Aku memilih merah hari ini.
Sebelumnya, aku nggak begitu peduli dengan psikologi warna. Selama terlihat bagus untukku, sudah cukup.
Prinsipku berubah sekarang.
Aku jelas harus berterima kasih pada Google, penulis-penulis artikel yang k****a, juga para ilmuwan yang mungkin kurang kerjaan sampai memutuskan untuk memperhatikan bunglon dan perubahan warnanya. Siapa yang menduga hal itu justru memberi gagasan untuk mengembangkan psikologi warna? Sesuatu yang kukira hanya mengikuti selera, tapi ternyata bisa menjadi alat untuk mencapai beberapa tujuan.
Biru memberi efek menenangkan, melambangkan loyalitas, kepercayaan, serta keamanan. Ada juga hijau yang berarti keseimbangan, damai, harapan, serta keberuntungan.
Dan merah. Mungkin akan jadi warna favoritku sejak hari ini. Karena merah berarti memikat, menjadi warna yang mudah menarik perhatian--sesuatu yang benar-benar aku butuhkan sekarang.
“Tumben baju lo warnanya gonjreng gini, Ki. Biasanya kalem.” Begitu komentar temanku, Rena, begitu kami bertemu di lift. “But it looks good, cocok sama lipstick lo. Dalam rangka apa nih?”
Aku tersenyum saja. “Bagus, ya? Lagi pengen nyoba-nyoba doang sih. Bosan juga make warna kalem.”
“Mood lagi bagus, ya, Bu?” ledek Rena. “Apa udah ketemu sponsor? Proposal di-acc sama finance?”
“Belum. Rapatnya lusa, kan?”
“Lah, baru lusa? Kirain minggu lalu.”
“Diundur. Pak Bos ada acara keluarga soalnya, siapanya gitu ya dimakamin di luar kota. Lo nggak tahu emang?”
Rena mengedikkan bahu tak acuh. “Sorry, Sis. Cuti adalah cuti.”
Lift berdenting, dan kami pun keluar. Tepat ketika aku melangkahkan kaki, seorang pria melewati kami sembari menenteng ransel di tangan kanannya. Nggak ada satu pun yang menyapa, tapi dia menoleh sebentar. Lebih tepatnya, dia menoleh ke arahku.
Dorongan pertama yang muncul dalam diriku adalah mengamuk. Ingin sekali melayangkan tinju atau high heels yang kukenakan. Tapi, aku masih waras untuk itu. Kill him by kindness. Ya, itu yang ingin kulakukan.
“Baru datang, Pak Pram?” sapaku.
Tanpa kusangka, dia ternyata membalas. Perhatiannya pun masih tertuju padaku. “Ya.”
So, red also works to attract him?
“Duluan.” Dengan anggukan kecil, Pram lantas pamit dan kembali melangkah menjauh dari aku dan Rena.
“Tumben amat lo nyapa,” Rena menyikutku. “Ngarep rapat nanti nggak berantem?”
Aku mendengkus. Walaupun maunya begitu, aku tahu nggak mungkin. Lusa nanti kami pasti bakal debat lagi dalam rapat. There's no doubt about it. Aku cukup tahu nggak akan bisa mengubah hal satu itu. Toh bukan itu tujuanku menyapa Pram tadi.
Aku hanya mau pamer.
Konyol, ya?
“Lah, dia noleh lagi,” bisik Rena. Aku langsung melempar pandangan ke arah Pram, dan benar saja, dia memang memandangiku. Dia tampak seperti mau mengatakan sesuatu. Ada 5-10 detik kami bertatapan, sebelum dia masuk ke ruangan di depannya.
Did I succeed?
Did I make him regret his choice?
“Dia naksir kali lihat lo mencolok begini,” tambah Rena sambil tertawa. Sudah pasti itu candaan sih. Orang-orang tahunya Pram itu kaku, dan musuh bebuyutanku selama bekerja di sini.
Dia naksir aku kok. Pernah. Atau, begitulah yang kupercaya sampai aku memutuskannya. Now he is nothing but an ex.
Setidaknya, punya mantan memberikan satu keuntungan: kita semakin termotivasi menjadi lebih baik, supaya bisa menunjukkan keputusan yang mereka ambil salah. Bahwa mereka menyia-nyiakan sesuatu yang berbaga.
Apa ini berarti aku mau balikan? Nggaklah! Itu berarti aku bisa menertawakan seorang Pramudya Karunasankara.
“Kalau dia naksir gue, biarin aja. It's not like gue bakal naksir balik,” balasku cepat, menoleh sebentar dan menemukan Pram sudah keluar lagi dari ruangan tadi. Aku merasa dia menoleh ke arahku, jadi aku tarik tangan Rena untuk langsung pergi. “Pantry dulu yuk? Pengin yang manis-manis.”
Just watch and beware, Pram. You will pay for messing up with me and my heart. []