Kasus kematian Halston termasuk dalam kasus yang rumit—tidak ada petunjuk, dan barang bukti justru mengarah dirinya sendiri, which is sebagai korban. Mudah saja memutuskan kasus ini bahwa ini murni bunuh diri. Kasus ini sudah bergulir seminggu lebih. Polisi masih mendalami kasusnya. Namun hasilnya nihil, jika terus begini maka bukan tidak mungkin kasus akan ditutup dengan konklusi bunuh diri.
Alden menghela napas lelah. Kasus baginya adalah sebuah misteri yang perlu dipecahkan. Dan dalam setiap kasus yang dia angkat dalam artikel, dia merasa bertanggung jawab untuk menyelesaikannya. Setidaknya bisa menuju titik terang dimana kasus itu bukan lagi hanya sebatas opini. Tapi sepertinya tidak untuk sekarang. Sebab Alden merasa butuh istirahat sejenak. Dia bahkan nyaris tidak punya hari libur—makanya sekarang dia mau cari kesibukan.
Sabtu malam saat jalanan malam lagi padat-padatnya, Alden sudah berdiri di balik meja bar. Salah satu cara menikmati hidup dan lepas dari kertas dan kasus pembunuhan adalah jadi Bartender. Dia suka meracik minuman.
Bar ini bernama Velvet & Smoke—tempat dengan lampu gantung kekuningan, tembok bata ekspos, dan musik soul yang mengalun pelan. Di balik meja bar, Alden berdiri santai dengan kemeja linen gelap dan apron kulit, tangan cekatan meracik pesanan tanpa perlu berpikir keras. Campuran vodka, elderflower, dan lemon ia tuang dengan gerakan terlatih—seolah tubuhnya hafal ritme malam lebih baik daripada pikirannya sendiri.
Di sini, ia tak dikejar siapa-siapa, tak memikirkan apa-apa. Hanya ada botol-botol kaca berjejer, suara es yang berdenting pada gelas, dan senyum pelanggan yang puas. Di Velvet & Smoke, Alden bukan siapa-siapa—dan justru itu yang membuatnya betah. Ini bukan pelarian, tapi rumah keduanya. Tempat paling sunyi yang justru ramai penuh kehidupan.
Shaker bergetar di tangan Alden, mencampur gin dan rosemary syrup dengan presisi yang nyaris artistik. Musik pelan mengalun di udara, sorot lampu bar berpendar lembut di permukaan marmer yang mengkilap. Dengan gerakan tenang, ia menuang hasil racikannya ke dalam gelas coupe, menghiasinya dengan twist lemon, lalu berbalik—siap menyajikan pesanan.
Kursi itu kosong lima detik lalu.
Kini, seorang wanita sudah duduk di sana—berambut pink lembut, dengan gaun tipis berpotongan tinggi dan riasan tipis yang membuatnya tampak seperti boneka mahal yang hidup. Kulitnya pucat bersih, dan aroma manis samar memenuhi udara di sekitarnya. Ia menatap Alden, diam dengan ekspresi tak terbaca.
Alden sempat ragu. Wajahnya tak asing, tapi penampilannya terlalu nyentrik—dia tidak yakin pernah melihatnya dimana. Dia tercenung cukup lama, seolah sedang mengingat-ingat di kepalanya. Walau itu lantas bikin pengunjung lain salah mengartikannya. Seolah-olah Alden sedang terpesona.
“Untukku?”
Suara itu. Suara yang Alden kenali. Segala ragu dan tanda tanya dalam benaknya seketika terjawabkan—perempuan ini memang si hantu cantik. Perempuan misterius yang identitasnya seolah sebatas angin yang kebetulan lewat.
Alden berdeham. Dia berhasil menguasai dirinya kembali. Dengan senyum ramah dia meletakkan minuman itu di depan Kalma.
“Hanya yang terbaik untuk wanita tercantik malam ini,” Dia agak menggoda. Perempuan itu menaikan alis, lumayan terkesan. Hingga akhirnya senyuman tipis mampu lahir di paras cantiknya. Dia sempat curiga bahwa Alden mungkin pangling dengan penampilan barunya. Itu cukup menjawab soal kenapa Alden tidak mengejar atau mencecar Kalma dengan pertanyaan seperti pertemuan sebelumnya.
Walau, Itu tidak sepenuhnya salah. Tapi jauh di dalam kepala Alden, banyak hal yang coba ia susun diam-diam.
“Kamu pandai memuji—atau harus kubilang menggoda?” katanya, sebelum menempelkan gelas ke mulutnya. Menyesap perlahan minumannya.
Alden tertawa pelan sambil mengambil botol gin dari rak belakang. Dia mengangkat bahu santai. “Kurasa tidak akan ada yang keberatan jika aku bilang keduanya. Kan?”
“Well, I bet you're right.” Dia tersenyum miring. Bermenit-menit berikutnya mereka sama-sama diam—sibuk dengan dirinya sendiri—Alden sibuk membuat pesanan pengunjung lain, sementara kalma sibuk menikmati sekitar. Musik lembut mengalun di depan sana, tepat di panggung kecil dimana band lokal sedang menunjukan performance apik mereka.
Alden melirik ke arahnya sambil menuang racikan minuman untuk pelanggan lain. “Baru pertama kali ke sini?”
“Hmm... bisa dibilang begitu. Tempat ini cukup nyaman.” Ia memutar gelasnya yang kemudian kembali menyesap minuman itu. “Dan banyak hiburan” Kalma menatap Alden sekilas pas di kata terakhir. Seolah-olah menyiratkan sesuatu.
“Tempat ini memang menarik,” jawab Alden sambil menutup botol vodka, lalu menyusunnya kembali di rak.
Ia tak buru-buru melanjutkan percakapan. Tangannya sibuk membersihkan meja, tapi matanya tetap awas. Perempuan itu berbeda. Bahkan cara duduknya terlihat tidak dibuat-buat, seperti seseorang yang sudah terbiasa dengan ketenangan di tengah keramaian.
“Sebagian besar orang datang ke sini untuk musik atau mabuk ringan. Tapi kamu kelihatan seperti sedang mencari hal lain,” ucap Alden akhirnya, dengan nada santai.
Perempuan itu menoleh. “Maksud kamu?”
Alden mengangkat bahu, lalu bersandar sebentar di meja bar. “Entahlah. Tapi kamu bukan tipe yang datang ke bar hanya untuk melarikan diri. Lebih seperti... seseorang yang menikmati melihat orang lain.”
“Dan kamu menyimpulkan itu hanya dari mengamati cara aku duduk?”
“itu mungkin kedengarannya konyol. Tapi, yah, dari cara kamu memutar gelas. Dari tatapanmu. Caramu yang tidak banyak bicara. Itu semua cukup bikin orang di sekitarmu menebak-nebak.”
“Kamu mengamatiku.” Kalma menyimpulkan. Di tak meragukan lagi pesonanya, apalagi magis pengikat yang senantiasa menguat darinya. Seolah-olah itu nektar manis bagi para lebah. “Kamu selalu menganalisis semua tamu?”
“Tidak. Hanya yang membuatku penasaran.”
Kalma tertawa ringan dan tanpa beban. Reaksi tersantai yang pernah dia lakukan. “Jadi, aku membuatmu penasaran?”
Alden menata gelas bersih di rak. Dia mengangkat bahu acuh. “Mungkin,” Katanya. “Atau, Bisa jadi karena efek lampu bar yang redup. Aku nggak bisa lihat kamu dengan jelas.”
Perempuan itu mencibir kecil. Tapi senyum di wajahnya tak benar-benar hilang. “Konyol! Walau terang atau redup, faktanya aku tetap menarik. Akui saja deh!”
“Mana kutahu. Aku kan belum melihatmu saat lampu terang. Aku nggak bisa bilang itu benar atau enggak.” Alden mengangkat bahu. Jawaban yang cukup logis. “walau begitu, aku tidak akan menyangkal bahwa aku senang kamu masih duduk di situ,” tambahnya.
Kali ini perempuan itu tidak menjawab. Ia hanya mengamati wajah Alden yang kembali sibuk meracik minuman, seperti sedang menimbang sesuatu di pikirannya.
“Kamu suka bekerja di sini?” tanyanya kemudian.
“Lebih tepatnya, aku suka suasananya. Di tempat seperti ini, semua orang bisa menjadi versi lain dari dirinya.”
Kalma mengangguk pelan. Tatapannya mulai melunak. “Kurasa kamu ada benarnya juga. Menjadi orang lain dan tidak peduli dengan apa yang kita lakukan—itu pelarian yang menyenangkan.”
Alden menyodorkan semangkuk kecil berisi kacang. “Bagus. Aku selalu suka melihat sisi lain seseorang setelah gelas pertama.”
Perempuan itu mengambil satu butir, lalu mengunyahnya tanpa tergesa. “Dan kamu akan jadi orang pertama yang melihat sisi itu.” dia menjeda demi mengambil satu butir lagi dan melemparnya tinggi, lalu menangkapnya tangkas dengan mulut terbuka.
“Jadi Nona misterius, harus kupanggil kamu dengan apa? Sayang?”
Kalma nyaris tersedak remahan kacang ketika Alden membalas dengan godaan. Sebuah tawa renyah akhirnya menggelegar, berpadu dengan musik kalem yang sedang dimainkan. Kalma menatap Alden geli, “Kalmara. Panggil saja Kalma.”
Gotcha!