Kalma duduk di kursi salon yang menghadap cermin besar berbingkai emas. Rambutnya ditata dalam gaya gelombang messy yang tampak ‘kasual tapi jelas mahal’, sementara kuku-kukunya dilapisi warna hitam mengilat seperti obsidian.
“Aduh, kulit kamu tuh flawless banget, Sis. Pakai skincare apa sih?” tanya pegawai salon yang terlalu cerewet.
Kalma mengangkat satu alis, menatap perempuan itu melalui pantulan kaca. “Dosa orang lain.”
“Oh, wow! Maksudnya?” dia agak kaget dengan balasan tak terduga itu.
“Lelucon.” Ujarnya datar. “Lanjut saja ngerjain rambutku. Jangan bikin aku nyesel masuk tempat ini.”
Si mbak salon nyengir kikuk, lalu buru-buru melanjutkan pekerjaannya. Kalma memalingkan wajah ke arah jendela besar yang menampakkan lalu lintas kota yang macet dan panas.
Dunia ini bising. Tapi menyenangkan untuk diamati.
Beberapa jam kemudian, Kalma sudah duduk di pojok sebuah restoran Italia kecil yang sepi sambil menikmati sepotong tiramisu dengan wajah datar. Di atas meja, Sebuah smartphone menampilkan deretan nama dan wajah buronan. Ruhka. Lima lagi. Setidaknya itu target bulan ini. Dino masih paling atas dan jadi target utama. apalagi setelah kejadian semalam.
Kalma memeriksa layar ponselnya. “Masih berani berkeliaran, ya?” gumamnya sambil menyesap espresso. “Pengecut yang tahu caranya sembunyi. Cukup merepotkan!"
Sementara itu sejak tadi seseorang dari meja sebelah selalu meliriknya diam-diam—mungkin terpikat oleh penampilan Kalma yang seperti model majalah. Kalma balas melirik. Dingin. Dia lagi malas bermain-main, moodnya lagi nggak bagus. Jika biasanya dia langsung akan menanggapi dengan godaan, menguarkan magic pengikat, kali ini dia pilih bikin lawannya kicep.
Laki-laki itu langsung salah tingkah dan kembali menunduk ke makanannya. Enggan menunjukkan ketertarikannya lagi.
Kalma menyeringai tipis. “Manusia memang makhluk mudah terkecoh. Cakep dikit dilirik, seksi dikit dilirik. Dasar lemah!” dia mencibir pelan.
Ponselnya bergetar. Satu notifikasi dari aplikasi pelacak aura. Ruhka terdeteksi, samar—sekitar kawasan Southbridge Alley.
Kalma berdiri, menyambar coat-nya dengan gerakan malas.
“Waktunya kerja. Lagi-lagi di jam makan siang. Kenapa nggak kabur ke neraka sekalian sih? merepotkan banget deh!” dia mendengus jengkel.
“g****k! Itu namanya bunuh diri. Balik ke kandang lagi.” Dia menanggapi kalimatnya sendiri dengan konyol.
***
Southbridge Alley, Norwyn
Aplikasi pelacak di ponselnya bergetar pelan—tanda satu Ruhka kembali aktif. Titiknya: Southbridge Alley. Kalma melirik layar sekilas, lalu menyelipkan ponsel ke dalam coat hitam panjangnya. Langkahnya mantap menembus kerumunan pejalan kaki yang tak sadar mereka sedang hidup berdampingan dengan iblis pemburu.
Lorong sempit itu ramai, penuh teriakan, suara sirine, dan cahaya biru-merah dari mobil patroli. Orang-orang berseliweran, beberapa memvideokan kejadian, beberapa lainnya hanya sibuk mengeluh tentang keterlambatan kereta bawah tanah.
Kalma berdiri sejenak di ujung lorong, membiarkan matanya menyapu kekacauan itu. Seseorang tampak tergeletak di atas trotoar bersimbah darah di sekitar kepala. Polisi sibuk mengamankan garis kuning.
Tapi bukan itu yang dia cari.
“Aneh. Seharusnya ada di sini,” gumam Kalma.
Ia menyusup pelan di antara keramaian, menghindari tatapan aparat. Penampilannya terlalu sempurna untuk dicurigai—gaun midi abu metalik, sepatu hak tinggi, dan kacamata gelap yang menyembunyikan mata setajam belati namun memikat miliknya. Bahkan ketika dia lewat, beberapa pria menoleh tanpa sadar. Mungkin karena aroma Kalma yang cukup unik. Seperti sesuatu yang khas dan menarik, membuat siapa saja mustahil menolaknya.
“Kalau kamu bersembunyi di sini, dasar pengecut,” bisiknya pelan. "Keluar, atau kubakar tempat ini sekalian."
Pelacaknya kembali bergetar—pertanda lebih dekat. Dia berputar cepat, tapi tak melihat siapa pun yang mencurigakan. Hanya tumpukan kardus, bau amis, dan suara langkah tergesa.
Kalma menyipitkan mata. “Kau pikir bisa main petak umpet denganku, huh? Lucu banget.”
Tiba-tiba, seseorang menyenggol bahunya. Kalma reflek menoleh, tapi itu hanya pria tua yang mabuk dan bergumam tak jelas.
“Menjijikkan,” desis Kalma, mengibas lengan coat-nya yang ternoda. “Norwyn makin hari makin kacau saja.”
Ketika Kalma kembali pada layar ponselnya, Titik pelacak hilang seketika.
Kalma menghentikan langkah. Wajahnya tak berubah, tapi matanya berkilat—geram.
“Ah, sial.” Ia mencibir. “Pengecutnya lari lagi.”
Kalma menatap langit Norwyn yang kelabu, seolah berharap Ruhka turun dari atas sana dan menyerahkan diri dengan mudah. Tapi tentu saja itu mustahil—kecuali dia dapat hidayah.
“Next time, jangan bikin aku repot dong! Aku nggak sabar nyeret kalian kembali ke neraka.”
Ia berbalik, menyusup kembali di antara keramaian, menyamar sempurna sebagai bagian dari manusia.
***
Kalma menyentuhkan bibirnya ke cangkir keramik hangat. Latte yang manis, creamy, dengan aroma hazelnut mengambang tipis di udara.
“Not bad,” gumamnya, menaruh cangkir dengan bunyi kecil.
Kafe Élise tidak pernah sepi, apalagi malam-malam seperti ini. Musik jazz menggantung di udara, pelayan-pelayan berbalut seragam hitam bergerak gesit, dan pelanggan sibuk mengetik, tertawa, atau sekadar mengaduk kopi yang sudah dingin. Kalma duduk di pojok dekat jendela, mengenakan coat biru gelap dan lipstik merah gelap yang membuat siapa pun menoleh—tapi tak ada yang berani mendekat. Dia terlalu… tidak biasa.
Dia membuka layar ponsel, pelacak Ruhka-nya masih kosong. Diam, seperti mati suri. Kalma menghela napas, memutar cangkir pelan dengan jemari yang dilapisi sarung kulit tipis.
“Bahkan monster pun butuh jeda,” ujarnya lirih. “Apalagi iblis.”
Di meja sebelah, dua pria muda baru saja duduk. Suara mereka tak terlalu keras, tapi cukup terdengar. Kalma tidak peduli, sampai telinganya menangkap satu nama.
“Serius, tadi tuh dia? Dino? Gue yakin banget,” kata si pria pertama.
Kalma berhenti mengaduk kopinya.
“Lo yakin? Yang dicari-cari itu?” sahut temannya.
“Yakin. Gue lihat dia di Southbridge Alley sore tadi. Tapi sekarang ilang lagi. Gila sih.”
Kalma menyender, senyum miring menghiasi wajahnya. “Akhirnya,” gumamnya. “Si b******n kecil itu muncul lagi.”
Kalma langsung menajamkan pendengarannya, mencuri dengar pada dia pemuda itu. Menarik informasi lebih banyak. Sayangnya pria-pria itu justru pergi. Kalma sudah setengah berdiri dari kursinya. Matanya tajam menatap punggung pria tadi yang baru keluar dari kafe. Dia sudah menghafal wajahnya. Akan mudah untuk mengejar dan… mengorek informasi lebih dalam.
Tapi sebelum ia sempat melangkah, sebuah suara lembut menyela dari samping, disusul aroma parfum mahal yang dia kenali.
“Aku kira cuma bar dan wine yang bikin kamu tertarik, rupanya latte juga,” ucap pria itu sambil menarik kursi di depan Kalma dan duduk tanpa permisi.
Kalma mendesah pelan, akhirnya dia kembali duduk. Mengurungkan niatnya mengejar pria-pria itu. “Adrian.” Suaranya datar.
Adrian Valtieri, pewaris tunggal kerajaan bisnis raksasa yang menggurita dari teknologi sampai industri film, perhotelan bahkan kuliner. Wajah tampan yang terlalu sempurna, setelan abu-abu gelap yang jatuh dengan potongan presisi, dan senyum menawan andalannya, yang biasanya bikin banyak wanita terjebak.
Kalma? Dia cuma melirik malas. “Kamu ngekor pakai satelit, atau kebetulan lewat dan merasa punya hak istimewa bisa menyela urusan pentingku, huh?”
Adrian tertawa kecil. “Aku cuma kangen. Apakah Itu pelanggaran?”
“Kangen sama seseorang yang nggak pernah benar-benar ada buat kamu? Sounds desperate.”
Adrian menyandarkan diri ke kursi, menatap Kalma seperti mempelajari artefak aneh yang belum bisa dipecahkan. “Kamu tahu, aku anti sama penolakan. Tapi jika ini menyangkut kamu.. Kamu itu Kayak bunga yang serbuknya bikin alergi. Sakit, tapi cantik dan segala pengecualian.”
Kalma menyeringai tipis. “Lucu. Kamu nyadar nggak sih, kamu itu kayak nyamuk berdasi. Ganggu, dan bisa kubunuh kapan aja kalau aku mau.”
Tawa Adrian meledak rendah. “Tapi kamu nggak bunuh aku tuh!”
“Bukan tidak, tapi belum,” sahut Kalma, lalu menyesap sisa latte-nya. Pikirannya sudah kembali ke pria tadi—dan percakapan tentang Dino.
Sial.
Pria itu mungkin sudah keburu hilang di antara keramaian Norwyn.
Pesanan kopi Adrian sampai, tapi tampaknya tidak ada yang bisa mengalihkan perhatian nya dari Kalma. Dia selalu menjadi objek favorit Adrian.
“Kenapa kamu selalu duduk sendirian di kafe paling mahal di Norwyn? Nunggu ditaksir barista?” dia menyesap kopinya sambil terus melirik Kalma.
Kalma meneguk latte-nya tanpa menoleh. “Aku nunggu kamu sadar diri dan berhenti muncul tanpa diundang.”
“Kalau aku nurut, nanti kamu kesepian.”
“Yakin kamu nggak salah target? Perempuan kesepian biasanya bawa-bawa kucing, bukan belati.”
Adrian terkekeh. Sejenak, dia meletakkan cangkir kopinya ke meja. “Tapi kamu bawa dua-duanya. Belati dan... tatapan kucing galak.” ada kilatan geli bermain di mata abu-abu indahnya.
Kalma menoleh malas, menyipitkan mata. “Kalau aku lempar sendok ini ke mukamu, kamu masih bakal bilang aku galak?”
“Kalau itu artinya kamu perhatiin aku, aku anggap itu progress.”
Kalma mendengus. “Terserah kamu deh, mau anggap itu tamparan atau tanda cinta. Lagipula itu sama-sama bikin kamu babak belur juga.”
Adrian mencondongkan tubuh ke meja, suaranya lebih pelan. Berbisik konspiratif, “Kamu tahu kan... aku bisa berhenti kapan saja. Tapi aku nggak mau.”
Kalma menatapnya sejenak—dan untuk sepersekian detik, matanya melunak, nyaris tak terlihat. Mata mereka saling mengunci.
“Terserah. Cuma jangan nyalahin aku kalau suatu hari kamu nggak bisa bedain mana luka dan cinta.”
Adrian tersenyum tipis. Kali ini, senyum yang tidak main-main.
“Kalau lukanya datang dari kamu... mungkin sakitnya bisa kuterima.”
Kalma memutar bola matanya dan berdiri. “Kamu itu masokis apa b**o sih.”
Adrian ikut berdiri. “Kalau aku bilang dua-duanya, gimana?”
Kalma berjalan keluar tanpa menoleh. “Bagus. Biar kamu siap kalau suatu hari aku benar-benar ninggalin kamu tanpa pamit. Atau bunuh kamu sekalian.”
Adrian mengikutinya dari belakang, seperti biasa. “Tapi belum hari ini, kan?”
Kalma hanya menyelipkan tangannya ke jaket, bergumam kecil, “Tergantung seberapa nyebelin kamu malam ini.”