Lokasi: Pelabuhan tua, Surabaya.
Hujan deras membasahi kontainer-karatan dan jalanan licin. Di bawah satu lampu jalan berkedip, Rafael, gadis itu, dan si anak klon berdiri menunggu.
Tak lama, dari kejauhan, mobil hitam tua berhenti. Kirana keluar dari kursi sopir, mengenakan jaket kulit dan sarung tangan hitam. Tatapannya tajam, tapi di matanya... ada luka yang belum sembuh.
Mereka saling diam beberapa detik.
“Kirana,” Rafael buka suara duluan. “Lo hidup.”
“Gue gak gampang mati, kak,” balas Kirana dingin, tapi bibirnya nyaris tersenyum.
Gadis itu melangkah maju dan langsung memeluk Kirana. “Lo gila... tapi gue seneng lo balik.”
Kirana memeluk balik. Sekilas. “Kita gak punya waktu buat drama. Gue bawa info penting.”
Rafael mengangguk. “Kita masuk.”
---
Di gudang tersembunyi belakang pelabuhan, mereka duduk mengelilingi meja kayu tua. Wanita berambut perak—yang ternyata bernama Sana—ikut bergabung.
Sana meletakkan map berisi foto satelit dan diagram digital.
“Ini markas utama Exordium,” katanya. “Ada di dasar laut, sekitar 40 mil dari pulau pribadi C. Mereka sebut tempat itu ‘Eden Project’.”
Gadis itu mengangkat alis. “Eden? Kayak Taman Eden?”
Sana mengangguk. “Tapi di sini, manusia bukan ciptaan—mereka eksperimen.”
Kirana menunjuk satu area di peta. “Ini lab utama. Di sinilah mereka simpan klon tingkat tinggi... termasuk versi lain dari kita semua.”
Rafael meremas tangan gadis itu. “Jadi ada versi lo yang lain?”
Sana menatap mereka serius. “Dan versi kalian itu gak kayak klon biasa. Mereka... sempurna. Gak punya empati. Gak punya batas.”
---
Malam itu, sebelum tidur, gadis itu duduk di jendela, memandangi kilat yang menyambar di kejauhan.
Kirana masuk pelan, duduk di lantai.
“Makasih udah nyelametin abang gue,” katanya.
Gadis itu menoleh. “Gue gak nyelametin. Gue juga nyelametin diri gue sendiri.”
Kirana tertawa kecil. “Fair enough.”
Hening sesaat.
“Lo masih cinta sama dia?” tanya Kirana.
Gadis itu menatapnya. “Gue gak tau. Kadang iya, kadang gue pengen ninggalin. Tapi dia satu-satunya orang yang pernah ngeliat gue lebih dari sekadar korban.”
Kirana mengangguk pelan. “Dia juga satu-satunya orang yang gue percaya di dunia ini.”
Mereka saling pandang. Dua perempuan yang pernah diremukkan oleh eksperimen. Dan sekarang, memilih untuk bangkit bersama.
---
Pagi harinya, mereka mulai menyusun rencana. Target: menyusup ke Eden Project dan menghancurkan pusat data.
Tapi Sana memperingatkan, “Kalau kita gagal... gak ada jalan pulang. Dan kalau kita mati... dunia gak bakal tahu kita pernah ada.”
Rafael menatap mereka semua. “Tapi kalau kita berhasil... kita akhiri semuanya.”
Dan Kirana menambahkan: “Kita bukan pahlawan. Tapi kita bukan boneka lagi.”
---
Tiga orang yang lahir dari luka. Satu anak yang belum tahu siapa dirinya. Dan dunia yang belum siap melihat mereka berdiri.
Mereka tak minta pengampunan. Hanya ingin menghancurkan sang pencipta palsu yang mempermainkan hidup mereka semua.