Semua yang hadir masih menunggu jawaban dari Letizia, mereka menatap kasihan pada Letizia, oh ya tentu saja Letizia akan dalam masalah besar kalau sampai menolak tawaran Xavier. Elard sendiri sebenarnya tak setuju kalau Letizia sampai berpasangan dengan Xavier, Elard mencoba memberi isyarat pada Letizia bahwa dia tak boleh menerima ajakan Xavier mata Elard memicing pada Letizia dia tak mau Letizia ikut bersama Xavier.
Ella yang melihat gelagat Elard segera paham akan maksudnya, dengan segera Ella menggenggam tangan Elard dan berkata bahwa Ella takut kalau nanti dia mengecewakan Elard, Elard yang mendengar itu langsung mengusap puncak kepala Ella mencoba menenangkan nya. Letizia yang tadinya akan menolak ajakan Xavier karena isyarat dari Elard segera berdiri dari duduknya dan berjalan mendekati Xavier saat dia melihat Elard masih sempatnya bermesraan pada gadis ular bermuka dua itu.
"Aku bersedia." Segetika semua orang serempak menyuarakan kata 'hah..' di satu sisi mereka menyayangkan Letizia bersedia menjadi pasangan xavier, di sisi lain mereka berterimakasih pada Letizia karena masih mau memikirkan kompetisi tahunan ini agar tetap terlaksana. Xavier terlihat yang paling puas, senyumnya amat lebar dan yahh bisa dibilang menawan.
"Terimakasih ratu Letizia karena bersedia menjadi pasanganku, tapi.. tentu saja ratu tau kan di kompetisi ini anda akan memihak pada Tharnos." Xavier menatap Elard dengan senyum penuh artinya, seakan mengatakan Letizia hari ini menjadi miliknya, yah walaupun hanya hari ini tapi setidaknya dirinya bisa selalu bersama Letizia selama kompetisi berlangsung kan..? Xavier yang tersenyum puas bertambah puas melihat Elard menunjukan wajah tak sukanya pada Xavier, salah sendiri menyia-nyiakan Letizia dan kebetulan juga Xavier tertarik padanya, sikap Elard kepada Letizia menjadi jembatan Xavier menjalankan rencananya. Xavier harus berterimakasih pada Elard terlebih pada Ella, yahh tentu saja gadis polos itu benar-benar membantu, siapa sangka sikap lemah lembut dan lugunya menyimpan tombak yang dengan perlahan-lahan akan membunuh Letizia.
"Tentu saja, aku akan memihak Tharnos." Biarlah untuk kali ini saja Letizia membantu Xavier, sebenarnya Letizia tak sudi untuk membantu Xavier terlebih untuk memenangkan kompetisi tahun ini tapi rasa benci Letizia pada hubungan Elard dan Ella lebih besar dari itu. Untuk kali ini saja, Letizia ingin membuktikan pada Elard bahwa Letizia lebih baik dari Ella, dan tentu saja Letizia lebih unggul hanya saja Elard sedang buta karena cintanya pada gadis lugu yang sebenarnya seperti Medusa.
"Raja Elard tak keberatan bukan..?" Seakan masih belum puas, Xavier masih asik sendiri dengan derama kecil yang ia buat.
"Raja Elard tak akan keberatan, karena dia sedang berbahagia bisa mengikuti kompetisi berburu yang pertama kalinya untuk gadis cantik yang baik hati." Belum sempat Elard menjawab pertanyaan dari Xavier, Letizia sudah terlebih dahulu menyela dengan senyum yang terlihat begitu manis. Xavier tahu betul arah bicara Letizia, sungguh sindiran yang wah.. benar-benar tipikal Xavier sekali.
"Baiklah apakah kompetisi ini sudah boleh dilaksanakan raja Xavier?" Elard sebisa mungkin tak menggubris perkataan Letizia yang menyindirnya, yang paling penting kompetisi ini segera dimulai, Elard sudah muak dengan suara Xavier ditambah Letizia.
***
Tak tak tak
Suara kuda melangkah terdengar jelas dan indah karena keadaan hutan yang sunyi, hanya suara kaki kuda dan angin yang berhembus di dalam hutan yang terdengar, Letizia pun enggan untuk bersuara apalagi menatap Xavier yang sedari tadi selalu berusaha menyamai langkah kudanya.
"Hewan buruan apa yang paling ratu sukai?" Xavier mencoba membuka pembicaraan, rasanya sangat tak nyaman jika harus berdiam seperti ini, yeah suara Letizia selalu terdengar indah ditelinga Xavier.
"Rusa jantan. Mereka sangat indah." Letizia menjawab dengan ogah-ogahan, dari pada tidak menjawab dan membuat Xavier marah, ohh Letizia masih sayang nyawa, sebenarnya dan sesungguhnya Letizia sangat sangat tidak mau berada di situasi seperti ini terlebih dengan Xavier, rasanya sungguh menyebalkan.
"Mereka sulit untuk didapat, para rusa biasanya bersembunyi di tempat yang sulit untuk dilalui kuda." Semak tinggi di samping jalan setapak yang mereka lalui tiba-tiba bergerak dengan keras, menimbulkan suara gesekan rating yang memecah kesunyian hutan.
'Grrrrrr...'
Tiba-tiba saja terdengar suara geraman dari balik semak belukar, Xavier dengan segera menarik anak panahnya dan bersiap dengan melindungi Letizia yang menunggang kuda di belakangnya. Tangan Xavier menghadang Letizia memberi tanda bahwa Letizia harus diam ditempat, matanya menelisik setiap sudut hutan menerka-nerka hewan buas apa yang akan keluar.
'Groarrrr!!!'
'nyiaaaahhaa...!' kuda Letizia menjingkrak-jingkrak tak karuan, melihat beruang besar hampir menerkam mereka dari belakang jika saja Xavier terlambat menusukkan panahnya, beruang itu kembali ke semak-semak mencoba menunggu waktu yang tepat untuk menerkam lagi. Letizia masih berusaha menenangkan kudanya yang masih bergerak tak karuan.
"Tenanglah..!" Tangan Letizia mencoba mengelus leher kudanya dengan pelan, tapi kudanya seakan menolak elusan tangan Letizia dia masih menjingkrak dengan keras. Xavier masih fokus dengan beruangnya panahnya sudah siap untuk dilesatkan, matanya yang tajam memilih salah satu semak dan dengan mantap Xavier melepaskan panahnya.
'Groarrrrr....!!!!'
Kuda Letizia semakin menjadi saat mendengar raungan besar dari beruang coklat yang dengan marah keluar dari persembunyiannya.
'nyiaaaahhaa!!' Letizia semakin kewalahan dengan kudanya, kudanya semakin menjadi saat kakinya terkena kuku tajam si beruang.
"Tenanglah kuda..!" Seakan kudanya tuli dia malah berlari meninggalkan Xavier.
"Letizia!" Xavier yang ingin mengejar Letizia terhalang oleh beruang yang sepertinya masih dendam karena tusukan panah Xavier. Letizia semakin jauh punggung rampingnya sudah tak terlihat lagi dimata Xavier 's**l!' batinya, beruang satu ini sangat menyusahkan sekali.
Letizia berusaha mengendalikan laju kudanya tapi nihil kudanya semakin cepat membawa nya masuk lebih dalam ke hutan yang gelap, ranting-ranting pohon menyayat tubuh Letizia gaun emasnya sudah tak karuan dan puncaknya beberapa jarak lagi mereka mendekati jurang.
"Ohh tidak.. tidak! Arrhhggghhh..!!!" Kudanya menjatuhkan Letizia tepat ke arah jurang, tubuhnya mengguling ke dasar jurang yang gelap batu tajam memperdalam goresan pada tubuh Letizia, bahkan tiara kebanggaannya entah kemana.
Bruk!
Rasanya seluruh tulang di tubuh Letizia remuk tak tersisa, untunglah kesadarannya masih terjaga, sekarang harus bagaimana? Ohh nasib s**l apa yang sedang menimpanya berada di dekat Xavier memang penuh kesialan, ah menyebalkan sekali.. bahkan dia kehilangan tiara yang diberikan Elard.
krasak...
Oh tidak lagi.. sekarang apa? Disaat seperti ini ada saja kejadian yang menyusahkan, hidup Letizia seperti dijungkir balikan 180° seumur-umur tak pernah Letizia mengalami hal ini, Letizia sudah pasrah jika memang hari ini hari terakhir ia hidup toh tak ada gunanya melawan kalau yang keluar beruang lagi. Letizia sudah menahan nafas dan menutup matanya bersiap menerima cakaran atau gigitan.
"Meong.." Letizia seketika membuka matanya, nafasnya terasa lega luar biasa melihat kucing berbulu abu-abu lebat dan bermata kuning sedang duduk memperhatikannya.
"Kemarilah kucing.." Letizia merasa tertarik pada kucing yang baru saja membuat Letizia hampir mati karena ketakutan, kucing itu terlihat sangat cantik. Letizia membawa kucing yang berhasil di tangkapnya ke dalam pelukannya, ya ampun.. bulunya sangat halus.
"Meong.. meong.." (lepaskan aku manusia..)
"Kau lucu sekali, bagaimana kalau kau ikut dengan ku ke istana? Jadilah pliharaanku ya." Kucing yang berada di dekapan Letizia berusaha kabur tapi Letizia tak membiarkannya, sekarang kucing ini miliknya.
"Miaww.. meong.." (lepaskan, aku tak bisa bernafas)
"Karena tingkahmu yang menggemaskan, bagaimana kalau ku panggil Momo saja. Kau suka kan?" Dulu saat Letizia kecil dia sangat ingin memiliki seekor kucing tapi ayahnya tak mengizinkannya, menurut ayahnya perhatian Letizia akan teralihkan jika dia punya peliharaan, pendidikan lebih penting dari segalanya itulah kata-kata yang selalu ayahnya suarakan saat Letizia merengek meminta sesuatu.
"Meong.. meong.." (nama macam apa itu, jelek sekali)
"Baiklah, mulai sekarang namamu Momo ya." Letizia mengelus kepala Momo dengan pelan, bulu-bulu Momo terasa halus di telapak tangan Letizia, Bahakan Letizia sudah tak menghiraukan lagi luka goresan di tubuhnya.
"Hey Momo, jurang ini begitu dalam dan menakutkan, apakah orang-orang akan sadar jika ada kita disini?"
"Meong.." (diamlah manusia)
***
TBC
SEE YOU NEXT CHAPTER
Rara_Olvie