“Tumben make up-nya di kantor. Telat bangun lo?”
Dari cermin kamar mandi, bisa kulihat Rena masuk ke kamar mandi dan menutup pintu, ikut berdiri di samping kananku dan mengeluarkannya pouch bermotif bunga mataharinya.
“Tadi naik gojek. Sayang kalau make up-an tapi make masker,” ujarku selagi menggambar eyeliner. “Keburu berantakan muka gue.”
“Mau siap-siap tempur, ya, mbak satu ini.” Kali ini bukan suara Rena, melainkan Nuris, temanku yang bekerja di divisi personalia. Berbeda denganku dan Rena yang dekat karena bekerja di lantai yang sama, Nuris menghuni lantai dua. Kami jarang bertemu kecuali kebetulan makan siang di kafetaria lantai bawah. Yang membuat kami cukup akrab sebenarnya karena kami sempat mengikuti kelas Pilates di tempat yang sama.
“Pertumpahan darah bentar lagi, Ris,” Rena menimpali sambil cekikikan.
Mungkin kesannya berlebihan, tapi bisa dibilang hal itu cukup akurat untukku. Nggak secara harfiah, tentu saja. Yang jelas, dipastikan akan ada pertempuran dalam beberapa saat lagi. Terlebih mengingat ucapan Pram kemarin, lupakan saja rapat adem ayem dengan suasana menyenangkan. Lebih masuk akal ada hujan api daripada itu.
“Denger-denger acaranya tahun ini bakal lebih gede. Kenapa deh?” tanya Nuris. Walaupun ini kamar mandi, nyatanya nggak satu pun dari kami masuk ke biliknya. Well, a toilet can be anything for girls. Even suitable for opening a discussion—alias gibah.
Aku mengiakan pertanyaan Nuris barusan. “Soalnya barengan sama launching game baru. Kata anak event biar dananya langsung dialokasiin ke satu acara aja. Nih, tanya aja langsung sama bosnya.”
Rena berdecak pelan. “Biasalah, makin hemat pengeluaran katanya makin bagus.”
Nuris langsung manggut-manggut. “Kayaknya gue tahu siapa yang bilang begitu.”
“Siapa lagi coba?” Aku dan Rena menjawab serentak, jelas sekali sama-sama merasa pusing karena hal ini.
Perusahaan tempatku bekerja, Tanwira Corporation, merupakan perusahaan gaming yang cukup melejit beberapa tahun belakangan. Untuk menyokong pamor dan mempertahankan reputasi, selalu ada acara tahunan yang diadakan, dengan nama GAME-T Festival. Selain beberapa acara online, ada juga acara utama yang digelar secara langsung, biasanya diadakan di Jakarta.
Aku nggak terlibat langsung dalam konsep dan t***k bengeknya—itu sih bebannya Rena dan anak-anak acara. Namun, aku mau nggak mau harus tahu dan mengurusi hal tersebut, karena pekerjaanku adalah tukang pamer. I know it’s kinda weird to put it that way, but that’s my job. Aku harus memastikan orang-orang di luar sana tahu kalau Tanwira punya acara, dan menarik mereka untuk ikut bergabung.
Sederhanya, ya? Percayalah, segala sesuatu memang lebih sederhana ketika diucapkan ketimbang dilakukan.
Salah satu kesulitannya adalah … uang. Yang satu ini memang bikin pusing sejuta umat sih. Tapi dalam pekerjaanku, uang memang selalu jadi topik nomor satu untuk didebatkan. Namanya juga mau pamer dan memancing perhatian, masa iya nggak melibatkan uang?
“Deal sama agensi kemarin gimana?” Kali ini Rena yang bertanya. “Jadi?”
“Mereka mau sih harganya diturunin. Karena masih baru juga mungkin, jadi nggak mau ngelepas klien gede,” balasku. Yang begitu hal bagus sih, hanya saja aku nggak sejahat itu sampai membayar terlalu murah. “Orang finance nggak ngotak banget kalau harga yang gue kasih nanti masih minta dipangkas lagi. Gue udah ngubah banyak banget.”
“Justru karena mereka pakai otak banget, jadi pelit,” celetuk Nuris, kemudian tertawa tiba-tiba. “Duh, asli. Kebayang nggak sih kalau lo sama Pram jadi suami istri gitu? Ributnya bisa jadi urusan uang mulu.”
Jujur sih, aku pernah membayangkan. Bukankah hal begitu wajar jika kita dalam fase bucin? Segala sesuatu yang indah terbayang seketika. Sayangnya, hidup nggak seindah imajinasi.
“Tapi, Ris, bisa aja sih,” Rena malah merespons. “Cliché, lagian. Benci jadi cinta. Enemy to lovers.”
Aku memelotot dari cermin, membuat mereka berdua tertawa. Terserah mereka deh. Namanya juga halu. Kebetulan aku sudah lebih dulu ditampar kenyataan.
Selesai dengan beberapa obrolan singkat dan merampungkan riasan, aku dan Rena berpisah dengan Nuris. Kami naik ke lantai 11, tempat rapat diadakan. Pintu sudah dibuka, dan baru ada satu orang di dalam.
Coba tebak siapa?
Rena menyikut lenganku sebelum melenggang masuk lebih dulu. “Pagi, Pak Pram. Sendirian aja nih?”
“Yang lain lagi nyusul,” balas Pram. Dia sempat melirik ke arahku, tapi kuabaikan selagi berjalan ke sisi meja yang Rena tempati, berseberangan dengan Pram.
Sedikit aku curi-curi pandang, mencoba menyiapkan diri atas serangan apa pun yang akan dia berikan nantinya. But, heck, kok semakin diperhatikan dia jadinya makin ganteng, ya? Kemeja dark grey itu begitu pas di badannya, menekankan sisi maskulin ketika lengannya digulung sampai suku.
Also, how can glasses that supposed to make him look nerdy now makes him looks … hot?
Aku benci isi pikiranku, sumpah! Harusnya aku nggak memuji dia sekalipun dalam hati begini. Rasanya seperti mengkhianati diri sendiri.
Beberapa belas menit kemudian, ruangan sudah terisi. Pak Malik, alias Pak Bos, juga sudah mengisi salah satu kursi. Beliau juga yang kemudian memberi aba-aba untuk memulai rapat. Perang sudah akan dimulai.
Syakilia, brace yourself. Lawanmu ada tepat di hadapanmu.
*
Perang melawan divisi finance sudah beberapa kali kulewati. Dan berdasarkan pengalaman, semuanya seperti sebuah siklus. Ada acara, aku memutar otak, rencana diacak-acak Pram dan kawanannya, and repeat.
The result?
Tentu saja, keributan.
“Catatan sebelumnya kan sudah ada. Kenapa masih segini buat dananya?”
Aku sudah menduga kalimat itu yang akan dilontarkan begitu sesi pertanyaan dibuka usai aku presentasi. Reaksinya pasti akan begitu. Kebaca banget.
“Karena begini memang dibutuhkan, Pak.” Tentu saja aku membela diri. Jika Pram mengira aku nggak berpikir keras, he better think twice. Bukan hanya dia yang memikirkan biaya di sini. “Sesuai catatan dari Bapak, saya juga sudah reduce biayanya. Dari pihak agensi periklanan juga akhirnya sudah setuju.”
“Ya sudah, kalau begitu cukup pakai iklan itu saja. Kenapa harus ada biaya lain?” Nada bicaranya justru semakin memaksa.
Ini orang kebanyakan ngurusin uang sampai mikirnya nggak bisa sedikit ke depan apa, ya? Iklan hadir untuk menarik perhatian. Tapi, mengiklankan sesuatu nggak bisa sebatas memasang papan reklame atau disisipkan ke acara-acara telvisi. Lagi pula, hari gini hal-hal seperti itu sudah nggak efektif.
Apa aku harus buat kelas khusus untuk menjelaskan fenomena “influencer” sekarang ini? This kind of thing was not my job description.
“Tahun ini event-nya kan makin besar. Targetnya juga makin naik,” aku berusaha menjelaskan dan menjaga nada bicaraku tetap tenang. Nggak boleh terpancing. “Jadi, saya juga pilih media yang paling cocok.”
“Media yang cocok harus yang paling menghabiskan uang?”
God help. This man is really good at poking at my anger. Sial saja, sudah susah payah aku mengontrol emosi, berusaha nggak tiba-tiba meledak di depan bos dan rekan kerjaku, jawaban Pram masih sama.
“Dananya tetap. Nggak bisa diubah.”
Dan tahu apa yang lebih parah dari itu semua? Rapat justru berhenti karena jam makan siang. Kalau begini sih, aku bukan lagi berniat makan santapan yang sudah disediakan, melainkan Pram. Ingin sekali kutelan dan kukunyah sampai hancur.
Atau … jangan deh. Bisa-bisa perutku sakit kalau makan orang gila begitu.
Suasana yang sebelumnya serius perlahan berganti. Office boy dan office girl yang bertugas masuk sambil mendorong trolley, mulai membagikan katering. Kulihat Pram sempat bicara dengan salah satu petugas lebih dulu, kemudian petugas tersebut membagikan makanan untuk bagian deretanku. Kurang dari satu menit, aku mendapat bagianku.
“Buat Bu Kia yang nggak ada udangnya kan, ya?”
Kuterima kotak makanannya sambil mengangguk. Maunya berterima kasih, tapi rasanya ada yang mengganjal. Rena, Kemal, dan yang lain sudah sibuk makan. Sebelum aku bertanya, ternyata si bapaknya sudah lebih dulu bilang, “Berarti betul kata Pak Pramudya. Untung aja tadi pesannya beda.”
Bentar, bentar. Pram?
Spontan aku melempar pandangan ke meja seberang. Benar saja, Pram ternyata memandangiku. Tapi nggak lama, dia membuang muka dan langsung sibuk dengan makanannya. Kalau kalian pikir dia malu-malu, jelas itu asumsi kosong. Pram masih dengan ekspresi datar super nyebelinnya itu.
See? Gimana caranya aku mau percaya kalau pria di seberang sana cukup peduli padaku sampai ingat aku alergi udang dan meminta petugas untuk memesan menu terpisah?
Mungkin maksudnya Pramudya yang lain kali, ya?
“Lo nggak makan?” tanya Rena di sampingku.
Kualihkan perhatianku kemudian menggeleng, beranjak dari meja dan mengambil tasku. “Gue ke kamar mandi dulu deh.”
“Bukan mau nyiapin santet buat Pram, kan?”
Actually, that’s a decent idea. Tapi, kendati memikirkan urusan santet-menyantet, aku lebih penasaran dengan fakta bahwa Pram masih ingat soal alergiku. []