Well, I’m totally wrong.
Apa pun yang melibatkan Pram ternyata membawa masalah. Dan apa yang terjadi kemarin sukses mengubah masalah menjadi musibah.
Saking betenya semalam, aku sengaja tidur lebih cepat. Kupuaskan diri memanjakan wajah, berharap esok hari aku bisa tampil lebih prima. Sial saja, alih-alih kelihatan segar, begitu masuk kantor wajahku dipastikan beberapa tahun jadi lebih tua. Bagaimana tidak, baru sampai ke kubikel saja, tiba-tiba sudah ada yang bertanya, “Jadi lo beneran pacaran sama Pram nih, Ki?”
Aku nggak akan kaget kalau yang bertanya Rena. Dia mendengar percakapan—atau apa pun cara yang tepat menyebut kegilaan—kemarin. Tapi kali ini yang bertanya sekarang justru Mbak Sevanya, orang divisi marketing yang pindah ke divisi kreatif akhir bulan lalu. Kok bisa tersebar sampai ke sana?
Belum lagi, bisa kurasakan rekan-rekan seruanganku juga menatapku dengan janggal, seakan ada hal aneh dan mengejutkan yang baru saja kuperbuat. It feels as if I did a terrible mistake, and it shocked them.
Dating Pram was a mistake indeed.
Mau menyanggah pun sepertinya percuma. Tapi, apa perlu banget aku mengakuinya? Males banget!
“Kia.”
Aku menoleh ke pintu, mendapati Rena berdiri di sana. Ada gurat bersalah dari ekspresinya. Apa berarti dia yang memberitahu orang-orang kantor?
“Gue butuh saran nih. Bantuin dong.”
Sebelum aku sempat bertanya, Rena sudah melanjutkan. Bedanya, kali ini dia berkomunikasi dengan mata, memberi isyarat kalau aku harus segera keluar dari ruanganku. Meski bingung, akhirnya aku berdiri dan mengikuti Rena ke ruangannya. Namun, kendati menjelaskan masalah, yang pertama dia bilang justru, “Sebelum lo salah paham nih ya, sumpah demi apa, gue nggak ada cerita ke siapa-siapa.”
Aku nggak perlu bertanya untuk tahu apa maksudnya. Kabar mengenai aku dan Pram pasti sudah tersebar. Rena pun tampaknya serius dengan ucapannya, dan aku nggak berniat menekannya lebih jauh. Dia sepertinya jujur.
“Mulut gue betulan kekunci dari kemarin,” ujar Rena sambil membuat v-sign ke arahku. “Asli deh. Sumpah demi apa pun.”
“Mungkin ada orang lain yang nguping,” ujarku, sebisa mungkin tetap tenang. “Lagian, mau diapain lagi? Udah nggak ada apa-apa di antara gue sama dia.”
Aku sadar betul, topik soal hubunganku dan Pram akan jadi pembicaraan selama beberapa hari ke depan. Mungkin memakan minggu dan bulan. Namun, menanggapi berlebihan bukan reaksi tepat. I need to keep my composure. Yang namanya bahan gosip itu nggak asyik kalau nggak ada yang bereaksi. Jadi, akan kulakukan kebalikannya—bersikap nggak peduli dan terus melanjutkan aktivitasku.
“Jadi, lo manggil gue buat apa?” tanyaku lagi, berharap topiknya berganti.
Meski sempat kelihatan terkejut, Rena akhirnya melanjutkan. Ada beberapa acara yang ingin dia ubah, dan dia membutuhkan pendapatku, supaya aku juga bisa mencocokkan cara tepat mempromosikannya. Selama lima belas menit, diskusi kami hanya diisi oleh pekerjaan. Sama sekali nggak menyinggung apa-apa mengenai Pram. Dan jujur, aku menyukuri hal itu.
Puas dengan hasil diskusi singkat itu, aku pamit untuk kembali ke ruanganku. Baru saja masuk, sudah ada Pram di dalam, sedang mengobrol dengan Kemal juga Yemima. Ketiganya langsung berbalik ke arahku, terdiam. I should admit, things surely feel weird. Seakan-akan melihatku dan Pram membuat orang-orang baru saja melakukan kesalahan besar.
Sebenarnya sampai mana gosip soal aku dan Pram? Harusnya ada penekanan khusus kalau kami sudah jadi “mantan kekasih”. Yang berlalu biarlah berlalu, bukan begitu?
“Mal, revisian yang kemarin kirim ke gue dulu,” kataku sambil menyalakan komputer, mengabaikan kehadiran Pram di ruangan. “Ada yang mau gue coba otak-atik dulu. Ada sedikit perubahan dari anak event.”
“Oke, Mbak.” Kemal mengiakan, kemudian permisi pada Pram untuk kembali ke kubikelnya.
“Dan, oh. Yem,” sekarang aku bicara pada Yemima, “coba hubungin Crealink, tanyain progres. Bilang untuk promosi online competition jangan dibuat dulu. Ada bahan baru nanti, mungkin dikirim siangan.”
“Mind if I ask for a copy from yesterday proposal?” Pram tiba-tiba nimbrung. Aku kira dia bicara pada rekan kerjaku, tapi tatapannya ternyata tertuju ke arahku.
“Belum final,” balasku singkat.
“Nggak apa-apa. Ada yang mau saya tinjau ulang sebelum rapat lagi hari ini.”
Ah, right. Artinya hari ini aku masih perlu bertarung dengan pria satu ini.
“Mal, tolong print-in dong,” pintaku ke Kemal, kemudian beralih lagi ke Pram. “Nanti bakal diantar.”
Kuharap dia nggak perlu terjemahan langsung: aku ingin dia angkat kaki dari ruanganku secepatnya. Syukurnya dia cukup paham, hingga langsung pamit. Aku mengangguk saja, kembali berkutat dengan monitor. Tepat ketika aku mau mengunduh lampiran revisi proposal dari Kemal, ponselku di meja menyala, memampangkan notifikasi w******p baru masuk.
Pramudya K.
Siang ini kosong?
Bs bicara sbntr?
Aku mengernyit, tapi menahan diri untuk nggak menoleh ke arah pintu. Tumben tiba-tiba nanya begini. Meski bingung, aku tahu hanya satu balasan yang paling ingin kuberikan.
Syakilia L.
Sibuk. Ada yang buat kerjaan saya numpuk soalnya.
Terserah kalau kesannya aku cuek dan hipersensitif. Biar dia sadar diri.
*
Walaupun berharap akan ada perubahan, sebenarnya aku sudah tahu akan bagaimana hasilnya: dana nggak bertambah. Memang angkanya lebih besar daripada tahun kemarin, tapi mempertimbangkan acara kali ini direncanakan lebih besar, aku rasa nggak salah untuk menyimpulkan dana tahun lalu masih lebih banyak.
Disappointed? Sure. But it’s not that shocking. Mau apa pun yang terjadi, aku dan rekan-rekanku dari divisi marketing harus tetap bergerak. Karenanya begitu selesai rapat, aku langsung mendiskusikan keperluan acara dengan Rena, sebelum mulai menyortir rencana awal. Aku sudah tektokan duluan dengan advertising agency, jadi nggak mungkin aku membatalkannya dan mencari yang baru. Ada hal lain yang perlu aku kurangi.
Dan inilah yang paling membuatku kesal. Bagaimana sih cara berpikir orang-orang seperti Pram sampai mengira target yang tinggi bisa dicapai dengan dana terbatas? Screw that “hasil maksimal dengan biaya seminimal mungkin”. Success has a price, and it isn’t cheap at all.
“Buat nama-nama influencer-nya nanti gue sortir lagi,” ujarku. “Gue usahain secepatnya. Buat sekarang mending kita balik aja. Siapin mental buat ngemis setelahnya.”
That last sentence is harsh, I know. But let it be. Kami jelas perlu kerja keras. Benar-benar keras.
“Gue coba cari-cari info soal influencer-nya deh, Mbak. Siapa tahu ada yang lebih pas sama kita,” ujar Kemal. Aku tersenyum simpul dan menggumamkan terima kasih.
“Kalau kalian ada info, atau mungkin jaringan sama siapa, kasih tahu gue.” Semua hal yang bisa dimanfaatkan harus kugunakan sekarang.
Aku sengaja tinggal sedikit lebih lama di kantor, membiarkan yang lain keluar duluan hingga menyisakan aku sendiri. Kuhabiskan waktu membuka berbagai social media di komputer kantor. Bukan untuk bersantai atau cari gosip tentunya, melainkan informasi beberapa influencer dan gamer di luar daftar yang sudah ada. Tadinya aku berpikir mengundang mereka yang sudah punya massa. Lebih banyak ikan yang bisa dipancing. Tapi, seperti kataku tadi, semua hal yang enak itu punya harga.
Kucatat semua kontak yang tercantum, dan akhirnya memutuskan pulang begitu jam sudah menunjukkan pukul setengah enam. Sepertinya aku akan mampir dulu untuk cari makan, hiburan, atau apa pun agar frustrasi ini tersalurkan. Hari ini sudah buruk, dan aku nggak yakin bisa jadi lebih buruk dari.
Well, it turns out, it can be worse. Tinggal munculkan saja Pram di dalam lift kosong yang mau kumasuki.
Belum cukup kesiksa aku hari ini, ya?
Aku nggak berniat untuk bicara atau berinteraksi, jadi aku sekadar menunduk saja sebelum masuk, memilih berdiri di pojok. Mungkin aku harus berbangga pada diri sendiri atas kemampuan bersikap dingin sementara dalam hati sudah membuat deretan u*****n yang jelas bisa membuatku dicap gila kalau disuarakan.
“Masih marah?”
Astaga! Ini orang maunya apa sih?
“Nggak,” balasku singkat, masih enggan untuk memandanginya.
“You definetely are,” timpalnya lagi. Kalau sudah tahu, untuk apa dia bertanya?
Alih-alih diam dan menunggu lift terbuka, Pram malah memperpanjang urusan. “Jadi saya harus apa biar kamu bisa bersikap biasa saja? Apa saya harus betul-betul ACC dana yang kamu minta?”
“I don’t need those money,” kataku, sebisa mungkin menekan amarah yang siap keluar. Kalau saja bukan di kantor, sumpah serapah pasti sudah kuabsen. “Saya bisa buat acaranya ramai tanpa dana tambahan dari divisi pelit dan suka mempersulit pekerjaan orang. Kalau nggak mau, ya udah. As simple as that.”
“Oh, ya?” Pram langsung melonggarkan dasinya dan bersedekap. Alisnya itu, yah … duh! Mendadak ingin sekali kujahit supaya yang naik-turun dengan cara menyebalkan begitu.
Kalau memang mau tanding siapa yang lebih sengak, ayo saja. “Mau berapa orang? Lima ratus? Seribu?” Aku mendengkus. “Kalau perlu warga se-Jakarta bakal ada di sini! I’ll make them come!”
Sekarang ekspresi Pram berubah. Wajahnya berubah kaku. See? Kamu memancing orang yang salah, Pram!
“Kamu terlalu melebih-lebihkan, Kia.” Dia malah bicara sok serius, dengan suaranya yang jauh lebih berat ketimbang sebelumnya. “Jangan bicara sesuatu yang nggak bisa kamu realisasikan. I know you can do better than that.”
“Thanks. Aku memang bisa buat lebih baik dari ngundang orang banyak. Just wait and see.”
“Syakilia.”
Tepat ketika dia menyebut namaku, lift berdentang. Rasanya aku ingin langsung menendang pintunya supaya cepat terbuka, supaya aku bisa langsung keluar. Namun, Pram justru menahan lenganku, dan aku buru-buru menariknya.
“Kamu begini ke saya apa karena apa sih, Ki?” katanya.
“Oh, so you have the audacity to ask?” Aku balik bertanya. Tadinya mau langsung pergi, tapi satu lagi pertanyaan dari dia justru membuat kepalaku meledak di tempat.
“Kamu kayak begini justru terkesan nggak bisa move on dari saya.”
Oh. My. God. Is this man for real? Sesaat, aku nggak bisa berkata-kata. Ini betulan Pram, kan? Pria dingin yang bahkan nggak peduli urusan perasaan. But that question is just ….
“Don’t worry. Kamu nggak seberkesan itu kok,” balasku. “Now, if you excuse—”
“You hate me that much?” tanyanya, kali ini lebih pelan. Dan untuk pertanyaan itu, aku sudah punya satu jawaban singkat.
“Yes.”
Tanpa peduli bagaimana reaksinya, aku berbalik dan berjalan menjauh, sambil memantapkan diri untuk benar-benar membuat Pram malu dengan pencapaianku nanti. Aku jelas nggak hanya akan bawa orang banyak untuk acaranya, tapi pacar baru sekalian.
Lihat saja. []