So, he already got somebody new. Now what?
Sekeras apa pun aku mengingatkan diri supaya nggak terlalu memikirkan hal sesepele itu, aku makin terdorong untuk memutar ulang kilasan ingatan Pram yang lewat dan merangkul perempuan lain. Bagian yang perlu ditekankan adalah betapa bahagianya dia. Dan sepertinya otakku memutuskan untuk melebih-lebihkan hingga di tiap ingatan, Pram tampak lebih bahagia.
It’s silly that I noticed, yet I repeat it afterwards.
Parahnya lagi, kemampuanku untuk fokus melemah. Apalagi orang yang mengusik kepalaku juga ada di kantor. Entah kebetulan macam apa, tapi beberapa kali aku keluar—sekadar ke ruangan lain atau makan ke kantin—ada saja kesempatan untuk bertemu Pram. Dia nggak menyapa, dan tentu saja aku pun begitu, tapi aku merasa dia beberapa kali melirikku. Apa bukan hanya aku yang sadar akan kejadian kemarin, sehingga dia berniat memamerkannya?
“Lo butuh break deh, Ki,” ujar Rena sewaktu makan siang. Aku nggak cerita banyak mengenai kejadian kemarin, tapi aku hanya bilang sempat melihat Pram sekilas. Rena sempat menggodaku supaya mengajak Pram, yang sudah pasti nggak kulakukan. Dia kan sudah sama—
God help. Aku bisa gila kalau begini terus!
Aku dan Pram belum resmi lepas dari gosip orang-orang kantor, meskipun pertanyaan yang terlempar padaku sudah nggak begitu banyak. Aku pernah mendengar beberapa orang finance berhipotesis aku dan Pram sering bertengkar tiap rapat karena status kami. Beberapa di antaranya juga sampai bilang kami gagal menikah, sehingga hubungan kami jadi seburuk sekarang.
Untuk asumsi pertama, aku memang nggak bisa menyanggah, walaupun tanpa pacaran, kurasa orang marketing dan keuangan memang sudah ditakdirkan jarang akur—another slap to myself, malah naksir sama kubu yang dipastikan nggak waras dan pelit itu. Tapi yang kedua … ugh, mulut orang memang bisa mengubah cerita. Mana mungkin aku mengharapkan masa depan dengan pria seperti Pram?
Sebelum pulang, aku sengaja mampir di kantin untuk makan terlebih dahulu. Sial saja, begitu selesai, hujan justru turun deras. Aku sama sekali nggak bawa payung, sementara mobil kuparkirkan di parkiran luar. Niatnya cari spot supaya gampang keluar, malah terjebak.
Aku menunggu di depan, menimbang apakah sebaiknya aku menerobos saja atau nggak. Toh, aku memang mau langsung pulang. Satu-satunya yang akan melihatku basah kuyup kemungkinan security apartemen.
“Nggak bawa payung?”
Aku menoleh ke samping kiri, ternyata ada Pram. Aku langsung buang muka dan bergumam kecil. Seenggaknya aku menjawab. Pram juga diam, dan kemungkinan dia akan langsung pergi.
Begitulah dugaan awalku sebelum dia tiba-tiba mendekat, membuka ransel bagian depannya, lantas menyodorkan payung dengan bungkus merah. “Pakai ini aja. Mobilmu diparkir di depan, kan?”
Aku nggak menjawab, tapi dia sudah meraih tanganku, meletakkan payungnya untuk kugenggam.
“Terus kamu?” tanyaku balik.
“Saya bisa pakai ini,” katanya sambil menunjuk jasnya, lantas melebarkannya untuk menutupi kepala. “Duluan.”
Tanpa menunggu dia langsung keluar, menerobos hujan begitu saja, membiarkanku sendirian dengan payungnya. I’m feeling déjà vu right now. Pengalaman ini nggak asing. Payung merah ini juga.
Syakilia, ingat. Nggak perlu baperan sama hal kecil kayak gini. Jangan kayak keledai!
Aku menghela napas dalam, berusaha untuk menenangkan pikiran. Sialnya, pertanyaan baru kembali mengusikku. Sebenarnya apa tujuan Pram bersikap begini padaku? Apa dia betul-betul mau pamer? Apa dia baik-baik saja setelah putus dariku? Apa dia ….
“Katanya udah move on, tapi kok ngelihatin mantan gitu banget, Bu?”
Spontan aku mengerjap cepat dan berbalik, mendapati Nuris di sampingku. Dia tertawa sambil membuka payungnya. Nggak lama, Rena juga muncul. Bedanya dia nggak tersenyum, melainkan menatapku dengan sorot penasaran bercampur khawatir.
“Dikasih payung nih, ye,” tambah Nuris lagi. “Gue nggak tahu Pram sebaik itu.”
Sama. Aku ingin menimpali, tapi sepertinya diam akan lebih baik. Syukurnya, area lobby tampak kosong. Sepertinya nggak ada siapa-siapa yang melihat. Semoga.
“Tadi katanya lo ditungguin sama pacar hari ini. Pergi sana udah,” Rena ikut menyeletuk sambil geleng-geleng. Nuris langsung cengengesan, kemudian langsung pamit dan berlari ditemani payungnya.
“Dia dijemput?” tanyaku pada Rena.
“Katanya ada yang ngajak jalan. Biasalah. Pacarnya banyak,” balas Rena. Memang sudah bukan rahasia lagi sih kalau Nuris sering jalan sama “pacar”.
“Sekarang dari mana lagi?”
“Tinder.”
“Is that even trusted?”
“Yah, tergantung sih. Kalau ketemu sama yang baik, berarti aman. Buktinya sampai sekarang masih ada yang make, kayak Nuris tuh.”
“Tapi bukannya banyak yang make buat jadi h***y reliever aja?”
Alih-alih menjawab, Rena justru memamerkan senyum miringnya. “Kenapa? Lo jadi tertarik? Mau cari pacar buat digandeng atau buat diajak olahraga?”
Seems like I asked the wrong question, or maybe a wrong person.
“Aplikasi kayak Tinder tuh bukan jaminan, tapi alat untuk mempermudah,” tambah Rena lagi. “Lo mau nyari pacar emang? Mending gue kenalin sini deh. Mau yang duda atau berondong?”
“Setan!” Aku merutuk, sementara dia tertawa saja.
“Asli sih, gue jadi penasaran. Hari ini lo kayaknya nggak begitu fokus. Adalah kopi hampir tumpah, hape jatuh di tangga. Kirain mikirin Pram, ternyata mikirin …,” nada bicara Rena jadi menggantung, “… oh, apa lo mau move on? Bukannya udah?”
“Emang udah.” Sebisa mungkin aku membuat suaraku terdengar yakin. Kalau definisi move on adalah “nggak bisa melepas”, maka dipastikan aku sudah move on. Nggak sedikit pun tebersit untuk balikan dengan Pram. Dengan atau tanpa adanya kesempatan.
Ketimbang mau mendapatkan dia kembali, aku lebih merasa sebal. Marah. Benci. I don’t even know how to say it correctly. Semua perasaan itu sudah campur aduk setelah melihat kebahagiaan Pram dan pacar barunya itu.
Apa yang kurang dariku coba? Padahal aku sudah berusaha keras memahami dia, memberanikan diri bergerak lebih dulu, dan mengikuti hal-hal apa saja yang bisa membuatnya makin menyukaiku.
Believe me, I’ve tried to make him love me harder. Sayangnya, mana bisa aku membuatnya makin menyukaiku kalau sejak awal perasaan itu nggak ada? Lantas, kenapa dia menerimaku waktu itu? Hanya karena kasihan?
Damn it! Damn him! Damn everything I’ve been through!
“Gue pengin aja gitu punya teman cerita,” kataku pada Rena. “Maksudnya, bukan kayak lo dan gue gini. Yah, yang lebih spesial gitu. Gimana bilangnya ya …”
“Gue paham kok,” balas Rena sambil manggut-manggut. “Nggak ada yang salah dengan mau menyayangi dan disayang. Asal itu emang hal yang baik buat lo, why not? Mau pakai Tinder juga, sah-sah aja. Coba aja lo install. Siapa tahu nemu yang cakep, pintar, bisa menghargai elo, dan yang pasti jago cari uang dan jago main di kas—”
“Emang deh otak lo!” Meski aku berseru, kali ini aku bisa tersenyum.
“Kalau perlu, gue bantuin deh make Tinder,” tambah Rena lagi.
“Lo pernah main?”
“Heh, orang di belahan Jakarta mana sih yang nggak pake Tinder? Yah, kecuali elo sih.”
Terlepas dari godaan Rena yang agak menyebalkan, aku rasa idenya cukup bagus. Saatnya aku memulai. Kalau Pram bisa bahagia begitu, aku lebih bisa. Dan mengingat aku bisa memamerkan pasanganku nanti membuatku semakin termotivasi.
It’s settled then. Agenda baruku adalah cari pacar. So Tinder, please do your magic. []