Tiga bulan kemudian.
Sebuah kota kecil di pesisir timur. Tak ada gedung tinggi, tak ada peluru beterbangan. Hanya suara ombak, aroma garam di udara, dan langit jingga yang memeluk laut saat senja.
Di sebuah rumah kayu tua, gadis itu berdiri di depan jendela, memegang secangkir teh.
Rafael muncul dari dapur, mengenakan kaus lusuh dan celana longgar. Rambutnya sudah sedikit panjang. Luka-lukanya sembuh, tapi bekasnya masih jelas.
“Gue nemuin toko yang jual kopi enak di pasar,” katanya sambil menyodorkan sekantong bubuk hitam.
Dia tersenyum. “Akhirnya, si pembunuh elit bisa jadi barista juga.”
Rafael terkekeh. “Lo suka banget bilangin gue pembunuh.”
“Gue cuma takut suatu hari lo kelepasan bikin latte pake darah.”
Rafael mendekat, memeluknya dari belakang. Hangat. Aman. Untuk pertama kalinya, gadis itu merasa bisa bernapas.
Tapi kedamaian itu selalu rapuh.
---
Di tempat berbeda—jauh dari pantai, di kota besar yang kelam—Kirana berdiri di depan makam tak bernama. Angin dingin meniup rambut hitamnya.
Di tangannya, secarik foto lama. Ia, Rafael, dan ayah mereka. Senyum palsu di wajah ayahnya membuat Kirana ingin merobek kertas itu.
Dari belakang, seseorang datang.
Seorang wanita muda. Rambut perak. Mata tajam. Tubuh tegap seperti tentara.
“Kirana.”
Kirana menoleh. “Kalau lo bisa nemuin gue di sini, berarti mereka juga bisa.”
Wanita itu mengangguk. “Mereka udah gerak. Tapi lo harus tahu satu hal.”
“Apa?”
“Ayah lo... bukan pemimpin dari semua ini. Dia cuma pengembang proyek. Atasan dia... belum muncul.”
Kirana memicingkan mata. “Lo siapa?”
“Aku dulu klon generasi kedua. Tapi gagal,” jawab wanita itu. “Mereka pikir aku mati. Tapi aku kabur. Dan aku tahu satu hal... Proyek ‘Cermin Jiwa’ belum selesai.”
Kirana menggenggam erat jaketnya.
“Aku butuh bantuannya, Kirana.”
---
Sementara itu, di rumah pantai...
Gadis itu menemukan surat tua di kotak pos.
Tak ada nama pengirim. Hanya satu simbol: lingkaran dengan garis horizontal—simbol yang sama di pintu ruang eksperimen dulu.
Dia membuka surat itu.
Isi pesannya pendek.
"Kamu pikir ini berakhir? Kami hanya menunggu. –C."
Gadis itu menatap Rafael, yang baru saja keluar dari kamar mandi.
“Raf... kita gak bisa lari selamanya.”
Rafael menatap matanya. Dalam. Penuh pengertian.
“Kalau mereka datang, kita hadapi. Bareng.”
Gadis itu menunduk. “Tapi... gimana kalau ada bagian dari gue yang gak bisa diselamatin?”
Rafael mendekat, memegang wajahnya.
“Mungkin kita semua rusak. Tapi justru karena itu... kita tahu gimana caranya bertahan.”
Dan saat matahari terbenam di balik laut, mereka berdiri berdampingan, menatap gelap yang perlahan datang.
Karena kadang, gelap bukan akhir—tapi awal dari bab yang lebih jujur.