"Jadi kau ini the future yang masih dalam masa uji coba ya."
Pernyataan itu keluar dari lisan Andrew masih di tempat yang sama. Ruang tamu rumah Alan. Di dekatnya sang pemilik rumah sedang fokus memerhatikan buku dan notebooknya. Sembari mendengarkan obrolan mereka. Di sebelah Andrew, Clava terlihat fokus pada pembicaraan Andrew dan robot itu.
"Kode natrixnya tidak bisa berbohong Kak." Clava menyahuti.
Berkat peretasan Andrew menggunakan data dan kode rahasia, satu hal lagi fakta mengenai Future berhasil mereka temukan. Bahwasannya robot berwujud manusia tersebut adalah salah satu the future yang masih dalam masa percobaan.
"Benar-benar newbe ternyata," gumam Alan.
Meski matanya fokus pada layar notebook namun, ia masih dapat mendengarkan semua yang teman-temannya katakan. Termasuk fakta Future yang cukup mengejutkan.
Ya, baik Alan, Andrew, dan Clava. Ketiganya benar-benar terkejut. Mengapa?
"Untungnya kode natrix itu dapat kita temukan dengan cepat. Sehingga bisa melakukan pelacakan dengannya. Dan akhirnya kami mengetahui tentang umurmu." Lagi, vokal Andrew yang terdengar.
"Hanya dalam waktu satu hari dan langsung masuk ke bumi manusia. Tidakkah itu kedengarannya sangat aneh, Kak?" tanya Clava pada Andrew.
Benar, hasil peretasan data yang Andrew temukan melalui kode natrix tersebut. Kalau Future adalah bangsa the future yang baru selesai dibuat oleh penciptanya. DARE ETO, yang tertulis dalam salah satu rangkaian kerangkanya. Menjelaskan bahwa robot tersebut belum selesai menjalani masa uji coba. Yang berarti kurang dari 2 kali 24 jam setelah perakitan Future diselesaikan.
Sangat epic sekali!
"Umur 1 hari tapi sudah sebesar ini. Wow!" Dan Andrew tidak bisa untuk tidak berdecak kagum pada fakta yang ia lihat.
"Tapi Kak, bagaimana bisa Future datang ke bumi manusia ya?" Pertanyaan Clava yang menjadi on point.
Alan yang mendengarnya pun menoleh sejenak. Memerhatikan kedua orang manusia dan Future di sana secara bergantian.
Benar, bagaimana caranya menginjak bumi? Sementara Future bilang sebelumnya tinggal di luar angkasa dan ntah ada di planet manakah itu.
"Iya! Sampai detik ini aku juga masih memikirkan hal yang sama. Hei Future bagaimana caranya kau sampai ke bumi ha?" Bunyi 'ting' di kepala Andrew membuatnya cepat berpikir lagi.
"Apa kau datang ke sini menggunakan piring terbang? Semacam pesawat UFO yang membawa makhluk luar angkasa turun ke bumi!"
Bugh!
Sebuah buku setebal 200 halaman melayang tepat mengenai sebelah pundak Andrew. Pelaku utamanya sudah jelas Alan.
"Kau apa-apaan sih, Al," protes pria yang terpaut usia 2 tahun lebih tua dari Alan tersebut.
"Piring terbang segala, jangan ngaco, Dal. Kita sedang tidak main film fantasy." Kadal adalah nama yang Alan sematkan untuk sosok Andrew. Maka dari itu pemilik suara baritone tersebut Alan.
"Tapi di film-film kan biasanya seperti itu, Al. Selama kita meneliti juga terbukti kalau piring terbang itu memang ada."
"Masih diprediksi kalau bentukmya mirip dengan piringan, Andrew. Belum dalat dipastikan sepenuhnya. Jenis UFO juga banyak, jangan mengambil keputusan berdasarkan fakta."
Andrew berdecak mendengar penuturan yang Alan ucapkan. Pada akhirnya perdebatan antara keduanya dimenangkan oleh Alan. Sebab Andrew langsung diam dan kembali menelusuri pandangannya pada Future.
"Aku akan coba korek sedikit informasi dari Prof. Nellam nanti Kak. Kebetulan Paman sering mengajak Prof. Nellam berdiskusi jika menyangkut hal yang penting." Suara Clava terdengar.
Alan yang tengah membolak-balikkan bukunya pun mendelik. Begitu nama Prof. Nellam disebut ia sontak beranjak, mendekati Clava yang lesehan di sebelah Andrew sembari menatap layar notebook temannya itu.
"Apa kau dekat dengan Prof. Nellam?" tanya Alan begitu berpindah posisi duduknya.
"Lumayan Kak. Sejak dua hari lalu setelah Prof. Nellam kembali dari luar negeri kami sering mengobrol, dan sepertinya Prof. Nellam akan cukup membantu kita untuk mengulik identitas Future," jawab Clava panjang.
Seulas senyum hadir di bibir tipis gadis itu.
"Prof. Nellam sudah pulang dari luar negeri?" Itu Andrew, setelah sejak tadi hanya menyimak.
"Sudah, Kak. Dari tiga atau empat hari yang lalu," jawab Clava singkat.
Andrew mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Iya yah, pemilik Doujav Corp itu pamanmu. Jadi sudah pasti kau dekat dengan para petinggi Doujav Corp yang lain," komentar Andrew.
"Ya begitu Kak."
"Ekhem, ngomong-ngomong mengenai Prof. Nellam. Tadi aku baru bicara dengannya di cafe."
"Sejak kapan kau dikenal dengan Prof. Nellam, Al?" tanya Andrew sembari memicingkan matanya.
"Tadi, kebetulan ketemu di toko buku. Ternyata ayahnya Shasa teman baik Prof. Nellam. Kita ngobrol banyak hal di sana."
"Oh ya? Bagus dong Kak. Profesor Nellam itu orangnya ramah banget. Paman suka mengajak diskusi beliau mengenai hal-hal yang penting demi masa depan Doujav Corp. Maka dari itu, Profesor Nellam selalu hadir disetiap rapat penting perusahaan."
Ya, Alan akui itu. Selama mereka berbincang di cafe tadi pun sosoknya memang hangat dan tidak sejutek wajahnya. Jadi, apa yang Clava katakan memang benar.
Tapi, alih-alih mengagumi sifat ramah Prof. Nellam. Alan justru bersungguh-sungguh ingin mengorek semua informasi yang Prof. Nellam ketahui mengenai robot. Kasarnya, Alan ingin mencuri kecerdasan orang tersebut dengan cara yang baik.
Ya, mendekatinya perlahan, sesekali jika memungkinkan mengajak bertemu bersama dan menghabiskan cukup waktu untuk berbincang. Kemudian, perlahan menarik simpati orang tersebut agar semakin ramah padanya. Dan Alan semakin mudah mengangkat topik pembicaraan mengenai robotics jika mereja sedang berbincang.
Seperti itu dapat dikatakan cara yang baik bukan?
Dan Alan juga harus berterima kasih juga kepada Shasa yang telah membantunya, walau dengan cara sedikit berbohong.
"Apa yang kalian bicarakan?" Andrew bertanya terus terang.
"Banyak. Tapi pembahasan itu tidak lain dan tidak bukan adalah mengenai robotics. Seputar teknologi dan mencipta robot."
Karena memang itu yang Alan cari.
"Aku dengar, Prof. Nellam tidaka akan lama di Indonesia Kak." Clava menyambung.
"Maksudmu?"
"Iya, perusahaan di Amsterdam kembali memanggil beliau untuk bekerja sama dengan Jerman dan Jepang. Kita tahu kalau selama ini kedua negara tersebut termasuk ke dalam negara-negara dengan teknologi yang canggih dan keren, termasuk dalam bidang IT sendiri."
"Lalu, apakah Prof. Nellam akan keluar dari Doujav Corp dan menetap di Eropa untuk kerja sama tersebut?" Ini yang Alan khawatirkan. Dia harus bisa mengorek ilmu sebanyak-banyaknya dari manusia jenius yang satu itu jadi, dia tidak boleh tertinggal langkah sedikit pun.
Clava menggeleng namun setelahnya ia juga mengangguk kecil. Jawaban yang meresahkan Alan dan juga Andrew.
Apa maksud dari gelengan dan anggukan tersebut?
"Tidak tahu pastinya mengenai itu Kak. Bisa saja iya tapi bisa juga tidak. Karena secara hukum Prof. Nellam masih terikat kontrak dengan Doujav Corp."
Untuk sesaat Alan dapat menghela napasnya sejenak. Begitu pun dengan Andrew yang merasakan sedari tadi pokok pembicaraan mereka cukup serius.
"Aku akan tetap membantu Kak Alan dan Kak Andrew dalam kasus ini Kak. Karena jujur, aku tertarik dengan Future," sambung Clava lagi.
"Terima kasih, Clava. Kami sangat bersyukur dengan itu." Alan yang menyahuti.
Clava balas tersenyun kecil. Lantas ia melirik Andrew di sebelahnya yang terlihat tidak tertarik sama sekali. Wajah lelaki itu membentuk jarum jam dua belas. Tak ada ramah-ramahnya sedikit pun.
"Oh ya, lalu bagaimana dengan robot rancangan Kakak, Kak?"
Alan berdeham, "Kau tahu dengan proyek robotku?"
"Sudah menyebar luas kabarnya di kantor Kak. Katanya Kakak dengan Kak Benzie yang akan mengerjakan proyek kali ini?"
"Ya begitulah." Jawaban yang pasrah. Masih di sini saja Alan sudah merasa pesimis.
Serius deh, dibandingkan nama si Bensin kelebihan percaya diri itu, dia ini bukan apa-apa kan?
Uh ... pikiran Alan jadi sesitif.
"Oh ya, Clava. Kalau kau tidak keberatan sebenarnya aku juga mau minta tolong secara pribadi." Alan berucap penuh kehati-hatian.
"Iya Kak, apa itu?"
"Bisa kau bantu aku merakit robot untuk proyek Doujav Corp ini? Hanya 30 persen jika kau keberatan. Selebihnya kau bisa menjadi tutorku dan mengawasi apa-apa saja yang kiranya akan menjadi hal krusial dalam perakitan. Kau bisa kan?"
***