One thing for sure: I like Rafael so so so much.
Aku benar-benar bersyukur karena urusan biaya sudah dimudahkan, tapi ternyata dia lebih luwes sekaligus kooperatif daripada dugaanku. Nggak ada permintaan aneh-aneh darinya. Kelihatannya sudah bawaan pria satu itu gampang akrab dengan orang-orang baru. Kenyataannya, bukan hanya aku yang merasakan hal tersebut, melainkan Rena juga.
Dikarenakan event kurang lebih dua bulan lagi, promosi harus mulai digencarkan berikut pematangan konsepnya, aku jadi banyak menghubungi Rafael. Tadinya aku mau mengalihkan tugas untuk berkomunikasi dengannya ke orang lain, berhubung masih banyak urusan lain menungguku. Namun, begitu dia bertanya apakah aku yang akan menjadi perantara baginya dan Tanwira, akhirnya aku mengiakan. Rena pun jadi ikut memintaku menyampaikan ini-itu kepada Rafael.
“Udah telanjur sama lo juga dianya.” Begitu kata Rena. “Lagian, lumayan. Makin banyak ngobrolnya, kali aja click, kan?”
Memang deh. Urusan mencari kesempatan dalam kesempitan, temanku ini jagonya. Not that I will do that, though. Pekerjaan dan urusan pribadi mudah untuk disatukan, tapi susah kalau sudah terjerumus. I’ve learned it in a hard way.
Oke, cukup. Hari ini aku perlu membersihkan pikiran dari hal-hal menyangkut pekerjaan maupun yang bikin sakit kepala. Aku mau lari maraton, bukan lari dari kenyataan.
“Sudah kayak generasi zaman now nggak nih, Ki?”
Aku mendongak dari ponsel, mengubah posisi bersandar di pintu mobil menjadi tegak, dan memandangi Papi yang tengah berjalan mendekat. Jogger sport suits warna yellow navy-nya berhasil mencuri perhatianku, ditambah running shoes berwarna putih—yang ini aku nggak kaget sih, karena waktu itu aku menemani Mami membelinya. Biasanya kalau olahraga papi pakai kemeja Polo dan celana cargo pendek. Yah, style bapak-bapak pada umumnya.
“Papi jadi kurusan, ya?” balasku setengah bercanda, langsung dihadiahi tawa Papi.
“Kurus kalau dilihat dari sedotan. Ya nggak, Pi?” Mami ikut menimbrung dari belakang. Ternyata Mami juga nggak kalah stylish—kaus warna kuning, navy strip pants, lengkap dengan cap warna putih. Aku nggak perlu bertanya untuk tahu mereka sengaja berpakaian ala couple begini.
Ada sepercik rasa iri yang kurasakan tiap melihat kedua orang tuaku. Sejak dulu, aku selalu ingin memiliki hubungan seperti ini. Memang nggak selalu romantis dan tenang, tapi bisa melakukan berbagai hal bersama-sama, dan bisa mengekspresikan hubungan seperti ini … Goals!
Yeah, I’m my parent’s number one fan. That’s for sure.
“Kamu nggak mau ikut bareng Mami Papi aja, Ki?” Mami kembali bersuara. “Mobilnya tinggal di sini aja.”
Meski agak tergoda, aku menggeleng. “Kia pakai mobil sendiri aja kayaknya, Mi. barang-barang juga ada di dalam, kan? Siapa tahu butuh apa gitu nanti.”
“Tapi nanti tetap balik ke sini dulu, kan, kamu?” Giliran Papi yang bertanya—lebih tepatnya, menagih janji. Sejak kemarin aku menginap di rumah orang tuaku, dan kelihatannya aku nggak akan diizinkan langsung pergi. Kalau nggak bilang harus ke kantor pagi-pagi sekali, bisa jadi Papi akan menahanku luntuk tinggal lebih lama.
“Iya, Pi. Kia ke sini dulu kok,” jawabku sambil tertawa kecil. Kualihkan perhatian ke arloji sebentar. “Bentar lagi jam tujuh nih. Mending Papi sama Mami berangkat. Kia ngikut di belakang.”
Kami pun berpisah ke kendaraan masing-masing. Aku memutar lagu lebih dulu sebelum tancap gas dan mengikuti mobil Papi. Tiba di lampu merah sebelum berbelok dari MH Thamrin, layar ponselku menyala, memampangkan notifikasi baru dari Rafael.
Harusnya aku bilang ini sebelumnya, ya? Salah satu alasan kenapa aku menyukai Rafael adalah keramahannya. Kami diwajibkan berkomunikasi dalam pekerjaan, tapi di luar itu pun, dia ternyata sama ramahnya. Not to mention his humor quite match with me as well. Tadi malam saja, kami malah membahas beberapa stand up comedian luar seperti Trevor Noah, Dave Chapelle, sampai Hasan Minhaj. Pembahasannya sudah selesai sebelum tidur sih, jadi mungkin topiknya berganti kali ini.
Rafael G.
? Is this you?
Just in case masih make, gue swipe kanan ya haha
Aku memelotot melihat screenshot kirimannya. Timbul dua pertanyaan dalam kepalaku. Pertama apa dunia sempit banget sampai kami ketemu? Dan kedua, Rafael betulan pakai Tinder nih?
Pertanyaan kedua agaknya kurang tepat. Seperti kata Rena, orang di belahan Jakarta mana sih yang nggak pernah pakai Tinder? Mind you, I’ve used it already. Hanya saja, aku berpikir tipe cowok semacam Rafael nggak membutuhkan aplikasi begitu. Jangankan swipe kiri-kanan, aku yakin kebanyakan perempuan akan meliriknya meskipun sekadar berpapasan. Terutama, penampilannya lumayan menarik perhatian.
Atau, yah … he just simply wants to hook up. This app can also be used in that way.
Kuputuskan untuk membalas lebih dulu sebelum kembali menyetir.
Syakilia L.
Pake Tinder, ketemunya 4L ya?
Lo Lagi, Lo Lagi
Rafael G.
Can’t expect much sih, namanya juga Jakarta
Tapi kalau ketemunya lo sih gue nggak protes
Sengaja kubalas chat-nya menggunakan sticker meme, supaya suasana nggak terlalu serius juga. Kalimatnya agak flirty, aku tahu, tapi aku juga nggak bisa langsung berasumsi. Bisa jadi bawannya sudah begitu. Masalah baper-baperan itu selalu dua arah, kan? Yang satu memberi umpan, sementara satunya lagi memakannnya mentah-mentah. Terlalu cepat baper hanya membawa musibah.
Again, I learned it in a hard way.
Kembali kukunci layar ponselku, berfokus kembali ke jalan. Kurang dari setengah jam, aku dan orang tuaku sudah sampai di kawasan Mall Alam Sutera. Kami harus mencari kawasan parkir sedikit lebih jauh, berhubung jalanannya dikosongkan untuk maraton kali ini. Usai menyelesaikan pendaftaran dan mendapat nomor urut, kami berdiri di pinggir jalan dekat pohon, supaya nggak terkena matahari dulu. Itu biar nanti saja.
“Orangnya lumayan banyak kayaknya, ya,” ujar Mami. “Kita datangnya nggak terlalu lama, tapi nomor urutnya sudah segini.”
“Orang-orangnya mau sehat, Mi,” balasku asal. Aku beberapa kali mengikuti maraton di Jakarta, atau ketika liburan ke luar kota dan ada maraton yang bisa diikuti, hitung-hitung sekalian berkeliling. Bisa kubilang, peserta kali ini lumayan banyak, mungkin beda sedikit dari maraton yang sering diadakan di pusat Jakarta.
“Kia?”
Aku berbalik, seketika mengernyit begitu menemukan siapa yang baru saja memanggil namaku. Seorang cowok berkaus merah, dengan celana di atas lutut, sepatu putih, dan rambut pirangnya ditutupi topi berwarna putih,. “Lho, di sini juga?”
Senyum miring Rafael terukir, lantas berjalan mendekat ke arahku. “Ikutan maraton di sini ternyata.”
“Bareng bokap nyokap sih,” kataku santai, kemudian menyerong sedikit untuk memperlihatkan Papi dan Mami di dekatku.
“Halo, Om. Tante,” sapanya sambil menyalami Papi dan Mami.
“Teman kantor Kia, ya?” tanya Mami, berbeda dengan Papi yang diam saja walaupun tetap bersalaman dengan Rafael. Beliau melirikku sekilas.
“Ada project sama kantornya Kia, Tante,” jawab Rafael. Mami manggut-manggut saja.
Nggak lama, terdengar suara pengumuman untuk berkumpul, karena maraton akan segera dimulai. Mami langsung menarik tangan Papi. “Ya sudah kalau Kia sudah ada temannya. Mami sama Papi duluan kalau gitu. Nanti kalau ada apa-apa telepon, ya, Ki.”
Aku bingung sendiri, tapi belum sempat merespons, Mami sudah pergi bersama Papi, meninggalkan aku dan Rafael. Pertemuan kami benar-benar nggak disengaja, dan kalau Rafael pergi, masa iya aku harus lari sendiri?
Kupandangi kedua orang tuaku membaur dengan kerumunan di depan, sekaligus menunggu Rafael pamit. Namun, dia ternyata tetap diam di sampingku. Alih-alih mengundurkan diri, dia justru ikut melihat orang tuaku. Karenanya kuputuskan untuk bertanya duluan, “Nggak bareng sama yang lain maratonnya, Raf?”
Dia menggeleng. “Nope. Ke sininya emang sendiri.”
“Really?”
“Yap.”
Aku sedikit memberengut. “Enak kayaknya, ya, jadi cowok. Santai aja mau kemana-mana sendiri.”
“Ya elah, Ki. Ini kan olahraga doang. Nyari sehat, bukan nyari bahan gosip,” celetuknya lagi. Dia sempat mendekat, bahkan tubuhnya mencondong ke arahku. Saking dekatnya aku refleks mundur, tapi di detik berikutnya tangannya terangkat ke atas kepalaku, mengambil daun kecil dan menjatuhkannya. Dia sih santai saja.
“Kalau ada teman sih nggak nolak.” Dia melanjutkan sekaligus mengambil langkah mundur ke tempat sebelumnya, senyum jenakanya tergambar jelas. “By the way, ini maratonnnya lo santai aja apa mau ambis?”
“Tiap ikut maraton selalu jadi tim hore, so.” Aku meringis kecil, lantas berjalan mendekati garis start. “Lo gimana? Betulan mau lomba?”
Rafael menggaruk tengkuk sebentar, mengimbangi langkahku di samping kanan. “Biasanya sih lari beneran. Sekarang kayaknya mau santai dulu deh.”
“Yakin nggak mau hadiahnya?” godaku, langsung disambut tawanya.
“Nggak deh. Hadiahnya nggak bisa diajak ngobrol soalnya.”
Terlepas dari candaannya bisa diartikan flirting dari tadi, aku nggak bisa menahan senyum. Kami sama-sama melakukan gerakan pemanasan sebentar, sebelum mulai berlari dalam tempo sedang. Aku yakin pria di sampingku ini bisa berlari lebih cepat, tapi aku juga nggak protes dia melakukan ini.
Selama beberapa ratus meter, nggak banyak obrolan terjadi di antara kami. Kugunakan waktu untuk memandangi sekitar, hingga suaranya terdengar, mengajakku mengobrol. “Lo tinggal di Tangerang, ngantornya baru ke Jakarta?”
“Nggak sih. Orang tua tinggal di sini,” kataku, mulai memelankan lari. Perasaan baru sebentar, tapi aku mulai kelelahan. Sebegitu lamanya nggak olahraga kali, ya, sampai begini banget? “Kebetulan weekend ini nginap aja. Lo?”
“Dulu ngantor di sini. Setelah cabut, baru gue pindah ke daerah Setiabudi.”
“Oh, dulu lo ngantor?”
“Yes. Gue sempat kerja jadi urban planner.”
Langkahku seketika berhenti. “Urban planner?”
“Beda jobdesk sih sama arsitek, tapi kurang lebih satu kaumlah gue sama mereka.”
That’s kinda unexpected. Pemikiranku ini mungkin agak dangkal, tapi aku nggak mengira pekerjaan Rafael masuk ke ranah itu.
“Nggak cocok, ya?” celetuknya lagi. Aku hanya bisa tertawa kikuk, jadi nggak enak hati. “Gue juga ngerasa gitu kok, makanya keluar.”
“Dan milih jadi gamer?”
“Buat beberapa orang, gue tahu keputusan begitu gila. Gue bahkan sampai perang dingin dulu sama bokap.” Rafael mengatakan semua itu santai sekali, tapi tentu saja, aku melongo. Entah ceritanya atau karena apa, dadaku perlahan-lahan terasa berat, seakan ada sesuatu mengisi dari dalam, mengambil ruang di sana.
“Yah, menurut gue hidup itu emang enaknya dijalani sesuai kata hati sih.” Dia melanjutkan. “It’s our life anyway. Bukan berarti kita hidup suka-suka sih, tapi pasti lebih seru kalau kita bisa nikmatin apa yang kita lakuin, kan? We have our own definition of success, and nobody should define theirs to you.”
Aku terdiam. Kalimatnya membuatku terpana. Satu hal yang pasti, aku terlalu cepat menilai Rafael, dan hasilnya terlalu dangkal. He’s more than what he looks like.
“Gue udah cocok jadi motivator belum?”
Tawanya menggema ke telingaku, tapi anehnya suaranya berubah samar. Awalnya kukira Rafael sudah lanjut berlari sehingga suaranya terdengar menjauh. Ternyata masalahnya berada di aku. Kepalaku berdenyut terus-menerus, dadaku makin sesak, penglihatanku pun kabur. Aku menunduk sedikit, memegang lututku untuk menyanggah tubuh.
Di sini padahal pohon banyak sekali. Kenapa udaranya nggak terasa?
“Kia?”
Suara Rafael terdengar. Aku ingin menjawab, tapi rasa sakitnya membuat suaraku tersendat di tenggorokan.
Aku perlu udara.
Aku perlu bernapas.
Aku perlu ….
“Kia?”
Namaku disebut lagi. Aku nggak yakin apakah pendengaranku yang salah, atau suara Rafael terdengar berbeda. Kubiarkan tubuhku dipapah, bersandar ke pohon terdengar, dan punggungnya dibantu untuk tegap.
“Asma kamu kambuh? Bawa inhaler?”
Astaga! Bisa-bisanya aku lupa bahwa aku punya asma. Aku ingin bertanya dari mana Rafael tahu, But it turns out, pria di dekatku sama sekali bukan Rafael. Aku refleks memelotot, siap mendorong Pram andai saja aku nggak menangkap raut wajahnya. Dia membantu melepas topiku, memijat pundak, lengan, dan pergelangan tanganku.
“Ki, inhaler kamu ada?” tanya Pram lagi. Aku masih belum bisa sepenuhnya mencerna fakta saat ini, tapi aku berhasil menggeleng sebagai jawaban.
“Kayaknya di mobil.”
“Kamu parkir di mana?”
“Luar.”
Pram menghela napas. “Kalau gitu biar aku panggil—”
“Nggak usah,” potongku cepat. “Ini … udah mendingan.”
Dia diam sejenak, memandangiku dengan alis bertaut. “Jangan ditunda-tunda. Mending kita cari panitia medis dulu, baru setelahnya kamu pulang.”
“Pulang?”
Kendati menanggapi keterkejutanku, Pram malah santai menjawab, “Iya. Saya antar.”
“Antar?!” Apalagi yang satu ini. jangan salahkan aku kalau kaget.
“Saya masih ingat apartemen kamu kok.” Pram langsung memapahku menjauh dari kerumunan, termasuk Rafael yang sedari tadi berdiri nggak jauh dari pohon tempatku berdiri. Aku bahkan belum sempat pamit, karena bodohnya, kepalaku terlalu sibuk memikirkan tindakan pria di dekatku ini dan ekspresi paniknya yang sempat kulihat sebelumnya.
Kenapa kesannya dia peduli sih? Kan aku jadi kepikiran! []