I’m definetely suċks at using Tinder.
Pengalamanku menggunakan dating app benar-benar nol, jadi begitu aku memutuskan menginstall aplikasi satu itu, aku memulai dengan clean slate, tapi harapan selangit. Beberapa hari pertama, lumayan banyak orang yang muncul di daftarku, mulai dari tipe dengan nama lokal banget sampai bule yang kemungkinan bakal cocok bermain dalam film laga.
Ibarat ujian, aku punya pilihan dari A sampai Z dengan font yang berbeda-beda. Somehow it feels nice, tapi di sisi lain agaknya semua itu kurang realistis. Yang ganteng begitu harusnya sudah punya pasangan, kan?
Selama kurang lebih lima hari memakai Tinder, aku sudah mendapatkan tulisan “It’s a Match!” beberapa kali, dan berbalas pesan dengan beberapa orang. Dan lagi ….
Jujur saja, aku nggak mau membicarakannya. Beberapa di antaranya nggak lebih dari orang-orang yang mau get laid secara instan. Ketika aku bercerita pada Rena, dia malah ngakak sendiri.
“Lo nggak ngirim foto tapi, kan?” tanyanya dengan senyum jahil.
“Ya nggak lah!”
Daripada mengirim foto yang diminta, aku lebih ingin mengirim orang-orang berotak s**********n itu ke neraka. Tinder nyatanya nggak semudah dan sesederhana yang kubayangkan. Susah mendapatkan orang yang justru bisa diajak pedekate secara “normal”.
And also, there are important things to to rathen than swiping your screen and have some person matched with you: matching your target with your current situation.
Sayang saja, nggak ada aplikasi untuk mencocokkanku dan sponsor yang kubutuhkan. Aku harus melakukannya sendiri. Beberapa proposal yang dikirim masih belum berbalas, dan semuanya dari perusahaan yang cukup ternama. Nggak sampai di situ, aku juga perlu mencari orang yang pas sebagai jembatan promosi. Aku sudah menghubungi beberapa gamer dalam list, tapi setelah sedikit berdiskusi, rate mereka masih terlalu tinggi dengan alokasi dana yang kutetapkan.
“Bakminya itu dimakan lho, Kia.”
Suara Mami menyadarkanku. Semua pemikiran soal pekerjaan ini membuatku sibuk sendiri, lupa kalau ada orang di dekatku.
Hari ini, setelah merasa burn out dengan perkembangan yang nyaris nihil, Mami menelepon dan memintaku menemani ke Sport Station di Karawaci. Bulan depan ada marathon di Tangerang, dan Mami mau membeli sepatu lari yang baru, sekaligus untuk Papi—walaupun kenyataannya, belanjanya nggak hanya sepatu. Aku mengiakan saja, berpikir pergi ke Tangerang mungkin bisa membuat pikiranku sedikit teralih. Well, it didn’t turn out as what I’ve expected.
“Kerjaan, ya?” tanya Mami sambil tersenyum. “Jangan terlalu stres ah, nggak bagus.”
Aku hanya bisa menghela napas. Maunya juga nggak terlalu frustrasi. “Pusing, Mi. Aku masih nyari orang buat diajakin ke upcoming event kantor, tapi dananya nggak cocok.”
“Kok bisa nggak cocok?”
Aku pun mulai bercerita, tentu saja dengan memangkas bagian kalau yang mempersulit rencanaku adalah Pram, orang yang belum pernah kukenalkan sebagai pacarku. Aku juga sama sekali nggak berniat memperkenalkannya sekarang, apalagi status kami sudah bukan jadi siapa-siapa.
“Berarti kamu yang harus lebih memancing, Kia. Kelebihan dari nama kantor kamu pasti besar buat mereka, jadi manfaatkan sisi itu. Bayaran nggak selamanya melulu soal uang.”
Now than she said that, aku malu sendiri karena nggak kepikiran bertanya langsung pada Mami yang notabenenya dosen jurusan marketing dan bisnis. Kok rasanya aku seperti anak durhaka, ya?
Aku diam dan menyimak penjelasan panjang Mami, bagaimana aku harus pintar memasarkan event nggak hanya ke calon pengunjung, melainkan ke target yang mau kuundang sebagai partisipan dalam acara. Nggak hanya itu, Mami juga memberikan contoh-contoh yang bisa kugunakan. Rasanya aku ingin merekam semuanya supaya bisa kuulang lagi pas pulang.
“Thank you, Mi,” kataku. “Nanti aku coba.”
Mami tersenyum sambil manggut-manggut. “Ya sudah, habisin dulu itu makanannya. Sebentar lagi sudah mau jam delapan. Mending kita langsung pulang, biar nggak kemalaman juga baliknya.”
Kurang lebih 15 menit, aku menghabiskan makananku. Setelah jeda lima menit, kami pun turun ke lantai bawah. Aku mengantar Mami untuk menunggu di depan, dan aku sendiri yang ke parkiran di bawah. Lebih praktis ketimbang kami berdua ke parkiran membawa barang-barang sebanyak ini. Aku segera ke parkiran, menekan remote kunci mobil untuk membuka pintu. Tapi, mobilku justru masih terkunci. Aku menekannya sekali lagi, tapi masih sama.
Astaga, ini kenapa lagi?
Kugoyang-goyangkan kunci mobilku lebih dulu dan menekannya beberapa kali. Hasilnya ternyata masih sama. Apa baterainya habis? Harusnya bukan karena itu. Sewakt service bulanan kemarin, aku juga meminta baterai remote-nya diganti.
“Mbak ….”
Aku menoleh, mendapati seorang pria bertopi di belakangku yang tengah memandangku heran. Aku salah apa? Menghalangi jalannya? Please, parkiran luas begini. Aku nggak sebesar itu.
“Ada apa, ya?” tanyaku, ikut bingung.
Pria itu malah tampak canggung, menggaruk tengkuknya sebelum menunjuk mobilku.
“Kayaknya itu mobil saya.”
Aku mengernyit. Jelas saja mobil putih ini punya ….
God help. Ini sih bukan kayaknya lagi. Memang iya. Aku pasti terlihat super bodoh karena berdiri dan nyaris membanting kunci mobil sendiri. Semua usahaku jelas percuma. Mobil ini bukan punyaku. Platnya benar-benar berbeda.
Damn it, Syakilia. Kenapa nggak diperiksa dulu sih? Kebiasaan!
Pipiku seolah terbakar, dan aku menoleh ke dinding yang menuliskan area parkir. B1-I16. Sepertinya aku harusnya turun ke bawah lagi.
Buru-buru aku mundur dan menunduk. “Sorry, Mas. Saya kira mobil saya.”
“Sama-sama Jazz, ya?” Pria itu tertawa ringan. “Mbak parkir mobilnya di mana?”
“Kayaknya di bawah. Duh, maaf banget, Mas. Saya jadi ngehalangin.”
“Don’t mind it,” balasnya lagi, lantas membuka topinya, memperlihatkan rambut blonde yang lumayan lebat. Setelah dilihat-lihat, aku juga baru sadar telinga kirinya memiliki tiga anting kecil. Dan makin diperhatikan, wajahnya sedikit familier. “Saya duluan kalau gitu, Mbak. Semoga nggak salah mobil lagi.”
Bisa nggak aku menghilang sekarang juga? Malu banget!
“Saya juga permisi, Mas.” Sekali lagi aku menunduk sebelum menarik diri, berusaha tetap berjalan seperti biasa meski kaki sudah siap berubah jadi jet. Kualihkan perhatianku ke ponsel, dan ternyata ada pesan baru dari Rena.
Rena Atmadjaja
Sistah, ini kontak Rafael dari sepupu gue.
Kalau emailnya rafaelghanandi@gmail.com
Katanya lewat w******p jg dibales
Orangnya santai kok
Sebelum mengetik balasan, aku terpancing untuk membuka kontaknya. Lebih dulu kuintip display picture Rafael. Namun, setelah melihat gambarnya, aku merasa dunia baru saja menjatuhkan meteor ke atas kepalaku.
Nggak ada yang salah dengan fotonya. Yang salah justru aku. Semua yang terlihat benar-benar familier. Aku baru saja melihat pria berambut pirang, beranting, dan senyum miring yang sama dengan di foto hari ini.
Yang tadi itu … Rafael. There’s no doubt.
Hari ini, aku dipastikan jadi orang paling bodoh di dunia. Sekarang, bagaimana caranya aku memperbaiki image memalukan ini sebelum bicara lagi dengan pria itu? []