“Astaga ... jadi kau tidak tidur semalaman karena memikirkan soal tadi malam?” Andrew yang sejak tadi mengomel ini dan itu. Terutama mengomentari kantung mata Alan yang tiada habisnya.
Masalah kecil menjadi besar jika itu dibicarakan bersama dengan Andrew.
“Kenapa sih, Al? Kita kan bisa mencari jalan keluarnya. Lagi pula sampai detik ini kita juga terus mencari titik terangnya. Jangan merasa kalau kau itu sendiri, Bro. Aku dan Clava akan terus bersamamu.”
Sontak saja Alan mengalihkan pandangannya pada sosok Andrew di sebelahnya. Dengan mata memicing dan sebelah alis yang ia jungkitkan ke atas.
“Kerasukkan apa kau?” Tidak diduga pertanyaan Alan justru seperti itu.
“Kerasukkan?” bingung Andrew.
“Kau membuatku merinding, Dal. Seolah aku akan mati besok saja,” kata Alan.
Andrew malah tersenyum kecil, “Bilang saja kalau kau ini tersentuh dengar kalimatku barusan kan? Tidak usah malu-malu seperti itu lah, Al. Kau saja sudah sering membuatku malu.”
“Kadal air!” cibir Alan.
Ngomong-ngomong keduanya sedang berada di taman depan kampus. Kelas mereka kebetulan ada di waktu yang sama walaupun ruangannya tidak sama. Sekarang pukul setengah sembilan pagi, masih ada waktu setengah jam lagi sebelum kelas mereka dimulai. Dan keduanya memang sudah sepakat untuk datang lebih dulu.
Alan dengan ransel abu-abu kesayangannya dan Andrew dengan ransel hitam yang selalu ia bawa kemana-mana.
“Kita ada rapat sore nanti, dengan Prof. Willy. Anak-anak Machine Learning sudah memberimu kabar kan?”
Dengan kantung mata yang gelap dan kerjapan mata yang terlihat sangat berat itu Alan mengangguk sekenanya.
“Aku sudah baca grup tadi. Sam juga bilang hari ini kau yang presentasi ya?”
“Huh ... sebenarnya kau sih yang tertulis dalam daftar untuk presentasi tapi, karena mengingat wajahmu tadi malam dan kutebak kau pasti tidak bisa tidur jadi, aku mengajukan diri. Ya, hitung-hitung membantu teman yang sedang dalam kesulitan. Aku baik ya, Al.”
Alan terkekeh kecil, “Kalau begitu tebakanmu benar ya. Ck, ck, tumben si Kadal ini memiliki rasa kemanusiaan.” Mendengar kalimat yang Alan ucapkan, Andrew tidak terima.
Bugh!
Sebuah pukulan kecil mendarat di sebelah lengan Alan yang kokoh. Tidak meresponnya, Alan malah melanjutkan kekehannya.
Ting!
Ponsel Andrew berbunyi, yang dengan cepat empunya rogoh dari dalam saku.
Pesan teks masuk dari Clava.
“Wow, rumahnya sudah Clava siapkan, Al,” heboh Andrew. Masih dengan tatapan yang fokus menatap pada layar ponselnya.
“Di Jalan Ringroad, komplek Mega nomor 20. Kak Andrew dan Kak Alan bisa memeriksanya dulu hari ini dengan keadaan rumahnya ya. Kalau kiranya kurang cocok akan kucarikan di tempat yang lain.” Andrew membaca sesuai pada teks yang tertera di ponselnya.
“Jadi itu benar? Secepat ini?”
“Kau lupa? Tadi malam Clava bilang kalau Mr. Jazz akan menelusuri area komplek rumahmu besok. Dan sudah pasti dia akan membawa Megan dengannnya, kalau sampai dia menemukan Future bagaimana?”
Benar juga, semakin cepat mereka pindah dari sana maka semakin bagus pula untuk diirnya dan Future. Terlebih Future, meskipun awalnya Alan tidak bisa menerima makhluk itu tapi, semakin banyak hari yang mereka lewati bersama, semakin besar pula rasa simpati Alan kepada Future.
Bukan simpati yang mengarah pada ketertarikan tapi, simpati yang lebih kasihan. Karena sejak awal pertemuan mereka pun Future sudah mengaku bukan manusia.
Lalu sampai pada puncaknya Alan menyaksikan langsung bagaimana susunan tubuh yang melengkapi Future. Satu lagi, Alan bahkan juga sudah mengutak-atik rangkaiannya dengan mata kepalanya sendiri.
Fisik luarnya yang terlihat seperti manusia pada umumnya, biasa saja. Siapa sangka kalau kerangka dalamnya justru dipenuhi oleh kabel-kabel dan benda-benda elektronik lainnya.
Semakin membuat Alan terkejut adalah karena sistem rangkaiannya pun begitu futuristik. Seperti membuktikan bahwa yang Future katakan ia datang dari masa depan itu nyata. Yang awalnya tidak Alan tanggapi karena ia berpikir mungkin Future hanya seorang gadis yang terobsesi padanya.
Semakin banyak hari yang mereka lalui bersama dan semakin besar pula rasa kasihan yang bersemayam dalam diri Alan pada Future.
Belum lagi kalimat Future yang sering mengatakan planetnya, seolah ia ingin pulang kembali ke sana. Well, itu sudah pasti. Tapi masalahnya, ia sendiri bahkan tidak tahu dimana letak planet Future berada.
Dan sekarang, sedikit demi sedikit tekateki itu mulai terungkap, betapa excited-nya Alan pada apa yang akan ia saksikan di kemudian hari. Akankah ia berhasil membantu Future?
“Kapan kau akan melihat rumahnya, Al?”
“Sehabis kampus, setelahnya kita harus kembali bekerja. Jadi tidak akan ada banyak waktu yang tersisa, And.”
Andrew mengangguk-anggukkan kepalanya. “Iya, benar juga sih. Oh ya, Future ...”
“Tapi sepertinya kita tidak bisa memilih-milih rumah sesuka hati, And. Tidak banyak waktu tersisa untuk besok. Bisa saja besok yang Mr. Jazz maksud adalah malam ini? Bukankah pergerakkanya sangat cepat dan lihai?”
“Jadi maksudmu, kalian akan pindah kapan?”
“Jika memungkinkan siang atau sore ini. Pekerjaanku juga tidak banyak di Doujav Corp hari ini. Mr. Jazz sendiri juga pasti akan menyuruhku untuk memprioritaskan rangkaian robotku kan? Jadi, saat itu akan kugunakan untuk pindahan.”
Jika wajah Alan sudah seserius ini dan tidak ada kerut sedikit pun di kedua ujung bibirnya, maka Andrew bisa menangkap kalau pembicaraan mereka benar-benar serius.
“Oke, aku akan mengikuti bagaimana baiknya saja menurutmu. Satu hal lagi, Clava pasti sudah mempertimbangkan banyak hal untuk menunjuk rumah yang ia pilih untuk tempat tinggalmu dengan Future.”
“Ya, sebaiknya kita menggunakan waktu dengan baik. Menyusun rencana seapik mungkin dan merangkai robotku dengan cepat. Kompetisinya tersisa beberapa minggu lagi.”
“Oke, Al.”
Dalam tekad yang bulat tertanam keinginan yang besar. Usaha tidak akan pernah mengkhianati hasil. Jadi, sejauh ini Alan merasa optimis pada kemampuannya.
Pun, orang-orang di sekelilingnya juga adalah orang-orang baik yang mendukungnya dengan penuh semangat. Tidak hanya modal bicara tapi aktif action dan kemampuan yang memadai.
Ting!
“Pesan dari Clava lagi.” Yang kali ini masuk ke ponselnya Alan.
“Apa katanya, Al?”
“Jarak dan lokasinya sangat bagus, Kak. Beberapa orang suruhanku sudah menyiapkan keamanannya di sana. Kita hanya perlu mengatur ulang dan memasang lagi kemanan yang kita inginkan sendiri.”
Begitu yang tertulis di sana dan tengah Alan ucapkan.
“Ya Tuhan, aku jadi merasa bersalah padanya karena pernah ketus dan terlalu jahat padanya, Al. Sekarang dia bahkan yang paling mengayomi dari kita,” sendu Andrew.
Mendegar kesedihan Andrew, Alan mendengkus kecil.
“Penyesalan mana pernah datang di awal. Kalau begitu pendaftaran namanya. Dasar kadal!”
***
Di tempat lain, Benzie terlihat sedang menatap layar komputermya dengan tatapan tajam. Penuh kehati-hatian dan fokus yang tinggi.
“Kodenya bercabang, apa mungkin ini sudah direkayasa?” Benzie menelaah baik-baik tiap deretan kalimat dan kode-kode yang tersaji di hadapannya saat ini.
Satu jam sudah ia teronggok di sana dan masih melakukan hal yang sama. Seolah tiada lelah mata memandang pada layar berukuran besar tersebut. Belum lagi konsentrasi yang dibutuhkan kan pun cukup tinggi.
Kalimat yang tidak semua orang bisa membacanya karena menggunakan bahasa pemrograman. Namun, tak gentar dengan semua itu Benzie masih terpantau anteng sejak tadi.
“Ini jelas-jelas bukan kode yang sebelumnya kutemukan. Kalau memang benar kode ini merujuk pada data dan sistem yang dapat dilacak dari sinyal terakhir yang ditemukan, seharusnya nomor seri tidak bisa berubah.”
Ya, di ruangan kamar pribadinya sekarang Benzie tengah membandingkan kode natrix yang ia dapat dari Justin dan Megan beberapa waktu lalu. Terdapat perbedaan beberapa kalimat di sini.
Dan di sini dia sekarang, ketidaksamaan itu membuatnya semakin tidak bisa memilih siapa yag benar dan siapa yang salah. Tapi, logika Benzie sendiri tidak bisa untuk tidak berpikir dengan hasil pola pikirnya sendiri.
Pertama, hasil penelusuran Justin tidak mungkin salah. Temannya yang berada di negara seberang sana adalah salah satu anggota BIN yang paling handal dengan pelacakkan baik sistem ataupun location.
Dan sebagai teman dekat sekaligus rekan kerja yang pernah mengemban ilmu di bawah organisasi yang sama, Benzie mengetahui betul bagaimana sifat Justin.
Kalaupun hasil penelusuran Justin salah, bisa jadi itu karena murni kesalahan yang ia lakukan saat melakukan search. Namun, bagi Benzie yang sudah begitu mengenal dekat sosok Justin masih tidak bisa percaya kalau Justin akan salah.
Sebagai anggota BIN dan pernah bekerja dengan UNICEF, Justin adalah sosok yang terampil, mengangumkan. Bukan hanya Benzie saja yang mengakuinya tapi juga seluruh teman-temannya di luar negeri sana.
“Tapi Megan ...”
Pulpen dengan gabungan beberapa warna di sana Benzie ambil dan ia mainkan mengetuk-ngetuk meja. Suara ketukkannya seirama dengan gerak bola mata Benzie yang tidak lepas memandangi komputer di hadapannya.
“Tapi Megan juga tidak mungkin melakukan kesalahan. Ini bahkan mungkin tidak ada apa-apanya baginya yang sudah berpengalaman dengan dunia seperti ini. Bagaimana bisa robot jenius dari masa depan melakukan kesalahan? Kecuali terjadi kerusakkan atau adanya masalah pada sistem aksesnya.”
Lalu, dengan lancarnya akal cerdas Benzie berpikir ke arah pemalsuan data.
Bisa saja memang melakukan hal itu, terutama untuk mengelabui musuh atau rekan kerja yang memiliki sistem lebih baik. Dan hal utama yaitu untuk menghilangkan jejak. Ini jelas dan sangat berbeda dengan apa yang sudah ia perkirakan sebelumnya.
Kemudian perhatian Benzie teralihkan pada dua buah kertas yang terletak di hadapannya saat itu. Diambil keduanya dan ia baca secara bergantian, “ARDC183752889.”
Lalu beralih pada pada lembar yang satunya lagi, “AHJ998257381.”
“Apa Sitra pernah menemukan sinyal yang sama dengan yang kami temukan sekarang? Sehingga mereka memalsukan beberapa jaringan data yang terkoneksi dengan EvexC?”
Tapi juga tidak mungkin, kenapa? Karena Benzie tahu betul bagaimana Sitra menanggapi setiap hal yang mereka tangani. Kalau Sitra terlibat, pasti sekarang beritanya sudah simpang siur d stasiun televisi.
Ya, perusahaan yang menang nama karena sensasi bukan prestasi. Begitulah kesan Sitra di mata Benzie.
“Kode natrix, nomor seri, sampai ke nomor halamannya pun berbeda. Kalau hanya berbeda beberapa huruf atau angka mungkin masih bisa dimaklumi tapi, ini bahkan sangat jauh sekali bedanya.”
Tak tik tak tik!
Jemari Benzie kembali menari di atas keyboard, mencari sesuatu yang saat ini memenuhi isi kepalanya.
“Ck, sepertinya tidak akan mudah mencari tahu kebenaran ini sendirian. Aku harus menemukan partner yang tepat untuk melakukan pelacakkan ini,” monolog Benzie tegas.
Lantas mematikan komputernya dan beranjak menuju ke tempat tidur. Setelah sebelumnya meraih ponselnya di atas nakas.
***
Hari berlalu dengan cepat, Alan yang baru saja menyelesaikan kelasnya memilih duduk diam di kursinya sembari memainkan ponselnya. Hanya mengecek beberapa aplikasi yang mungkin saja mengabarkannya mengenai sesuatu tapi, ternyata tidak ada yang penting.
Melirik jam tangan yang ia kenakan, pukul setengah dua belas siang.
“Andrew sudah selsai kelas belum ya?” tanyanya pada diri sendiri. Kemudian Alan menelusuri kontaknya untuk memanggil Andrew.
Dan sampai panggilan ketiga ternyata tidak diangkat juga.
“Masih belum selesai mungkin ya,” katanya lagi.
“Apa aku pergi saja sendiri? Tapi Andrew sudah bilang akan ikut. Ck, ke mana sih itu kadal satu.”
“Alan, belum pulang?” sapa salah satu temannya yang bersiap akan melangkah keluar kelas, dan melihatnya masih duduk di sana sendirian.
“Oh, iya nanti saja, Ga.”
“Okay, yasudah kalau gitu. Duluan ya.”
“Ya, Ga.”
Kemudian suasana terpantau hening lagi. Terlebih Alan yang memilih diam kembali fokus pada ponselnya.
“Future sedang apa ya di rumah? Aku harus mengabarinya kalau kami akan pindah sebentar lagi.”
Dengan cepat Alan keluarkan sebuah benda serupa gelang dari dalam ranselnya, dan ia kenakan dalam sekali gerakkan.
Gelang dengan bandul putih polos di atasnya itu adalah benda yang dapat menghubungkan sinyalnya dengan Future melalui chip yang ia pasang pada sistem gadis itu.
“Oke, mari kita tanyai dia sedang apa.”
Alan usap perlahan layar kecil yang menjadi bandul gelang di sana, dan muncul bintik kecil berbentuk hati yang menandakan kalau benda tersebut telah terpasang dengan sempurna. Tak lupa pula ia pasangkan earphone ke sepasang telinganya.
“Alan? Kau masih di kampus sekarang.” Itu pernyataan bukan pertanyaan.
Alan sunggingkan senyumnya, ternyata alat buatannya memang secanggih ini. Ya, Alan optimis dengan robot rancangannya. Tidak sabar juga menyaksikan langsung bagaimana nantinya jika robotnya berhasil terangkai sempurna.
“Benar, Future kau sedang mengutak-atik meja belajarku ya?”
Karena pada laci meja belajarnya, terdapat sebuah benda yang Alan buat untuk memantau jika ada seseorang yang sedang berada di sana. Maka, gelang yang Alan pakai akan mengeluarkan rasa hangat. Fungsinya nyaris seperti CCTV tapi, tidak bisa menunjukkan gambarnya secara langsung yang serupa kamera.
Namun, jika benda-benda dari meja belajarnya bergeser satu centi pun akan tetap ketahuan. Mengapa Alan melakukan hal tersebut pada meja belajarnya? Jawabannya hanya satu, karena Alan kerap kali menyimpan barang-barang berharganya di sana. Alih-alih di lemari atau brankas.
Mulai dari surat menyurat penting, uang saku dan gajinya, jug beberapa barang berharganya yang lain.
“Alan, aku hanya memeriksa remote di dalam laci nomor dua. Mereka bisa bereaksi terhadaku.” Suara Future terdengar kembali dari sana.
“Oh ya? Bereaksi seperti apa?”
“Remote itu mengeluarkan cahaya setiap aku berada di dekatnya. Saat aku menyentuhnya pun remote tersebut bergetar. Ini menakjubkan Alan.” Nada ceria yang terlontar dari seberang sana membuat Alan terkekeh ringan.
“Future, sebentar lagi aku akan pulang. Kita akan ke suatu tempat, apa kau bisa menyusun semua barang-barang yang ada di rumah?”
“Semuanya?”
“Tidak semua juga sih. Hanya pakaian dan semua yang ada di dalam kamarku. Perabotan dan alat-alat pecah belah di sana tidak perlu. Karena itu sudah ada dari rumahnya sejak awal aku masuk menyewa di sana.”
“Baiklah Alan. Aku akan kerjakan sesuai permintaanmu.”
“Thank you, Future.”
“Welcome, Alan.”
“Oke, sampai bertemu di rumah. Kututup.”
Klik!
“Memang sangat bisa diandalkan,” gumam Alan sembari tersenyum singkat.
***