“AKU AKAN MENEMBAK!”
Suara Agen K menggema di bunker yang kini hancur sebagian. Tangannya gemetar, tapi bukan karena takut. Justru karena amarah yang sudah dipendam bertahun-tahun.
“Dia harus mati, Rafael! Dia bagian dari semua ini! Darahnya... darah dia, darah AYAH KITA, ada di tubuhnya!”
Gadis itu berdiri di balik Rafael, menatap kakak tirinya. Napasnya pendek, tubuhnya kaku.
“Aku nggak tahu siapa kamu, aku bahkan nggak tahu siapa diriku sampai semua ini dimulai!” serunya.
“Justru karena itu,” balas Agen K dingin. “Kau hidup dalam kebohongan yang melindungimu. Aku hidup dalam neraka yang ayah kita ciptakan. Kau anak emas, aku anak hasil eksperimen gagal. Dan sekarang... kau harus rasakan yang aku rasakan.”
Rafael masih di antara mereka. Tangan kirinya berdarah, tubuhnya luka, tapi matanya tetap fokus.
“Sudah cukup, K,” katanya pelan. “Kau bukan monster.”
Agen K tertawa pendek. “Kau masih memanggilku K. Padahal kau tahu nama asliku.”
Gadis itu menatap Rafael.
“Siapa dia... sebenarnya?”
Rafael terdiam. Lalu berkata pelan:
“Kirana.”
Agen K—Kirana—menghapus air matanya yang menetes tiba-tiba. Suaranya melembut. “Nama yang tak pernah disebut dalam keluarga. Aku dihapus. Dihilangkan. Tapi kau, Rafael... kau satu-satunya yang memanggilku dengan itu.”
“Tapi kau masih mau membunuhku,” ujar gadis itu lirih.
“Aku harus.”
“Kenapa?”
Kirana menggigit bibir bawahnya. “Karena... aku iri. Kau dapat semua yang aku inginkan. Ayah. Hidup. Nama. Cinta. Bahkan... dia.”
Tatapannya jatuh pada Rafael.
Gadis itu tersentak. “Kau mencintai dia...?”
Kirana hanya tersenyum. Senyum yang pedih.
“Bagaimana bisa aku tidak jatuh cinta pada satu-satunya pria yang melatihku bertahan hidup saat dunia ingin aku mati?”
Rafael menunduk.
“Kirana... aku tak pernah menganggapmu lebih dari muridku.”
“Aku tahu.” Senyumnya makin getir. “Tapi melihatmu melindungi dia... menyentuh dia seperti itu... membuatku ingin membakar seluruh dunia.”
Tiba-tiba, dia angkat pistol lagi.
“Aku akan hancurkan dia. Supaya kau rasakan rasa sakit yang aku bawa selama ini!”
DOR!
Satu tembakan. Tapi bukan Kirana yang menembak.
Gadis itu menjatuhkan pistolnya, tangan kirinya menekan bahu—tertembak. Tapi bukan luka fatal. Luka peringatan.
Rafael menurunkan pistolnya. “Aku bilang, aku tidak akan biarkan kau menyentuhnya.”
Kirana terdiam. Wajahnya berubah. Luka. Kalah. Hancur.
Dia menjatuhkan dirinya ke lantai. Menangis. Tanpa suara.
Gadis itu melangkah maju. Ragu. Tapi akhirnya duduk di sampingnya.
“Dengar... aku nggak tahu masa lalu kita. Tapi kita bisa mulai dari sekarang. Aku nggak mau jadi musuh kamu.”
Kirana menoleh perlahan. Mata merah. “Aku... terlalu rusak untuk itu.”
“Kita semua rusak,” gadis itu balas. “Tapi luka bisa sembuh. Kalau kita mau berjuang.”
Kirana tertawa kecil. “Kau sebaik itu, atau sebodoh itu?”
“Mungkin dua-duanya.”
---
Malam itu, bunker berubah menjadi tempat sunyi. Tidak ada perang. Tidak ada darah. Hanya tiga orang yang duduk dalam diam, masing-masing dengan luka masing-masing.
Dan untuk pertama kalinya...
Rafael tertidur di depan mereka.
Tubuhnya rebah di sofa bunker, kepalanya bersandar di dinding, napasnya berat.
Gadis itu menatap Kirana. “Kau masih ingin membunuhku?”
Kirana diam sejenak. Lalu geleng pelan.
“Tidak malam ini.”
Gadis itu tersenyum tipis.
“Mungkin besok?”
Kirana menatapnya sebentar. “Mungkin.”
Tapi di mata mereka berdua... ada pemahaman. Mereka bukan teman. Tapi mereka juga bukan musuh lagi.
---
Sementara itu, jauh di luar kota, di ruangan gelap berisi layar dan kabel, seorang pria tua menonton rekaman mereka.
Wajahnya keriput, tapi matanya tajam.
“Anakku... dan eksperimenku,” gumamnya. “Kau pikir kau bisa lari dari sejarah, Rafael? Cinta tak akan menyelamatkan kalian.”
Di belakangnya, tubuh-tubuh dalam kapsul kaca menggeliat. Eksperimen baru. Darah baru.
Dan semuanya... akan dilepas.
---
✦
Saat masa lalu menyatu dengan masa kini, pilihan menjadi dua: bertarung... atau dikubur hidup-hidup oleh dosa sendiri.