Kondisinya masih tetap sama seperti beberapa hari yang lalu. Stabil. Entah dalam artian yang baik atau buruk. Wajahnya yang polos tanpa polesan make up masih tetap terlihat pucat namun juga tenang. Seolah dia sedang terlelap dalam tidur yang damai tanpa perlu memikirkan apapun lagi. Tanpa perlu merasakan apapun lagi. Ekspresi wajah yang baru kali ini dilihatnya selama mereka berhubungan.
Seandainya tak ada peralatan medis yang terpasang di tubuh wanita itu untuk menunjang kehidupannya, ia mungkin akan benar-benar percaya kalau wanita itu hanya sedang tidur dan bukannya koma. Walau yang terlihat damai hanya wajahnya sementara tubuhnya terlihat menyedihkan. Rambut panjang yang sering ditata wanita itu sesuka hatinya kini hilang dan digantikan perban tebal yang membalut seluruh bagian kepalanya kecuali wajah. Di mulutnya terpasang selang yang masuk hingga ke rongga leher, terlihat menyakitkan namun berfungsi untuk membantunya bernapas. Sementara kaki kanannya dipasangi gips yang membalut dari paha hingga telapak kakinya dan digantung dengan bantalan busa sebagai penyangganya. Ia bahkan sempat mendengar salah satu dokter yang menangani wanita itu menyebutkan tentang patah tulang rusuk bagian bawah.
Menghela napas pelan, ia menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi yang ia duduki. Rasa lelahnya yang menumpuk mulai membuatnya tak berdaya, diiringi dengan rasa bersalah yang menghantamnya dengan keras. Seharusnya tidak seperti ini keadaannya. Seharunya sekarang ia berada di Landon, mengejar pemilik hatinya yang akhirnya berhasil ia temukan setelah sekian lama dirinya berputar di jalan buntu. Seharusnya sekarang ia menemui pujaan hatinya dan menuntut jawaban atas segala pertanyaannya yang tak sempat terungkap selama ini.
Namun, ia kini justru berada di dalam kamar perawatan VIP di salah satu rumah sakit bertaraf internasional yang ada di kota tempat tinggalnya, dengan seorang wanita yang masih tak sadarkan diri akibat kondisi tubuhnya yang benar-benar buruk. Walaupun tim dokter yang menangani wanita itu telah mengatakan langsung padanya dan pada keluarga yang hadir bahwa kondisi wanita itu telah melewati masa krisis dan akhirnya stabil namun hal itu justru tak dapat menangkan siapapun. Terutama saat para dokter itu mengakui ketidak - tahuan mereka tentang kapan wanita itu akan sadar dari tidur panjangnya.
Ini salahnya. Seharusnya malam itu ia langsung pergi begitu saja. Tanpa mengatakan apapun. Mungkin dengan begitu semuanya akan berbeda. Mungkin dengan begitu ia hanya perlu menghadapi kedua keluarga yang murka padanya, mungkin juga ditambah dengan tangis dan tatapan kecewa yang kesekian kalinya dari wanita itu. Tidak masalah, selama ia dapat mencapai apa yang menjadi tujuannya selama ini. Tapi, akibat kebodohannya sendiri, semua jadi kacau dan menghancurkan rencananya.
Ia tau kalau wanita yang terbaring di depannya ini termasuk orang yang nekat. Tapi ia tak tau kalau akan senekat ini. Ia tak tau kalau ucapan selamat tinggal yang dikatakan oleh wanita itu dengan sendu akan berujung percobaan bunuh diri seperti ini. Ya, percobaan bunuh diri. Ia bahkan sampai tak bisa mengatakan apapun saat mendengar kabar itu langsung dari pihak kepolisian. Tak ada ditemukan bukti apapapun yang menunjukkan keterlibatan kendaraan lain dalam kecelakaan itu. Tak ada pula bukti yang menunjukkan jika wanita itu berusaha menghindari sesuatu yang menghalangi laju mobilnya. Semua bukti yang ditemukan justru menunjukkan jika wanita itu memang sengaja membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi hingga akhirnya hilang kendali dan jatuh ke dalam jurang setelah sebelumnya menabrak pagar pembatas jalan.
Gila, wanita itu benar-benar gila. Dia memutuskan untuk membatalkan pernikahan mereka justru dengan cara yang tidak akan pernah terpikirkan olehnya, melintas sekilas di otaknya pun tak akan pernah. Ia pikir wanita itu hanya akan menangis dan berusaha menahannya malam itu saat mendengar ia ingin membatalkan pernikahan mereka. Namun yang didengarnya justru persetujuan dari wanita itu dan juga ungkapan hatinya yang diungkapkan dengan sendu namun dingin. Ia tak menyangka jika ungkapan itu akan berujung hal seperti ini. Ia bahkan sempat tersenyum lebar saat wanita itu menyetujui permintaannya dengan mudah.
Kini, ia merasa benar-benar buruk. Ia merasa telah menjadi orang yang jahat dalam ceritanya sendiri saat seharusnya ia telah memulai awal bahagia yang baru. Seharusnya bukan dirinya yang berperan menjadi penjahatnya di saat wanita itu yang justru telah mengacaukan hidupnya yang tenang dari awal. Seaindainya ia tak pernah bertemu wanita itu dari awal, mungkin cerita hidupnya akan benar-benar berbeda. Mungkin sekarang ia telah bahagia dengan sang pemilik hatinya juga keluarga kecil mereka.
"Azka."
Ia tersadar dari lamunan panjangnya begitu mendengar seseorang memanggil namanya diiringi tepukan pelan pada bahunya. Ia menoleh dan menemukan wanita paruh baya dengan senyum paling lembut dan menenangkan yang pernah dilihatnya setelah ibunya sendiri kini memaksakan diri untuk tersenyum dengan sepasang mata yang masih sembab.
"Mama." Ia langsung bangkit dari kursinya dan menuntun wanita paruh baya yang telah dianggapnya sama seperti ibunya sendiri itu untuk duduk di tempatnya tadi. "Sama siapa ke sini, Ma? Kok Azka gak dengar Mama masuk tadi?"
Mama Tia, wanita paruh baya itu kembali mencoba tersenyum walau sulit sambil menatap wajahnya dengan tatapan lembut yang terbalut pilu. "Mama datang sendiri tadi naik taksi. Papa sama abang lagi keluar soalnya."
"Kenapa tadi tidak telpon Azka aja, Ma? Kan, Azka bisa sekalian jemput Mama."
"Tak apa." Mama Tia menggeleng pelan lalu meraih tangannya dan menggenggamnya dengan lembut. "Mama pikir kamu juga lagi sibuk, nak. Bukannya masih banyak yang harus kamu urus soal pembatalan pernikahan kalian?"
Azka, ia menggeleng pelan sambil membalas genggaman tangan wanita paruh baya itu. Berusaha menguatkan saat dilihatnya kedua mata wanita paruh baya itu kembali berair begitu menanyakan tentang pernikahan. "Udah selesai, Ma. Dibantuin sama karyawannya Bunda jadi Azka tinggal terima beres aja."
"Maaf, Azka. Maafkan anak Mama yang bodoh ini. Seharusnya kalian menikah besok kalau aja dia tidak ceroboh seperti ini. Tolong sampaikan maaf Mama juga untuk Bunda kamu. Bunda kamu itu pasti masih marah karena idenya Mama tolak."
"Iya, Ma. Nanti Azka sampaikan ke Bunda. Tapi, kalau Azka boleh tau kenapa Mama nolak idenya Bunda? Padahal ide Bunda untuk tetap mengadakan akad nikah besok lebih baik daripada pembatalan nikah, Ma. Kita hanya perlu memindahkan tempat akadnya jadi di sini. Sementara untuk resepsi bisa menyusul saat Eri sudah sadar dan pulih."
Mama Tia kembali tersenyum sendu, kali ini sambil menatap wajah putrinya yang tampak damai. "Lebih baik dibatalkan sekalian. Mama takut kalau Eri justru tidak akan pernah bangun lagi dan kamu jadi terjebak dalam pernikahan yang menyedihkan, Azka. Jadi, memang lebih baik dibatalkan. Dengan begitu tidak akan ada yang menghalangi kamu untuk menemukan pendamping yang baru."
Ia terdiam. Tiba-tiba merasa tak nyaman begitu mendengar jawaban Mama Tia. Tak menduga jika wanita paruh baya itu akan memberikan alasan yang membuatnya merasa aneh.
"Melihat wajahnya sekarang, Mama jadi semakin ragu kalau dia akan bangun. Wajahnya terlihat begitu tenang dan damai. Seolah dia sedang terlelap dalam mimpi yang indah, dan tidak ada satu pun yang ingin bangun dari mimpi indah,kan." Mama Tia kembali bersuara setelah sunyi yang terasa canggung.
"Ma, jangan putus harapan dulu. Eri pasti bangun. Dokter juga sudah bilang kalau keadaannya stabil."
"Tapi dokter juga bilang tidak tau kapan dia akan sadar, Azka." Mama Tia kembali menatapnya masih dengan senyum yang dipaksakan. Membuatnya semakin merasa lelah melihat sikap wanita paruh baya yang berusaha tegar itu. "Jadi, karena Mama sudah merelakan kesempatan kamu menjadi menantu Mama hilang, tolong carilah calon pendamping baru yang benar-benar kamu inginkan, Azka. Mama sudah mulai lelah melihatmu selalu berkubang dalam rasa bersalah."
***
Hujan. Padahal baru beberapa saat yang lalu langit tampak cerah. Matahari pun sedang terik - teriknya. Namun sekarang langit justru menghitam dengan cepat tertutupi awan - awan mendung yang bersatu. Lalu tak lama kemudian, hujan turun dengan deras diikuti dengan angin yang berhembus kencang. Tanpa peringatan terlebih dahulu, siang yang cerah berubah menjadi kelabu dengan hawa dingin yang menyebar hingga ke sudut terjauh kota.
Pelan, ia menyesap secangkir kopi yang tak lagi panas sambil memandang ke luar jendela besar yang tepat berada di sampingnya. Memandang tak tentu arah tanpa tujuan yang pasti. Sementara benaknya sibuk mengulang kalimat terakhir Mama Tia sebelum akhirnya mengusir ia keluar dengan dalih menyuruhnya untuk makan siang.
Azka, pria itu menghela napas pelan lalu menyandarkan punggungnya pada kursi kantin rumah sakit yang ia tempati. Kepalanya mulai pusing karena terus memutar ulang kalimat terakhir Mama Tia yang membuatnya resah. Apa wanita paruh baya itu mengetahui tentang ia yang sama sekali tak menginginkan putrinya, atau justru Eri yang telah mengatakan sesuatu hingga ibunya itu curiga? Atau apa mungkin yang dimaksud Mama Tia adalah rasa bersalahnya yang terlihat jelas karena hanya bisa menyaksikan Eri terbaring tak berdaya tanpa bisa melakukan apapun?
Entah mana yang benar dari dugaan-dugaan yang muncul di benaknya itu. Mau yang mana pun itu tetap saja tak akan berujung baik baginya. Terutama di saat selama ini ia telah berperan sebagai pria baik dan penurut di depan orang tua mereka. Peran yang rencananya akan tetap ia mainkan hingga berhasil menemukan dan membawa kembali pemilik hatinya yang telah hilang.
Ia kembali meneguk kopinya hingga tak tersisa lalu bangkit dari kursi. Memutuskan untuk kembali ke ruang perawatan Eri setelah tersadar ia telah menghabiskan banyak waktu hanya untuk menikmati secangkir kopi. Sementara hujan di luar semakin deras. Sama sekali tak terlihat akan reda dalam waktu dekat.
***
"Eri Alyia Wijaya."
Ia menghentikan langkahnya tepat di depan pintu kamar perawatan VIP yang terbuka lebar itu. Merasa bingung saat bukannya menemukan sosok Mama Tia di dalam ruangan, ia justru menemukan seorang pria yang tak dikenalinya berdiri di samping brankar wanita itu. Mungkin salah satu dokter yang bertanggung jawab jika dilihat dari jas putih yang digunakannya. Namun yang membuat bingung bukan tentang kehadiran pria itu di sana tapi tentang tindakannya.
Pria yang tak dikenalinya itu berdiri diam di samping brankar dan hanya menatap wanita yang terbaring di sana. Seolah tak peduli pada sekitar, pria itu bahkan tak menyadari kehadirannya. Hanya terus menatap ke arah wanita yang tak sadarkan diri itu dengan lembut. Seakan apa yang dilihatnya akan hilang begitu saja jika ia mengalihkan pandangan walau hanya sekilas.
"Alyia."
Lagi, ia mendengar pria itu memanggil nama tengah Eri dengan begitu lembut sarat akan kerinduan setelah sebelumnya ia mendengar pria itu memanggil nama lengkap Eri dengan suara yang sama hingga membuatnya tanpa sadar menghentikan langkah di depan pintu. Entah karena apa.
"Kamu sama sekali tidak berubah setelah sekian lama." Pria itu kembali bersuara dengan nada yang masih sama. Kali ini sambil mengelus ringan wajah wanita yang terbaring menyedihkan itu. Seolah tak ingin melukai dan menambah rasa sakit yang telah dialami wanita itu. "Masih tetap sama bodohnya seperti dulu."
Lalu dilihatnya pria itu tersenyum sedih sambil menelusuri setiap luka di tubuh Eri dengan tatapan lembutnya. "Seharusnya aku menemuimu lebih cepat, atau paling tidak berusaha untuk kembali menghubungimu. Mungkin dengan begitu kamu tidak akan berakhir seperti ini. Kembali melakukan hal bodoh hanya karena perasaanmu pada pria yang bahkan tak pernah menganggapmu ada."
Aneh, entah mengapa ia merasa kesal mendengar ucapan pria itu. Saking kesalnya hingga ia ingin mengusir pria itu dan melarangnya untuk kembali. Ia bahkan tak mengenal pria itu tapi dengan beraninya pria itu membicarakannya seolah mengenalnya dengan baik.
"Seharusnya dulu aku tidak membiarkan perasaanmu untuknya tumbuh subur, Al. Seharusnya aku mencegahmu untuk jatuh cinta padanya kalau tau kamu akan berakhir menyedihkan seperti ini. Aku bahkan tidak ingat melihatmu benar-benar tersenyum bahagia semenjak kamu jatuh cinta pada pria b******k itu."
Makin lama ia mendengar, makin ia kesal dibuatnya. Pria itu kali ini bahkan menyebutnya b******k. Siapa pria itu sebenarnya? Ia sama sekali tak ingat pernah bertemu dengannya. Apa dia teman dekat Eri? Tidak, rasanya tidak mungkin. Ia tau siapa saja orang yang dikenalkan Eri sebagai teman dekatnya dan ia yakin belum pernah melihat pria asing itu.
"Alyia, aku mencintaimu. I really do love you. Seharusnya aku sudah mengatakannya dari dulu, tapi dengan bodohnya aku justru memilih pergi karena kupikir kamu akan bahagia dengannya. Ah, ternyata aku sama bodohnya denganmu, Al. Ironis, kan." Pria itu lalu tertawa kecil. "Aku mohon, cepatlah sadar, Alyia. Cepatlah sadar agar aku bisa memperbaiki semuanya. Kali ini aku akan bersungguh-sungguh membuatmu jatuh cinta padaku dan melupakannya. Benar-benar melupakannya dan berakhir bahagia bersamaku."
Cukup. Sudah cukup. Telinganya sudah panas mendengar ucapan pria asing itu dari tadi. Kali ini ia sungguh akan melakukan niat awalnya, menarik pria itu keluar dan mengusirnya sejauh mungkin. Namun, belum sempat niatnya terlaksana, pintu kamar mandi di ruangan itu terbuka dan menampakkan sosok Mama Tia yang menatap mereka dengan bingung.
***