"Bagaimana, Kak? Suka dengan rumahnya? Maaf ya Kak kalau tidak sesuai dengan yang Kakak inginkan. Tapi aku bisa menjamin kalau keamanan dan kenyamanan di sana sangat memadai."
Suara Clava terdengar dari seberang sana melalui panggilan nirkabel yang terhubung langsung ke telepon seluler Alan.
"Oh tidak-tidak, ini bahkan jauh lebih bagus dari rumah sewaku yang sebelumnya. Justru aku aku ingin mengucapkan terima kasih banyak kepadamu Clava."
Terdengar suara helaan nafas dari seberang sana.
"Syukurlah kalau Kakak suka, Kak. Aku sempat khawatir kalau Kakak tidak menyukai tempatnya."
"No, it's amazing," sahut Alan.
"Kakak sudah masuk ke dalamnya? Apakah interiornya sesuai dengan yang kakak harapkan, atau mungkin ada beberapa perabotan yang tidak Kakak suka yang berada di sana?"
Alan pun tertawa kecil, ia jadi merasa sangat tidak enak kepada Clava. Pasalnya gadis itu sudah terlalu banyak membantunya.
"Belum masuk sih tapi, dilihat dari luarnya saja rumah ini sudah sangat mengagumkan. Pasti harganya sangat mahal ya, Va?"
"Jangan khawatirkan soal harganya Kak. Mudah-mudahan uang sakuku tidak berkurang sedikitpun kok. Hehe ..."
Bagaimana bisa? Lalu, dari mana caranya bisa mendapatkan rumah bagus ini tanpa mengeluarkan uang sepeserpun. Tidak masuk ke akal Alan.
Memang dasar orang kaya, kadang pemikiran mereka sangat jauh berbeda dengan kita yang biasa saja. Hal utama yang paling membuat Alan keheranan adalah cara mereka yang begitu mudah mendapatkan pundi-pundi rupiah dalam jumlah besar.
Contohnya seperti yang dilakukan oleh Clava padanya saat ini.
Keuangan yang mengalir deras seperti air yang dijatuhkan dari atas langit.
Belum lagi di usia yang masih sangat muda, Clava sudah berhasil menggeluti beberapa bidang yang ia kuasai. Hal tersebut tentu saja membuat Alan dan dan Andrew merasa bangga pada sosoknya.
Alan Jadi semakin yakin kepada peribahasa yang sering orang-orang di sekitarnya ucapkan. Yaitu yang berbunyi,"Kedewasaan seseorang bukanlah dilihat dari umurnya. Tapi dari bagaimana cara mereka bersikap mengatasi suatu masalah."
Dan sekarang, seolah membuktikan kepadanya, Tuhan mengirimkan Clava di antara sekian banyak orang yang ia kenal.
"Ya sudah Kakak masuk saja dulu, lihat bagaimana kondisi di dalamnya. Nanti aku telepon lagi ya, Kak. Aku masih ada kelas soalnya."
"Oh iya oke-oke. Sekali lagi terima kasih ya, Va."
"Sama-sama, Kak. Semoga suka ya ..."
"Pasti-pasti," sahut Alan.
Klik!
Panggilan terputus dengan cepat. Alan kembali menyimpan ponselnya ke dalam saku celananya.
Alan, Andrew, dan Future sudah berada di lokasi calon rumah baru mereka. Seluruh barang-barang mereka sesuai yanh Alan katakan pada Future, sudah robot itu susun dengan sempurna tanpa ada satu pun yang terlewat. Ketika Alan mengeceknya ulang pun semua sudah tersusun sebagaimana yang ia kehendaki.
Kurang lebih 30 menit perjalanan mereka dari rumah sewa Alan yang lama menuju ke rumah baru mereka. Karena barang mereka tidak terlalu banyak untungnya untuk mengangkutnya tetap bisa menggunakan mobil Alan.
Dan yang paling Alan suka dari rumah baru mereka ini adalah, karena lokasinya yang cukup jauh dari jangkauan orang-orang banyak. Jauh dari keramaian bukan berarti letaknya yang terpencil tapi memang suasananya sepi dan cukup mendukung.
Tak lama, perhatiannya pun tertuju pada Future dan Andrew yang sudah berdiri di depan pintu rumah baru mereka.
Ngomong-ngomong, dari tampilan luarnya saja Alan sudah suka melihatnya. Dari halamannya terlihat minimalis dengan tanaman yang memenuhi sepanjang pelataran. Dan bisa Alan lihat kalau rumah imi memiliki dua lantai, ada balkon yang terlihat imut di atas sana.
"Al, ayo cepat." Itu suara Andrew yang memanggilnya dari depan sana.
"Iya-iya, sebentar."
Kunci rumahnya sudah Clava kirimkan melalui orang suruhannya kepada Alan. Karena Gadis itu tidak bisa ikut melihat rumahnya bersama dengan Alan dan yang lain. Tapi kemungkinan ia akan menyusul saat sore atau malam nanti.
Ctek!
Krek ...
"Wah ..."
Begitu pintu terbuka mereka disuguhkan dengan sebuah ruang tamu utama yang sangat luas dan bersih. Sofa-sofa yang tersusun rapi serta action figur yang mengesankan. Lengkap dengan segala perabotan yang sudah ada didalamnya. Bingkai-bingkai foto dan guci kecil yang semakin menambah keindahan nilai arsitektur dari rumah tersebut.
"Bagus sekali astaga, Apakah benar ini rumah baru? Ini terlihat seperti rumah yang berpenghuni. Bersih, rapi, harum, dan yang paling utama adalah desain interiornya sangat bagus." Andrew tidak bisa untuk tidak memuji apa yang sedang dilihatnya sekarang.
Tidak jauh berbeda dengan Alan, mungkin mulutnya tidak mengatakan kekagumannya seperti Andrew tapi binar di matanya tidak bisa disembunyikan. Sesekali juga ia berdecak kagum pada struktur rumah baru ini dengan segala yang terdapat didalamnya. Seperti sudah terencana sangat baik.
Di sebelahnya, Future justru terlihat diam saja dengan pandangan menelusuri keseluruhan sudut di dalam rumah tersebut. Tidak melewatkan satu titik pun, dan memindai benda-benda ada yang terdapat di sekitarnya. Terlihat dari kilatan cahaya yang keluar dari bola matanya. Dan Alan menyadari itu.
"Kau memindai seisi ruangan Future?" tanya Alan.
Andrew yang Mendengar pun langsung mengalihkan pandangannya ke dua sahabatnya disampingnya itu.
"Iya, Alan," jawab Future singkat.
Sejenak Alan menganggukkan kepalanya beberapa kali, kemudian ia kembali bertanya, "Bagaimana, Apa kau melihat sesuatu yang aneh di sini?"
"Tidak ada." singkat, jelas, padat. Ciri khas Future sekali.
"Future, apakah sistemmu dapat mensensor dan memindai keseluruhan dari benda-benda yang ada di rumah ini?" Andrew bertanya.
"Seperti apa misalnya yang kau inginkan?"
"Bagaimana dengan keamanan yang terdapat di rumah ini? Mungkin kau bisa menyadari jika terdapat hal-hal yang kurang tepat di sekitar sini."
Drrtt drrtt ...
Klik klik!
Kedua mata Future mengerjap beberapa kali, saat kilatan biru kemerahan keluar dari sana, salah satu telapak tangan Future mengeluarkan mini screen yang terdapat jajaran kalimat di dalamnya.
"Lihat, ini adalah sistem keamanan yang terpasang di rumah ini." Future mengatakan sembari mengangkat telapak tangannya menghadap ke arah Alan dan Andrew.
"Sensorku melacak adanya jaringan yang terpasang di setiap penjuru sudut. Jaringan ini ada karena beberapa alat keamanan yang memiliki fungsi kuat. Beberapa kamera tersembunyi terpasang di sudut-sudut tertentu, selain itu rumah ini juga merupakan smart house. Semua alat dan benda yang berada di dalam rumah ini bekerja secara digital."
"Digital? Maksudmu Future?" Andrew masih bingung dengan apa yang Future jelaskan.
Sementara di sebelahnya Alan memilih diam dan mendengarkan dengan baik-baik.
"Iya, Andrew. Rumah ini dilengkapi dengan sistem voice to work. Kita bisa melakukan hal-hal kecil apa pun itu hanya dengan mengatakannya saja. Kamera pengintai, alat penyadap suara, sirine jika terjadi kebakaran atau kebanjiran, dan bel tersendiri yang akan berbunyi jika terdapat orang baru di sekitar rumah ini."
"Wow! Bagaimana mungkin?"
"Ingin mencobanya?" Future menawarkan.
"Kau serius?"
"Tentu saja, Andrew."
"Oke, baiklah. Kalau begitu coba buka pintu yang ada di depan sana." Andrew memerintah seilah pintu di depan mereka akan terbuka sesuai yang ia ucapkan.
Namun, hening.
Krik krik ...
Krik krik ...
Pintu yang Andrew tunjuk di depan sana tidak terbuka sama sekali. Dan membuat lelaki itu mengernyitkan dahinya.
"Mana? Kau bilang mereka akan bekerja hanya dengan menggunakan suara. Tapi lihat, pintu itu saja tidak mau terbuka saat aku mengatakannya," koreksi Andrew.
"Katakan, 'hai Zee' sebelum memerintah apa pun itu. Mereka akan bekerja sesuai perintah dari Zee. Sensor yang terpasang menggunakan kata kunci Zee untuk bekerja," jelas Future.
"Zee?" Andrew masih bingung.
"Bisa kucoba?" Alan ikut menimbrung.
"Silahkan Alan."
"Oke," sahutnya cepat. Sebelum itu Alan melihat ke sekelilingnya dulu. Saat tatapannya jatuh pada wastafel yang berada di ujung ruangan sana dengan cermin di sisinya, Alan langsung mengatakan kalimat yang muncul di pikirannya.
"Hai Zee, nyalakan wastafel yang terdapat di ruang makan!"
Tidak sampai satu detik, kran air di depan sana pun menyala. Air sungguhan keluar dari dalamnya dan itu membuat Alan serta Andrew berseru heboh.
"Jadi benar-benar bekerja?" Saking terkejutnya, mulut Andrew sampai menganga lebar.
"Oke, Zee. Matikan!"
Tuk!
Kucuran air yang mengalir di depan sana langsung berhenti.
"Jadi seperti itu cara kerjanya? Wah ... bagaimana mungkin Clava memberi kita rumah seperti ini. Pasti biaya sewanya mahal sekali," ungkap Alan.
"Apa kita harus membayar rumah ini juga, Alan?" tanya Future dengan tampang polosnya.
"Hei tentu saja, tidak ada yang gratis di bumi ini kau mengerti? Jika kita mendapatkan sesuatu maka kita harus membayarnya. Begitulah cara kerja di bumi."
"Tapi, Alan. Aku tidak mengerti dengan sistem yang seperti itu," jawab Future.
"Ya, makanya itu aku memberitahukannya padamu."
Ting!
Ponsel Alan berbunyi, notifikasi dari seseorang yang dengan cepat ia buka.
"Pesan teks dari Clava," ucap Alan.
"Apa katanya, Al?" Andrew bertanya.
"Aku akan ke sana dua jam lagi, Kak. Future akan memberitahukan semua yang terjadi dalam rumah itu. Dan, semoga suka ya." Begitu kalimat yang tertera di sana.
"Jadi benar ya rumah ini smart house? Wah ... aku masih tidak menyangkanya." Andrew masih tidak bisa berhenti terkagum-kagum dengan apa yang dilihatnya sekarang.
Selama ini ia melihat yang seperti ini hanya dalam film, atau sinetron. Tapi sekarang, ia menyaksikannya langsung bahkan mengeksekusinya secara nyata.
"Kira-kira berapa harga sewa rumah ini ya, And?" Suara Alan kembali terdengar di tengah nuansa khayalan Andrew.
Andrew segera memutar kedua matanya, "Kau masih memikirkan hal itu, Al? Sudahlah nikmati saja dulu lagi pula ini rumah terbaik untuk tempat tinggalmu dan Future. Dan Kalau menurutku nih ya, sepertinya Clava tidak meminta biaya untuk ini semua."
"Kau seyakin itu?"
"Alan, coba berpikir maju sedikit saja. Kalau menurutku Clava melakukan ini bukan hanya untukmu dan Future saja. Tapi ini juga menyangkut pekerjaan kita bertiga. Karena tanpa kita sadari, kalau kita sudah berjalan sejauh ini untuk membela Future. Banyak hal yang sudah kita korbankan demi robot ini, begitupun dengan Clava yang sudah banyak berjuang untuk kita semua," jelas Andrew panjang lebar.
"Kita sendiri yang memilih jalan seperti ini, kita yang sudah memilih untuk memelihara Future dan menyelamatkannya dari orang-orang yang mungkin saja memiliki niat tidak baik terhadapnya. Ini di luar kuasa kita, Al, maka jalan satu-satunya kita sendiri jugalah yang harus menyelesaikan ini semua."
Benar, perkataan Andrew memang benar. Rencana ini semua berawal dari dirinya sendiri. Dia yang menemukan Future dan dia yang membawa gadis itu ke rumahnya. Dia sendiri jugalah yang memutuskan Future tinggal di rumahnya.
Mungkin kalau malam itu mereka tidak bertemu, kehidupan Alan tidak akan serumit ini. Namun, akhir-akhir ini ia mulai menikmati apa yang terjadi padanya sekarang.
Alan pribadi merasa banyak hal-hal baru yang terjadi dalam hidupnya dan itu semua sangat bermakna. Dengan hadirnya Future dalam kehidupannya, Alan merasa dia mulai bisa menjalani kehidupan bagaimana pun ke depannya.
Memang ini tidak mudah tapi, sekolah menggembleng jiwa kemanusiaan Alan secara menyeluruh. Kualitas dirinya pun diuji secara langsung.
"Alan, apa lagi yang kau cemaskan? Jangan bertingkah seperti pengecut, ingat ini semua bermula darimu, karenamu!" Kalimat sarkas Andrew ia lontarkan pada Alan.
Pikiran Alan yang sejak tadi melanglangbuana entah ke mana-mana pun seketika kembali ke peraduannya.
"Ck, sepertinya memang pikiranmu saja yang berlebihan, Dal. Aku justru sedang sibuk menyusun strategi kita selanjutnya," jawab Alan setelah lama hening.
Ya, dia berbohong. Dari pada Andrew tahu Apa yang sebenarnya yang sedang ia pikirkan. Maka urusannya bisa lebih panjang dari ini. Jadi, untuk itu Allah lebih memilih untuk mengalihkan topik pembicaraan mereka.
"Masalah biaya rumah jangan kau pikirkan segitunya, Al. Perkiraanku nasih sama, kalau ini semua tidak dipungut biaya sama sekali. Tapi, kalaupun Clava memang meminta bayaran aku akan membantumu membayar sewa rumah. Karena yang paling terpenting saat ini adalah keselamat kita semua."
Kalimat itu membuat Alan merasa tersanjung. Persahabatannya dengan Andrew selama ini yang kadang dipenuhi oleh cek-cok atau pemikiran mereka yang tidak sejalan tapi, sejauh ini Andrew Justru orang yang paling mengerti dirinya.
Meski prinsip mereka berbeda tapi banyak kesamaan di antara mereka berdua yang membuat hubungan persahabatan mereka semakin baik. Terutama pada hobi dan kegiatan yang mereka sukai.
"Tidak perlu, And. Biar aku saja yang urus soal biaya. Terima kasih karena kau sudah baik sekali padaku." Kalimat Alan yang malah membuat Andrew mengernyitkan alisnya. Matanya pun memicing curiga.
"Kau ini apa-apaan sih, Al. Sudah seperti gadis ting-ting saja tata bahasamu itu. Sudahlah, aku geli. Lebih baik sekarang susun-susun barangmu di rumah ini," ungkap andrew.
"Oke," kata Alan.
"Kita lihat lantai atas dulu Alan, Andrew. Memastikan apakah sistem keamanan di atas juga sebaik di bawah." Itu Future dengan pandangannya yang mengarah penuh pada dua sahabat di sana.
"Setuju, kita lihat dulu lantai duanya," sambung Andrew.
Alan mengangguk saja, "Ayo," katanya.
Dan sesampainya mereka di lantai dua rumah pintar itu, Alan dan Andrew dibuat semakin takjub pada cara kerjanya yang benar-benar to the max sekali.
Satu, saat mereka menjejakkan kaki di anak tangga pertama. Sistem sensor dari tiap anak tangga akan menyorot. Membuat kemunculan warna-watna yang indah di sana. Dan juga munculnya setiap sidik jari dari kaki-kaki tersebut. Jika bekas jejak kaki di sana berwarna merah maka bel di ujung atas akan berbunyi keras. Itu menandakan orang tersebut adalah orang asing dari rumah ini.
Dua, berdasarkan penjelasan Future yang didengarkan baik-baik oleh Alan dan Andrew, yang bisa masukke rumah ini hanya orang-orang yang sudah terverifikasi di perangkat utama dalam sistem sensor rumahnya. Sepertinya itu adalah perbuatan Clava yang mengatur hanya mereka berempat sajalah yang bisa berada di sana.
Tiga, jika orang asing mencoba masuk ke rumah ini, setiap jendela akan otomatis terkunci dengan tirai besi yang hanya bisa dibuka dengan sensor sidik jari sang pemilik atau suara pemilik.
Siapa pun yang nekat menerobos akan kehilangan energi mereka karena, di setiap sudut rumah ini dilengkapi semacam senyawa yang dapat menyedot kekuatan manusia. Juga, energi listrik kecil yang berfungsi menyetrum ke saraf pusat. Sehingga, jika mereka memaksa maka kerugian akan terjadi pada diri mereka sendiri.
Dan poin-poin seterusnya yang lebih mengejutkan lagi. Semua itu Future jelaskan secara rinci dan detail tanpa terlewatkan satu pun.
Well, sistem keamanan yang luar biasa dengan penataan ruangan yang sempurna. Belum lagi setiap benda-benda yang berada di sana hampir semuanya adalah benda pintar.
Maka Alan harus mengucapkan terima kasih pada Clava nanti.
***