Siluet mansion tua bergaya neoklasik itu berdiri megah di tengah kawasan tertutup di Distrik Atla, Norwyn. Tidak ada papan nama. Tidak ada petunjuk arah. Hanya undangan hitam bersegel lilin emas yang mengantar orang-orang tertentu ke sana malam itu.
Satu-satunya alasan mengapa mansion tua itu ramai malam ini adalah Lumen Noir.
Lumen Noir adalah acara amal lelang underground luxe yang hanya dapat diakses melalui undangan pribadi. Acara ini mempertemukan para elite—pebisnis, konglomerat, dan tokoh berpengaruh—dalam suasana privat dan elegan untuk bersatu dalam satu misi mulia: menerangi masa depan mereka yang hidup dalam bayang-bayang.
Hasil dari acara Lumen Noir dan segala donasi yang didapat nantinya akan diberikan kepada yang membutuhkan—sekolah anak-anak tidak mampu, bencana alam, korban perang dan banyak hal bermanfaat lainnya. Jadi secara umum acara ini sangat positif. Walau ini juga jadi ajang aji mumpung bagi para manusia berkepentingan untuk memperluas lagi koneksi mereka.
Mobil Adrian meluncur pelan di jalan berbatu yang dihiasi lampu lentera tua. Ia turun lebih dulu, mengenakan setelan hitam khusus dari koleksi privat desainer Italia, kancingnya berlapis obsidian dan emas pucat. Lalu ia membuka pintu penumpang dengan tenang.
Kalma keluar, menyusuri langkahnya dengan gaun berwarna deep ivory yang menonjol di antara tamu-tamu yang berbalut hitam. Gaun itu jatuh anggun, berkilau samar di bawah cahaya lilin gantung, dengan detail halus di bagian leher dan punggung. Rambutnya disisir ke belakang dengan anting-anting batu bulan menghiasi wajahnya yang datar tapi memesona.
“Siap jadi pusat perhatian?” bisik Adrian sambil menyodorkan lengannya.
Kalma menautkan lengannya. “Kupikir kamu suka jadi pusat perhatian.”
“Aku suka. Apalagi kalau di sebelahku ada wanita super cantik seperti ini.”
Kalma tidak menjawab. Sekarang dia mulai terbiasa dengan gombalan pria di sebelahnya ini. Bagaimanapun dia sudah mendengar itu setiap hari.
Mereka melangkah ke dalam ballroom yang telah disulap menjadi galeri misterius. Pencahayaan temaram dari chandelier antik memantul pada kaca-kaca bingkai karya seni. Musik gesek mengalun lembut dari sudut ruangan, mengiringi suara lembut para pramusaji yang menyajikan wine pairing kepada para tamu undangan yang jumlahnya tidak lebih dari lima puluh orang.
Beberapa dari mereka berhenti berbicara begitu Adrian dan Kalma masuk. Sebagian memberi anggukan sopan. Sebagian lagi hanya menatap diam-diam penuh kagum. Seseorang bahkan sempat menjatuhkan kacamatanya.
“Sepertinya aku menang taruhan,” gumam Adrian sambil mengedarkan pandangannya.
“Taruhan apa?”
“Aku bilang ke diriku sendiri, kamu akan bikin seluruh ruangan lupa cara bicara malam ini.”
“Coba jangan terlalu manis. Aku bisa mabuk bahkan sebelum wine-nya.”
Adrian terkekeh pelan. Mereka bergerak melewati deretan karya lelang yang dipajang dalam kotak kaca: jam tangan warisan diplomat, surat cinta tua beraksara tangan, lukisan tanpa nama dari seniman yang tak pernah muncul ke publik.
Beberapa kolega menyapanya—pengusaha properti dari Zurich, pemilik maskapai dari timur, pejabat keuangan yang wajahnya sering muncul di berita tapi kini mengenakan topeng beludru hitam.
“Valtieri,” sapa seseorang dengan aksen berat. “Senang kau datang. Kudengar kau akan menawar lukisan Rahmani?”
“Jika lukisan itu mampu menyentuh separuh dari minat wanita ini,” jawab Adrian sambil melirik Kalma, “maka aku akan menawarnya sampai langit runtuh.”
Tawa renyah terdengar—tawa khas orang-orang berduit. Lalu percakapan mereka bergeser ke nominal dan nilai histori koleksi.
Kalma sesekali melihat-lihat barang lelang, tapi lebih sering mengamati atmosfer. Semua orang tampak tahu tempatnya. Semua orang tampak mengenal Adrian. Semua orang mengobrol, membuat koneksi. Semua orang di sini sibuk dengan kepentingannya.
“Biasanya kamu sering bicara soal kontrol,” bisik Kalma saat mereka berhenti di dekat kotak kaca yang menampilkan pulpen emas dengan inisial presiden pertama.
“Lalu?”
“Di tempat seperti ini... kamu terlihat tidak sedang mengendalikan apa-apa. Tapi semua orang tetap bergerak mengikuti kamu.”
Adrian menoleh. Pandangannya dalam.
“Karena kontrol paling kuat,” katanya, “adalah saat orang tak sadar mereka sedang dikendalikan.”
Kalma balas menatapnya. Lalu mengalihkan pandangan kembali ke benda-benda di balik kaca.
Tepat pukul delapan, juru lelang muncul di atas panggung kecil yang disorot cahaya spotlight. Suaranya dalam dan tenang saat memulai prosesi utama.
Satu per satu barang dilelang dengan kisah di baliknya. Beberapa peserta bersaing ketat. Beberapa memilih untuk duduk diam dan hanya menyimak sambil menikmati wine di meja mereka.
Ketika lukisan Rahmani dipajang, Adrian tidak langsung mengangkat tangannya. Ia hanya menatap dalam-dalam ke arah warna-warna kelam yang dilukis secara obsesif. Lukisan itu punya nilai historis menarik dibaliknya.
“Sepuluh ribu,” kata seseorang dari belakang ruangan.
“Dua puluh,” sambung suara wanita.
Adrian menoleh ke Kalma. “Menurutmu... lukisan itu cukup pantas untuk kita pasang di ruang kerjaku?”
Kalma mengangkat bahu. “Aku lebih suka lukisan wajahku sendiri.”
Adrian tertawa pelan, lalu mengangkat tangannya.
“Seratus ribu,” katanya tenang.
Suara ruangan mendadak menegang. Tak ada yang berani menawar lagi. angka itu cukup fantastis hanya untuk sebuah lukisan. Ketukan palu yang disambut tepuk tangan menjadi pertanda kemenangan Adrian. Lukisan itu resmi jadi miliknya.
“Manis sekali kamu malam ini,” ucap Kalma saat Adrian duduk kembali.
“Baru malam ini?” Adrian pura-pura tersinggung. “Kupikir aku manis setiap hari.”
“Kamu lebih sering menyebalkan, tapi yah—kadang-kadang bisa manis.”
Adrian tertawa kecil. Lalu, tanpa peduli siapa yang melihat, ia mengaitkan jemari Kalma dan mengecup punggung tangannya pelan.
Dan seluruh wanita di ruangan itu tahu: Kalma bukan hanya pasangan Adrian malam ini—melainkan pemilik hati pria itu. Dia adalah satu-satunya tempat pria itu menambatkan hatinya.
***
Acara utama telah selesai.
Ketukan palu terakhir tadi menutup sesi lelang yang mendebarkan, dan kini ruangan yang semula sunyi penuh bisikan mulai menghangat oleh suara musik. Penyanyi perempuan dengan gaun merah gelap berdiri di tengah panggung kecil, suaranya mengalun lembut membawakan lagu lawas dengan iringan piano dan gesek senar.
Beberapa tamu mulai bersandar santai di sofa-sofa panjang, memegang gelas wine atau membicarakan koleksi yang baru mereka menangkan. Yang lain bergerak ke sisi ruangan tempat band memainkan musik, membentuk kerumunan tipis.
Adrian berdiri di dekat bar kecil, menatap gelasnya yang baru saja diisi kembali. Wajahnya tenang, tapi matanya bergerak pelan ke sekeliling ruangan—mencari seseorang.
Lalu, ia menemukannya.
Kalma berdiri tak jauh dari jendela besar yang dibuka separuh. Angin malam menyentuh rambutnya, dan pantulan lampu gantung membuat kulitnya seolah bersinar. Ia hanya berdiri, dengan ekspresi damai yang semakin menambah kecantikannya malam ini. Semakin terlihat mempesona.
Adrian menghampiri tanpa berpikir dua kali. Saat ia sudah cukup dekat, Kalma otomatis menoleh.
“Kukira kamu bakal sibuk ngobrol sama orang-orang penting itu sampai pagi.”
“Mereka memang penting,” ucap Adrian pelan, “tapi kamulah yang paling penting.”
Kalma mengangkat alis. “Kamu habis minum berapa, hm? Kayaknya udah mabuk.”
“Baru satu. Masih cukup waras buat di sisimu sepanjang malam.” Adrian meraih pinggang kalma. Melingkariku lengan kokohnya protektif. “Tapi kalau kamu terus menatapku kayak gitu.. aku bisa mabuk beneran tanpa bergelas-gelas alkohol.”
Kalma tertawa lembut, dia menatap geli Adrian dan gombalannya. Surprisingly, ada saat dimana gombalan itu nggak terdengar cheesy lagi. Seolah-olah Kalma tertarik ke dalamnya, yang bikin dia mendadak kayak taman bunga di musim semi.
Adrian menariknya, menggiring Kalma ke tengah ruangan.
“Dance with me?”
Hanya seulas senyum dari wanitanya dan itu sudah cukup bagi Adrian sebagai jawaban. Adrian merangkul pinggang Kalma, sementara tangan lainnya menggenggam tangannya erat. Kalma menempatkan tangan di dadanya—tepat di atas detak jantung yang terasa nyata.
“Kamu selalu tahu cara mencuri suasana,” bisik Kalma.
“Kalau kamu yang bersamaku, aku nggak perlu berusaha mencuri apapun. Dunia yang akan menyerah dengan sendirinya.”
Kalma mencibir kecil. “Cheesy.”
“Tapi berhasil bikin kamu senyum.”
Kalma tak membantah. Musik mengalun pelan. Langkah mereka bergerak mengikuti irama. Sesekali Adrian menatapnya, dan setiap kali itu pula Kalma terpaksa menghindari tatapan hangatnya.
“Aku suka malam ini,” ucap Kalma pelan. “Semuanya… tenang. Nggak ada gangguan yang menyebalkan.”
Adrian setuju, “Kalau bisa, aku pengen waktu berhenti di sini.”
“Jangan,” sahut Kalma. “Kalau berhenti… nanti kamu nggak bisa peluk aku kayak gini lagi.”
Adrian menatapnya lekat. Lalu, tanpa ragu, ia menarik Kalma lebih dekat. Wajah mereka hanya sejengkal. Suara musik terasa jauh, suara tawa dari ujung ruangan seperti tenggelam. Segala keriuhan di sekitar mereka seolah lengap. Satu-satunya yang Adrian rasakan adalah kehadiran wanitanya. Itu sudah cukup. Walau dunia runtuh sekalipun, dia tidak peduli—segalanya akan terasa baik-baik saja selama ada Kalma.
“Kalma,” ucap Adrian, “kamu sadar nggak sih, tiap kali kamu ada di sebelahku, aku kayak... lupa caranya khawatir. Aku lupa soal sekitarku. Kamu benar-benar seperti poros dunia, yang bisa bikin aku terus berotasi padamu.”
Kalma menahan napas. Lalu tertawa pelan, lirih, seperti ia juga takut membuyarkan momen ini. Walau itu terdengar agak berlebihan, tapi sepertinya itu cukup bisa diterima. Dia diam sebentar, pilih menatap netra abu-abu adrian dalam-dalam. Tanpa suara. Lantas, sekonyong-konyong Kalma menggumamkan sesuatu yang sanggup bikin matanya membelalak kaget.
“Aku suka kamu, Adrian.”
Adrian berhenti menari sejenak. Dia bahkan sampai lupa caranya bernapas.
“…Ulangi,” bisiknya. Seperti ada sesuatu yang tiba-tiba mengganjal tenggorokannya, bikin suaranya kedengaran mencicit.
Kalma masih setia menatap matanya. “Aku bilang aku suka kamu.”
Adrian tertawa pelan—tawa yang kemudian meledak dari dadanya. Ia menggenggam tangan Kalma lebih erat, lalu mengecup keningnya lama sekali. Dia menggeleng pelan, seperti baru saja dapat kejutan tak pernah disangka-sangkanya. Dadanya membuncah, letupan kembang api imajiner memeriahkan euforia itu. Dia benar-benar siap meledak karena bahagia saat itu juga.
“Aku juga, Kalma. Aku juga menyukaimu. Sangat. Aku jatuh cinta padamu sejak pertama kali kamu datang ke hidupku.”
Adrian mengusap punggung Kalma pelan, seolah sedang menyimpan semua momen ini ke dalam memorinya satu per satu.
Mereka terus berdansa. Tak peduli tamu lain mulai meninggalkan ruangan, tak peduli waktu bergerak.
Malam itu adalah milik mereka.