Alden butuh jeda. Kepalanya sudah mendidih. Bahkan kopi pantry tidak lagi berguna, dan kalau dia harus menatap wajah Mr. Rowen satu jam lagi saja, dia bisa-bisa nyekek bosnya sendiri pakai kabel charger.
Jadi, dia memutuskan untuk kabur sejenak. Menyusuri kota, nyari kafe, bar, atau tempat yang bisa menyelamatkan kewarasannya malam itu. Meski tampaknya Norwyn sedang tidak ingin bersahabat.
Di perempatan jalan utama, mobil-mobil terhenti. Klakson meraung, lampu-lampu sirine berkedip liar, dan orang-orang turun dari kendaraan, berkerumun seperti semut bertemu gula.
Alden mengernyit penasaran. Apa yang terjadi? Dia bertanya-tanya. Tanpa pikir panjang, dia turun dari motornya, menyusup di antara kerumunan. Lalu matanya membelalak.
Di tengah jalan, sebuah mobil hangus masih berasap. Truk besar terguling beberapa meter dari situ, muatannya berserakan. Tapi yang paling mengerikan bukan kendaraan—tapi tubuh pria yang tergeletak tak bernyawa tak jauh dari kendaraan naas itu.
Alden mendekat. Menyelinap di bawah garis polisi, kebiasaan lamanya muncul lagi. Dia melirik ke kanan—seorang petugas sibuk menenangkan saksi. Ke kiri—tak ada yang memperhatikan. Maka dia jongkok demi bisa mengamati si korban lebih dekat. Dan saat melihat tubuh itu lebih dekat, jantungnya mencelos.
Itu dia. Pria malam itu. Pria yang hampir dibunuh wanita misterius. Pria yang masih sempat tertawa dan kabur di antara gang gelap. Sekarang dia tergeletak dengan luka menganga di d**a. Seolah-olah itu bekas tebasan benda tajam, Bukan luka kecelakaan. Bukan benturan.
Ini jelas pembunuhan.
Alden bangkit pelan. Detak jantungnya menggila. Ini bukan kebetulan. Wanita itu... yang ia lihat malam itu, apa dia pelakunya? Atau justru... melindungi pria ini dari sesuatu yang lebih besar? Alden menatap mayat itu lama. Begitu lama sampai suara di sekelilingnya mulai redup, tinggal gumaman yang teredam di telinganya.
Dia nggak tau berapa menit dia berdiri di sana, membiarkan dunia bergerak sementara pikirannya terpaku pada satu fakta—dia mengenal wajah itu.
Dan sekarang pria itu tergeletak tak bernyawa dengan luka yang tak bisa dijelaskan oleh logika.
Napasnya berat. Alden menatap kosong ke arah mobil-mobil yang berhenti karena kemacetan. Lampu rem menyala seperti kelap-kelip neraka di kejauhan. Lalu dia melihatnya. Di atas atap salah satu mobil, tepat di seberang jalan, ada sosok yang duduk santai. Seorang wanita dengan pakaian serba gelap, rambut berkibar, kaki bersilang dengan anggun—seolah jalanan kacau ini cuma panggung pertunjukan untuknya.
Dia menyeringai misterius. Lalu mengedip ke arah Alden. Alden langsung membelalak. “s**t,” gumamnya.
Dia mengucek matanya, sekedar memastikan bahwa dia benar-benar sadar dan bukan halusinasi. Tapi, begitu dia kembali fokus.. Kosong. Atap mobil itu cuma atap biasa. Tidak ada siapa-siapa di sana. Hanya debu dan sinar lampu jalan yang pucat.
“Hey!! Siapa kamu?!” Teguran tajam menyentaknya kembali ke realitas.
Seorang polisi mendekat dengan ekspresi kesal. “Ini area yang sudah dibatasi. Anda saksi, bukan penyidik. Silakan minggir sebelum saya bawa ke kantor!”
Alden mengangkat tangan pelan. “Ya, ya. Maaf. Refleks jurnalis.”
Dia mundur beberapa langkah, matanya masih menyapu ke sekeliling, berharap wanita itu muncul lagi. Tapi tidak. Sepertinya dia memang hantu—atau lebih buruk—kepala Alden sudah konslet dengan menciptakan bayangan wanita itu. Seolah-olah dia ada, padahal tidak.
Dan Alden benci perasaan ini. Perasaan menjadi bidak dalam permainan yang belum dia pahami.
***
Suara ledakan kecil terdengar dari arah bawah flyover, disusul kepulan asap dan bau logam terbakar yang menusuk. Mobil Dino terguling, ringsek parah. Tapi pria itu masih hidup. Berlumuran darah, tertatih, namun senyum angkuhnya tetap terpasang.
Kalma melangkah keluar dari bayang-bayang, sepatu hak tingginya menginjak pecahan kaca tanpa ragu. Satu lengannya bersandar santai di pinggang, sementara yang lain memegang belati emas yang kini berbentuk seperti sabit ramping.
“Dino,” ucapnya datar. “Atau harus kupanggil dengan nama aslimu… si parasit tak tahu diri yang kabur dari neraka.”
Dino tertawa pelan. “Wah, wah… Kau benar-benar pantang menyerah, ya? Aku bahkan belum selesai menikmati tubuh ini. Anak ini tampan, kau tahu?”
“Sayang sekali,” Kalma menyeringai. “Dia akan berakhir jadi arang sebentar lagi.”
Ruhka yang merasuki Dino berdiri, mencabut potongan besi dari pahanya dan melemparkan ke arah Kalma. Dengan cepat, Kalma memutar sabitnya, menangkis tanpa bergeser sedikit pun dari tempatnya.
“Kau tahu,” Kalma berkata santai. “Dari semua Ruhka bodoh yang pernah kuurus, kau termasuk yang paling cerewet. Apa di neraka tak mengajarkan diam sebelum dipotong lidah?”
“Aku kabur dari tempat itu karena aku ingin hidup!” Ruhka menggeram. “Kau pikir kami pantas dibakar dan disiksa selamanya hanya karena kesalahan satu kehidupan?!”
“Kau membunuh banyak orang bahkan anak-anak, Dino.” Mata Kalma bersinar keemasan. Sekilas terlihat tajam seperti mata reptil yang siap menerkam mangsanya. “Dan itu baru di minggu pertamamu merasuki tubuh ini.”
Ruhka mendorong sisa pintu mobil, berlari dengan napas tersengal, mencoba menyerang dari belakang. Tapi Kalma seolah tahu arah geraknya. Dengan lompatan ringan, dia mendarat tepat di atas kap mobil, lalu menendang Ruhka hingga tubuh pria itu menghantam aspal.
“Aww, kasihan. Manusia ini pasti akan masuk UGD… kalau jiwanya masih utuh.”
Ruhka memekik, mengangkat potongan knalpot sebagai senjata darurat dan menghantam ke arah Kalma. Serangan itu mengenai pundaknya—cukup keras, tapi tak cukup untuk melukai.
Kalma tersenyum miring. “Lucu. Aku sudah lama tak kena pukulan dari makhluk rendahan yang tak tau malu sepertimu.”
Ia menunduk, menghindari serangan berikutnya. Gerakannya sangat cepat, hingga tau-tau Kalma berhasil meraih Dino dan menggesekkan sabit ke bahunya. Suara mendesis seperti luka bakar terdengar, dan tubuh Dino langsung kaku. Cahaya kehitaman samar muncul dari luka itu—jiwa Ruhka mulai tertarik masuk ke dalam senjata kalma.
“Tahu tidak,” Kalma berbisik di dekat telinganya. “Yang paling kusuka dari momen ini… adalah ketika kalian menyadari kalian tak akan pernah lolos.”
Ruhka menjerit, tubuhnya mulai bergetar saat sabit Kalma berubah kembali menjadi bentuk belati. Ia menusuk tepat di d**a—tepat di inti tubuhnya. Sekali tebas dan Satu jeritan panjang menandai berakhirnya perburuan Kalma malam itu.
Tubuh dino jatuh mengenaskan di aspal. Bekas luka di dadanya menganga. Siapapun yang menemukannya nanti, mustahil tidak berpikir bahwa ini adalah pembunuhan. Walau insiden di sekitarnya menunjukkan hal lain yakni kecelakaan maut.
Kalma berdiri, menjentikkan jarinya dan seketika hiruk pikuk kembali hidup. Dia Mengelap darah di pipinya, lalu berkata pelan, “Satu lagi kembali ke kandang.”
Ia menoleh ke arah atap mobil-mobil yang mengular karena macet. Di salah satunya, dia melihat siluet pria yang sangat ia kenal—Alden Carter. Ekspresi jengkel menghiasi wajahnya.
Pria yang menarik!
Dengan angkuh, ia duduk di atas salah satu atap mobil, menyilangkan kaki. Lalu, dengan gerakan nakal, ia mengedipkan sebelah matanya pada Alden. Pria itu sudah berdiri di samping jasad dino. Wajahnya langsung syok seolah sedang melihat hantu. Kalma menyeringai jahil, dan dalam satu kedipan mata, dia menghilang.