Suara dentingan piano yang lembut namun kuat menembus pendengarannya dengan melodi yang amat ia kenali. Fur Elise karya Ludwig van Beethoven. Rangkaian melodi indah yang mencerminkan perasaan cinta sang maestro pada seorang wanita yang harus berakhir bahkan sebelum sempat diutarakan. Indah namun sekaligus menyakitkan. Ia bahkan selalu merasa sedih setiap kali mendengar rangkaian melodi itu dimainkan, seolah melodi-melodi itu tak hanya terdengar di telinganya namun menembus masuk hingga ke hati.
Perlahan, ia berusaha membuka kedua matanya. Ingin melihat dari mana permainan piano itu berasal. Walau anehnya terasa sedikit sulit begitu ia membuka mata, cahaya terang langsung menyilaukannya. Membuatnya langsung mengedipkan mata beberapa kali untuk menyesuaikan pandangannya lalu menatap aneh plafon ruangan berwarna putih yang asing. Sementara tempat ia berbaring terasa dingin dan keras.
Ia ada di mana? Berapa lama ia tertidur? Astaga, ia bahkan tak ingat apa yang dilakukannya sebelum tertidur di tempat asing namun anehnya sekaligus terasa fameliar. Ada apa dengannya? Apa mungkin ingatannya terganggu karena ia merasa kelelahan, tapi apa yang telah ia lakukan sampe merasa begitu lelah?
Lama berkubang dalam pertanyaan-pertanyaan di benaknya yang mulai membuat pusing, ia baru tersadar suara dentingan piano yang membuatnya terbangun telah lama berhenti. Bergegas, ia bangkit dari posisinya. Berharap masih sempat memuaskan rasa penasarannya akan sosok si pemain piano sebelum orang itu pergi dari ruangan yang terlihat semakin fameliar.
"Hei."
Suara rendah yang terdengar berat dan dalam itu membuatnya tertengun di saat yang bersamaan ia berhasil menemukan sosok yang dicarinya. Seorang pemuda yang duduk di piano bench dengan punggung yang bersandar ringan pada tuts upright piano yang tertutup. Tepat di sudut panggung sederhana yang cukup besar. Hampir sepertiga dari ruangan bercat putih gading itu.
Sesaat ia teralihkan dari sosok pemuda itu dan justru menatap sekelilingnya. Di sudut lain panggung ia menemukan satu set drum dan beberapa gitar serta bass yang berdiri tegak dengan bersandar pada standnya juga peralatan sound sistem yang tersusun rapih. Sementara lantai dan panggung ruangan itu dilapisi bahan vinyl parket. Selain di atas panggung, beberapa alat musik juga telihat di samping panggung. Sementara bagian di depan panggung dibiarkan kosong dengan beberapa stand microphone juga stand book yang bersandar pada dinding.
Ruangan itu kini benar-benar terlihat fameliar. Mirip dengan ruang musik yang tak lagi terpakai di sekolahnya dulu. Bahkan hingga ke detail terkecilnya. Apa ia masih bermimpi? Kalau tidak, bagaimana bisa ia kembali ke tempat yang sudah lama tidak ia lihat semenjak hari kelulusannya?
"Hei."
Suara rendah yang berat dan dalam itu kembali terdengar. Membuatnya tersadar lagi lalu kembali menoleh pada pemuda itu dan semakin bingung. Aneh, tapi ia tak bisa melihat wajah pemuda itu dengan jelas. Mungkin karena cahaya lampu ruangan itu yang terlalu terang walau ia tak yakin. Namun ia dapat melihat dengan jelas seragam yang digunakan pemuda itu. Celana kain berwarna abu-abu gelap dengan bleazer biru dongker bergaris emas lengkap dengan ukiran lambang sekolahnya di d**a kiri. Juga kemeja putih dengan dasi magenta dengan garis diagonal berwarna putih dan biru dongker. Seingatnya warna garis diagonal pada dasi yang digunakan pemuda itu menunjukan dia berada di tahun terakhirnya.
"Hei, anak tahun pertama. Apa yang kau lakukan di sini sambil bersikap bodoh seperti itu?"
Hah? Anak tahun pertama? Siapa yang dimaksud pemuda itu? Jelas bukan dirinya karena ia sudah lama lulus dari sekolah itu. Atau begitulah yang ia ingat. Namun lagi-lagi ia ragu dengan ingatannya begitu melihat ia menggunakan seragam yang hampir sama. Rok abu-abu gelap dengan kemeja putih dan dasi pita berwarna magenta dengan vest rajut biru dongker sebagai ganti bleazernya.
Tunggu, bukankah ia sudah lulus beberapa tahun lalu dari sekolah ini? Ia bahkan samar-samar ingat hari kelulusannya. Atau yang ia ingat itu justru mimpi yang dialaminya selama tidur tadi. Pantas saja rasanya ia baru terbangun dari tidur yang panjang.
"Hei, anak tahun pertama."
"Alyia. Namaku Eri Alyia Wijaya, 'bukan Hei anak tahun pertama'."
"Hm."
Astaga, apa yang baru saja dilakukannya? Bisa-bisanya ia menjawab tidak sopan seperti itu dihadapan seniornya. "Ah, maaf, kak. Saya tidak bermaksud untuk menjawab tidak sopan seperti itu." Rasanya aneh memanggil pemuda itu dengan sebutan 'kak' walaupun yang dipanggilnya adalah seniornya sendiri. Seolah tidak tepat namun ia berusaha tak peduli. Mungkin ia masih mengantuk walau baru saja terbangun.
"Lupakan." Ia yakin pemuda itu mulai kesal walau ia masih tetap tak bisa melihat wajahnya dengan jelas. "Apa yang kau lakukan di sini?"
"Tidur?" ia menjawab dengan tak yakin. Masih ragu dengan ingatannya yang terasa tak tepat. Seolah bercampur aduk hingga ia tak yakin mana yang nyata dan mana yang hanya mimpi.
"Heh, aku bisa melihatnya dengan jelas. Kau pikir aku buta?!"
Kalau begitu kenapa harus ditanyakan lagi? Lama-lama pemuda itu mulai membuatnya kesal. Kepalanya sudah mulai pusing untuk memikirkan semua keanehan yang dialaminya dan semakin bertambah parah dengan sikap menyebalkan pemuda itu walau suaranya menyenangkan untuk didengar.
"Selain tidak sopan kau ternyata suka sekali mengabaikan orang lain, Eri."
Eri? Kenapa pemuda itu tiba-tiba memanggilnya Eri? Tadi sepertinya ia mengenalkan dirinya sendiri sebagai Alyia. Ya, ia tau Eri juga bagian dari nama lengkapnya tapi tak ada yang memanggilnya Eri kecuali anggota keluarganya. Bahkan teman-teman dekatnya pun memanggilnya Alyia. Hanya masalah panggilan tapi entah mengapa ia kembali merasa aneh saat pemuda itu memanggil nama depannya dengan suara yang ia akui sangat disukainya itu.
Menggeleng pelan, ia berusaha memfokuskan pikirannya yang sangat mudah teralihkan itu semenjak ia terbangun dari tidurnya. "Maaf, kak. Saya tau lagi-lagi saya bersikap tidak sopan tapi tolong panggil saya Alyia saja."
"Kenapa?" Pemuda itu terdengar bingung. "Eri kan juga namamu."
"Hanya keluarga saya yang memanggil saya Eri. Aneh saja rasanya mendengar orang asing menggunakan panggilan yang sama."
"Orang asing?"
"Ah, maksud saya orang yang belum saya kenal." Pemuda itu benar-benar suka sekali membuatnya tak nyaman. Ia mulai lelah harus bersikap sopan dengan menjaga setiap tutur katanya di depan pemuda itu.
"Kau benar-benar gadis yang aneh. Baru sekarang aku bertemu dengan orang yang mempermasalahkan namanya sendiri."
Ia mendengus pelan. Rasa kesalnya mulai bertambah. Semoga saja senior itu sama sekali tak menyadari kelakuannya. Lalu pandangannya beralih pada upright piano tepat di belakang pemuda itu. Teringat dengan hal yang tadi menarik perhatiannya hingga membuatnya terbangun. "Lagu tadi...." ia ragu untuk bertanya.
Pemuda itu tak meresponnya dan hanya diam. Mungkin sedang memandanginya dengan datar namun ia tak yakin. Lagipula ia masih tetap tak bisa melihat jelas wajah pemuda itu. Kualitas lampu ruang musik itu sepertinya benar-benar bagus. "Fur Elise. Kakak yang memainkannya?"
"Kau tau Fur Elise?" pemuda itu terdengar terkejut. Lucunya keterkejutan pemuda itu justru membuat ia tersenyum bangga. Entah bangga untuk apa. Mungkin bangga karena barhasil membuat pemuda yang terdengar angkuh itu terkesima walau hanya sedikit.
Ia mengangguk dengan semangat. "Tentu saja. Itu lagu yang terkenal juga indah. Semua orang pasti langsung tau saat mendengarnya."
"Tidak." Pemuda itu langsung membantah ucapannya. "Tidak semua orang langsung tau judul lagu yang kumainkan."
"Tapi nada-nada Fur Elise sudah sering dimainkan. Walaupun tidak tau judulnya pasti orang-orang sudah pernah mendengarnya walau hanya sekali. Apalagi kakak memainkannya dengan sangat bagus."
"Menurutmu permainanku bagus?" Lagi, pemuda itu terdengar terkejut.
Ia kembali mengangguk. "Well, saya tidak tau banyak soal piano. Saya bahkan tidak bisa memainkannya, tapi menurut saya permainan kakak bagus. Saya belum pernah mendengar orang memainkan piano sebagus kakak."
"Berapa banyak orang yang sudah kau dengar permainan pianonya secara langsung?"
"Satu."
Pemuda itu tertawa mendengar jawabannya. Tawa yang benar-benar enak di dengar hingga membuatnya tertengun. Anehnya, mendengar tawa pemuda itu justru membuatnya merasa sedih tanpa alasan yang jelas.
"Kau benar-benar gadis yang lucu, Eri."
"Alyia." Ia langsung kembali menegaskan nama yang seharusnya digunakan pemuda itu untuk memanggilnya.
"Baiklah, Alyia." Nada suara pemuda itu terdengar mengejeknya namun ia tak peduli. Sibuk dengan rasa aneh yang kembali muncul saat mendengar pemuda itu akhirnya memanggil ia dengan nama tengahnya. Entah kenapa mendengar pemuda itu menuruti permintaan konyolnya justru membuat ia merasa sedih. Sepertinya memang ada yang salah dengan dirinya setelah terbangun dari tidur yang terasa panjang itu.
"Hei, Alyia."
"Iya, kak?"
"Kau tidak ingin tau namaku?"
"Hah?"
Pemuda itu kembali tertawa. Sepertinya merasa terhibur walau ia tidak tau terhibur karena apa. Bukan sedang menertawakannya, kan?
"Karena kau sudah mengenalkan dirimu tanpa diminta, kau bisa memanggilku ...., sama seperti teman-temanku."
"Hah?" Aneh, ia yakin pemuda itu baru saja menyebutkan namanya tapi kenapa ia tak bisa mendengarnya sama sekali. Padahal kata-kata yang lain dalam kalimat pemuda itu terdengar dengan sangat jelas. Atau mungkin ada yang salah dengan pendengarannya.
"Kau bisa memanggilku ..... . Teman-temanku juga memanggilku seperti itu."
Ia benar-benar tak bisa mendengar nama pemuda itu sama sekali. Seolah ada sesuatu yang menghalangi pendengarannya dan hal itu berhasil membuatnya ketakutan. Saking ketakutannya hingga ia langsung berdiri dan berlari pergi tanpa merespon ucapan pemuda itu. Ia bahkan tak menoleh saat pemuda itu memanggilnya dengan bingung. Ia bahkan tak tau berlari ke arah mana, yang ada dipikirannya hanya berlari sejauh mungkin dari pemuda itu.
Ia baru berhenti saat akhirnya menabrak seseorang dengan keras. Yakin akan berakhir dengan tersungkur di lantai, ia menutup matanya rapat. Bersiap dengan rasa sakit yang akan dialaminya, namun ia tak merasakan apapun kecuali rasa hangat dan aman yang melingkupinya.
"Alyia?"
Ia membuka kedua matanya begitu mendengar suara yang sangat dikenalnya. Lalu mendongak dan tersenyum menemukan seorang pemuda tampan berkaca mata yang balik menatapnya dengan khawatir sambil mendekapnya dengan erat. Menahan tubuhnya agar tidak berakhir membentur lantai dengan keras.
"Adrian!" Ia berseru senang sambil membalas dekapan pemuda itu. Tak peduli dengan beberapa pasang mata yang memandang mereka dengan aneh.
"Kamu tidak apa-apa? Ada yang mengganggumu? Kamu berlari seperti dikejar sesuatu."
"Aku baik-baik saja."
"Benarkah?"
Ia mengangguk lalu memutuskan untuk melepaskan dekapannya pada tubuh pemuda itu saat merasa semakin banyak mata yang memandang ke arah mereka. Seolah menjadikan mereka tontonan yang menarik untuk mengisi waktu luang di jam kosong.
"Kamu yakin?" Pemuda yang dipanggilnya Adrian itu kembali bertanya sambil ikut melepaskan dekapannya namun masih tetap mencengkram bahunya dengan lembut.
"Iya, Adrian. Aku tadi hanya...." ia lalu terdiam. Tiba-tiba lupa dengan alasannya berlari sepanjang koridor.
"Hm?"
Ia menggeleng pelan sambil tersenyum canggung. "Aku lupa."
Pemuda tampan berkaca mata itu menghela napas pelan mendengar jawaban yang ia berikan. "Lalu, kamu dari mana? Aku mencarimu dari tadi."
"Aku...." Ia kembali terdiam. Lagi-lagi lupa ia dari mana sebelum akhirnya bertemu dengan Adrian.
"Jangan bilang kamu lupa lagi."
"Tidak." Ia membantah cepat sambil menatap tak tentu arah. "Aku tadi hanya berkeliling karena bosan."
"Yakin?"
Ia kembali mengangguk walau ragu. Berusaha mengingat tempatnya menyendiri dan alasannya berlari sepanjang koridor sebelum akhirnya menabrak Adrian namun ia tak bisa mengingat apapun. Aneh, sepertinya ada yang salah dengan dirinya.
"Ya sudah. Ayo kita ke kantin saja! Aku lapar."
Ia kembali mengangguk lalu berjalan di samping pemuda itu tanpa kata. Menyerah dengan ingatannya yang terasa aneh. Apapun yang dilupakannya itu mungkin bukan sesuatu yang penting jadi sepertinya tak masalah walaupun ia tak ingat sama sekali.
***