Ruangan itu dingin. Bau zat kimia menyengat, bercampur dengan suara detak mesin dan napas yang tak stabil.
Gadis itu berdiri di hadapan... dirinya sendiri.
Tidak—itu bukan dirinya. Tapi klon yang dibuat dari dirinya. Wajah mereka sama. Tubuh mereka mirip. Tapi mata mereka berbeda.
Mata gadis itu penuh ketakutan dan keberanian. Mata klon itu? Hampa. Tak punya jiwa.
“Dia bukan kamu,” Rafael berbisik dari samping. Tubuhnya masih luka, tapi ia berdiri dengan penuh tekad.
“Aku tahu,” jawab gadis itu pelan.
Tapi tetap saja... melihat sosok itu bergerak ke arahnya seperti bayangan yang lepas dari cermin, membuat tubuhnya gemetar.
Ayah mereka muncul di balik kaca tebal di lantai atas. Mengamati. Senyum penuh kebanggaan terpampang di wajahnya yang dingin.
“Anakku,” katanya lewat pengeras suara. “Kau selalu terlalu lembut. Kau butuh lawan untuk tahu siapa dirimu sebenarnya. Maka kuperkenalkan... kau, tanpa kelemahan.”
Klon itu melangkah maju. Kaki telanjangnya menjejak lantai logam tanpa suara. Ia membawa belati—mirip dengan yang pernah digunakan Kirana.
Gadis itu mundur selangkah. Tapi Kirana menggenggam tangannya dari belakang.
“Kalau kau kalah dari dia... maka semua yang kita perjuangkan, sia-sia.”
Gadis itu mengangguk. Lalu menatap Rafael.
“Aku harus sendirian,” katanya.
Rafael ingin menolak, tapi melihat mata gadis itu—penuh tekad dan luka—ia mengangguk.
“Jangan mati,” ujarnya pelan.
---
Pertarungan dimulai cepat.
Klon itu menyerang lebih cepat dari yang manusia biasa bisa duga. Gerakannya presisi, tanpa ragu, tanpa takut. Gadis itu beberapa kali harus menangkis dengan kursi besi dan lari menghindar.
Tapi satu hal yang dia miliki—yang tak dimiliki klon—adalah emosi.
Setiap luka yang ia rasakan, setiap dorongan untuk bertahan, berasal dari kenangan.
“Aku punya mimpi!” serunya sambil menangkis. “Aku punya cinta! Aku... punya pilihan!”
Klon itu tak menjawab, hanya menyerang lebih cepat. Pisau menggores pipi gadis itu.
Darah mengalir.
Gadis itu jatuh. Tapi sebelum klon menghabisinya, dia berteriak keras...
“Kirana!”
Kirana langsung melempar pisau ke udara—dan gadis itu menangkapnya dalam satu gerakan mulus.
Pisau menancap ke d**a klon.
Sekejap, tubuh itu berhenti. Menatapnya. Seolah sadar.
“Kenapa... kau menang?” tanya klon itu, dengan suara yang anehnya... seperti dirinya sendiri.
Gadis itu mendekat, menahan air mata.
“Karena aku tidak lahir untuk membunuh. Aku hidup untuk memilih.”
Dan dengan tangan gemetar, ia memeluk klon itu—yang perlahan-lahan roboh di pelukannya.
---
Di lantai atas, sang ayah menatap mereka semua. Wajahnya kali ini... marah. Tapi tak bisa melakukan apa-apa.
Kirana berjalan ke panel utama.
“Apa yang kau lakukan?” tanya Rafael.
“Memutus semua aksesnya ke fasilitas.”
Dia mengetik cepat. “Kita tutup tempat ini. Dan dia... akan terkubur bersama mimpinya.”
Sang ayah tertawa dari balik kaca. “Kalian pikir ini berakhir?”
Rafael menatapnya tajam. “Untukmu? Ya.”
Dan Kirana... menekan tombol terakhir.
SEL-DETONASI AKTIF DALAM 5 MENIT.
Sirine berbunyi. Lampu merah menyala. Semuanya mulai bergetar.
---
Mereka berlari menuju pintu keluar utama. Gadis itu hampir pingsan, tapi Rafael memapahnya. Kirana melindungi dari belakang, menembak satu monster terakhir yang muncul dari samping.
Saat mereka mencapai pintu, ledakan pertama terdengar dari bawah.
Boom!
Bangunan mulai runtuh. Dinding berjatuhan. Tapi mereka melompat keluar—tepat sebelum pintu baja tertutup dan api melahap semuanya.
Mereka jatuh ke tanah, napas terengah-engah, tubuh berdebu.
Dan dalam sunyi... bangunan itu runtuh di belakang mereka.
---
Beberapa menit kemudian...
Di tengah hening, Kirana tertawa pelan.
“Kita hidup.”
Rafael juga tersenyum. Luka-lukanya berdarah, tapi matanya berbinar.
Gadis itu duduk di tanah, menatap langit. “Langit kelihatan biru banget sekarang...”
Rafael menatapnya. “Kau luar biasa.”
Dia balas menatap Rafael. “Aku hidup... karena kamu.”
Kirana berdiri, lalu dengan pelan, berkata:
“Dan sekarang apa?”
Rafael menatap dua gadis itu. Adik yang ia lindungi. Wanita yang pernah jadi bayangannya. Dan dirinya sendiri... pembunuh yang tak lagi ingin membunuh.
“Aku tak tahu,” jawabnya. “Tapi kita bebas.”
Dan untuk pertama kalinya dalam hidup mereka—mereka bebas memilih jalan sendiri.
---
✦
Akhir? Mungkin.
Tapi kebebasan... adalah awal dari segalanya.