Satu jam sebelum tragedi berdarah
Liora sudah menghabiskan bergelas-gelas minuman. Tapi tampaknya seberapapun banyaknya alkohol yang melewati tenggorokannya itu tidak berpengaruh banyak. Dia masih sepenuhnya sadar. Dia bahkan sanggup menciptakan topik baru atau tanggapan antusias atas obrolannya bersama Kalma. Mereka sudah mengobrol lebih dari tiga puluh menit. Berlatar sorot lampu bar dan musik keras.
Namun, ada satu momen dimana mereka akhirnya terdiam. Sibuk dengan pikiran masing-masing hingga tiba-tiba Kalma berbicara. Matanya membidik tepat netra gelap Liora. “Aku tau siapa kamu.” Suaranya terdengar dalam dan seolah memiliki magis.
Liora terhenyak. Dia seperti pencuri yang akhirnya ketahuan. Meski dia tidak yakin apa sebenarnya maksud Wanita di hadapannya ini. Jadi, dia hanya tertawa, seolah-olah baru saja mendengar lelucon. “Apa sih, Kallie?! Kamu mau bilang bahwa kita tuh sebenarnya di kehidupan sebelumnya saling kenal gitu?”
“Ruhka.”
Satu kata dari Kalma seolah petir yang menyambar Liora tiba-tiba. Wajahnya kontan pucat, jantungnya berdetak cepat. Sial! Siapa Kallie sebenarnya? Batin liora.
“Hah? Kamu bilang apa tadi?” Liora justru pura-pura tidak dengar yang dikatakan Kalma. Dia tidak mau penyamaran ini terbongkar—tidak sebelum dia bisa menuntaskan tujuannya.
Tlak!
Satu jentikan jari kalma dan hiruk pikuk seketika berhenti. Mirip sebuah scene film yang tiba-tiba kena pause. Liora menelan ludah susah payah. Dia langsung bikin kesimpulan bahwa Kallie (Kalma) bukan orang sembarangan.
“Ayo kita buat ini lebih mudah.” Kalma mencondongkan wajah pada Liora. “Ikut aku kembali ke neraka suka rela. Maka aku tidak perlu menyeretmu dan berbuat kekerasan.”
Semua sikap manis dan menyenangkan Kalma yang dilihat Liora beberapa saat lalu telah lenyap. Perempuan itu sekarang berwajah dingin, sorot mata tajam dan aura letal menguar darinya.
“Apa maksudmu?”
“Masih belum mengerti juga, huh? Aku adalah seseorang yang bertugas untuk menjemputmu kembali. Tempatmu bukan di sini.”
“Aku—aku..” Liora tergagap. Dia tidak bisa berpikir jernih.
“Aku tau kamu punya alasan di sini. Untuk itu, bagaimana jika aku beri sebuah penawaran menarik?”
“Penawaran apa?”
“Aku bantu kamu mewujudkan tujuanmu di sini dan sebagai balasan, kamu kembali ke neraka bersamaku. Bagaimana?”
Liora tampak menimbang-nimbang tawaran itu. Tapi tampaknya itu cukup menarik. Jadi, dia segera mengiyakannya.
Tak butuh banyak basa-basi lagi, beberapa saat kemudian mereka sudah ada di satu ruangan kosong. Tidak hanya mereka berdua, tapi juga ada kehadiran satu pria asing di sana.
“Well, yeah, here we are.. Cepat selesaikan masalah kalian. Aku menunggu di luar.”
***
Lorong lantai sepuluh Elowen Grand Hotel dipenuhi suara langkah tergesa dan bisik-bisik panik. Garis kuning polisi telah membentang di depan suite paling mahal di sisi timur gedung. Pintu terbuka lebar, udara dari dalam kamar bercampur lembap dan aroma metal yang tak asing—bau darah.
Alden menerobos kerumunan dengan kartu persnya, menunjukkan pada petugas yang berjaga. Satu lirikan tajam dari mata pria itu cukup untuk membiarkannya masuk. Ia menyalakan perekam suara di saku, lalu melangkah masuk ke kamar yang terasa terlalu senyap untuk ukuran tempat kejadian.
Jacuzzi di tengah ruangan masih menyisakan riak kecil. Di dalamnya, tubuh seorang pria mengapung dengan posisi telentang. Kemeja putihnya basah dan memerah di sekitar pergelangan tangan kiri—tepat di area sayatan dalam. Darahnya telah bercampur dengan air, menciptakan warna merah muda keruh yang melingkar seperti pusaran lukisan tragis.
Di tepi bak, ada meja kayu kecil. Di atasnya, sebotol wine yang tinggal separuh, satu gelas kristal, dan selembar kertas dengan goresan tinta hitam. Surat wasiat.
Di lantai, tidak jauh dari meja itu, tergeletak sebilah belati dengan ukiran aneh di gagangnya. Bukan sembarang pisau dapur. Lebih seperti senjata pribadi. Gagangnya terbuat dari kayu hitam, ada pola mirip akar menjalar, dan di ujungnya tertulis inisial kuno: (⸸ Ϟ ᚾ ∴). Sesuatu yang belum pernah Alden lihat dimanapun.
“Gila,” gumam Alden, melirik sekeliling ruangan. Tidak ada tanda perlawanan. Tidak ada sidik jari lain, kecuali milik Halston. Setidaknya itu yang dikatakan polisi. Seolah pria itu benar-benar sendirian ketika memutuskan mengakhiri hidup.
Tapi ada sesuatu yang tak beres. Halston bukan politisi biasa. Ia dikenal rapi, licin, dan selalu punya agenda cadangan. Meski image-nya benar-benar bersih di publik, tapi segelintir orang tau dia punya sisi gelap. Dan, Surat wasiatnya itu tampak terlalu singkat: “Maafkan aku. Dunia ini terlalu kotor untuk dibersihkan.” Tidak menyebut nama. Tidak menjelaskan alasan. Hanya kalimat putus asa yang terasa... dibuat-buat.
“Siapa yang pertama kali menemukan tubuhnya?” tanya Alden pada petugas terdekat.
“Staf room service. Dia mengantar buah segar sesuai permintaan, tapi tak ada jawaban. Pintu tidak terkunci. Begitu masuk, langsung melihat tubuhnya.”
Alden mencatat cepat di ponselnya. Ada yang janggal. Mengapa pintu tak dikunci? Halston dikenal paranoid. Bahkan untuk wawancara santai pun, ia membawa dua bodyguard. Mengapa kali ini dia justru sendirian? Dan kenapa tidak ada jejak siapa pun di ruangan ini, selain dia?
Lalu ingatan itu menyusup pelan ke pikirannya. Seperti sebuah angin yang diam-diam berhembus untuk mengacaukan fokusnya.
Wanita itu. Si hantu Cantik.
Gaun hitamnya masih membekas jelas di mata Alden. Wajahnya, ekspresi tenangnya saat keluar dari lift tadi. Dan kini, wanita itu lagi-lagi muncul di lokasi yang beraroma kematian. Sama seperti saat kejadian dengan Dino dua minggu lalu. Apakah itu kebetulan?
Alden menggigit bibir bawahnya. Ia tak percaya kebetulan. Yah, mungkin memang ada kebetulan tapi paling tidak hanya sekali atau dua kali. Jika lebih dari itu.. maka itu lebih serius dari hanya kebetulan. Dan kali ini, perasaannya mengatakan—Halston tidak bunuh diri.
Seseorang membunuhnya. Dan wanita di gaun hitam itu mungkin saja kuncinya.
***
Alden menyalakan layar laptop di kamarnya. Meski sudah di rumahpun dia tetap bekerja. Di depan matanya, rekaman dari kamera pengawas lantai sepuluh Hotel Elowen mulai diputar—file rahasia yang ia dapat dengan susah payah dari kenalan lamanya di bagian keamanan.
Gambarnya sedikit buram, tapi cukup jelas untuk melihat Halston. Pria itu terlihat memasuki lobi pukul 10.48, sendirian. Langkahnya mantap, wajahnya seperti biasa—dingin dan tak terbaca.
Potongan berikutnya: Halston di lounge bar hotel, duduk dengan segelas wine. Sendirian.
Lalu... di rekaman pukul 11.27, Halston keluar dari lift lantai 10. Tapi yang membuat jantung Alden mencelos adalah sosok yang muncul sebelum itu—detik-detik sebelumnya. Seorang wanita dengan gaun hitam elegan, rambut panjang terurai, berjalan keluar lift dengan kepala sedikit tertunduk.
Wanita itu lagi. Si Hantu cantik. Wanita yang sama dengan yang ia lihat malam pembunuhan Dino. Sama dengan yang keluar dari lift siang tadi, pura-pura tidak mengenalnya, meski jelas mereka pernah bertemu atau sekedar berpapasan. Sosok yang selalu muncul di TKP seolah ditarik oleh aroma darah.
Untuk sesaat Alden terdistraksi. Dia mengamati wanita itu. Alden memundurkan rekaman, memperhatikan cara wanita itu berjalan. Tenang, Seolah tak terburu-buru. Tidak ada yang mencurigakan dari gerak-geriknya. Tapi entah kenapa itu justru membuat Alden semakin penasaran.
“Sial! Siapa sebenarnya dia?”
Alden kembali menelusuri rekaman demi rekaman untuk mencari Halston. Alden menatap layar tanpa berkedip. Detik-detik berganti, dan di rekaman lain, ia melihat Halston berjalan menyusuri lorong lantai sepuluh. Tepat satu jam sebelum tragedi atau waktu yang diperkirakan penyidik sebagai waktu kematian Halston. Pria itu Masih sendirian, langkahnya santai. Dia tampak normal.
Lalu, sosok lain muncul dari arah berlawanan. Wanita bergaun hitam itu lagi.
Halston dan wanita itu berhenti di tengah lorong. Mereka berbicara—tanpa suara. Si hantu cantik (atau siapapun dia) sempat menyentuh lengan Halston. Gerakan kecil, namun penuh kendali. Seolah dia tidak melakukan itu tanpa sebab—Seperti sedang meyakinkan lawan bicaranya. Seolah Halston, pejabat keras kepala itu tiba-tiba jadi penurut. Mereka terlihat berjalan bersisian dan menghilang di ujung lorong.
Alden mempercepat rekaman itu. Namun tidak ada kelanjutannya lagi. Tak satupun kamera menangkap Halston lagi. Tidak di lift. Tidak di tangga. Tidak di koridor lain. Dan yang lebih mencurigakan—wanita itu pun tidak terekam juga.
Dia menghilang, begitu saja. Seperti asap. Seperti legenda kota yang hanya muncul ketika pendongeng beraksi demi menghibur anak-anak dan menghanyutkan mereka dalam imaji yang dituntun narasi.
Alden menatap layar, napasnya tertahan. Wajah wanita itu terus berputar di benaknya.
“She's the key.”