Suara langkah Kalma menggema di lantai marmer ketika ia masuk tanpa bicara. Gerakannya anggun, tapi sedingin tembok. Jaket kulitnya dilempar asal ke sofa, sementara itu dia langsung menuju kulkas di dapur tersebut. Ia membuka pintunya hanya untuk menutupnya kembali beberapa detik kemudian.
“Tidak ada yang manis,” decaknya sebal.
“Tidak cuma kulkasku, bahkan hidupku juga nggak manis. Tapi lihat, kamu masih terus balik ke sini,” suara Adrian terdengar dari arah balkon. Ia bersandar di ambang pintu, kemeja putihnya setengah terbuka, rambutnya agak berantakan. Pria itu semakin tampan dengan tampilan seperti ini.
Kalma tidak menoleh, namun dia tetap membalas, “Jangan merasa spesial. Aku cuma malas cari hotel baru.”
Adrian melangkah masuk perlahan untuk mendekat. “Gampang. Balik saja ke apartemenmu.”
Kalma duduk di meja makan, memainkan sendok perak yang ia temukan di dekatnya. “Apartemenku dingin, Adrian. Nggak ada manusia menyebalkan yang bisa aku ajak ribut sebelum tidur.”
Adrian tersenyum geli, Ia bergabung dengan kalma di meja. “Jadi, aku ini sebatas penghangat ranjangmu saja, begitu? Ah, poor me.”
“Ya. Dan Kalau kamu mati nanti, mungkin aku akan pakai jasadmu buat bantal panas.”
Adrian justru tertawa mengejek. “Konyol! Kalau aku mati tubuhku pasti dingin dan kaku.” Tapi kemudian dia menyeringai, menyadari sesuatu. “Tapi serius, Gila kamu romantis banget. Meskipun aku sudah matipun kamu nggak mau pisah dariku.”
Kalma tak menanggapi, dia hanya mendengus. Detik-detik berikutnya berlalu dengan kesunyian. Adrian sibuk mengamati wajah wanitanya. Sementara Kalma entah apa yang dipikirkannya hingga dahinya berkerut kerut begitu.
“Aku nggak ngerti kamu, Kalma,” gumam Adrian tiba-tiba. Nadanya lebih pelan, seperti saat dia sedang benar-benar serius. Kalma menoleh saat Adrian kembali melanjutkan. “Kamu bisa bunuh orang tanpa berkedip, tapi kamu selalu balik ke tempat ini dan membiarkan aku hidup setelahnya. Maksudku, Kenapa aku?”
Kalma berdiri, berjalan mendekat lalu berhenti di sampingnya. Ia menatap Adrian dari atas. “Karena sialnya kamu punya kasur terenak se-Norwyn.”
Itu alasan terkonyol yang pernah Adrian dengar. Adrian mendongak, menatap wanitanya lurus-lurus. “Hanya itu?”
Kalma mencondongkan tubuh ke depan, nyaris menempelkan wajahnya dengan Adrian. Bahkan, napas hangat Kalma berembus lembut di wajah Adrian. Wanita itu membisik, “Kalau aku bilang ya, kamu bakal percaya?”
Adrian membeku sepersekian detik. Dia terpesona pada kecantikan Kalma dari jarak sedekat itu. Astaga! Jantungnya berdentum seolah mereka sedang pawai penyambutan raja. Benar-benar riuh.
Kalma menarik diri, lalu berjalan ke arah kamar dengan langkah malas. “Lampu jangan dimatiin. Kalau kamu nyusul aku tidur, jangan napas terlalu keras. Aku benci suara dengkuran manusia.”
“Kalma,” Panggilan Adrian menginterupsi. Membuat langkah kalma berhenti di ambang pintu.
“Aku sayang kamu.”
Kalma tak menoleh. Tapi dia menjawab, “Aku tahu.”
Kemudian ia masuk, menutup pintu perlahan. Tak ada kata balasan. Tapi ketika Adrian masuk sepuluh menit kemudian, ia menemukan Kalma sudah berbaring di sisi tempat tidur—setengah tubuhnya menghadap kosong ke sisi tempat Adrian biasa tidur.
Seperti sudah menunggu.
Tanpa banyak berpikir Adrian naik ke tempat tidur. Menyandarkan punggungnya di kepala ranjang.
“Aku selalu jadi tempatmu pulang. Lucu sekali jika kamu terus menolak perasaanku.” Adrian bergumam hanya untuk membuat Kalma mendongak padanya.
Sekonyong-konyong satu bantal melayang ke muka Adrian, membuat pria itu terkekeh. “Smartass! Jika bukan karena ranjang ini yang hangat, aku tidak sudi balik ke sini.”
Bagi Adrian meski jawaban itu terdengar nyelekit dan sarkas, tapi itu cuma kamuflase saja—jawaban konyol untuk menutupi perasaan yang sebenarnya. Kalma tidak seburuk itu, dan Adrian tau dia hanya mencoba terlihat kuat dengan title iblis yang dia punya. Karena pada beberapa kesempatan, Adrian merasa dia melihat sisi manusia pada diri Kalma.
Adrian tertawa pelan, menarik Kalma mendekat ke arahnya. Ia terlalu mengenal Kalma untuk menerima begitu saja perkataannya. “Benar, tidak lain tidak bukan karena ranjang hangat. Dan bukan karena kamu sebenarnya menikmati kebersamaan denganku,” goda Adrian, suaranya lembut meski bernada bercanda.
Kalma memutar mata malas, sejenak dia sibuk sendiri dengan selimut demi menutupi tubuhnya. Dia benar-benar merealisasikan kalimatnya 'mencari kehangatan'.
“Kamu tau kan, bahwa aku lebih dari sekedar mampu membunuhmu kapan saja aku mau? Kamu terlalu santai untuk ukuran manusia biasa yang tidur dengan Iblis.”
Lagi-lagi Adrian justru tertawa pelan, tidak merasa tersinggung sedikitpun. Kalimat kalma benar-benar hanya seperti sebuah lelucon konyol. Dia menyesuaikan posisinya sedikit untuk membuat mereka berdua lebih nyaman. “Dan di sinilah aku, berbagi tempat tidur dengan iblis itu sendiri, alih-alih langsung kabur selagi ada kesempatan.”
Dia mengusap-usap rambut wanitanya dengan lembut. “Kamu punya banyak kesempatan untuk menggorok leherku saat tidur, atau bahkan sekarang? tapi kamu nggak melakukannya tuh.”
“Terlalu percaya diri. Aku bakal melakukannya, tapi nggak sekarang." Kalma membalas sinis.
Adrian tersenyum, tahu bahwa lidah tajam Kalma hanyalah sebuah mekanisme pertahanan. Ia terus mengusap-usap rambut Kalma dengan lembut, menikmati saat-saat hening yang jarang terjadi di antara mereka. “Jadi, kapan tepatnya kamu berencana membunuhku? Setidaknya aku harus tahu agar aku bisa berdamai dengan penciptaku.”
“Kapanpun. Dan, teruslah bertanya, Adrian, maka akan kubuat jarak antara neraka dan kamu sedekat mungkin.” Kalma mendengus, menatap Adrian dengan jengkel.
Tawa Adrian kembali menggelegar, membuat dadanya ikut bergemuruh. Dia melempar bantal ke arah Kalma dengan ceria. Ia menyukai mulutnya yang cerdas dan kecerdikannya. Itu adalah kombinasi terbaik dan alasan mengapa ia jatuh padanya setiap saat. Meskipun, yah, dia tahu bahwa Kalma itu iblis.
Dia akhirnya membalas, "You know what your problem is? You have no filter.” gerlingan geli bermain di wajah tampannya.
“You know what your problem is?” Kalma tidak ingin kalah. Dia membalas tak kalah pedas. “Kamu terlalu naif untuk berpikir bahwa iblis sepertiku akan berbelas kasihan pada manusia biasa sepertimu.”
“Mmh, there it is. The scary demon side,” Dia menyeringai, tahu bahwa kata-kata tajamnya dimaksudkan untuk membuat orang menjauh. Dia menguji ombak, mencoba peruntungannya kali ini. “You know, most girls would kill to be this close to me. Tapi lihat kamu? Justru mengancam bakal membunuhku.”
“I'm not most girls. I'm a Demon. A real Demon From hell.” Ada penekanan di setiap katanya, seolah menunjukkan bagaimana fakta itu tak terbantahkan.
Kalma tidak suka dibandingkan dengan manusia. Mereka itu lemah, sedangkan dia adalah iblis—iblis yang kuat dan ditakuti.
“Ya, ya, ya.. A Demon it is.” Adrian memutar matanya, seolah-olah meledeknya. “Tapi kamu sadar nggak sih? Kamu justru ada di sini loh. Berbagi tempat tidurku. Bersikap sarkastik dan alih-alih merobek tenggorokanku.” Suaranya lirih, menyimpan kata-kata yang tak terucapkan seperti 'mengapa kau belum membunuhku?’
“Apakah semua iblis itu menggemaskan ketika mereka tidur?”
“Sebaiknya tutup mulutmu jika kamu masih ingin tidur nyenyak dan bangun lagi besok. Jika tidak, bukan udara pagi yang akan menyambutmu besok, melainkan bau asap neraka.”
“You know what? You talk a big game, devil. But you're all bark and no bite.”
Sontak kalimat ejekan itu membuat Kalma naik pitam. Dia menatapnya tajam, mata hijaunya yang semula indah dan mempesona sekarang berubah menjadi bara api yang menyala. Kalma mencondongkan wajah ke arahnya. Napas hangat berhembus di wajah pria itu. Kalma berbisik dengan tajam, "Kamu benar-benar ingin menguji—”
Sebelum Kalma sempat menyelesaikan kalimat itu, Adrian bertindak tak terduga dengan menciumnya tiba-tiba. Perlahan dan lembut. Alih-alih dia dibungkam oleh Kalma, Kalma justru dibungkam olehnya.
Adrian benar-benar memotong ancaman wanita Itu dengan sebuah ciuman lembut dan dalam. Tangannya masih memainkan rambut Kalma. Dia memutuskan ciuman itu perlahan, ibu jarinya menyapu pelan bibir wanitanya. “Shut up and go to sleep, Kalma. Sebelum aku benar-benar melakukan hal bodoh lainnya.”
Kalma tidak mengatakan apapun. Tidak juga menolak setiap sentuhannya.
“Kamu tahu apa yang benar-benar bodoh? Jatuh cinta pada iblis yang mungkin akan merobek jantungku setiap saat.” Adrian kembali bersuara. Tangannya bergerak dari rambut Kalma untuk menangkup wajahnya dengan lembut, menahan tatapannya dengan mata abu-abu indah miliknya, yang seolah-olah dapat melihat langsung ke dalam pertahanan kokoh itu.
Sebelum Kalma bisa membalas, pria itu menciumnya lagi. Kali ini lebih dalam dan lebih intens. Seolah-olah Adrian benar-benar mencurahkan semua perasaannya di sana.
“You're impossible,” bisiknya di bibir kalma. “Iblis paling menakutkan yang pernah kutemui, yang mengancam akan membunuhku di setiap kalimatnya. seharusnya aku takut, namun... di sinilah aku, menciummu seperti hidupku bergantung padanya.”
Nyaris tidak ada jeda, setelah mengatakan itu Adrian kembali memperdalam ciuman itu. Tangannya menjelajahi wajah dan rambut wanita itu dengan posesif. Dia menarik sedikit, terengah-engah pelan, “Kalma... jika aku mati besok, kamu akan menjadi alasannya, bukan? Kamu akhirnya akan kehilangan kesabaran dan merobek jantungku?”
“Diam, sialan! Jangan sok romantis.” Alih-alih terkesan dengan kalimat Adrian, dia justru mengumpatinya pelan. Namun, tetap saja kedua bibir itu kembali bertaut. Sebuah ciuman balasan yang tidak kalah dalam dan keras, seolah-olah untuk menegaskan kepadanya apa itu 'iblis'.
Tanpa ada yang menyadari, ciuman itu telah berubah menjadi lebih panas dan intens. Melibatkan lidah dan invasi mulut satu sama lain dengan sukarela. Itu membangkitkan sesuatu dalam diri mereka. Keinginan yang tiba-tiba membara.
“f**k, Kalma... You can't kiss me like that, lalu berharap aku bisa tidur begitu saja setelahnya.” Adrian terengah. Tatapan sayu tak mudah ia sembunyikan. Sebuah kabut telah menguasainya. Menciptakan keinginan gila yang membuatnya frustasi.
“Apa kamu ingin aku membunuhmu sekarang agar kamu bisa tidur nyenyak malam ini?” Kalma menyeringai. “Katakan saja, Adrian.. belatiku akan senang bersarang di jantungmu.”
Matanya menggelap berbahaya, seringai bermain di bibirnya. “Kau tahu? Aku lebih baik mati di tanganmu setelah menghabiskan satu malam yang tak terlupakan bersamamu daripada hidup satu hari lagi sendirian di tempat tidur yang dingin ini.”
Kali ini Adrian benar-benar nekat. Dia tidak peduli dia akan mati cepat setelah ini. Yang ada di pikirannya saat ini hanyalah hasrat yang membara, yang butuh segera dituntaskan.
“You're playing with fire, you know that, Adrian? Kamu bakal terbakar.”
“I'm already burning,” Dia berbisik, membungkuk untuk menangkap bibirnya lagi. “Untuk iblis yang bertingkah seperti ratu es. Untuk monster yang perlahan-lahan menjadi obsesiku.” Tangannya mencengkeram kuat pinggang mungil itu, menariknya lebih dekat. “Jadi ya, aku bermain dengan api. Itu masalah besar, tapi aku tidak peduli.”
“Jangan menyesalinya, Adrian. Kamu mungkin akan benar-benar terbangun dan tiba-tiba berada di neraka besok.”
“If I wake up in hell, at least I'll have died happy,” Dia bergumam serak di bibirnya. “Dan jika kamu juga ada di sana, itu jauh lebih baik lagi. Karena aku lebih suka berada di neraka bersamamu daripada di surga tanpamu.” Dia menciumnya dalam-dalam, membungkam protes lebih lanjut.
Dengan sambutan tak terduga—sebuah balasan ciuman yang sama bergairahnya, itu membuat darah-darah Adrian berdesir. Jantungnya berpacu cepat. Dia akan menganggap penerimaan kalma adalah lampu hijau. Maka, dia tidak akan ragu untuk melanjutkannya ke tingkat yang lebih gila lagi. Ke sesuatu yang bisa membakar keduanya lebih buruk.
Kalma menyadarinya, dari bagaimana tangan nakal Adrian yang menjalar kemana-mana, dari bagaimana ciuman itu berubah jadi sebuah ekstasi yang tidak bisa dihentikan—Adrian benar-benar kehilangan kontrol atas dirinya sendiri. Dia bahkan telah berhasil membuka setiap kancing kemeja kalma. Lalu, membuka pakaian miliknya sendiri.
“Answer me one thing…” dia berbisik serak. “Do you want me to stop?” Dia bertanya, suaranya rendah dan serius.
“You want me to stop you and kill you right now?”
Dia mengunci tatapannya, ekspresinya tak terbaca. “Ya. Jika itu yang kamu inginkan. Aku lebih baik mati sekarang daripada kamu menyesalinya nanti.” Tangannya tetap diam, menunggu keputusan wanitanya. Adrian serius, bersedia menerima apa pun yang dia pilih.
“Sudah kubilang, aku memberimu kebebasan terakhir. Lakukan apapun yang kamu mau, sebelum aku melakukan yang aku mau.”
Bagai sebuah komando, Adrian berkilat antusias untuk mematuhinya. Dia tidak akan menahan dirinya lagi malam ini.
Dia menggeram, membungkamnya dengan ciuman intens lainnya saat tangannya menyelinap ke bawah punggungnya, melepaskan kaitan bra-nya. Dia ingin momen ini bertahan lama. Dia ingin mengingat setiap lekuk tubuhnya sebelum dia mengakhirinya.
“Setidaknya aku akan mati dengan bahagia. I'll die fvcking ecstatic.”