Gedung milik Adrian menjulang seperti panah perak di antara langit Norwyn. Bagian puncaknya seakan menembus awan, dengan dinding kaca mengelilingi lantai paling atas—tempat ruang kerjanya berada. Dari sini, Adrian bisa melihat seluruh kota: mobil-mobil kecil seperti semut di jalanan, pantulan cahaya lampu yang berkilau di jendela apartemen jauh di bawah sana, dan garis lurus rel trem yang memotong blok-blok jalan.
Ruangan itu sunyi. Hanya terdengar suara pendingin udara dan desiran halus berkas kertas saat ia membalik laporan. Meja kerjanya rapi, lebih menyerupai pajangan daripada ruang yang benar-benar digunakan untuk bekerja. Semua tertata, dari pena hingga laptop. Namun ada satu hal yang tidak serasi—satu-satunya benda yang tampak personal: sebuah bingkai foto mungil di sisi kanan meja.
Wajah wanita dalam foto itu tampak cemberut. Rambutnya cokelat, ikal ringan menjuntai di bahu. Ekspresinya seperti sedang memprotes sesuatu—tapi jelas itu bukan pose yang disengaja. Foto itu diambil diam-diam, saat Kalma tengah duduk di kursi Adrian, mungkin sedang kesal karena digoda. Dan entah bagaimana, gambar itulah yang paling sering membuat Adrian tersenyum belakangan ini.
Ia menyender di kursi. Menatap foto itu lama.
“Kenapa kamu tetap kelihatan cantik meski lagi cemberut, ya…” gumamnya pelan.
Ia meraih foto itu. Jempolnya mengusap bagian bingkai, lalu ia tertawa kecil—dalam ruangan kosong yang hanya berisi dirinya sendiri dan bayang-bayang perempuan yang diam-diam mulai memenuhi ruang hidupnya.
Kalma. Dia dingin, tertutup, dan tidak pernah mudah ditebak. Tapi juga... perempuan yang menoleh ke arahnya dulu hanya untuk memastikan bahwa Adrian benar-benar mengikutinya menyeberang jalan. Yang pura-pura ketus saat dia mengingatkan untuk makan, tapi selalu membalas pesan lima menit kemudian. Dan yang malam itu, untuk pertama kalinya, membuka sebagian dari dirinya.
Adrian mendesah, lalu menyandarkan kepala ke sandaran kursi. “Nggak salah ada yang bilang Iblis itu penggoda manusia. Kamu cemberut aja bikin aku kangen terus.”
Teleponnya bergetar di meja. Notifikasi rapat, tiga puluh menit lagi. Tapi Adrian masih menatap langit kota Norwyn, lalu menggeser foto Kalma lebih dekat ke arahnya. Seolah hanya dengan melihat wajah itu, ia bisa sedikit lebih tenang. Lebih waras.
Karena di balik segala rencana, tekanan, dan ambisi... ia masih laki-laki biasa, yang terlanjur jatuh hati pada perempuan luar biasa—yang bahkan belum sepenuhnya menunjukkan siapa dirinya sebenarnya.
Dan meski Kalma tidak pernah berkata, Adrian tahu. Perempuan itu mulai membuka ruang. Sedikit demi sedikit.
Dan itu cukup untuk membuat Adrian bertahan.
“Mr. Valtieri, meeting dimulai dalam lima menit.”
Suara sekretarisnya, Alina, terdengar lembut tapi tegas dari balik pintu yang sedikit terbuka. Ia berdiri dengan tablet di tangan, menunggu di ambang.
Adrian mengangguk kecil, menurunkan foto Kalma dan menyelipkannya ke laci meja sebelum berdiri. “Let’s go.”
Langkahnya mantap menyusuri koridor kaca yang menghubungkan ruang pribadinya ke ruang rapat utama. Dari luar, lantai tertinggi gedung itu seperti istana kaca—pemandangan kota Norwyn membentang dari segala penjuru. Tapi di dalam, atmosfernya terasa berbeda: profesional, tajam, dan terstruktur seperti pria yang kini melangkah di depan.
Vireon Group. Nama yang menghiasi dinding marmer ruang rapat dalam huruf timbul keperakan. Perusahaan itu adalah gabungan tiga dunia: properti, teknologi, dan game. Ia bukan sekadar pemain—tapi raksasa global. Dengan cabang di dua belas negara dan lebih dari seratus anak perusahaan yang bergerak di lini-lini khusus.
Ketika Adrian masuk, semua orang yang telah duduk langsung berdiri. Para eksekutif dari berbagai divisi: properti, riset digital, pengembangan AI, hingga kreatif game studio Vireon Play. Beberapa di antaranya bahkan berasal dari luar negeri, hadir langsung untuk presentasi hari ini.
“Silakan duduk,” ucap Adrian sambil mengambil tempat di ujung meja. Posisinya tidak perlu ditandai—wibawanya sudah cukup sebagai penanda.
Layar besar di belakang ruangan menampilkan tulisan: “Project Phoenix: Future of Interactive Living”
Adrian menyandarkan tubuh sebentar, lalu menatap seluruh ruangan. “Saya harap, apa pun yang kalian bawa hari ini, bukan hanya omong kosong.”
Ruangan mendadak terasa lebih sempit. Beberapa eksekutif menelan ludah, lalu mulai menyalakan perangkat masing-masing. Alina mengatur proyektor dan menyodorkan laporan cetak ke Adrian.
Presentasi dimulai.
“Project Phoenix adalah integrasi antara arsitektur cerdas dan sistem interaktif berbasis AI, Pak,” jelas salah satu kepala tim. “Kita akan membangun hunian yang tidak hanya efisien energi dan berteknologi tinggi, tapi juga mampu merespon emosi dan kebiasaan penghuni—layaknya game real-time yang terus belajar dari pemainnya.”
Adrian tidak menanggapi langsung. Ia membaca cepat laporan yang disodorkan, lalu melirik ke arah diagram di layar.
“Dan ini target rilis?” tanyanya tanpa ekspresi.
“Kuartal dua tahun depan. Kami sudah bekerja sama dengan tim dari cabang di Munich dan Osaka untuk penyempurnaan sistem pengenalan gestur dan mood tracking.”
Adrian menutup laporan itu. “Push ke kuartal pertama. Kalau butuh tambahan tim, ambil dari Dubai atau Toronto. Tapi saya tidak mau lihat satu bug pun waktu kita luncurkan versi beta.”
“Baik, Pak.”
Ia menatap salah satu kepala divisi kreatif. “Saya ingin interface-nya ramping. Bukan proyek pameran kampus. Dan jangan bawa ‘gaya Silicon Valley’ ke sini. Kita bukan mereka.”
Lelaki itu mengangguk cepat. “Kami akan buat revisinya minggu ini.”
Adrian lalu menyenderkan tubuhnya, akhirnya sedikit melunak.
“Project ini ambisius,” ucapnya. “Tapi kalau kita berhasil… kita bukan cuma membuat rumah. Kita membuat dunia baru.”
Satu per satu, para kepala divisi mencatat. Beberapa saling bertukar pandang. Ketika Adrian serius, tidak ada ruang untuk basa-basi.
Sampai akhirnya, ia mengambil tablet dari Alina, membaca sekilas laporan keuangan, lalu tersenyum tipis.
“Good. Lanjutkan dengan ritme seperti ini. Saya akan tinjau prototipe sistem interaktif akhir bulan ini. Sampaikan ke tim lapangan.”
“Siap, Pak.”
Pertemuan itu hanya berlangsung empat puluh lima menit, tapi cukup untuk membuat satu perusahaan bergerak dalam kecepatan penuh.
Saat Adrian kembali ke ruangannya, ia membuka laci, mengeluarkan kembali foto Kalma, dan menaruhnya di tempat semula.
Ia menatapnya sebentar.
“Kalau kamu tahu betapa sibuknya aku hari ini…” bisiknya pelan, tersenyum lembut. Kalimatnya tak tuntas keburu terdistraksi bunyi ponselnya. Senyumnya otomatis mekar sepenuhnya begitu tau isi pesan itu. Kalma.
“Speak of the devil.”
***
Sewaktu meraih gagang pintu rumahnya, jantung Adrian semakin berpacu antusias. Dengan bekal satu buket bunga cantik dan sekotak coklat dia buru-buru masuk ke dalam. Ia melongok ke dalam, mendapati rumahnya sepi—seperti biasanya. Semakin dia masuk ke dalam matanya menemukan sesuatu yang sejak tadi selalu memenuhi pikirannya. Atau lebih tepatnya—seseorang.
Kalma. Perempuan itu lagu bermalas-malas di sofa ruang tengah, selimut tipis melilit sebagian tubuhnya, rambutnya awut-awutan. Tapi anehnya justru itu yang membuatnya terlihat paling memikat. Sebab dia terlihat lebih manusiawi dengan penampilan itu. Satu tangan menopang kepala, tangan lain memegang remote. TV menyala, menampilkan film asing yang entah sejak kapan diputar.
Adrian mengembuskan napas. Senyumnya muncul tanpa permisi.
“Wah, Nona besar pulang ke rumah rupanya,” ucapnya separuh menggoda. Meletakkan buket dan kotak cokelat di meja sebelum menjatuhkan tubuhnya di ujung sofa yang masih kosong.
Kalma menoleh malas. “Rumah siapa?”
“Rumahku—maksudku rumah kita. Tapi aku yang bayar listriknya.”
Kalma mengangkat bahu. “Makanya aku bantu habisin.”
Adrian tertawa pelan. Ia mengambil satu keripik dari mangkuk di meja, mengunyahnya sambil tetap menatap perempuan itu. “Kamu tidur di sini dari kapan?”
“Baru aja. Aku niatnya cuma numpang duduk. Tahu-tahu udah jam segini.”
“Hm. Sofa ini emang punya efek magis—bikin siapapun ketagihan.” Ia menyenggol kakinya sengaja. “Tapi efeknya cuma muncul kalau kamu yang tiduran.”
Kalma memutar mata. Adrian dan gombalan sepertinya makin akrab saja. Kemudian tatapannya ditarik oleh bunga di atas meja. “Oh? Tumben nggak bawa mawar. Aku terharu loh.”
“Aku masih sayang hidupku.” jawabnya jenaka.
“Bunga apa itu?”
“Ranunculus. Katanya, artinya ‘I am dazzled by your charm.’"
“Pasti kamu cari di internet, kan?”
“Mmm, Aku ini totalitas kalau soal merayu tau! Bukan cuma omong kosong tapi juga fakta.”
Kalma tertawa. Dia menggelengkan kepala tak habis pikir. “Kalau itu buat apa?” dia menunjuk kotak cokelat.
“Buat jaga-jaga kalau bungaku nggak cukup buat meluluhkan hatimu hari ini.”
“Kalau aku tetap nggak luluh?”
Adrian mencondongkan tubuh, mendekatkan wajahnya pada kalma. Nyaris hanya sejengkal. Ia mengunci netra hijau cemerlang itu. Menatapnya dalam-dalam. Sepersekian detik, seolah terhipnotis, Kalma terpaku. Dia bahkan nyaris lupa bernapas. Seulas seringai menggoda terbit, Adrian kembali menarik diri. Dia kembali menyender di sofa, seolah yang tadi itu bukan apa-apa.
“Lebih baik mencoba dibanding tidak sama sekali, kan?” Adrian akhirnya membalas.
Kalma menatap balik, kali ini tak buru-buru mengalihkan pandangan. Ada jeda sunyi yang anehnya nyaman. Ada semburat pink samar di pipinya. Ia sempat ragu-ragu, tapi kemudian mengungkapkannya juga. “Baiklah. Kurasa aku tidak punya argumen lain untuk membantah.”
Bagi Adrian itu adalah sebuah deklarasi kemenangan. Yang mana artinya usahanya kali ini sukses berat. Kalma menerima bunganya. Apalagi sekarang dia sedang tertarik membuka kotak cokelat itu dengan wajah penasaran.
“Kamu pulang cepat.”
“Penjaga rumah bilang kamu datang. Rasanya semua hal lain mendadak nggak penting.”
Kalma tak buru-buru menanggapi. Ia justru sedang terhanyut pada ledakan rasa di mulutnya—manis, pahit, dan kadang-kadang sedikit asam. Dia jarang menyukai makanan manis, tapi ini cukup mengejutkan. Dia manggut-manggut menyukainya.
“Kamu bakal rugi. Repot-repot bolos kerja cuma buat liat aku.”
“Memang. Tapi aku lebih suka sibuk jadi tempat pulang kamu.” Adrian menjeda. Dia mengulurkan jempolnya ke ujung bibir kalma. Menyeka noda cokelat yang nempel dengan lembut. “Tapi ini worth it.” lanjutnya.
Kalma mencibir. “Naif. Kalau aku jadi kamu, aku pilih menghasilkan uang yang banyak dibanding cuma ketemu seseorang yang bahkan tidak menguntungkan sama sekali.”
Laki-laki itu justru tertawa, kembali bersandar dengan santai. Kedua tangannya bergerak ke belakang kepalanya. “Uangku sudah banyak. Bolos sehari nggak akan bikin aku bangkrut, sayang.” Dia sengaja melirik Kalma geli.
“Dih, sombong.”
Laki-laki itu otomatis menggeleng. “Uh-uh! Hal kayak gitu bukan sombong namanya.” balasnya. Ia kembali menegakkan duduknya. Dia beringsut mendekat pada Kalma. Tau-tau lengannya sudah menyampir di bahu perempuan itu.
“Kasian ya, manusia di bumi ini. Dari jutaan populasi, cuma aku yang berhasil miliki kamu.” Sebentuk kedipan menggoda ia layangkan. “Nah ini baru yang dinamakan sombong, sayang.”