4 bulan sudah Ella tinggal di Algernia, selama itu juga Letizia setiap hari melihat kemesraan Elard dan Ella, kejadian 2 bulan lalu sudah hilang bagai angin. Elard masih sama seperti biasa, mengacuhkan Letizia dan mencintai Ella. Jangan tanya bagaimana keadaan Letizia sekarang, dia nampak kacau tak seperti Letizia yang selalu tegar. Letizia sudah 1 bulan ini tak keluar dari kediamannya, dan berita buruknya Ella sudah resmi diangkat menjadi selir Elard 3 Minggu lalu.
'Ahh sudah cukup, aku tak boleh seperti ini terus. Elard boleh memiliki selir tapi toh yang jadi ratu tetap diriku, aku tak boleh berkalut seperti ini terus. Tidak akan tidak mungkin posisiku bisa ter renggut melihat hubungan Elard dan Ella semakin lengket.'
Batin Letizia melihat pantulan dirinya di cermin, dia adalah sang ratu yang sebenarnya. Tidak dan tidak akan Letizia biarkan posisinya terlepas dari genggaman nya.
"Alice, siapkan air hangat dan gaun untuk ku. Sudah lama aku tak mengundang teman-teman ku untuk berkunjung." Alice yang tengah mengaduk teh untuk Letizia segera bergegas menyiapkan kebutuhan Letizia.
Letizia tampak cantik dengan balutan gaun berwarna emas tanpa jubah dan rambut tergerai dengan tiarannya. Letizia sudah 4 bulan ini menyukai tampilannya yang seperti ini, dia memandang pantulannya di cermin dan menyentuh wajahnya pelan.
"Kulitku terlihat lebih pucat, apa karena aku tak terkena sinar matahari 1 bulan ini?" Gumam Letizia pada dirinya sendiri.
Letizia segera berdiri dari meja riasnya dan berjalan ke arah pintu kamarnya, Alice segera membukakan pintu untuk ratunya para pengawal dan pelayan yang melihat Pintu kamar Letizia terbuka menghentikan aktivitas mereka dan menatap terkejut pada Letizia. Letizia keluar dengan tampilan yang yah bisa dibilang membuat semua orang pangling, pasalnya Letizia terlihat seperti boneka porselen dengan kulit putih pucat itu, ditambah wajah pucat Letizia yang dihiasi rona pipi alami di sekitar bawah mata dan pangkal hidungnya. Tampilan yang menghipnotis setiap mata yang memandangnya.
***
"Hahaha... Astaga Stania apakah sultan Arief sungguh seperti itu padamu?" Tawa Reina ratu dari kerajaan Serafon Utara mendengar curhatan Stania soal suaminya.
"Sungguh aku tak berbohong, Arief selalu bersikap manja padaku tak seperti tampilannya yang garang." Sekali lagi Stania berhasil membuat Reina tertawa lagi.
"Oh ya Letizia bagaimana kabar gadis yang dipungut raja Elard?" Reina mencoba membuat Letizia bersuara karena sedari tadi Letizia hanya diam dan sesekali tertawa dengan celotehan Stania.
"Tentu saja resmi jadi selir, Elard begitu terpana dengan dia." Letizia menjawab dengan tenang dia tak takut masalah yang sedang menimpanya diketahui oleh teman-temannya karena Reina dan Stania adalah teman baik Letizia, mereka sudah berteman sedari kecil. Setelah Reina menikah dengan raja Nike dari kerajaan Serafon Utara dan Stania yang menikah dengan sultan Arief dari kerajaan Araya, pertamanan mereka masih lengket sampai sekarang.
"Keterlaluan, memang secantik apa gadis itu?" Stania mulai tertarik dengan topik pembicaraan mereka kali ini. Belum sempat Letizia menjawab Stania tiba-tiba Ella datang dengan gaun emas kebanggaan Algernia. Ella berhasil membuat Reina dan Stania terdiam sesaat melihat paras Ella yang tampak begitu cantik jelita, rambut merah Ella terlihat berkobar diterpa angin dan mata langitnya terlihat jernih dengan senyum yang amat manis di bibirnya.
"Selamat pagi ratu Letizia anda terlihat cantik hari ini, apakah ini teman-teman ratu Letizia?" Ella memberi salam dengan senyuman manis di bibirnya, dia tampil sangat anggun dengan gaun dan tiara yang semakin membuat Ella bersinar.
"Astaga... Salam hormat macam apa itu." Stania bergumam pada Reina dan Letizia, melihat Ella yang sangat tak tahu sopan santun pada ratu kerajaan lain. Letizia yang mendengar itu semakin tersenyum lebar penuh makna.
"Sungguh cantik bukan...?" Letizia tersenyum miring saat mengatakan itu, Reina dan Stania yang paham akan maksud Letizia segera sadar bahwa Ella hanya gadis rendahan, sungguh apakah Elard mendadak buta?
"Jadi kau yang namanya Ella?" Reina bertanya dengan senyum penuh maknanya, oh ini akan menyenangkan batin Reina.
"Benar aku Ella, Ella de Alger." Ella memperkenalkan diri pada teman-teman Letizia masih dengan senyum manisnya.
"Ya ampun... Kau bahkan sangat bangga dengan statusmu sekarang, jadi Ella kau dari bangsawan mana?" Reina kembali bertanya dengan pandangan sinisnya.
"Aku bukan bangsawan." Ella mulai merasa percakapan ini tak akan berlangsung baik melihat teman-teman Letizia memandang Ella dengan sinis sekali.
"Oh pantas saja astaga.. kau tak mungkin di ajarkan sopan santun, apa di kamarmu tak ada cermin? Apa kau tak lihat bahwa dirimu sangat tak pantas menyandang nama Alger? Sangat memalukan kalau Alger seorang yang tak tahu sopan santun sepertimu." Reina dengan indah mengayunkan lidah tajamnya pada Ella.
"Hei Ella, apa kau tahu raja terdahulu dari kerajaan Algernia? Katakan padaku siapa ayah raja Elard." Stania juga tak mau kalah dengan Reina. Sedangkan Letizia hanya duduk manis sambil menikmati teh nya sambil menikmati drama yang tengah berlangsung.
"Aku.. tidak." Wajah Ella menunduk sedih, sungguh Ella hanya ingin berteman juga dengan mereka. Setiap kali Ella mencoba untuk dekat dengan Letizia pasti berujung Ella yang tersakiti. Ella hanya ingin berhubungan baik dengan Letizia, tapi sepertinya Letizia memasang benteng yang amat kuat diantara dia dan Ella, sehingga Letizia sangat sulit untuk didekati atau memang Letizia yang tak ingin didekati? Hati para bangsawan memang begitu angkuh.
"Kau tak tahu? Kau bahkan tak tahu silsilah keluarga raja Elard tapi sudah angkuh hanya karena kau jadi selirnya. Aku tak mengerti apa yang dilihat raja Elard dari gadis sepertimu. Kau bahkan mendapatkan posisimu sekarang dengan cara yang menjijikkan sekali, gadis ular." Pecah sudah tangis Ella, Ella tahu betul bahwa dirinya sangat tak pantas bersanding dengan Elard tapi apakah sebegitu tak bisanya para bangsawan memperlakukan orang seperti Ella dengan lebih baik?
"Tidak bisakah aku hiks.. diperlakukan lebih baik, aku baru di Algernia aku juga sedang belajar tentang kerajaan Algernia. Aku.. maksudku jangan karena kalian dari kasta yang hiks.. tinggi kalian bisa menindas ku seperti ini."
"Kau memang pantas diperlakukan seperti ini, apa kau tak merasa bersalah sedikitpun pada Letizia? Apa kau tak sadar kau merebut raja Elard dengan cara yang menjijikkan? Kau yang dari kasta rendahan lebih rendah dari kastamu sendiri. Gadis tak beradab, tak tahu malu, bercerminlah Ella kau sungguh seperti Medusa." Reina kembali berbicara senyumnya terlihat puas sepuas wajah merendahkan Stania.
"Sudah hentikan." Letizia akhirnya angkat bicara mendengar tangisan Ella yang begitu pilu dan menyayat hati.
"Letizia kau bahkan mengasihhani gadis rubah ini?" Stania agak kecewa karena Letizia menghentikan kegiatan yang menurut Reina dan Stania menyenangkan.
"Hanya, bagaimana kalau nanti Elard melarang kalian datang kesini lagi? Dia pasti akan mengadu yang tidak-tidak pada Elard itu kan sudah jadi hobi ya kan Ella?" Ella memandang Letizia dan teman-temannya dengan marah, sungguh Ella sudah sangat muak dan jengah dengan mulut pedas mereka. Ella segera berlari meninggalkan Letizia dan teman-temannya sudah cukup makian yang ia dapatkan kali ini, suatu saat nanti Ella akan membuat mulut mereka bahkan tidak bisa terbuka untuk memaki Ella lagi. Lihat saja..
***
TBC