Pelarian paling enak untuk perempuan adalah kamar mandi.
Begitu memeriksa belum ada kabar dari Rafael—yang kuartikan kalau dia belum sampai—aku mampir lebih dulu ke toilet di lobby. Bukan untuk buang air, melainkan rasa malu. Maunya sih bisa di-flush sekalian.
Aku salah paham. Seakan kurang buruk, mengingat bagaimana cuek dan ngototnya aku sewaktu bicara dengan Pram sukses membuatku makin pusing.
Sumpah, bodoh banget lo, Kia! t***l! b**o! Stupidest at its finest!
Sayangnya, ternyata aku nggak bisa lama-lama mengutuki diri, karena w******p dari Rafael masuk, menginfokan dia tengah parkir. Segera kutampar pipiku. Pelan sih, tapi semoga cukup untuk mengumpulkan kewarasanku kembali. Kulatih senyumku di cermin cepat, kemudian keluar ke kafe lobby dan menempati meja di dekat pintu, supaya mudah terlihat. Tak lupa kuberitahukan hal tersebut pada Rafael.
Sambil menunggu, aku mencoba membaca CV dan beberapa informasi tambahan mengenai Rafael dari ponselku. Sebenarnya, sampai sekarang aku masih penasaran apa yang membuat orang-orang sebegitu tertariknya menonton konten gaming. I mean, it’s a whole different video than tutorial and stuff, right? Bukan sesuatu yang bisa dipraktikkan atau punya urutan step by step.
Aku sempat mencoba menonton beberapa video dari berbagai gamer, dengan platform yang beragam juga. Sayangnya, dalam beberapa menit setelahnya, aku sudah lebih dulu bosan dan nggak paham apa yang dibicarakan atau ditertawakan. It’s probably out of my league.
“Sorry. Mbak Syakilia bukan, ya?”
Suara itu membuatku menoleh ke arah kiri, mendapati blonde guy berdiri dan sedikit menunduk, memamerkan senyum ramahnya. Rafael.
Aku langsung mengunci layar ponselku, berdiri dan mengulurkan tangan untuk bersalaman. Dia menyambutnya ramah. “Saya Syakilia. Rafael, kan?”
“Yes. Udah nunggu lama? Tadi sempat mutar dulu, bingung nyari parkiran.”
“Lagi penuh, ya?” Aku merespons sambil tertawa. Ingat, Kia. Bikin kesan bagus. Jangan makin malu-maluin. Sudah cukup. “By the way, pesan dulu aja gimana, sebelum kita ngobrol-ngobrol lebih lanjut?”
“Oh, boleh. Udah mesan, Mbak?”
“Belum sih.”
Rafael mengangkat tangan untuk memanggil waiter. Dengan santai dia membuka menu, melihat sekilas dan langsung menyebut pesanannya. Karena sudah sering ke sini, aku menyebut pesananku seperti biasa—frappe, potato wedged, dan jalapeno poppers. Waiter-nya bahkan tersenyum padaku dan bertanya, “Sausnya kayak biasa, Mbak?”
Aku menjawab dengan anggukan, sebelum waiter tersebut membawa pesanan kami. Tatapan Rafael kini terarah padaku. “Emang sering ke sini?”
“Lumayanlah. Biasanya kalau mau makan siang ada kantin sih di lantai atas. Cuman maksi gini suka penuh dan antre,” balasku. “Kapan-kapan nanti bisalah makan di atas.”
Itu kode. Siapa tahu kantin bisa jadi pancingan. Walaupun, yah, festival nanti nggak akan diadakan di sini sih. But, we gonna use everything we have to make this man work with us.
“Wah, boleh tuh,” dia menyahut ringan. Aku sempat berpikir jawabannya mungkin bakal jutek. Bukannya menuduh sih, tapi kenyataannya, orang bisa memiliki kepribadian yang berbeda ketika berkomunikasi lewat teks dan berhadapan secara langsung. It’s nice to know he is a nice guy though. “Anyway, gue bicaranya santai aja boleh nggak, Mbak? Kalau pakai Saya-Anda kayak kaku banget.”
“Fine by me.”
“Okay then. Gue pengin nanya-nanya tentang event Tanwira ini boleh, kan, Mbak? Jujur nih, gue belum lama juga terjun ke dunia gaming. Jadi belum banyak tahu.”
Tentu saja pertanyaan tersebut kuiyakan. Mengenalkan Tanwira merupakan salah satu hal yang kutunggu. Berdasarkan saran Mami, nama perusahaan harus dimanfaatkan. Aku sudah mempersiapkan ini. Meski nama Tanwira pada dasarnya sudah cukup besar, membuat orang tertarik menjadi tugasku.
“You might already knew Tanwira itself.” Aku memulai. “Karena perusahaan ini memang bergeraknya di game development, jadi untuk branding pun kami banyak bikin event soal itu. GAME-T ini sendiri annual event-nya Tanwira. Kebetulan, untuk penyelenggeraan kali ini bakal dibarengin sama launching game baru.”
Matanya mengerjap beberapa kali. “Game baru?”
Seems like I push the right button there.
“Yes,” jawabku sambil mengangguk. “RPG baru. Gue nggak terlalu tahu banyak soal game sih, not as much as you, of course. Tapi, waktu main buat ngecek, risetnya lumayan. RPG-nya based on historical characters. Developer-nya juga bilang kalau bakal ada rute-rute gitu. Gue nggak paham sih, ya, tapi barangkali lo paham, jadi gue kasih tahu aja.”
“Masih dalam pengembangan nih, Mbak? Belum ada yang nyobain?”
“Sejauh ini belum ada sih. Karena memang belum di-spill apa-apa. Rencananya dalam satu bulanan ini, mau mulai promosi. Maunya sih sebelum itu, ada gamer yang udah nyoba duluan. Jadi beta tester gitulah,” lanjutku lagi, kemudian tersenyum dan menatapnya. “Mumpung masih dalam pengembangan, jadi saran-saran dari beta tester bakal dipertimbangin, dan sebisa mungkin direalisasikan.”
Aku nggak tahu persisnya kenapa, tapi pria pirang ini sepertinya benar-benar menyimak penjelasanku. Antusiasmenya terbaca begitu mudahnya.
Oke. Cara ini sepertinya akan berhasil.
“Jadi, rencananya Tanwira mau hire influencer atau gamer untuk promosi acaranya, sekalian jadi beta tester buat game barunya. Gitu nggak?”
“Betul.”
Dia manggut-manggut dan bergumam pelan. Percakapan kami disela sebentar oleh waiter yang akhirnya membawakan pesanan kami.
“But, as you know,” ujarku pelan. Pandangan Rafael yang sebelumnya tertuju pada crispy garlic bread-nya kini beralih padaku. Aku pun melanjutkan, “Ada pertimbangan dalam memilih gamer-nya. Karena menyesuaikan sama dana juga.”
“Ah, beberapa penyelanggara event yang ngehubungin gue juga suka bilang kalau tarif gamer lain mahal,” celetuknya santai. “Yah, bohong sih kalau gue bilang nggak peduli sama pembayaran. Gamer is also a job, isn’t it? Orang sering mikir kami cuman have fun aja, padahal sama kayak pekerjaan lain, ada tenaga sama waktu yang kami perluin.”
Oke, sekarang topik pembicaraannya sedikit serius. Aku diam-diam menelan ludah, tapi masih belum berkomentar.
“Tapi, Mbak, kalau soal pembayaran, gue juga cukup tahu diri kok,” lanjutnya lagi. Sebelah sudut bibirnya tertarik sedikit lebih tinggi. Alih-alih menciptakan kesan congkak, dia justru tampak … atraktif.
Sepertinya saking hopeless-nya, cara menilaiku mulai nggak jelas.
“Gue tahu Tanwira itu perusahaan gede. So, working with you will also give me another benefit. I’m completely aware of that,” katanya lagi. “Sebenarnya sih, sejak Mbak Syakilia ngehubungin gue, yang pertama gue pikiran ya jelas nerima tawarannya. Cuman, gue perlu meyakinkan diri kalau keputusan gue tepat, dan orang yang ngajak gue kerja sama juga benar dan jelas.”
Harusnya aku senang dengan jawaban itu. Rafael bilang dia sudah siap menerima. Namun ketika mataku menemukan matanya, sesuatu membuatku ragu. Aku baru sadar ada sesuatu yang tersirat dalam kalimat akhirnya.
Jangan-jangan dia ….
“Kia, ternyata di sini toh lo—eh, sorry.”
Aku segera menoleh ke belakang, mendapati Rena yang menutup mulut dan tersenyum canggung. “Lagi bareng orang ternyata. Sorry.”
“Kenapa, Ren?” tanyaku.
“Gakpapa. Nanti gue chat aja,” katanya lagi, kemudian menunduk. “Sorry banget ganggu.”
“Teman Mbak Syakilia?” tanya Rafael, memandangi Rena yang berjalan keluar.
“Teman sekantor. Dia anak acara,” balasku. “Nanti kalian pasti ketemu. Maaf tadi dia gitu.”
“It’s okay. Gue sebenarnya nggak keberatan sih kalau temannya mau diajak ke sini. Sekalian kenalan.” Rafael terkekeh sendiri. “Tadi Kia itu … Mbak Syakilia?”
“Iya. Nama panggilan.”
Dia ber-oh panjang, dan sesaat, percakapan kami terhenti. Aku menyempatkan diri untuk menyeruput frappe-ku, menarik kentangku mendekat dan mulai memotongnya.
“Last question,” katanya tiba-tiba, membuatku mendongak. “Tapi ini nggak work related sih. Gue cuman mau crosscheck, kali aja salah.”
Aku mengangguk sambil menyuap potongan kentang ke mulutku. “Go ahead. Mau nanya apa emang?”
“We have met before, right? Parkiran Supermal Karawaci, yang salah mobil itu.”
Oh. My. Gosh.
Aku nyaris tersedak karena pernyataannya. Kutatap Rafael tanpa berkedip, mulut masih menempel pada sedotan meskipun sudah nggak menyesap apa-apa. Rasanya pengin jadi dinding saja deh.
“Benar, kan?” tanya Rafael lagi. “Gue pengin nanya dari tadi, tapi bakal awkward banget kalau salah orang.”
Mau menyanggah pun agaknya percuma. Pada akhirnya aku mengangguk pasrah. “First impression gue nggak bagus banget kayaknya, ya?” balasku sambil meringis kecil, niatnya bercanda, tapi entah bagaimana suaraku terdengar. “Malu-maluin banget sih itu. But hopefully kejadian kemarin nggak bikin lo ngerasa gue freak atau apa, ya. Soal kerjaan, gue berusaha keras untuk bikin lo tetap nyaman kerja bareng kita dan nggak ngelakuin hal aneh-aneh.”
Kendati semua kecemasanku, yang kuterima setelahnya justru senyum jenaka dari Rafael. Bukan senyum merendahkan atau menertawakan. Just a genuine smile. “Santai aja sama gue, Mbak. Gue yakin lo orang baik-baik kok,” tuturnya. “Eh, gue panggil Kia juga boleh, nggak? If you don’t mind. Kayaknya lebih gampang daripada Syakilia.”
“Sure. Suit yourself, I don’t mind.”
Dengan jawaban singkat itu saja, aku sudah disuguhi cengiran lebar, dengan gigi seri mirip kelincinya itu tampak manis. And I should admit, aku pasti betah melihat senyumnya selama kami kerja bersama. Nggak keberatan sama sekali. Kurasa bekerja sama dengan laki-laki ini akan menjadi hal baik. Firasatku bilang begitu.
One down. Few more works to go. []