Lokasi: Singapura, markas bawah tanah Exordium.
Langkah Kirana menggema di lorong gelap berlapis baja. Di kanan-kiri, jendela kaca memperlihatkan ruangan-ruangan dengan eksperimen aneh. Tangki-tangki penuh cairan kehijauan, kabel menusuk tubuh-tubuh tak bergerak, dan di ujung sana… suara napas mesin.
Wanita berambut perak yang menuntunnya hanya berkata, “Lo belum lihat apa-apa.”
Kirana menggenggam pistol kecil di balik jaket. Dia tak percaya siapa pun sekarang. Bahkan pada dirinya sendiri.
Sampai mereka berhenti di depan satu ruangan dengan label: “Specimen 01C”.
Kirana mendekat ke kaca. Dan jantungnya... berhenti sedetik.
Itu dirinya.
Bukan klon biasa. Bukan tiruan gagal. Tapi... versi dirinya saat masih kecil. Masih polos. Masih belum mengenal darah.
“Lo gak satu-satunya Kirana,” kata wanita itu pelan. “C adalah orang yang menciptakan semua jalur ini. Dia mengumpulkan versi-versi terbaik dari ‘subjek orisinal’. Dan lo... salah satunya.”
Kirana mengepal. “Jadi gue cuma… versi?”
Wanita itu tersenyum miris. “Gue juga. Tapi bedanya, kita masih hidup.”
---
Lokasi: Desa pantai – Indonesia.
Gadis itu sedang membereskan dapur ketika listrik padam tiba-tiba.
“Raf?” panggilnya. Tapi tak ada jawaban.
Langkahnya pelan menuju ruang tengah. Lampu darurat menyala redup. Dan dia melihat sesuatu di luar jendela.
Bayangan. Tiga. Dua tinggi besar, satu lebih kecil.
Dia memutar badan—dan tepat di hadapannya, seseorang berdiri. Seorang anak laki-laki, kira-kira usia 10 tahun, dengan wajah… yang sama persis dengan Rafael.
Jantung gadis itu nyaris copot. Anak itu hanya berkata pelan:
“Papa kirim aku buat jemput kalian.”
Rafael muncul dari lorong, langsung menarik gadis itu ke belakang.
“Apa-apaan ini?!”
Anak itu menunduk. “Papa kangen kamu, Rafael. Dia bilang waktunya pulang.”
---
Di dalam markas Exordium, Kirana duduk di ruang pertemuan bawah tanah bersama wanita perak.
“Si C itu siapa sebenarnya?” tanya Kirana.
Wanita itu menarik napas panjang.
“Dulu, dia ilmuwan jenius di bawah pemerintahan bayangan. Tapi terobsesi bikin manusia sempurna—tanpa moral, tanpa batas. Saat ayah lo berhenti patuh, dia dilenyapkan. Tapi C... terus lanjut.”
Kirana mengepalkan tangan. “Lo mau ngelawan dia?”
Wanita itu mengangguk. “Kita butuh semua sisa subjek utama. Termasuk... lo. Rafael. Dan adik lo.”
Kirana menatap tajam. “Gue gak bakal bawa mereka ke neraka ini.”
Wanita itu balas menatapnya, tenang. “Kirana... mereka udah di dalam. Mau lo percaya atau enggak, permainan ini udah dimulai lagi.”
---
Di pantai, malam itu...
Rafael dan gadis itu duduk di loteng kecil, anak itu tidur di lantai dengan tenang. Tapi tatapan Rafael... penuh guncangan.
“Itu klon gue,” bisiknya. “Dia... dibuat dari sel waktu gue masih ditahan dulu. Ayah pernah bilang, dia bisa bikin ‘penerus sempurna’. Gue kira cuma ancaman.”
Gadis itu menggenggam tangannya. “Berarti lo punya anak kembar dari neraka.”
Rafael tersenyum tipis. “Gue gak tahu harus sayang atau takut.”
Gadis itu menatap keluar jendela. Ombak bergulung, angin laut membawa hawa asing.
“Kita harus pergi. Kalau mereka nemuin kita sekali, mereka bisa nemuin lagi.”
Rafael mengangguk. “Kita pergi... ke Kirana.”