Di balik kesuksesan sebuah perusahaan, selalu ada orang-orang yang banting tulang untuk mewujudkannya.
That, my friend, is the job of marketing communication.
Percaya deh, aku ingin sekali mengawali cerita ini dengan pembukaan yang menyenangkan. Sayangnya, hidup nggak semanis itu. Dan pagi ini aku sudah ketiban sial dengan kabar proposal untuk annual event lagi-lagi ditolak dan harus direvisi. Harus banget nih revisi H-1 sebelum rapat besar?
“Perasaan sebelumnya bos udah oke sama konsep promosinya,” ujarku sambil membaca print-out proposal di meja. Beberapa halaman awalnya bersih, sampai di lampiran RAB, ada beberapa coretan. Berarti secara konsep aman-aman saja.
“Bukan dari bos, Mbak,” balas Kemal. “Yah, tahu sendirilah. Kemarin Pak Bos soalnya sempat manggil orang finance ke kantor, kan? Mungkin ngebahas acara kita juga.”
Aku berdecak sebal. Jujur sih, ini bukan hal mengejutkan. Tapi tetap saja menyebalkan. Dan mengetahui mereka lagi penyebabnya seperti minyak yang disiramkan ke api amarahku.
“Mereka tuh ya, maunya acara sukses sementara dana terus-terusan di—”
Dering telepon di meja menghentikan kalimatku. Kenapa sih aku ngomel saja nggak bisa sampai tuntas?
Meski keki, tetap kuangkat teleponnya. Suara resepsionis yang menyapaku, “Pagi, Mbak Kia.”
“Pagi,” balasku singkat.
“Ini ada yang cari Mbak Kia, dari Crealink Digital. Katanya sudah buat janji hari ini.”
Spontan aku menoleh ke jam dinding di sebelah kanan. Masih pukul sembilan. Aku memang berencana bertemu dengan agensi periklanan itu, tapi seingatku rencananya sekitar jam makan siang.
“Jam kantor kita nggak rusak, kan, Mal?” tanyaku, dan Kemal menggeleng. Aku beralih untuk bertanya pada resepsionis yang masih terhubung lewat telepon, “Sekarang orangnya di mana?”
“Orangnya nunggu di lobby, Mbak.”
“Oh, oke. Kalau gitu biar saya turun aja. Makasih, ya.”
Segera aku beranjak dari kubikelku, terlebih dulu melihat pantulan diri dari cermin dekat monitor, kemudian pamit kepada Kemal. Baru saja aku menekan angka 1 untuk menunggu lift, tangan lainnya terulur di samping kananku, menekan angka 3.
Ternyata Pram.
Aku nggak tahu apakah ini semacam keberuntungan karena kami hanya berdua, sehingga aku nggak perlu bersikap pura-pura ramah, atau justru sial karena emosiku langsung nggak stabil dalam sekejap. Aku memilih diam, merogoh ponsel dari saku celana, sepenuhnya mengabaikan Pram.
Hari ini bisa dibilang aku agak buru-buru sih, jadi pilihanku jatuh pada setelan blouse hitam dan palazzo pants abu-abu. Berhubung kemarin aku tahu Pram masih cukup manusia—at least those psychology colour theories still works on him—aku jadi tahu warna apa saja yang bisa membuatku menarik perhatiannya. Cara itu lebih mudah untuk membuatnya makin menyesal, kan?
“Proposalnya kamu yang buat?”
Jujur saja, aku terkejut karena Pram tiba-tiba bertanya. Aku menoleh, dan tepat pada saat yang sama pintu lift terbuka. Tiga orang keluar dari sana, menyisakan ruang kosong untuk diisi oleh aku dan Pram. Dia menutup pintu lift lebih dulu, lantas melemparkan pandangannya ke arahku, menyiratkan bahwa dia menunggu jawaban.
Dih, pengin banget dikasih kepastian nih?
“Iya,” ujarku, sebisa mungkin menyisihkan nada cuek yang ingin sekali kukeluarkan. “Udah baca catatan revisinya juga.”
Catatan yang pasti muncul gara-gara kamu, Pram. Yang itu hanya bisa kukatakan dalam hati. Masih pagi begini, aku nggak mau buat dosa. Mana gara-gara dia lagi. Alasannya yang bagus sedikit dong!
“Harusnya kamu tahu biayanya nggak perlu sebanyak itu,” balas Pram datar, perhatiannya beralih ke depan. “Event sebelumnya juga catatannya begitu, kan. Saya kira kamu belajar dari pekerjaanmu sebelumnya.”
Do you see that, people? Satu pertanyaan saja berhasil membuatnya sok menasehati orang begini. And don’t get me started with those stiff talk. Percaya nggak, sewaktu pacaran dulu, cara bicaranya sama persis begitu? Jangan harap ada panggilan sayang atau menggelikan sekali pun. Dia manggil aku saja begini.
“Acaranya kan untuk perusahaan juga,” sanggahku, tentu saja membela opiniku. “Makin bagus acaranya, bukannya makin bagus buat kita?”
“Acara yang bagus nggak harus memboroskan banyak uang, kan? Saya yakin kamu tahu dan cukup pintar untuk menyadari itu.”
Sebelum sempat membalas, lift sudah berdenting, diikuti pintu yang terbuka. Lantas Pram melangkah keluar begitu saja, sama sekali nggak mengatakan apa pun lagi.
Sekali-sekali mungkin aku perlu menyumpal mulutnya dengan heels-ku ini. Urgensi itu semakin menumpuk dalam diriku, seakan menunggu waktu yang tepat sampai aku benar-benar melakukannya.
Mungkin itu juga yang seharusnya kulakukan dulu, bukannya malah membiarkan bibirku bertemu dengan bibirnya.
Aku ingat kata Ayah, segala sesuatu benar selagi kita mempercayainya. Itu juga prinsip yang kugunakan dalam pekerjaan dan kehidupan sehari-hariku. Penyesalan hanya ada untuk orang yang merasa membuat keputusan yang salah.
Bukannya aku mau bilang sudah sempurna atau semacamnya. I just don’t want to regret things. Bagiku, melakukan hal buruk kadang diperlukan untuk mengetahui mana yang benar. Contohnya saja, kurang tepat memilih agensi periklanan, atau event pertama tidak mencapai target yang ditentukan. Yang begitu namanya proses belajar, kan?
Sayangnya, aku nggak merasa hal itu berlaku untuk hubunganku dan Pram. Entah apa keuntungan yang kudapatkan dari berusaha untuk pria batu satu itu. Berpikir kalau aku bisa saja punya kisah bahagia, sedikit bermain-main dengan api, berharap bisa mengendalikan.
But, really, I regret what I’ve done. Harusnya aku nggak perlu buang-buang tenaga. Berdasarkan pola pikir saja, aku dan Pram nggak akan cocok. Apalagi sok menyatukan hati. Mimpi!
*
Opposites attract.
Screw that, really. Siapa pun yang membuat teori itu dipastikan nggak berpikir panjang. Dia salah besar. Atau seenggaknya, jangan menerapkan ke dalam hubungan. Manusia jelas bukan magnet. Kalau ada kubu yang bersinggungan, yang terjadi bukan tertarik, melainkan keributan.
Aku sempat mengira teori itu benar. Karena pada dasarnya, memang mudah tertarik pada sesuatu yang berbeda dari kita. At least, hal tersebut jadi perhatian kita.
The same happened with Pramudya Karunasankara. Kami bukan hanya dua sisi koin yang berbeda, tapi memang mata uangnya juga nggak bisa disamakan. But despite all the different, I was blinded by love—or so I believed.
Sebelum bekerja di Tanwira, aku sempat bekerja mengurusi beberapa acara besar. Mulai dari fashion show sampai kontes modifikasi perusahaan otomotif sudah pernah kujajaki. Dari dulu, mau di mana pun, pada dasarnya aku akan sering “kurang bersahabat” dengan apa pun yang berurusan dengan uang. Oleh karena itu, aku sebenarnya sudah cukup siap menghadapi kenyataan bahwa sulit berteman akrab dengan orang-orang finance di Tanwira. Hal seperti itu sudah bagian dari pekerjaanku.
Kalau ditarik kesimpulan, aku nggak mungkin bisa haha-hihi bareng financial manager-nya, Pram. Tapi, dorongan itu muncul tiba-tiba—keinginan untuk mengenal Pram lebih dekat.
Persisnya kenapa, aku sendiri juga nggak ingat. Yang masih berbekas dalam ingatanku hanyalah jas dan payung yang Pram pinjamkan sewaktu aku mau pulang, tapi di luar hujan deras. Di tahun pertama bekerja, kami nggak pernah banyak bicara kecuali dalam rapat. Jadi, agak mengejutkan juga karena dia begitu saja menyampirkan jasnya menutupi punggungku, menyodorkan payungnya kemudian bilang, “Kamu lebih butuh ini.”
Sebut saja aku baperan, aku nggak peduli. Tapi pada saat itu, aku merasa Pram sepertinya orang baik. Sesekali aku curi-curi pandang, mencoba memahami tiap komentar yang dia berikan tiap rapat. Aku beberapa kali mengirim pesan lebih dulu dengan kedok membahas acara.
Namanya juga usaha, kan? Karena Pram nggak banyak bicara, aku berniat membuatnya jadi lebih aktif di sekitarku. And at one moment, I decided to confess.
But you know how it ended with us. Mau jadi orang asing, rekan kerja, teman, bahkan pacar sekalipun, nyatanya dia sama saja. Masih menjadi pria irit bicara, datar, cuek, dan nggak bisa diajak seru-seruan.
“Pram, ke sana yuk—”
“Nggak perlu pegang-pegang saya, kan?”
Kalimat itu masih terngiang di kepalaku. Nggak peduli sudah berbulan-bulan berlalu, semuanya masih menempel. Jadi pacarnya lebih seperti cara menguji kesabaran.
There is nothing sweet about him. I couldn’t hold his hand, even when we’re alone. Our dates and kisses wasn’t as romantic as those movies.
Begini kali, ya, kenyataan? Nggak akan indah. Semuanya berubah jadi musibah dengan Pram.
Dan semuanya semakin menyebalkan begitu kemungkinan lain terpikirkan; Pram bisa saja memperlakukanku begitu karena sejak awal perasaan ini satu arah. Dia mungkin saja menerimaku tanpa pikir panjang, kasihan, atau nggak mengira aku serius.
Apa yang lebih menyakitkan daripada tidak dicintai? Tidak pernah dicintai.
Pramudya K.
Masih ada yg bisa dicut
Sdh sy tandai
See? Baru juga dipikirkan, sudah muncul dan minta dilempari umpàtan.
Kuhela napas dalam-dalam, baru saja mau membalas, tapi pesannya muncul lagi.
Pramudya K.
Km tahu batasannya
Jgn smpai bsk ribut lg pdhl sdh jelas
tx
Oh, astaga! Kok bisa-bisanya sih dulu aku nembak pria menyebalkan begini? []