Here is my new hobby: bikin malu diri sendiri.
Mungkin menyebutnya “hobi” bukanlah kata yang tepat, mengingat aku sama sekali nggak menikmatinya. Bukankah hobi harus membuat kita senang? Sayangnya—atau untungnya—urat maluku masih bekerja cukup keras.
Yang jadi masalah sekarang, rasa malu sama sekali nggak akan membawaku ke mana pun. Sementara aku punya hal yang perlu dilakukan.
Kupandangi monitorku, membaca ulang email yang belum kukirim. Rena bilang aku bisa menghubungi kontak w******p Rafael, tapi kuputuskan untuk menciptakan kesan formal lebih dulu, dan berharap opsi ini bisa sedikit memperbaiki image burukku beberapa hari lalu.
Di satu sisi, aku merasa bisa saja aku yang terlalu overthinking. Kejadian salah mobil itu masih kuingat, tapi agaknya hal itu nggak terlalu memorable bagi orang lain. Pasti ada hal yang lebih penting untuk dipikirkan Rafael ketimbang perempuan yang kelihatan seperti orang bodoh dan berusaha masuk ke mobilnya.
Tapi kalau dia ingat … gimana?
“Ngopi dulu, Mbak.”
Aku menoleh dan mendapati Kemal di belakangku, tangannya terulur, menyodorkan Starbucks Coffee Cup. Masih ada beberapa lagi tangan kanannya, sepertinya mau dibagikan ke anak marketing yang lain. Sebelum menerimanya, kupandangi dia sebentar. “Ini buat gue? Ada acara apa nih?”
“Habisnya lo kelihatan stres sih.” Yang menjawab justru Lina, teman sedivisiku, dari arah pintu. Dia menyengir lebar dan melangkah masuk. Honeymoon ke Paris jelas mengisi stok dopaminnya.
“Bahagia banget pengantin baru,” ledekku.
“Ini dari Mbak Lina,” ujar Kemal kemudian. Aku menerimanya, mengucapkan terima kasih, dan dia lanjut membagikan ke kubikel-kubikel lain, baik yang ada orangnya maupun yang kosong. Sekarang masih pukul delapan kurang, jadi belum semua datang.
“Traktiran dalam rangka habis honeymoon nih? Harusnya bawa apa kek, menara gitu,” komentarku sementara Lina menempati kubikel di samping kiriku.
“Maksud lo Eiffel gue kantongin?” balasnya sambil geleng-geleng. Anehnya, Lina malah memepetkan kursinya ke dekatku. “Gue kawin udah bukan berita baru. Giliran gue yang minta update nih. So you better talk, girl.”
Omong-omong soal Lina, dia salah satu rekan di divisi marketing yang cukup dekat denganku. Nggak sedekat hubunganku dan Rena sih, tapi karena bawaannya supel dan asal ceplos—sebelas dua belas dengan sahabatku itu—kami jadi lumayan nyambung.
Aku nggak perlu bertanya apa maksud Lina, karena sorot matanya sudah menjelaskan semuanya. Pasti soal aku dan Pram.
“Pram mantan gue. No more info. Sekian.” Sengaja aku menjawab singkat. Toh, penjelasanku lengkap.
Lina mendengkus, terlihat nggak terima. “Detail, please.”
“Nggak ada detail-detail. Kalau lo dengar yang lain, nggak ada yang benar. Gue sama Pram kebetulan aja pernah pacaran, and that’s it.”
“Kebetulan? Ketemu sih bisa kebetulan, kalau pacaran kan ada niat dan usahanya.”
Kalau Pram punya niat, hubungan kami pasti nggak akan kandas begitu saja.
“Emang pacarannya kapan?” tanya Lina lagi, dan kali ini aku memutar bola mata.
“Beberapa bulan lalu. Bentar doang lagian, nggak ada apa-apanya,” balasku cuek. Kuseruput kopiku lebih dulu, kemudian melanjutkan, “Pengantin datang-datang kenapa malah jadi wartawan? Kerja, Bu. Kerja. Jangan ngegosip. Mending lo bantuin gue nih buat nyari sponsor. Pusing gue.”
“Mending gue nanya langsung biar lebih pasti,” bantah Lina. Meski begitu, dia akhirnya kembali ke kubikelnya dan menyalakan komputer. “Gue sempat baca-baca proposal yang dikirim di grup. Dananya sama kayak tahun lalu, ya?”
“Lebihnya dikit doang, Li. Tapi targetnya lebih gede. Gila nggak?”
“Ribut lagi dong lo sama mantan?”
“Stop it.”
Dia cekikikan. “Gue awalnya nggak percaya sih. But it’s not that surprising, honestly. Kalau dilihat-lihat, kalian lumayan cocok.”
Aku segera menatapnya horror. Apa-apaan? “Sering berantem gitu dibilang cocok?”
“Bukan di berantemnya, Kia Sayang. Karena dari yang lain, lo berani face to face sama Pram. Yang kayak gitu dibutuhin dalam hubungan, kan? Opposite attracts.”
Yeah, tell me about that.
“Lo terlalu positif soal dia. Nyatanya putus juga gue.”
“Hm, iya sih.”
“See?”
Lina mengernyit. “Kok lo kayak yang bahagia banget putus?”
Gimana nggak bahagia? Artinya aku terlepas dari semua kemungkinan makan hati dan buang-buang waktu untuk orang yang nggak jelas. That I should be grateful of.
Kembali kupusatkan perhatianku ke arah monitor, membaca ulang isi emailku, dan menekan tombol send sambil berdoa dalam hati. Waktu itu Rafael, kan, nggak kenal aku. Vice versa. Aku orang asing. Nggak mungkin bakal dia ingat.
Ternyata kurang dari lima menit, balasan sudah muncul. Aku membuka email masuk, membaca emailnya.
Re: Pengajuan Kerja Sama GAME-T Festival
rafaelghanandi@gmail.com
Selamat pagi, Mbak Syakilia. Glad to know Tanwira is interested to work with me. I do also interested and want to know more about the event. For further contact, enak lewat w******p sih, Mbak. Here is my number.
Email-nya ternyata ramah. Bahasanya santai banget malahan. Aku jadi lega setelah membacanya. Mungkin aku saja yang overthinking.
It maybe wasn’t that bad.
*
Unexpectedly, komunikasi dengan Rafael jauh lebih mudah dan lancar ketimbang yang kuduga. Sekitar pukul sepuluh, aku meneleponnya untuk menjelaskan dan bertanya lebih lanjut, dan kami sepakat untuk bertemu di jam makan siang nanti. Karena dia sedang ada acara di Senopati, dia menyarankan untuk bertemu di kantorku saja, berhubung Senopati dan Sudirman “bisa naik sepeda doang”—kutipan langsung dari Rafael, by the way.
“Jadi Rafael nih?” tanya Rena ketik kami bertemu di pantry, sebelum menuju ke lantai bawah. Hitung-hitung persiapan mental.
“Moga aja sih, ya. Belum deal, tapi kayaknya sih dia tertarik,” balasku. “Anaknya lumayan santai ternyata.”
“Kan, kata gue juga. Moga aja oke. Kalian cuman berdua doang ini?”
“Ngapain juga bawa pasukan? Kayak mau ketemu siapa aja.”
“Gue kepo deh pengin ketemu langsung. Kalau dari foto, kan, cakep tuh orangnya.”
Aku menahan diri untuk nggak cerita soal pertemuan pertamaku dengan Rafael. Ya, perlu kuakui, cowok itu memang tampan. Masalahnya cara bertemunya yang agak … well, you know, kurang konvensional dan minus akhlak.
“Kali aja bisa dijadiin next gandengan buat move on dari mantan, Ki,” celetuk Rena lagi. Aku geleng-geleng karena ide gilanya itu, sementara orangnya tertawa tanpa dosa. Aku sengaja nggak menanggapi terlalu serius. Jangankan membayangkan dia jadi pacarku, untuk ketemu sekarang saja rasanya aku ingin ganti muka dulu.
Untungnya, topik obrolan berubah menjadi diskusi beberapa influencer lain yang Rena cari tahu dari sepupunya, sekaligus beberapa perusahaan yang bisa dijadikan sponsor. Begitu melihat jam sudah tepat tengah hari, aku pun pamit lebih dulu menuju ke bawah. Ketika aku berdiri di lift, ada kehadiran orang lain kurasakan.
“Mau makan siang?” tanyanya.
Aku bisa saja menjawab ramah, tapi melihat siapa yang bertanya, kupangkas jawabanku menjadi, “Ya.”
Sudah tahulah, ya, orangnya siapa?
“Di luar?”
Mau di luar kek, di dalam kek, di ujung dia mana, suka-suka gue! Masalah buat lo?
Ah, sial. Merusak mood saja sih dia. Nggak bisa apa dia naik lift lain? Atau pakai tangga darurat juga bisa. Kapan-kapan mungkin aku perlu menempel tanda “Not Allowed for Pramudya Karunasankara” di lift ini.
“Ya. Sekalian ketemu orang.”
“Oh, gamer itu?”
Dia tahu dari mana deh?
“Anak marketing sempat ngomong tadi,” tambahnya, membuatku mengerjap, merasa isi kepalaku baru saja Pram baca.
Aku hanya ber-oh panjang. Begitu lift berdenting, aku memilih masuk lebih dulu, dan berharap dia nggak memancing percakapan lebih jauh. Membuka mulut membutuhkan tenaga, dan aku nggak berniat membuangnya untuk pria satu ini.
Awalnya aku berharap ada orang lain masuk. Namun, selama lift turun, hanya ada kami berdua di dalam.
“Kia.” Tiba-tiba saja dia memanggil namaku. Aku meliriknya seraya mengangkat alis. “Kamu mending pakai jaket atau apa gitu deh.”
“Hah?”
Dia justru menggerakkan telunjuk, seperti mau menyentuh lengan kiriku. Hari ini aku memang mengenakan mauve sleeveless blouse. Spontan aku mundur, menatapnya seram. “What the heck, Pram? Di sini ada CCTV! Kamu mau ngapain?”
“Lengan kamu merah-merah. Alergi dinginmu kambuh kayaknya.”
Aku menunduk untuk memeriksa lenganku. Benar saja, ternyata ada sedikit bintik-bintik merah. Aku sama sekali nggak sadar. Tapi, tetap saja. tindakannya tadi nggak bisa dibenarkan.
“Harusnya bilang biasa aja. Kayak gitu bikin salah paham,” hardikku. “Ingat pacar.”
Anehnya, dia balik bertanya, “Pacar?”
Aku memutar bola mata malas. “Nggak usah play pretend. Aku lihat kamu gandengan sama cewek.” Melihatnya memasang ekspresi bingung membuatku kesal, jadi aku melanjutkan, “Di Starbucks PI, beberapa hari lalu. Kalian jalan, kan?”
“Why you seems irritated?”
“Irritated? Me?” Aku tertawa sinis. “Jangan salah sangka. Aku nggak peduli kamu punya pacar atau nggak. Aku cuman ngingatin. Aku nggak berniat bikin salah paham, munculin gosip lain, dan akhirnya pacarmu—”
“Just so you know, she is my cousin,” potong Pram tiba-tiba. Aku bukan hanya nggak menyelesaikan kalimatku, tapi kehilangan kata-kata. Dia bilang apa tadi? Telingaku kurang berfungsikah?
“Di PI, kan, kata kamu? Cewek rambut panjang? Itu sepupuku. Dia minta ditemanin nonton karena sendiri. Saya malah kaget karena kamu ngelihat itu, dan ngiranya dia pacar saya. So it’s concerned you that much?” Alis Pram terangkat, dan begitu menyadari bibirnya membuat senyum kecil, mentalku seperti dibakar di tempat.
Aku sama sekali nggak bisa membalas. Pkiranku buntu. Apa yang baru saja terjadi sama sekali nggak membuatku lega. Sekarang mau taruh di mana mukaku?
Lift berdenting terbuka ke lantai 3. Terlalu cepat untuk keluar sekarang, tapi turun tiga lantai dari sini lebih baik daripada membuat diri lebih malu lagi.
“Turun di sini?” tanya Pram.
“Kebelet,” balasku cepat. Sebelum ada yang masuk ke lift, buru-buru aku keluar.
Tampaknya aku punya tugas baru sekarang: jangan ketemu Pram sampai aku sukses punya gandengan. []