Pagi datang pelan di atas reruntuhan bunker.
Mereka bertiga duduk melingkar di meja besi yang penuh bercak darah dan kopi basi. Rafael membuka peta digital di atas tablet, sementara Kirana—lengan kirinya dibalut perban—duduk bersandar dengan mata mengamati adiknya.
“Ayah kita ada di luar kota,” Rafael membuka percakapan. “Markas penelitian lama. Tempat dia memulai semua eksperimen... termasuk Kirana.”
Gadis itu menelan ludah. “Kau yakin dia masih di sana?”
“Dia ingin kalian datang,” Rafael menjawab datar. “Semua ini jebakan. Tapi kita tetap harus ke sana. Karena kalau tidak... dia akan datang ke kita dengan monster-monster buatannya.”
Kirana tertawa kering. “Monster? Itu halus. Mereka bukan cuma hasil eksperimen. Mereka adalah ‘proyek gagal yang bertahan’. Tanpa rasa. Tanpa nurani.”
“Berapa banyak?” tanya gadis itu.
Kirana menatap Rafael. “Dua belas. Tapi yang tersisa hanya enam.”
“Dan mereka semua... mematuhinya?”
“Lebih dari itu,” jawab Kirana pelan. “Mereka mencintainya. Karena ayah kita memberi mereka satu hal: tujuan. Sesuatu yang kita... bahkan tak pernah punya.”
---
Dalam perjalanan menuju markas, ketiganya menaiki mobil lapis baja milik Rafael. Jalanan sepi, dan udara penuh ketegangan. Tak ada musik. Hanya suara mesin dan napas mereka.
“Kirana,” tanya gadis itu pelan. “Apa kau pernah... benar-benar merindukan ayah?”
Kirana memalingkan wajah. “Aku merindukan versi ayah yang kubuat dalam imajinasi. Tapi dia tak pernah ada.”
“Kau masih ingin membunuhnya?”
“Tidak,” jawab Kirana cepat. “Aku ingin dia merasa tidak berdaya. Sama seperti yang dia lakukan pada kita.”
Rafael hanya mengangguk. Wajahnya seperti batu. Tapi tangannya... sesekali menggenggam tangan gadis itu tanpa sadar. Untuk kekuatan. Untuk ketenangan.
Dan mungkin... untuk keyakinan bahwa dia masih manusia.
---
Sore hari, mereka sampai di markas tua. Bangunan beton besar di tengah hutan mati. Tidak ada penjaga. Tidak ada suara.
Tapi mereka tahu, itu hanya permukaan.
Begitu masuk, mereka disambut oleh koridor panjang dan bau zat kimia yang menusuk.
Di dinding-dinding, layar menyala dengan rekaman masa lalu: Rafael yang muda, melatih anak-anak kecil; Kirana kecil menangis di pojokan; ayah mereka, berdiri seperti dewa, memantau segalanya.
“Dia ingin kita ingat,” kata Rafael.
“Dia ingin kita takut,” Kirana membalas.
Mereka melanjutkan langkah. Tapi tiba-tiba...
DOR!
Peluru melesat dari dinding. Rafael mendorong dua bersaudara itu ke belakang dinding. Suara langkah datang dari ujung lorong.
Satu per satu, enam sosok muncul.
Tubuh-tubuh mereka tak seperti manusia biasa. Otot terlalu besar, mata terlalu kosong. Mereka tak bicara. Tapi mereka mengenali target.
Dan mereka mulai menyerang.
---
Pertarungan berlangsung brutal. Rafael melempar granat asap, Kirana meluncur dengan dua pisau, dan gadis itu—meski tak terlatih—mengambil pistol dan menembak satu dari mereka di kepala.
“Satu jatuh!” teriaknya.
“Jangan lengah!” seru Kirana.
Tapi satu dari monster itu menangkap Rafael dan melemparkannya ke dinding. Tulang bahunya retak. Kirana menghampiri, menikam lawannya, dan menyeret Rafael ke tempat aman.
“Kau masih hidup?”
“Belum tentu,” desah Rafael.
“Bagus. Karena kita belum selesai.”
Lima monster tersisa. Tapi tiba-tiba, satu dari mereka berhenti. Tubuhnya bergetar. Lalu roboh.
Gadis itu melihatnya. “Apa itu—”
Kirana menjatuhkan remote kecil dari sakunya.
“Aku masih punya kode lama,” katanya. “Tapi hanya bisa satu per satu.”
Empat monster tersisa. Dan waktu mereka hampir habis.
---
Di ruangan pusat, ayah mereka duduk tenang di depan kamera.
Dia melihat anak-anaknya bertarung. Melihat Rafael berdarah. Dan tersenyum.
“Kalian datang,” gumamnya.
Lalu dia menekan tombol.
Satu kapsul kaca terbuka.
Dan dari dalamnya, keluar gadis... yang mirip Kirana. Mirip gadis itu. Tapi lebih muda. Lebih kosong. Lebih buas.
“Perkenalkan,” katanya. “Klon terbaikku.”
Mereka semua menatap layar.
Dan Rafael tahu—pertarungan ini belum apa-apa.
Yang paling mematikan... baru dimulai.
---
✦
Ketika darah, bayangan, dan cinta bercampur jadi satu, hanya satu yang bisa bertahan: mereka yang masih punya jiwa.