Uang. Uang. Uang.
Semakin diulang, bukannya datang, malah bikin pusing. Aku jadi teringat Papi pernah bilang, “Uang itu lebih mudah dihabiskan daripada dicari.”
Which is true. Dan nggak peduli apa pun alasannya kita membutuhkan uang itu, bukan berarti cara mendapatkannya akan lebih mudah. Sekarang saja, aku terus memikirkan bagaimana caranya mendapatkan uang atau mencari alternatif lain supaya rencanaku tetap berhasil. Setelah semua yang kuktakan pada Pram beberapa hari lalu, aku nggak mungkin meralat semuanya dan mengemis. Hal itu nggak akan pernah terjadi.
Namun, aku juga harus mengakui bahwa tindakan kemarin kurang cerdas. Not at all, to be exact. Karena kenyataannya, aku seperti membuat janji untuk menyukseskan acara sekalipun harus berdarah-darah dalam prosesnya. Secara nggak langsung aku juga membuatnya semakin sulit. Aku nggak mau membayangkan bagaimana kalau nanti gagal, but I can’t help it. Dari belakang kepalaku bisa kurasakan Pram tertawa sambil merendahkanku.
This is suċks. And probably, everything will.
Aku menghela napas, beranjak dari meja untuk memesan lime pie frappucino dan dan tiramisu. Sudah tiga jam aku berada di sini, dan sekarang sudah hampir pukul sembilan malam. Pilihanku untuk nongkrong di Starbucks PI mungkin kurang tepat, apalagi ini hari Minggu. Orang lalu-lalang kebanyakan dengan teman atau pasangan, sementara aku sendirian, memilih meja paling pojok, berjam-jam berhadapan dengan laptop sambil berharap mendapat inspirasi. Apartemenku nggak banyak membantu.
Nggak mau terlalu ribet, aku hanya memakai boxy top, jins, dengan rambut dibuat bun seadanya. Sebisa mungkin kuabaikan perhatian orang-orang. Sepertinya beberapa pegawai di sini juga mulai bertanya-tanya kapan aku akan pindah. Unfortunately, not anytime soon. Lagi pula, aku juga memesan lebih dari matcha latte. Mereka bisa menghitung dari cup dan piring kecil di mejaku.
Begitu kembali ke meja, aku kembali menyibukkan diri melihat tab yang kubuka. Nggak perlu repot-repot menghitung, laptopku masih bisa berjalan saja sudah syukur. Seharian ini aku berhasil mengumpulkan beberapa nama yang sesuai dengan dana.
Oke, agaknya menyebut begitu kurang tepat. Maksudnya yang bisa “kuakali” sesuai dana. Aku baru mau melanjutkan pemeriksaan ketika w******p yang kubuka via web memunculkan notifikasi. Rena mengirimkan lampiran, tapi juga menelepon. Aku langsung mengambil ponsel untuk mengangkat panggilan masuk.
“Kenapa, Ren?” tanyaku.
“Lo lagi di mana? Apartemen?” Dia balik bertanya.
“Nope. Lagi di PI nih.”
Dari ujung sana dia tertawa. Padahal aku nggak melucu. “Jalan sama siapa weekend gini? Udah nemu pasangan?”
“Kaki sama tangan gue sepasang kok.” Rena mendengkus, jadi aku menambahkan, “Emang salah jalan sendiri? Ini gue lagi nongkrong sendiri sih, sekalian ngopi di Starbucks. Bosan di apartemen. Mau nyusul?”
“Boleh deh. Ini gue juga baru keluar dari GI,” ujarnya. “Biar lo nggak sendirian amat, kasihan gue.”
Aku menggeram pelan. Meski begitu, kalau boleh jujur aku lebih suka punya teman di sini sih. Mungkin Rena juga bisa memberikan pencerahan untuk kebuntuanku.
“Oh, ya,” Rena kembali bersuara di ujung sana. “Coba lo cek itu lampirannya. Gue dapat info dari sepupu yang anak EO. Itu orangnya ada di list lo juga nggak?”
“Bentar, gue buka dulu.” Kuletakkan ponsel di meja, lalu mengunduh file yang Rena kirim melalui laptop. Isinya ternyata CV milik Rafael ….
Tunggu dulu.
“Ini Rafael RaftG?” tanyaku setelah mengambil ponselku lagi. Orang ini ada di list incaranku, tapi masih kutandai karena aku belum mendengar bocoran soal tarifnya.
Rena mengiyakan. “Sepupu gue bilang dia gampang diajak kerja sama, asal acaranya jelas. Kita kan Tanwira nih, dia mungkin mau asal lo pintar bujuknya.”
“Sepupu lo keluar duit berapa pas ngundang dia?”
“Di bawah sepuluh.”
Sepuluh masih lumayan besar, tapi seenggaknya lebih wajar ketimbang influencer lain.
“Dia gamer baru, tapi lumayan terkenal. Bisalah lo pertimbangkan,” ujar Rena lagi. Aku mendengar ada bunyi klakson dari sana, membuatku menjauhkan ponsel. Kudengar temanku itu mengumpat sebelum kembali bilang, “Nanti gue jelasin lagi deh. Gue mau keluar dulu.”
Usai aku mengiakan, dan Rena segera mengakhiri panggilan. Kembali k****a CV-nya, membuka tab baru untuk mencari social media Rafael. Dilihat dari i********:, Twitter, dan kanal Youtube-nya, massa-nya memang lumayan banyak.
Kuperhatikan satu per satu IG story-nya, yang paling baru setengah jam lalu, berisi fotonya bersama dua perempuan yang dia rangkul. Entah ini teman, fans, or he is just simply a player. I don’t necessarily care about the last one, but it isnt impossible. Dia lumayan tampan dengan rambut blonde, beberapa anting berderet di telinga kirinya. He also got a perfect triangular face shape.
Oh, God. Aku seharusnya nggak menilai fisiknya. Bukan itu yang kubutuhkan sekarang.
Beberapa i********: post-nya didominasi hasil endorse, mulai dari perusahaan teknologi besar sampai makanan. Dia pilihan yang patut dipertimbangkan. Artinya, aku yang harus berusaha meyakinkannya kalau acara ini akan membantunya. I need to work on that.
Aku merenggangkan lengan lebih dulu, menggerakkan kepalaku yang terlalu lama terasa kaku seperti patung, baru setelahnya kuseruput frappucino-ku. Ketika kuedarkan pandangan ke sekitar, ternyata beberapa meja sudah mulai kosong. Pantas saja jadi agak hening. Namun, aku jadi menyadari kalau yang ada di sini semuanya berpasangan. Nyaris semua, kecuali aku.
Hal sekecil ini tentu saja nggak akan membuatku langsung angkat kaki dan pergi. Aku nggak akan menyendiri karena nggak punya pasangan. Tapi, ada sebuah perasaan menggelitik yang membuatku terusik.
At some point of my life, I’m dreaming to be like some couple out here. Bisa berpegangan tangan, tertawa di tempat umum, atau sesederhana bersandar di bahu pasangan dan bertukar tatap. Seharusnya itu bukan keinginan yang sulit.
Anehnya, semua itu seperti mustahil untuk dilakukan bersama Pram. Jangankan mendapat gestur romantis, aku bahkan nggak merasa seperti punya pacar. Kalau diingat-ingat, selama lima kali jalan bareng, hal paling dekat yang pernah kami lakukan hanyalah duduk bersampingan di bioskop, atau bersebelahan saat dia mengantarku pulang. Aku pernah menciumnya sekali, tapi semuanya terasa kikuk setelahnya, sampai aku bertanya-tanya apakah aku yang terlalu impulsif.
Dating Pram basically made me questioning myself. And I hate that.
Kenapa juga sih aku harus memikirkan dia? Buat mood jelek saja.
Baru saja mau menyuap tiramisu, perhatianku teralih begitu ada yang yang lewat. Semua akan biasa saja kalau yang lewat bukan ….
That can’t be him.
Aku mengerjap cepat, berharap salah lihat. Ternyata mataku masih bekerja dengan baik. Aku cukup ingat seperti apa sosok pria tinggi dengan rambut yang selalu ditata ke belakang itu. Senyum kotaknya juga khas sekali.
Itu Pram. Satu-satunya Pramudya Karunasankara.
Yang lebih nggak bisa kupercaya, ada seseorang di dekatnya. Seorang perempuan yang tertawa, berjalan berdampingan sementara Pram merangkulnya. Mereka hanya lewat saja, tapi berhasil membuatku diam di tempat sekalipun sosok mereka sudah nggak terlihat lagi.
Seharusnya aku biasa saja. Hubungan kami sudah jelas, aku tahu betul akan hal itu. Aku bukan pacarnya, vice versa. Jadi bukan hal aneh melihatnya berada di sini dengan gandengan baru, yang begitu mudahnya merangkul dan melakukan berbagai kontak fisik dengannya. Who knows they might even go further than that. Nggak perlu sok suci untuk tahu hal seperti itu bisa saja terjadi.
But the s**t thing is, kenapa aku nggak terima melihat itu, ya? []