Meskipun rapat sudah selesai dari pukul empat sore, aku merasa masih ada hawa-hawa “rapat” yang akan kubawa pulang, dan mungkin akan bertahan sampai beberapa pekan ke depan.
Semua yang terjadi di ruangan itu masih bisa kuingat dengan jelas. Malah, aku menghafal tiap kalimat-kalimat menyebalkan yang kudapat, mengulangnya dalam kepala, kemudian mengumpat di depan cermin. Paling nggak, hal ini kulakukan untuk mengembalikan ketenangan jiwa dan raga.
Yang namanya emosi sebaiknya dilepaskan saja, kan?
Bagiku, ada beberapa cara untuk meredam amarah. Salah satu yang paling mudah adalah makan. Sayangnya, nafsu makanku sudah berada di level terendah. Pram masih berkeras dana yang diberikan untuk tim marcom tetap, sementara aku sudah meminimalisir kebutuhan sebisaku. Dengan rapat yang berakhir alot, Pak Malik mengusulkan rapat diadakan lagi lusa, karena konsep acara ada yang perlu diubah lagi.
Ketimbang bos yang keberatan dengan dana, justru Pram yang sepertinya pelit setengah mampus. Padahal sewaktu presentasi Pak Malik manggut-manggut saja, yang kuartikan sebagai tanda baik kalau perhitunganku sudah masuk akal.
Yang nggak punya akal memang ….
Duh, apa aku perlu memeriksa tekanan darahku hari ini?
Baru saja mempertimbangkan rumah sakit sebagai destinasi berikutnya, layar ponselku berganti tampilan dari aplikasi ojol ke panggilan masuk. Nama Papi muncul. Begitu aku mengangkat, ternyata suara Mami yang terdengar.
“Halo, Ki?”
“Lho, Mami?” Agak kaget sih. “Tumben nelepon pake hape Papi.”
“Papimu tadi mau nelpon, tapi diajak ngobrol sama temannya,” jelas Mami.
“Lagi di mana gitu?”
“Biasalah, diajak main golf lagi.”
“Sama gengnya, ya?”
“Siapa lagi,” Mami langsung mengiakan, kentara dengan nada agak sebal. “Giliran sama teman-temannya aja, semangat banget. Baru mau ini diajak nyari lemari dapur.”
Bukannya berniat durhaka, tapi tingkah Mami sukses membuatku tersenyum. Papi sebagai pensiunan di dunia perbankan bisa dibilang lebih sosialis daripada Mami yang sering dicap dosen galak oleh mahasiswanya.
“Jadi main golfnya udah selesai?” tanyaku sambil berjalan keluar dari mobil, berhenti di depan.
“Udah,” balas Mami. “Nah, Papi udah balik.”
Beberapa detik kemudian, kudengar suara di telepon sudah berganti. “Mana nih anak Papi? Nggak kangen sampai nggak pulang mau satu bulan?”
Dari kalimat pembuka saja, Mami sama Papi sudah beda. Aku langsung tertawa. “Anak Papi lagi sibuk cari uang.”
“Orang tuanya nggak dicari?” tembak Papi lagi.
Biasanya, satu atau dua minggu sekali aku ke Tangerang. Tangerang dan Jakarta memang nggak jauh. Sayangnya, bulan ini aku belum ke rumah orang tuaku, berhubung aku punya urusan ke luar kota. Ditambah urusan event Tanwira. Boro-boro mikirin pergi.
“Ah, Papi,” aku mencoba membalas dengan nada bercanda. “Bisalah kita ketemu nanti. Gampang.”
“Kalau gampang harusnya bisa sekarang dong?” Papi kedengaran nggak mau kalah di sana.
Don’t get me wrong. Aku tahu ini semua karena Papi sayang aku. Mami juga sih, tapi dari dulu aku memang lebih dekat sama Papi. Tentu saja aku bersyukur atas semua itu. But honestly, kadang agak gemas juga kalau Papi bertingkah begitu. Padahal sudah kepala enam.
Kalau sudah begini sih, pasti akan sulit terus beradu. Aku akhirnya mengalah.
“Iya deh, Pi. Nanti aku ke sana. Kalau nggak minggu ini, minggu depan,” ujarku. “Kia cari waktu lowong biar bisa puas-puas main ke rumah Papi sama Mami.”
“Betul nih, ya? Papi nggak pikun lho.”
“Iya, iya. Janji.”
“Papi tagih nanti janjinya.”
“Papi ini ih. Anaknya lagi sibuk gitu, digangguin terus,” Suara Mami ikut terdengar. Sepertinya Papi sedang protes, aku nggak bisa mendengarnya dengan jelas. Namun beberapa detik kemudian, Mami-lah yang lanjut bicara. “Biasalah, Ki. Papimu kangen sama anaknya. Kapan-kapan pulang coba, biar nggak rusuh.”
“Iya deh, Mi. Aku usahain secepatnya.”
“Tapi kamu baik-baik aja, kan? Kerjaan lancar? Sehat-sehat aja, kan?”
Senyumku mengembang karena pertanyaan itu. Walaupun Mami nggak mencariku seperti Papi, ada kehangatan tersendiri yang hanya bisa kudapat dari Mami lewat perhatian-perhatian kecil begini.
“Sehat kok, Mi. Puji Tuhan,” sahutku. “Agak sibuk, tapi aku baik-baik aja kok.”
Anggap saja perdebatanku dan Pram nggak terhitung. Lagi pula, untuk apa juga membagikan hal seperti itu?
If you wonder … yes, orang tuaku dan Pram belum saling kenal. Dulu, aku ingin mengenalkannya. It turns out I don’t need to. Mungkin memang baiknya begini. Artinya aku membuat waktuku di masa depan lebih berharga.
“Kia, ini Mami sama Papi mau pindah lapangan dulu. Nanti Mami telepon lagi, ya.” Dari suaranya, sepertinya Mami agak repot di sana. Papi sepertinya bicara dengan Mami, yang Mami iyakan.
“Oke deh, Mi,” ujarku. “Hati-hati, ya. Salam buat Papi.”
“Jangan lupa makan ya, Kia.” Ternyata Papi mendengar suaraku. “Jangan sampai pulang-pulang anak Papi menciut.”
Memangnya aku apaan coba?
Baru mau balas pamitan, perhatianku teralih begitu mendapati Pram berjalan mendekat. Lebih tepatnya mau ke parkiran sih. Aku menoleh ke kanan, rupanya mobilnya ada di dekatku, sekitar enam langkah jaraknya. Aku masih hafal plat nomornya. B 14—
Duh, ngapain deh disebutin!
“Udah dulu ya, Kia. Dah,” suara Mami terdengar. Setelah aku balik membalas “dah” singkat, telepon mati. Sesaat aku mencari ojol pesananku. Namun kemudian aku sadar, aku belum jadi memesan karena ditelepon.
“Mau pulang?” Alih-alih lewat saja dan masuk ke mobil, Pram justru berdiri di depanku. Entah dia mau menyapa atau memamerkan keberhasilannya karena proposalku ditolak saat rapat tadi.
“Apa saya kelihatan kayak mau senam?” balasku ketus. Kubenarkan posisi tas di pundak kiri, ingin langsung beranjak, tapi Pram justru menghalangi langkahku. Aku langsung memelotot. Persetan mau dibilang galak. Dia memang menyebalkan. “Jalan luas lho, Pak Pram.”
“Mau sampai kapan kamu kayak gini?”
Celetukannya itu membuatku mengangkat alis. “Maksudnya?”
“Kamu nggak sadar sikapmu ini kekanak-kanakan?” Nada bicaranya penuh tuduhan. Aku menyingkir ke kanan, tapi dia masih belum mau mengalah.
“Saya mau pulang. Buru-buru. Bisa minggir—”
“Kamu marah sama saya karena proposalmu nggak lolos?”
Untuk ukuran orang yang terbiasa irit bicara, sepertinya dia lupa memasang rem mulutnya. Aku menghela napas, berusaha untuk tetap tenang dan nggak meledak. Kami masih ada di sekitar kantor. Aku nggak berniat merusak karir dan jadi bahan omongan selama beberapa pekan ke depan hanya karena bertengkar dengan seseorang seperti Pram.
Kuputuskan untuk langsung membuka aplikasi ojol dan membuat pesanan sekarang. Dalam hitungan detik, sudah ada yang pick up pesananku, jadi aku hanya perlu menunggu sebentar. Tak lupa kuberitahu supirnya untuk menunggu di gerbang luar supaya lebih mudah keluar.
“Mau saya kesal juga, saya tahu nggak bisa apa-apa,” balasku. “If you don’t mind, saya harus pergi. Saya mau pulang.”
“Then treat me like usual, Syakilia.”
Hah? Maksudnya? Kali ini aku sama sekali nggak mengerti ucapannya. Bisa-bisanya dia menyebut namaku begitu. Aku mendongak untuk memandangi matahari. Nggak terik-terik banget, tapi kok bisa mempengaruhi kerja otak pria satu ini sampai jadi aneh bin ajaib.
Sengaja kuabaikan ocehannya tadi, sekali lagi menyingkir. Sialnya, baru saja beberapa langkah kuambil, dia justru berseru di belakangku, “Atau kamu begini karena saya mantan kamu?”
Jujur saja, aku terkejut. Bisa jadi orang lain mendengar, walaupun kalau dilihat-lihat, parkiran sepertinya ….
Tunggu dulu.
Pandanganku berhenti begitu aku melihat mobil ketiga dari sebelah kiri mobil Pram, menemukan ada orang berdiri di sana. Itu Rena. Matanya melebar ketika melihatku.
Sejauh apa kira-kira dia mendengar percakapanku dan Pram?
Kugigit bibir bagian dalam, menekan kepanikan yang mendadak meledak dalam diri. Aku harus bisa mengontrol ekspresiku. Selain Rena, masih ada Pram yang perlu kuurus.
“Syukur deh, dianggap mantan. Saya kira sebelumnya saya hanya pengganggu.” Sengaja aku melempar respons paling cuek yang bisa kubuat. “Apa pun pendapat Pak Pram, saya mencoba profesional di sini. Saya pamit.”
Aku segera berbalik, melangkah secepat yang kubisa untuk sampai ke gerbang. Kusadari ada yang menyusul di belakangku. Ketukan sepatu yang terlalu nyaring untuk digunakan pria. Meski panik, aku takjub bisa mempertahankan ekspresi tenangku ketika Rena berada di sampingku. Napasnya terengah.
“Lo jalan cepat banget!” katanya.
“Gue mau pulang,” balasku enteng.
“Kok jalan kaki?”
“Grab.”
Dia manggut-manggut. “Oh, iya. Lo bilang tadi pagi naik motor ya?”
Aku bergumam saja. Layar ponsel di tanganku menyala, ada telepon masuk dari nomor tak dikenal. Pasti supir ojolnya. Langsung saja kuangkat dan bilang, “Saya lagi ke depan, ya, Pak. Tunggu sebentar.”
Setelah diiyakan, kumastikan teleponku. Rena masih memperhatikanku, seperti ingin mengatakan sesuatu.
“Gue nggak sengaja dengar, suer,” katanya cepat. “Tadi mau ke mobil, ternyata ada lo sama Pram. Suaranya juga ….”
“Dia emang teriak tadi,” timpalku. “Tadi di parkiran nggak ada siapa-siapa tapi, kan?”
Rena menggeleng. “Yang gue lihat nggak sih. Cuman lo berdua sama … gue.”
“Ya udahlah.” Aku jadi nggak enak karena Rena tampak sungkan. Bukan salahnya mendengar teriakan Pram yang pakai loudspeaker itu. Kalau dia nanti protes karena ada yang tahu kami pernah pacaran, dia seharusnya menyalahkan diri sendiri. Yang bisa kulakukan sekarang hanyalah berdoa, berharap Rena bisa menjaga rahasia.
“Tapi serius deh,” potong Rena sebelum aku sempat melangkah lagi. Sudah kuduga, dia nggak mungkin membiarkanku pergi begitu saja. “Lo sama dia beneran pernah pacaran?”
Aku mungkin harus bersyukur soal ini. Seseorang dari kantorku tahu setelah hubungan aku dan Pram berakhir. Memang nggak ada aturan di kantor yang secara langsung menyatakan “tidak boleh mengencani sesama karyawan”, tapi yang jelas, sesuatu yang menyebabkan ketidakprofesionalan seseorang merupakan pelanggaran.
Sialnya, aku nggak bisa merasa begitu. Sekarang aku justru merasa marah. Entah karena Rena mendengar sesuatu mengenai aku dan Pram, atau aku lebih suka kalau yang dia dengar hal lain. Bukan kami dalam kondisi yang begini.
Tapi, apa sih yang aku harapkan?
“Percuma mau lo gibahin, udah putus,” ujarku. “Ya udah ya, gue duluan. Grab-nya udah di depan.”
Aku melempar pandangan ke belakang, melihat Pram yang masih berdiri di dekat mobilnya. Entah apa yang dia lakukan di sana, aku nggak peduli. Aku nggak akan peduli apa pun lagi.
Lagi pula, kalau sudah putus begini, nggak akan ada masalah lagi, kan? []