Lorong itu sempit, dindingnya lembap dan berlumut. Menciptakan atmosfer horor bagi siapa saja yang melewatinya. Apalagi hujan baru saja reda, menyisakan genangan kotor di antara tumpukan sampah dan sisa makanan busuk. Bau darah menggantung di udara—manis, segar, dan terlalu kentara bagi mereka yang tahu cara mengendusnya.
Kalma berjalan anggun. Tumit sepatunya memantul di beton basah. Senyumnya tipis. Belati emas yang menggantung di pinggangnya berkilat redup di bawah cahaya lampu jalan yang hampir padam.
“Kalau mau nutupin bau darah,” katanya ringan, “jangan potong lehernya terlalu dalam, Dino.”
Pria itu—dengan jaket hitam berlumuran noda merah, dan mata yang kini hitam total—berbalik pelan. Sosoknya tinggi besar, seperti mantan atlet yang rusak karena kekejaman dunia. Tapi Kalma tahu, itu cuma kulit pinjaman. Di baliknya, sesosok Ruhka sedang menggeliat, mencoba bertahan di dunia yang bukan miliknya.
Ruhka adalah jiwa pembangkang yang kabur dari neraka. Mereka kembali ke bumi, menyamar sebagai manusia, lalu membuat kekacauan. Biasanya mereka datang untuk balas dendam, atau paling sederhana ya karena pengin mangkir dari hukuman yang menyakitkan di neraka. Meski itu lantas memunculkan pertanyaan besar—Bagaimana Ruhka bisa melewati gerbang neraka?
“Siapa?” tanyanya, suaranya serak dan kaku. Seolah-olah tenggorokan itu telah lama dibiarkan menganggur.
“Aku yang datang buat jemput kamu pulang,” jawab Kalma dengan santai. Matanya menatap tajam, kontras dengan wajah manisnya dan suara yang terdengar halus seperti alunan lagu pengantar tidur.
Dino tertawa sumbang. “Jemput? Lo siapa? Polisi, huh?” dia berdiri, mengangkat pisau berlumuran darah yang baru saja dia gunakan untuk membunuh orang yang kini tergeletak di bawah kakinya itu. Seolah-olah mengancam Kalma tanpa suara. Dia menyeringai jahat. “Satu-satunya yang akan dijemput adalah Lo! Dijemput maut.”
Kalma mengangkat bahu, masih dengan senyum manisnya yang misterius. “Menarik. Jujur saja, aku lebih suka kalau kamu melawan seperti ini. Aku jadi punya alasan buat nyiksa.”
Ruhka itu bergerak duluan. Tinju keras meluncur ke arah Kalma. Tapi Dia berhasil menghindar, setengah langkah saja, lalu menyikut rusuk pria itu dengan keras. Dentuman tumpul terdengar, tapi tidak cukup untuk menjatuhkannya.
“Cepet juga lo, ya,” Dino menyeringai, tampak terkesima dengan aksi lawannya.
“Lapar?” tiba-tiba dia bertanya konyol. Entah apa korelasinya dengan pertarungan ini. Meski begitu, Kalma tetap meladeninya.
Kalma mengeluarkan belatinya. “Lapar sih. Tapi bukan kamu menunya.” Kalma memutar belatinya dalam satu gerakan cantik. Senjata itu mulai berdenyut di tangannya, berubah bentuk jadi bilah yang lebih panjang—nyaris seperti tombak ramping.
Serangan berikutnya datang lebih brutal. Dino menyeruduk. Meski terkesan gegabah, setiap gerakannya punya akurasi yang baik. Dia berhasil membanting tubuh Kalma ke dinding. Debu berhamburan, punggungnya menghantam keras. Dia terhuyung, tapi belum sampai membuatnya tumbang. Darah menetes dari sobekan bibirnya. Bukannya kesakitan, Kalma justru tertawa pendek. Kilat antusias membelah paras cantiknya.
Tak ingin terlihat lemah Ia bergegas membalas. Dia melompat ke depan, gerakannya nyaris menandingi sebuah kilat. Tombaknya menyambar tajam ke bahu Dino tak terdeteksi. Kulit itu langsung terbuka, asap hitam tipis mengepul dari celah itu. Ruhka itu kontan meraung. Luka dari senjata Kalma tidak bisa disembuhkan. Jiwa mereka akan perlahan terhisap kembali ke neraka melalui media senjata dari neraka.
“Berasa, kan? Rasa rumah.” Kalma menyeringai setengah meledek. Dia berbisik tajam di telinga musuhnya.
Dino terhuyung dengan panik. Dia baru menyadari siapa wanita itu. Sial! Dia bukan manusia biasa. Tidak—dia memang bukan manusia. Dia adalah iblis.
Dino menelan ludah susah payah. Dengan tangan gemetar Ia mencengkram tong sampah logam di dekatnya dan melemparkannya ke depan sebagai perlawanan. Mudah saja bagi Kalma untuk menghindar. Aksi konyol khas seseorang yang terpojok.
Kalma bergerak anggun menghampiri Dino. Setiap jarak yang ia kikis seolah menunjukan betapa neraka itu sangat dekat. Langkah penuh intimidasi, meski kalma memperlihatkan senyum memikat andalannya. Di mata Dino dia terlihat seperti malaikat maut.
Kalma berhenti, siap mengayunkan tombaknya ke d**a lawan. Sebuah tebasan yang bersih. Kabut hitam langsung mengalir deras dari luka itu layaknya alat vacum yang menyedot debu.
Dino menjerit kesakitan. Dia panik dan ketakutan. “Aku gak mau balik,” Dino terengah. “Lo gak ngerti. Neraka tuh—”
“Siapa yang peduli?” potong Kalma sadis, suaranya berubah menjadi dingin. “Tempat kamu bukan di sini.”
Senjatanya mulai bergetar, menarik kabut hitam lebih cepat dan siap menarik inti hidupnya. Kalma menyeringai penuh kemenangan, satu kali tebasan lagi dan dia akan mengakhiri semuanya. Mengirim balik Dino ke neraka.
“HENTIKAN!!” Seseorang berteriak.
Kalma membeku. Sial! Itu suara manusia. Tanpa ada yang tau bahwa Satu detik itu menjadi yang paling menentukan, Ketika akhirnya Ia menoleh dan melihat sosok pria berdiri di bawah naungan lampu redup, kamera menggantung di lehernya.
Dino mengambil kesempatan itu untuk kabur. Dia mendorong Kalma yang sedang lengah dengan mudah. Kalma terhuyung ke belakang, senjatanya jatuh ke lantai dengan bunyi berdentang di tengah kesunyian malam. Seketika kabut hitam itu berhenti mengalir ketika senjata itu tidak lagi bersinggungan dengan luka Ruhka.
Dino menyeret tubuhnya keluar lorong dengan teriakan kasar. Lalu hilang ditelan kepekatan malam. Dia berhasil kabur.
Kalma menggertakkan gigi.
Sialan!
***
Kalau tidak menyamar ya membuntuti orang. Kayaknya itu sudah jadi keahliannya. Seperti sekarang, alih-alih bergelung di selimut tebal seperti kebanyakan manusia di jam segini, Alden justru bertindak konyol. Membuntuti seorang pria yang tampak aneh. Alden sudah membuntuti pria itu selama dua blok.
Gerak-geriknya mencurigakan—mondar-mandir tanpa arah jelas, sesekali menoleh ke belakang seperti tahu sedang diikuti. Apalagi Jaket hitamnya itu menarik rasa penasaran Alden. Sesuatu menggembung dari dalam, seolah-olah Pria itu tengah menyembunyikan sesuatu yang berbahaya di baliknya. Alden yakin dia pernah melihat wajah itu. Pria itu terlalu mirip dengan potongan wajah buram dari rekaman CCTV kasus pembunuhan minggu lalu. Dia tidak ingin asal menuduh, tapi nalurinya sangat yakin itu pria yang sama.
“Jangan bilang dia pelakunya,” gumamnya.
Pria itu masuk ke lorong sempit di belakang pasar tua. Alden terus mengikutinya. Naasnya dia kehilangan jejak. Lorongnya bercabang, gelap dan bau got. Dia hampir balik arah... sampai mendengar suara dentuman logam. itu memantik insting jurnalisnya untuk mendekat.
Langkahnya cepat. Ia sampai tepat saat melihat sesuatu yang lebih absurd dari semua investigasi yang pernah dia tulis.
Seorang perempuan sedang berdiri di depan targetnya. Itu pria yang dia buntuti. Pria itu kini sudah berdarah-darah menempel di tembok macam cicak dalam naungan predator. Di tangan si perempuan, ada senjata keemasan, bentuknya nggak jelas—kayak pedang tapi juga kayak tombak.
Perempuan itu mencolok—terlalu mencolok untuk tempat seburuk ini. Rambut panjang keunguannya berkibar di bawah sinar bulan, kulitnya pucat bersih, tubuh ramping dan proporsional khas model yang dibalut jaket gelap dan rok tinggi yang kontras dengan sepatu botnya.
Dia tidak terlihat seperti pembunuh. Dia justru terlihat seperti aktris yang sedang bermain peran. Dia terlihat cukup ekspresif. Sekelebat antusiasme juga terlihat di paras cantiknya.
“HENTIKAN!”
Suara Alden menggelegar dari ujung lorong. Kalma menoleh refleks, gerakannya melambat sepersekian detik—cukup bagi Dino untuk mendorong tubuhnya dengan kekuatan panik.
“b******k—!” Kalma terhuyung mundur, punggungnya membentur dinding. Dalam satu kedipan mata, Dino sudah melesat ke arah gelap, langkahnya terpincang namun efektif untuk lepas dari pelukan maut.
“k*****t!” Kalma menggeram jengkel. Dia hendak mengejarnya, tapi jejak Dino sudah termakan kepekatan malam. Terlambat. Ruhka buruannya berhasil kabur.
Kalma berdiri, napasnya memburu, bahunya naik turun. Dia benar-benar kesal—sangat kesal hingga bisa merobek tenggorokan siapa saja yang sudah mengganggunya. Dia langsung menoleh ke arah pria yang baru saja datang, si pengacau itu.
Matanya menyipit.
“Luar biasa. Tepuk tangan buat si pahlawan kemaleman,” desisnya. Nada bicaranya sarkas. “Karena berkat kamu, buruanku kabur.”
Alden Carter berdiri tenang, mengenakan jaket abu-abu dan kamera yang menggantung di leher. Tipikal pria pada umumnya, tidak ada yang terlalu mencolok. Meski, tidak bisa dipungkiri bahwa dia punya paras yang tampan. Dia cukup menarik, apalagi dengan tatapan datar, sok dingin dan penuh waspada itu.
“Kamu barusan mau nusuk orang,” ujarnya tak mau kalah. “Kalau aku lebih cepat, mungkin kamu udah diborgol sekarang.”
Kalma mendengus, langkahnya tergesa mendekat. “Borgol aku? Lucu banget dengar manusia ngomong besar.”
Alden tak bergeming. “Siapa kamu, sebenarnya? Dan siapa pria tadi?”
“Bukan urusanmu.”
“Sayangnya sekarang jadi urusanku. Karena aku lihat langsung kamu hampir bunuh orang.”
Kalma menyeringai miring. “Smartass! Kamu baru saja menuduh perempuan cantik membunuh. Saranku Pikirkan ulang.”
“Kalau perempuan itu megang belati dan berdiri di atas jasad berdarah, kenapa tidak? Pembunuh tidak didasarkan pada paras atau tampilan, tapi pada perilakunya.”
Kalma tertawa singkat, yang terdengar amat Sinis. “Kamu pikir kamu siapa, Sherlock? Paling-paling juga cuma jurnalis murahan yang kebanyakan nonton crime drama. Jangan sok deh!”
Alden menahan diri untuk tidak tersinggung, dia justru kaget dengan fakta bahwa perempuan itu tau dia seorang jurnalis. Yah kalau sudah begini, nanggung nggak sih? Mending sekalian saja interogasi.
“Siapa pria itu?” Alden mulai dalam mode serius.
“Kalau kamu pikir aku bakal bantu kamu dengan mulut sok suci itu, mending bungkus saja egomu dan keluar dari sini.” Kalma menjawab ketus. Dia tau, Pria di hadapannya ini sedang memanfaatkan momen untuk mengorek informasi darinya.
“Kenapa kamu mengejarnya?”
“Kenapa kamu suka nyari mati?”
Alden mengangkat alis, akhirnya membalas dengan nada sedikit tajam, “Karena aku nggak suka ada orang mati tanpa alasan di jalanan.”
Kalma mengikis jarak, mendekat satu langkah lagi. Mata mereka kini sejajar, mengunci satu sama lain. Tatapan meremehkan dia lesatkan pada pria itu.
“Aku juga nggak suka manusia sok tahu yang ganggu urusan yang bukan miliknya,” bisiknya, dingin seperti logam.
“Sayangnya, kamu bikin urusan ini jadi milikku sekarang.”
Senyum Kalma memudar. Dia mengumpat pelan, lalu memutar tubuhnya. Selekas mungkin dia berjalan menjauh, tidak ingin terus terjebak dengan manusia sok tau seperti dia.
“Dasar pengganggu. Kubunuh kamu duluan sebelum dia lain kali!”
Alden berdiri membeku. Matanya mengikuti bayangan wanita asing itu yang menghilang ke balik gelapnya malam. Dadanya masih bergemuruh.
Dia belum tahu siapa dia.