Langit Norwyn masih kelabu meski mentari sudah tinggi. Di lantai enam gedung ONN—Obsidian News Network, tempat segala jenis berita bermuara dan dibedah sampai tulang—Alden Carter duduk bersandar pada kursinya, jari-jari mengetuk-ngetuk meja dengan gelisah.
Artikel itu belum selesai.
Padahal biasanya dia cepat. Tulisan-tulisannya selalu tajam, penuh opini dan data, sering bikin redaktur garuk-garuk kepala. Tapi kali ini, pikirannya macet.
Wajah wanita itu masih membayang. Suara teriakan jengkelnya. Tatapan matanya yang menusuk. Darah dimana-mana. Dan jasad yang tergeletak dengan leher tergorok, dingin di bawah cahaya lampu jalan yang kuning pucat.
Alden meremas batang pena, menatap layar laptopnya yang masih kosong setengah. Judul yang ia beri:
“Pembunuh, Penyelamat, atau Hantu Malam Norwyn?”
Dia sendiri belum yakin siapa wanita itu. Tapi dia tahu satu hal, apa yang terjadi malam itu bukan hanya kebetulan.
“Alden,” suara rekan satu timnya, Casey, memanggil dari balik kubikel. “Redaktur nanya, artikel ‘Malaikat Pembunuh’ itu kapan selesai?”
Alden menjawab tanpa menoleh, “Kalau dia buru-buru, suruh nulis sendiri.”
Casey tertawa pendek lalu menghilang. Alden kembali ke layar. Tangannya mulai menari di atas keyboard, merangkai kalimat demi kalimat dengan presisi jurnalis investigatif yang tak pernah main-main. Tapi ia tak menulis seolah itu sekadar berita. Ia menulis karena merasa ini masalah penting. Ada jejak misterius di baliknya. Ada teka-teki yang perlu dipecahkan.
“Kalau dia memang pembunuhnya, kenapa dia nggak langsung kabur?” gumamnya pada diri sendiri. “Dan kalau dia penyelamat... kenapa matanya seperti iblis? Dia bahkan mengacungkan senjata.”
Alden berhenti sejenak. Menatap layar. Menarik napas. Ini bukan sekadar artikel. Ini awal untuk sesuatu yang besar. Dia tahu itu. Dan entah kenapa, bagian terdalam dirinya—yang tak pernah keliru membaca kasus—berbisik: Wanita itu akan muncul lagi.
Dan ketika saatnya tiba, Alden akan siap. Dengan pena, logika, dan sedikit... rasa penasaran yang nyaris beracun.
Suara langkah sepatu keras-keras terdengar mendekat dari koridor. Lalu—
BRAK!
Pintu ruang redaksi dibuka kasar.
“Carter! Kamu pikir ini kafe literasi ha? Duduk manis, kopi, dan kontemplasi?” Suara berat itu membahana, seperti bariton yang dipaksa stand up comedy.
Alden tidak kaget. Sudah hafal. Itu dia—Mr. Rowen Hardley, pemimpin redaksi ONN. Seorang pria buncit dengan rambut menyisakan dua sisi, celana selalu kedodoran di pinggang, dan kaus kaki beda warna. Meski begitu, suaranya bisa bikin printer berhenti bekerja sendiri.
“Artikelmu mana? Jangan bilang kamu masih mikir judul? Judul bukan nama bayi, Carter. Nggak perlu sembilan bulan.”
Alden bersandar santai di kursi, menyesap kopi dengan khidmat. “Judulnya sudah ada. Tinggal isi.”
“Bagus. Karena kalau nggak selesai sebelum sore, aku ganti kamu sama magang. Si Bryan itu, tahu kan? Yang kalau ngomong kayak mau nangis tapi nulis berita ekonomi?” Mr. Rowen menunjuk pakai bolpen yang entah kenapa bentuknya kayak sendok es krim.
“Ancaman yang menarik.” Alden mengetik perlahan, tetap tenang. “Kalau mau bikin ONN kolaps dalam seminggu, silakan saja.”
Mr. Rowen mendekat, menatap layarnya. “Ini? Judulnya ‘Pembunuh, Penyelamat, atau Hantu Malam Norwyn?’ Hmm. Kurang clickbait. Coba ganti: Ciuman Maut di Sudut Kota!—romantis, misterius, menjual!”
Alden nyaris tersedak kopinya. “Pak, itu berita kriminal. Ada korban tewas. Bukan fanfiction kampus.”
Rowen nyengir. “Justru itu! Emosi pembaca perlu dipancing. Antara takut dan penasaran. Makanya kita bikin headline yang bikin jantung naik ke ubun-ubun!”
“Yang naik biasanya tekanan darah, Pak.”
Mr. Rowen mengabaikan sarkasme itu. Lalu mendekat, menepuk bahu Alden dramatis. “Kamu tahu, Carter, kadang aku bangga padamu. Tajam, keras kepala, dan nyebelin. Sama persis kayak mantan istriku.”
“Terima kasih, Pak. Itu pujian atau curhat?”
“Dua-duanya.” Ia berbalik, lalu menambahkan, “Selesaikan artikel itu. Jangan bikin aku turun tangan. Karena kalau aku yang nulis, mayat bisa hidup lagi cuma buat protes.”
Alden menunggu sampai pintu tertutup lagi. Lalu mendesah. “Aku beneran butuh pekerjaan lain.”
Tapi dia tetap lanjut mengetik. Karena seaneh apapun ONN,di sinilah tempatnya. Tempat segala kebohongan dan kebenaran bertarung di satu halaman. Dan dia—Alden Carter—berdiri di tengahnya, memegang pena dan kamera sebagai senjata.
***
Nyaris dua jam Alden memelototi layar laptop yang makin lama makin terlihat seperti halaman kosong takdir hidupnya. Kopi sudah dingin, rambut acak-acakan, dan tumpukan catatan berserakan seperti jejak frustasi.
Satu hal yang paling menyiksa jurnalis investigasi bukanlah ancaman, bukan juga narasumber yang sulit ditemui. Tapi—deadline absurd dengan bukti minim.
Dia menengadah. “Mati aja kali ya.”
“Kalau bisa, tunggu sampai edisi cetak besok tayang dulu, bang.” Tiba-tiba suara Lisa, editor kriminal, menyahut dari balik sekat. “Kalau kamu mati sekarang, judulnya bisa: Jurnalis Stress, Bunuh Diri karena Tekanan Kantor.”
Alden mengangkat alis. “Setidaknya itu clickbait.”
Tapi otaknya tetap kembali ke kejadian malam itu. Sosok wanita yang nyaris membunuh pria di gang sempit. Dan satu jasad dengan leher tergorok tergeletak tak jauh dari mereka. Polisi menginterogasi, tapi tidak ada CCTV. Tidak ada saksi lain. Hanya Alden dan kekacauan yang jadi teka-teki.
Ia mengusap wajah, lalu berdiri. Mengambil jaket. “Ke kantor polisi dulu. Siapa tahu penyidik makin cerewet dan ngasih bocoran saking kesalnya.”
Lisa melirik jam dinding. “Ngomong-ngomong, Rowen udah nyariin kamu lagi. Katanya, ‘kalau si Carter belum setor artikel, saya setor dia ke alam baka.’”
“Penuh kasih seperti biasa.”
***
Kantor Polisi Pusat Norwyn.
Sinar matahari menerobos kaca tinggi, menyorot debu-debu yang menari pelan. Tapi bagi Alden, ruangan itu tidak membawa damai—melainkan tekanan.
“Masuk, Carter.” Suara penyidik Gareth terdengar seperti batu geser. Pria besar, botak, dengan ekspresi sekeras meja interogasi. Tapi Alden cukup sering berurusan dengannya untuk tahu: Gareth tidak mudah dibohongi, tapi bisa diajak kerja sama… asal sabar.
“Masih belum bisa tidur sejak kejadian itu?” tanya Gareth basa basi.
“Kalau saya bilang iya, apa bisa minta bantuan psikolog gratis?”
Gareth hanya mendengus. “Belum ada identitas korban. Tapi dari luka, jelas profesional. Satu tebasan, langsung putus nadi. Bukan orang mabuk atau gelap mata.”
Alden mengangguk. “Saya tahu. Tapi saya nggak bisa nulis artikel dengan teori doang. Pembaca butuh fakta.”
Gareth menatapnya lama. “Kadang saya curiga kamu ini wartawan atau polisi undercover.”
“Saya lebih suka disebut sastrawan korban tekanan redaksi.”
Gareth menyodorkan foto TKP. “Ini belum dirilis. Tapi karena kamu saksi dan tukang rewel, ambil. Cuma jangan nyebar.”
Alden mengamati foto itu. Satu detail kecil membuatnya berhenti bernapas sejenak. Simbol kecil di pergelangan korban. Seperti terbakar.
Dia menutup foto cepat-cepat. “Ini... Anda sadar ada ini?”
Gareth mengangguk pelan. “Belum tahu lambang apa. Tapi bukan tato biasa. Seolah dibakar dari dalam.”
Alden menyimpan itu baik-baik. Ada benang merah. Ada sesuatu yang tidak manusiawi. Tapi ia belum tahu harus menariknya ke mana.