Kau anak dari seseorang yang dulu berkhianat pada mereka. Mereka tak hanya ingin kau mati... mereka ingin darahmu sebagai simbol peringatan.”
“Siapa?”
Rafael menatap langsung ke matanya. “Kau anak dari lelaki yang dulu menciptakan aku.”
Dunia gadis itu runtuh.
Ayahnya... adalah bagian dari organisasi yang menyiksa Rafael?
“Aku tidak tahu... aku tidak tahu apa-apa...”
“Aku tahu,” Rafael membisik. “Itulah kenapa kau masih hidup. Karena aku tidak ingin kau mengulang dosa ayahmu.”
Air matanya jatuh. Tapi Rafael menghapusnya dengan ibu jarinya.
“Kalau kau ingin pergi, pergi sekarang. Setelah malam ini... perang sudah dimulai.”
Dia menatap Rafael. Luka di tubuh pria itu. Luka yang lebih dalam di hatinya.
“Aku tidak akan pergi.”
“Kenapa?”
Dia menarik napas. “Karena jika dunia akan terbakar, aku tidak ingin terbakar sendirian.”
Rafael menatapnya lama. Kemudian, untuk pertama kalinya...
Dia mencium kening gadis itu.
Dan dalam keheningan ruang tamu yang berlumuran darah dan luka... dua jiwa yang hancur mulai membangun sesuatu.
Entah cinta.
Entah kehancuran baru.
---
✦
Perang sudah dimulai. Dan cinta bukan lagi perisai—tapi alasan untuk bertahan di medan penuh darah.