Tiga hari sejak penyerangan.
Rumah Rafael berubah seperti benteng perang. Jendela-jendela ditutup plat besi. Penjagaan di tiap sudut. Bahkan kamar mandi pun dipasangi kamera keamanan. Semuanya berubah jadi paranoia. Tapi tidak dengan satu hal: tatapan Rafael terhadap gadis itu.
Ia masih lembut. Tapi juga gelap. Seperti seseorang yang tahu waktunya tak banyak.
---
Pagi itu, Rafael memanggilnya ke ruang bawah tanah.
Dia tak pernah tahu ada pintu rahasia di balik rak buku di perpustakaan. Tapi di situlah, dia menemukan lorong panjang menuju ruangan dingin yang mirip bunker. Di dalamnya, layar-layar besar menampilkan wajah-wajah pria tua bersetelan jas—mereka semua duduk di kursi kayu, seperti dewan rahasia.
“Kita terhubung langsung ke Meja Hitam,” gumam Rafael. “Kelompok tertua di dunia bawah.”
Salah satu pria di layar bicara. Suaranya serak, tapi nadanya penuh kuasa.
“Rafael. Kau melindungi anak dari musuh. Itu pengkhianatan.”
“Dia tidak tahu apa-apa.”
“Darahnya tetap darah pengkhianat.”
“Darahnya bukan dosanya,” Rafael menjawab pelan. “Kalau kalian menyentuhnya, aku akan keluar dari Meja Hitam. Dan aku akan jatuhkan kalian satu per satu.”
Para pria tertawa. Tapi kemudian, satu dari mereka menatap ke arah kamera.
“Dia sudah tahu terlalu banyak. Dan Agen K sedang menuju tempatmu.”
Sambungan diputus. Layar mati.
Gadis itu berdiri terpaku.
“Agen K?” bisiknya.
“Pemburu bayangan,” jawab Rafael. “Pembunuh nomor satu di jaringan mereka. Dan dia mantan muridku.”
---
Malam itu, Rafael mempersiapkan pelarian. Dia tak bilang langsung, tapi gadis itu tahu. Dia bisa membaca bahu Rafael yang kaku, napasnya yang pendek, dan caranya menyembunyikan pistol di belakang jaketnya.
“Aku tak akan lari,” katanya.
“Kita tak punya pilihan.”
Dia memegang tangan Rafael. “Kalau aku pergi, kau akan lawan mereka sendirian.”
Rafael menatapnya. “Bukankah itu sudah takdirku?”
“Tapi bukan takdirku membiarkanmu mati.”
Dia menggenggam pipinya. Untuk pertama kalinya, gadis itu mencium Rafael lebih dulu. Bukan karena takut kehilangan. Tapi karena dia mulai mencintai pria yang mestinya dia benci.
Cinta yang lahir dari luka. Tapi tetap cinta.
---
Tengah malam.
Suara langkah pelan terdengar di lantai atas. Bukan penjaga. Bukan pelayan.
Satu sosok wanita berdiri di depan pintu utama. Rambut panjang, mantel hitam, dan... topeng merah.
“Agen K,” gumam Rafael dari balik kamera.
Dia berjalan masuk, santai seperti sedang menyapa rumah sendiri.
Satu per satu penjaga Rafael jatuh tanpa suara. Tusukan di leher. Peluru di jantung. Tak ada satu pun alarm berbunyi. Gadis itu menonton dari layar di ruang bawah tanah—tangannya gemetar.
“Aku harus bantu—”
“Tidak!” Rafael membentak. “Kau tetap di sini!”
Tapi saat Rafael hendak keluar ruangan...
Pintu bunker meledak dari dalam.
Agen K sudah di sana.
---
“Sudah lama, guru,” suara wanita itu lembut, tapi dingin.
Rafael mengangkat pistol. “Kau berubah.”
“Dan kau melemah.”
Mereka bertarung tanpa kata. Gerakan cepat, suara besi beradu, tubuh saling menghindar seperti dua hantu yang saling mengenali celah.
Gadis itu bersembunyi di belakang tumpukan loker baja. Nafasnya tak beraturan. Tapi dia tahu... Rafael kalah cepat. Luka di bahunya belum pulih. Dan Agen K tak datang untuk main-main.
“Aku tak ingin membunuhmu, Rafael,” kata Agen K sambil menempelkan pisau ke lehernya. “Aku ingin dia.”
Dia menoleh ke arah si gadis. Tatapannya menusuk.
“Karena dia adalah... adik tiriku.”
Dunia berhenti.
Gadis itu berdiri. “Apa... maksudmu?”
Agen K melepaskan topengnya. Wajahnya... mirip. Sangat mirip.
“Kita punya ayah yang sama. Tapi beda ibu. Kau hidup nyaman. Aku... dibuang ke proyek eksperimen bersama Rafael.”
Rafael mematung. “Kau... anak dari wanita itu?”
Agen K mengangguk. “Dan sekarang... aku akan ambil kembali hidupku.”
Dia menodongkan pistol ke arah gadis itu.
Tapi Rafael berdiri di depannya. “Kau harus melewatiku dulu.”
Agen K tertawa.
“Kalau begitu... mari kita ulang masa lalu, Guru.”
---
Dan saat peluru pertama ditembakkan...
Kisah baru terbuka. Tentang keluarga yang dipisahkan oleh eksperimen. Tentang cinta yang tumbuh di tanah beracun. Dan tentang dua saudara... yang akhirnya berdiri di medan perang yang sama.
---
✦
Terkadang, luka masa lalu tak sembuh. Tapi bisa diwariskan. Dan saat darah berbicara, tak ada cinta yang bisa tetap diam.