Alden akhirnya bisa menyelesaikan artikel itu dan membungkam bossnya dengan banyak eksposur setelah artikel itu terbit. Artikel itu bisa rampung setelah rangkaian kemumetan Alden dalam merangkai satu dot ke dot yang lain sampai menghasilkan kesimpulan.
Dalam sepanjang karirnya sebagai jurnalis, Alden tentu nggak asing sama plot twist, tapi yang kali ini beneran lumayan bikin kaget. Dimulai dari jasad dan diakhiri oleh jasad.
Kasus pembunuhan malam itu yang melibatkan wanita cantik misterius dan seorang pria yang nyaris ditebas dadanya, ternyata cukup simpel. Meski sudah bisa ditebak dari awal jika salah satu di antara dua orang di tempat kejadian itu kemungkinan pelaku. Alden sempat berpikir mungkin wanita cantik itu si pelaku. Bagaimanapun dia yang terlihat memegang senjata, apalagi hendak menebas d**a si pria sewaktu Alden memergokinya.
Tapi rupanya itu salah besar. Sebab bukti menunjukan bahwa si pria lah yang bersalah. Namanya Dino. Mantan atlet tinju profesional yang pensiun dini karena cedera tulang. Orang yang sama yang ditemukan meninggal di tengah jalan dengan mobil ringsek dan luka tebasan di d**a. Siapa yang mengira dia pelaku pembunuhan sebenarnya?
Alden menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi. Dia meletakkan lengannya ke belakang kepala sebagai bantalan. Layar komputernya memutar pernyataan penyidik terkait kasus tersebut. Mereka memaparkan secara rinci temuan dan kesimpulan kasus itu. Tentang bagaimana hubungan Dino dan korban. Tentang alasan pembunuhan dan kemungkinan adanya balas dendam dari pihak ketiga yang menyebabkan akhirnya dino tewas. Itu benar-benar seperti bukan penyelesaian, melainkan lahirnya kasus baru.
Kasus baru berarti tugas baru untuk Alden.
“Kalau si bos nyariin bilang Saya keluar nyari angin ya, Lis.” Alden melongok ke kubikel Lisa, rekan kerjanya.
Lisa kontan mendongak. “Emangnya di sini nggak ada angin, Kak?”
“Boro-boro, yang ada sesak napas mulu saya di sini.” Katanya. Seperti beneran pake hati. “Udah, ya.. Saya keluar dulu.”
“Okay! Nanti kalau pak bos nanyain saya bilang kak alden lagi nyari si hantu cantik.” Lisa terkekeh usil. Dia tau Alden masih kepikiran soal wanita misterius yang ada di TKP pembunuhan malam itu. Dia beneran kayak hantu yang cuma muncul sekali. Dia bahkan tidak terdeteksi dalam identitas manapun. Itulah kenapa dia dijuluki hantu cantik.
Alden hanya mengangguk saja meski bukan itu juga alasan dia keluar siang ini. Dia punya janji dengan ibunya untuk makan siang bareng di restoran asia dekat The Elowen Grand Hotel. Makanan di sana favorit ibunya banget. Nyaris setiap seminggu sekali ibunya menyambangi tempat itu. Panggil saja dia fans fanatik, memang sesuka itu sama makanan.
Siang ini menu yang akan memanjakan lidah mereka adalah hidangan hot pot. Ibunya bilang dia lagi kepengen makan yang pedas-pedas, jadilah dia merekomendasikan hot pot dengan racikan bumbu mala pedas. Padahal, Alden payah soal makanan pedas.
Alden mendesah pelan sambil meniup sendok yang penuh kuah merah pekat. Aroma mala menyeruak tajam—berminyak, pedas, dan menggoda. Tapi juga menakutkan, bikin lambungnya menjerit histeris.
Ibunya menyodorkan sepiring daging sapi iris tipis sambil nyengir, “Tuh, cepetan celup. Dagingnya cuma enak kalau dimakan pas kuahnya lagi panas-panasnya.”
“Bu, kuah ini tuh lebih seram dari skrip wawancara politik tau,” gumam Alden sebelum akhirnya menyeruput juga kuahnya. Dia langsung terbatuk kecil di detik kuah itu nyangkut di tenggorokannya. Beuh, perih bukan main!
Ibunya tertawa, puas. “Ih masa segitu aja udah megap-megap? Dulu waktu kecil kamu doyan cabe rawit loh, yang langsung ditelen sama gorengan!”
Alden mengelap keringat di pelipis. “Dulu kan belum kenal maag sama hidup sehat. Rumput yang kata ibu enak juga aku makan.”
“Alah, itu cuma alasan orang yang lidahnya cupu,” sahut sang ibu sambil menyendokkan bakso ikan dan tofu ke piring Alden. “Makan, tuh. Biar nambah kuat dikit.”
Alden menatap isi piringnya sejenak, lalu menyerah. “Yaudah lah. Demi Ibu.”
Ibunya menyeringai puas. “Nah, gitu dong. Lagian kapan lagi kita bisa makan berdua kayak gini? Kamu sibuk terus.”
“Ya ampun, baru dua minggu lalu kita makan sushi bareng, Bu.”
“Dan itu hitungan tahun dalam waktu versi Ibu,” katanya sambil mencomot udang goreng renyah dari piring tengah. “Eh, kamu udah liat challenge baru di t****k belum? Yang makan mie lava sambil jawab pertanyaan cepat? Ibu berani bertaruh, kamu bakal kalah di detik ke-lima.”
Alden nyengir. “Bu, please... jangan ikutan trend yang bikin lambung jumpalitan dong.”
“Tapi seru, loh!” Ibunya cengengesan. “Ibu sampe kepikiran mau bikin versi sendiri. Hot pot sambil tebak lagu Korea dari satu detik pertama. Atau samyang? Kayaknya bakal seru deh!”
“Ibu tuh kayaknya beneran gen z yang terjebak di umur lima puluh. Fiks no debat.”
“Dan kamu generasi jompo yang sok muda,” balasnya cepat, tak mau kalah meledek anaknya.
Kontan gelak tawa mengudara serempak. Hangat. Ramai. Di tengah hiruk-pikuk restoran yang penuh aroma rempah dan dengungan pembicaraan orang, mereka seolah punya dunia sendiri—satu mangkok mala dan sejuta lelucon yang tak pernah habis.
Mereka terus mengobrol dengan menyeret banyak topik random. Rata-rata didominasi oleh cerita ibunya dan antusiasme nya terhadap banyak trend yang lagi viral.
“Pokoknya Ibu sudah niat minggu ini mau coba mukbang sambal pakai Habanero utuh. Katanya itu enak banget, bikin nangis bahagia!” ujar ibunya dengan semangat membara, sambil mencelupkan udang ke dalam kuah mendidih.
Alden tertawa sambil mengipasi mulutnya pakai tisu. “Ibu tuh ya… antara foodie sejati atau pecinta self-torture sih.”
“Tergantung dari sudut pandang mana kamu liatnya. Tapi yang jelas, hidup harus dinikmati,” katanya sambil mencolek pipi Alden pakai sumpit. “Kayak kamu nih.. Kapan terakhir kali pacaran, hah? Jangan kerja mulu. Orang kok senengnya menjomblo, huu!!”
Itu dia, selain makanan dan hal-hal viral, yang disukai Ibunya Alden adalah meledek anaknya sendiri. Tiada hari tanpa mengejek anak tampan semata wayangnya itu.
Alden memutar mata malas. Dia sudah akan membalas, tapi—
Tiba-tiba suara sirene ambulan memotong keramaian jalanan, keras dan melengking, disusul dengan deru sirine polisi yang menggema tak jauh di belakangnya. Suasana restoran mendadak sunyi sesaat, lalu riuh oleh para pengunjung yang celingukan ke luar jendela besar.
Alden refleks menoleh. Ikut penasaran dengan apa yang terjadi.
The Elowen Grand Hotel. Menjulang elegan, tepat di samping restoran tempat mereka duduk. Dan sekarang, di depan hotel itu, dua ambulans dan satu mobil polisi berhenti mendadak. Beberapa petugas berlarian masuk ke dalam lobi. Ada kepanikan. Pasti ada yang tidak beres.
Insting jurnalistik Alden menendang lebih cepat dari detak jantungnya.
Dia meraih jaket yang disampirkan di belakang kursi, berdiri setengah tergesa. “Bu, aku keluar sebentar ya.”
Ibunya menyipitkan mata. “Mau kemana? Makanannya belum habis loh”
“Misi penting. Kayaknya ada insiden gawat di Elowen. Bisa jadi berita besar. Aku harus cek.”
Sang ibu menghela napas, lalu melambai dengan tangan berlumur saus. “Ya udah. Tapi jangan lupa bawa pulang dessert buat Ibu. Yang matcha itu loh!”
Alden sudah melangkah keluar dia mendengar permintaan ibunya namun belum sempat membalas. Pikirannya sepenuhnya tertuju ke hotel megah itu, ke sirine, dan ke kemungkinan—kisah besar yang belum tertulis.
***
Kalma keluar dari bar hotel dengan senyum mengembang. Dia berhasil mengatasi satu ruhka. Kali ini tanpa kekerasan, tanpa susah payah. Hanya sedikit negosiasi cerdik dan ruhka menyerahkan dirinya suka rela.
Meski, ini juga ada kaitannya dengan ruhka yang dia hadapi—perempuan, kadang-kadang memang lebih rapuh dan mudah goyah. Jika lidahmu pandai tawar menawar, pasti mudah menangani ini. Karena pada dasarnya ruhka itu pasti punya alasan kuat kenapa dia membelot kembali ke bumi dan rata-rata pasti karena ada masalah yang belum tuntas atau balas dendam. Dan karena itu pula akhirnya Kalma bisa meyakinkan Liora kembali ke neraka tanpa paksaan. Yah, dengan sedikit hal merepotkan yang sudah mereka sepakati tentu saja.
Bunyi ting lift terbuka bersamaan dengan suara sirene meraung di luar sana. Entah itu ambulans atau polisi, atau mungkin keduanya sebab kedengarannya tidak hanya satu. Kalma tidak peduli, yang terpenting tugasnya telah selesai. Dia buru-buru masuk ke dalam lift yang bakal membawanya ke lantai dasar. Meski dia menyukai tempat ini dengan berbagai fasilitasnya tapi dia perlu segera kembali sebab Adrian sudah sangat rewel meminta kalma segera kembali.
Saat lift terbuka dan Kalma hendak melangkah keluar, seseorang di depan lift membuatnya menarik bibir dalam sebuah seringai. Tatapan mereka bertemu. Mereka bertemu lagi.
Sementara itu Alden langsung membeku. Bukan karena dia terpana akan kecantikan Kalma, namun dengan fakta bahwa dia benar-benar bertemu hantu cantik itu lagi. Persis seperti lelucon Lisa tadi.
“Excuse me?” Kalma bersuara, menyentak kembali kesadaran Alden. “Tolong jangan menghalangi jalan.” Katanya. Alden mengusap belakang kepalanya kikuk, namun akhirnya dia menyingkir. Membiarkan Kalma keluar dari lift dengan mudah.
“Tunggu!” Akhirnya Alden menegurnya. “Kamu wanita yang ada di TKP malam itu, kan? Kenapa kamu menghilang? Padahal Kamu juga saksi di kasus pembunuhan itu.”
“Mungkin kamu salah orang.” Jawab kalma santai tanpa menoleh. Meski tanpa Alden ketahui, seringai misterius terbit di wajah kalma.
“Mana mungkin. Aku punya ingatan super tajam, dan aku nggak pernah salah mengenali orang.”
“Kalau begitu ini kasus pertamamu salah orang.”
“Aku yakin itu kamu.”
Kalma mengangkat bahu acuh sebelum melanjutkan langkahnya menjauh. Alden mengumpat frustasi dicueki begitu saja. Dia sudah ingin memanggil wanita itu kembali, tapi rombongan penyidik dan ahli forensik yang baru saja melewati pintu lobby bikin dia akhirnya tersadar dengan misi pentingnya. Menyerah soal wanita itu, Alden masuk ke lift menuju TKP. Dia sudah dengar dari salah satu penghuni hotel yang sempat dia tanyai—ada kejadian bunuh diri di salah satu kamar hotel di lantai sepuluh.
Menelusuri kasus ini lebih penting sekarang dari pada wanita itu. Meski sesuatu dalam dirinya semakin menyala hebat. Dia jadi makin penasaran dengan wanita itu. Ini kali ketiga mereka bertemu. Dan ketiga-tiganya selalu dalam kasus seperti ini—pembunuhan. Ada kaitan apa sebenarnya wanita itu dengan semua ini? Apakah hanya kebetulan saja?