Ledakan pertama terdengar seperti kembang api yang salah waktu. Ini bukan tentang sebuah perayaan, melainkan sebuah kekacauan. Lalu ledakan yang kedua, dan ketiga—lebih keras, lebih dahsyat, mengguncang jendela-jendela toko yang sudah porak-poranda. Orang-orang menjerit. Mereka berlari, saling dorong dalam kekacauan yang baunya menyengat: darah, bensin, dan ketakutan.
Di tengah semua itu, dia berdiri bak bunga cantik yang menyilaukan. Tenang. Tak tergores. Tak terusik. Bagai sebuah bunga yang tumbuh indah di ladang ranjau yang mematikan.
Kalmara, atau kamu bisa memanggilnya Kalma. Sang iblis yang menyaru di antara kekacauan manusia.
Dia menyentuh bibir gelas wine-nya yang nyaris kosong dengan seringai. Duduk santai di atap sebuah mobil mewah yang telah terbakar setengahnya. Rok merah beludrunya sungguh indah membentuk setiap lekuk tubuhnya, bersih tak ternoda, kontras dengan abu hangit yang berterbangan di udara. Sekali lihat mungkin kamu akan meyakini bahwa Dewi benar-benar sedang turun ke dunia. Kecantikan itu tidak manusiawi.
Di sekelilingnya, manusia saling tikam, polisi menembak ke udara, dan langit malam jadi merah karena pantulan sirene dan api.
“Indah,” dia berdesis kesenangan. Tidak ada rasa prihatin atau kasihan atas apa yang dipertunjukkan di hadapannya. Sebab baginya ini tak lebih dari sekedar hiburan. “Sungguh, sebuah simfoni yang nyaris sempurna.”
Langkah kaki terdengar tergesa, Seseorang berlari ke arahnya. Seorang pria muda dengan mata lebam dan darah menetes dari pelipis. Dia mengira Kalma butuh bantuan, atau mungkin dia cuma mencari pelarian. Tapi saat dia berhasil mendekat, mata wanita itu menatapnya. Sekali. Hanya sekali.
Dan pria itu berhenti. Kaku. Bibirnya terbuka, tapi suaranya hanya mampu bertahan sebatas di tenggorokan. Napasnya tercekat seolah paru-parunya menolak untuk bekerja. Tubuhnya bergetar kecil, lalu jatuh dalam sekedip mata. Mati, tanpa luka.
Kalma mendesah pelan. “Manusia bodoh. Selalu lemah pada ‘keindahan’."
Dia berdiri, menyesap tetes terakhir wine-nya, lalu membiarkan gelas itu jatuh dan pecah di aspal yang panas.
Dalam kerusuhan ini, semua orang menyalahkan satu sama lain. Tidak ada yang menyadari bahwa iblis sejati berdiri di tengah mereka, menikmati setiap detik kehancuran yang mereka ciptakan sendiri sebagai hiburan semata.
Kalma datang bukan untuk menyelamatkan siapa pun.
Dia datang untuk melihat dunia terbakar. Dan dia akan menari di atas abunya.