Smart house, rumah baru yang menjadi tempat tinggal Alan dan Future saat ini adalah rumah pintar hasil rancangan Clava sendiri. Mulai dari desain interior dan segala perlengkapan yang berada di sana adalah imajinasi Clava yang ia wujudkan.
Awal mula ide smart house muncul di benak Clava adalah ketika ia yang saat itu masih berusia 16 tahun melihat sebuah film dengan tema futuristik. Dan segala benda yang terdapat di rumah itu sama memiliki kecerdasan yang sama seperti robot.
Dalam film itu juga Clava mengetahui kalau banyak hal yang bisa dibangun hanya dengan kecerdasan AI. Dalam pikiran Clava saat itu, tentu saja hal semacam itu sangatlah menarik.
Usianya memang baru menginjak 16 tahun saat itu tapi, karena rasa penasaran Clava yang tinggi ia bertekad suatu saat akan memiliki rumah yang seperti itu.
Di usia ke-16 tahunnya, tepat pada malam ulang tahun pernikahan kedua orang tuanya, acara kecil-kecilan dibuat oleh mamanya untuk merayakan. Sebuah makan malam romantis bersama putri sematawayang mereka. Namun, malam itu Clava menolak dengan alasan ingin membaca buku terbaru yang ia dapatkan dari pamannya, Mr. Jazz yang sejak Clava kecil sudah menyayanginya.
Well, sejak Clava memasuki usia di TK, kegemarannya adalah membaca dan itu berlangsung sampai usia Clava saat itu. Kedua orang tuanya juga tidak bisa membantah jika itu berhubungan dengannya.
Karena keinginan Clava yang kuat menolak sehingga kedua orang tanya pun tidak bisa menolak. Berakhir dengan acara malam itu hanya dirayakan oleh mama dan papanya.
Malam yang hangat di kamar anak remaja berusia memasuki fase dewasa, saat itu ketika Clava tengah asik dengan kegiatannya sebuah ingatan mengenai rumah pintar yang ditontonnya pagi tadi di televisi kembali membayang-bayanginya.
Dengan cepat Clava turun dari tempat tidur dan meraih laptopnya di atas meja belajar. Lampu kamar sengaja ia matikan dan hanya menyalakan lampu belajar yang menyorot sepenuhnya ke arah meja dan buku yang ia buka.
Di sana, Clava meraih pensil, pulpen, penggaris, dan sebuah buku gambar besar yang biasa ia gunakan untuk melukis. Menggambar sketsa kotor dan terus menarikan setiap jemarinya di sana. Sesekali juga ia mencari referensi bentuk-bentuk pola yang unik di internet.
Selesai dengan sketsanya di kertas, satu jam lebih yang gunakan untuk menggambar itu semua, Clava memindahkan gambarnya tersebut ke dalam laptop dan kembali merancang ulang di sana. Menambah atau mengurangan beberapa hal yang menurutnya tepat.
Clava dengan cepat menyelesaikan gambarannya secara penuh. Belum terarsir seluruhnya karena ketika ia sedang konsentrasi tiba-tiba saja rasa kantuuk menyambanginya. Dan ia pun memutuskan untuk berhenti, melanjutkannya kembali besok.
Hari besok itu datang dengan cepat. Sepulangnya dari sekolah Clava tidak absen mengerjakan rumah rancangannya dengan segala macam detail teknologi canggih yang ia sesuaikan di sana.
Mulai dari menggambar, membuat kerangka, dan menyusun semua ide-ide keren menggunakan bantuan teknologi demi membangun rumah yang bisa dijuluki smart house, itu semua dimulai saat Clava masih berusia 16 tahun.
Setiap harinya, tiap minggu, tiap bulan, Clava akan terus mencari dan menelusuri ide-ide unik yang ia inginkan sendiri.
Kegagalan dan ketidaksempurnaan sering kali terjadi, membuatnya terkadang merasa lelah dan sia-sia. Namun, karena tekad yang kuat pada sesuatu yang ia kehendaki maka, Clava tidak menyerah.
Jika lelah ia akan berhenti sejenak, jika bosan ia akan mencari angin keluar, jika marah dan sedih karena ketidakstabila disetiap prosesnya ia jumpai maka, Clava akan menepi. Yang makskudnya berhenti sejenak dan merefresh kembali pikirannya.
Terakhir, tak jarang pula Clava mengalami stuck ide atau rasa malas yang menghampirinya namun, lagi-lagi ia kembali mengingat pada keinginannya yang begitu ingin ia dapatkan.
Sebuah ide masa depan yang ia pikir akan sangat berguna untuknya nanti di usia yang mulai memasuki dunia orang dewasa.
Belajar dari kedua orang tuanya dan pamannya yang merupakan orang-orang sukses, Clava jadi semakin termotifasi. Jika bisa, ia ingin menjadi sesuatu yang lebih dari yang sudah kedua orang tuanya atau bahkan yang sudah pamannya dapatkan.
Ya, singkatnya Clava yang memulai. Dari usia 16 tahunnya yang telah memikirkan konsep rumah yang luar bisa membuat Andrew dan Alan serta Future yang mendengarkan ceritanya di sana bertepuk tangan.
Waktu memasuki siang, Clava sudah tiba sejak tiga puluh menit yang lalu.
Begitu kedatangannya ditodong berbagai macam pertanyaan dan kalimat-kalimta yang berlebihan dari Alan dan Andrew, ia memutuskanuntuk menceritakan awal mula ia bisa memiliki rumah seperti ini.
“Jadi, mulai sekarang Kakak jangan merasa sungkan lagi, Kak Alan. Aku tidak memungut biaya sama sekali kok, Kak. Lagi pun ini adalah untuk kepentingan kita bersama. Aku juga terlibat bersama kalian semua. Dan hanya dengan cara ini aku bisa membantu. Selebihnya kita akan berusaha bersama,” jelas Clava.
“Tapi tetap saja ini sangat tidak adil untukmu, Clava. Kau yang sudah mengidam-idamkan rumah seperti ini sejak remaja dulu tapi, pda akhirnya yang menepatinya justru aku dan Future.” Alan kembali menyampaikan rasa tidak enak hatinya.
“Tidak masalah, Kak. Begini, dulu aku memang sangat menginginkan rumah seperti ini tapi, bukan untuk kutempati sendiri. Mama dan Papa pasti tidak akan mengizinkanku tinggal sendirian.”
“Lalu, apa kedua orang tuamu tahu mengenai rumah ini?” tanya Andrew.
“Tentu saja tidak, untuk menyembunyikan Future kita harus mencari tempat yang paling aman,” jawab Clava.
“Terus di telepon tadi kau bilang jangan mempermasalahkan mengenai biaya karena uang sakumu tidak berkurang sedikit pun untuk rumah ini. Apa maksudnya?” Pertanyaan yang sejak tadi mengganggu pikiran Alan. Dan akhirnya pun ia ungkapkan.
Clava terkikik kecil, “Aku bicara begitu ya?”
“Jangan menutup-nutupinya dariku, Clava. Aku akan merasa semakin tidak enak kalau seperti itu.” Alan mempertegas.
“Oke, Kak. Santai aja kok, gak masalah sama sekali.”
“Awalnya, rumah ini adalah hadiah ulang tahunku yang ke-17 dari Papa dan Mama. Tapi, karena aku merasa belum pantas anak seusiaku memiliki rumah sendiri jadi, aku mau rumah ini yang waktu itu menjadi hadia ulang tahunku untuk dijual saja.”
Menjeda sejenak, Clava sembari mengingat-ingat masa saat dulu ia bisa mendapatkan kembali rumah ini.
“Jadi, sudah dijual?” timbrung Andrew.
“Tadinya, Kak. Tapi, diam-diam aku membeli rumah ini melalui kerja sama mega proyek yang pernah kutangani saat aku berusia 16 tahun. Dan sebagai imbalannya, aku mau orang itu membayarku dengan cara membeli rumah ini yang waktu itu Papa jual. Tapi, semua berkasnya harus atas namaku.”
Bukan sebuah perjanjian bayaran tapi, bayaran atas pekerjaan Clava yang saat itu masih berusia sangat muda namun mampu mengurus sebuah mega proyek yang hanya bisa dipegang oleh orang-orang dewasa. Kejeniusannya yang ia miliki sejak kecil dan tidak pernah Clava publikasikan secara resmi.
Bahkan, Mama dan Papa pun tidak tahu kalau disaat umur segitu dulu, Clava pernah menangani mega proyek sebuah perusahaan terkenal.
Karena kemampuannya yang mumpuni, dan juga keberhasilan dalam kerja sama tersebut, pihak perusahaan setuju membayarnya dengan cara yang Clava mau.
Satu unit rumah seharga ratusan juta bahkan lebih, yang mulanya biasa saja tapi kini disulap Clava menjadi smart house yang luar biasa. Dan itu semua adalah hasil buah pikirnnya sendiri. Selebihnya ia akan mencari tambahan ide dengan referensi membaca buku atau melihat artikel di mesin pencarian.
“Jadi, mulai dari rumah ini dan segala isinya bukan aku yang mengeluarkan biayanya. Perusahaan yang pernah bekerja sama denganku tulah yang membelinya dan mengubah surat-menyuratnya semua menjadi atas namaku.”
Andrew dan Alan lagi-lagi dibuat takjub oleh personality Clava. Bukan hanya itu, keduanya pun tampak sangat kagum terhadapnya.
Usia yang masih amat sangat muda, bayangkan saja 16 tahun sudah terjun ke dunia bisnis dan memegang mega proyek?
“Jangan-jangan kau ini salah satu dari the future juga ya, Va? Sepertinya aku tidak akan mmungkin bisa mempercayaimu manusia dengan akal cerdasmu yang seperti itu.” Andrew mulai meracau.
Clava hanya tertawa kecil menanggapinya.
“Ya ... kupikir itu adaah rezeki saat itu, Kak. Disaat aku sangat menginginkan konsep rumah yang seperti dalam khayalanku, mereka datang menawarkan kerja sama itu dan menyanggupi syarat yang kupinta. Jadi, yasudah kupikir itu semua memang sudah digariskan padaku.”
Prok prok prok ...
Tepuk tangan meriah memenuhi ruang tamu rumah Clava tersebut. Oh, atau mungkin bisa disebut sebagai basecamp mereka?
Well, mulai hari ini Alan dan Future yang akan tinggal di sana. Sementara Clava dan Andrew tetap pada rumah mereka masing-masing. Namun, tidak sedikit pula keduanya juga harus datang ke sana karena misi mereka.
Meskipun secara sah, rumah ini adalah milik Clava.
“Lalu, apakah sampai detik ini kedua orang tuamu tidak tahu mengenai mega proyek itu?” Alan bertanya.
Clava menggelengkan kepalanya, “Tidak, Kak. Dan menurutku akan lebih bagus kalau mereka sebaiknya tidak tahu saja sampa kapan pun.”
“Kenapa begitu?” Kali ini Future yang angkat suara.
“Karena ... oh ya, satu hal yang harus kalian ketahui tentangku sedikit. Mama dan Papaku cukup dekat dan berhutang budi pada Paman jadi, aku tidak mau kalau kedua orang tuaku menegetahui ini aku akan menjadi boneka mainan Paman terus,” jelasnya.
“Ya, aku juga bisa melihat gurat licik dari wajah pamanmu itu,” celetuk Alan tiba-tiba. Tak memedulikan nadanya yang sarkas meski di sana ada keponakannya langsung.
“Dan mengenai rumah ini? Mereka juga tidak tahu apa pun?”
Lagi-lagi gelengan yang Clava berikan.
“Tidak, yang Mama dan Papa tahu adalah kalau yang membeli rumah ini adalah orang lain, bukan aku.”
Semakin salut saja keduanya dibuat oleh gadis 19 tahun ini.
“Jadi, ngomong-ngomong kau sudah menyiapkan rumah seperti ini sejak tiga tahun lalu?” tanya Alan.
“Ya, kira-kira seperti itu.”
“Aku secara pribadi ingin menyampaikan terima kasih banyak padamu Clava karena mengizinkan aku dan Future tinggal di rumahmu untuk sementara dan juga, semua yang sudah kau perjuangkan untuk kami,” ungkap Alan tulus dari lubuk hatinya yang paling dalam.
“Bukan apa-apa, Kak. Kita kan satu tim sekarang. Jadi kita sudah menjadi keluarga,” sahut Clava.
Pelajaran baru yang bisa ketiganya ambil dari sini bahwa, orang baik akan dipertemukan dengan orang baik pula.
Sebuah keluarga tidak hanya karena hubungan darah yang mengalir dalam tubuh satu sama lain, melainkan karena satu frekuensi dan rasa kemanusiaan yang besar. Semua yang berada dalam jalan yang benar pasti akan menjadi satu kesatuan yang solid.
Maka, sebaik apa pun kita jika di mata seseorang yang tidak benar akan tetap salah. Kemudian sebaliknya.
Pelajaran baru yang sanga bermanfaat, tidak hanya pada Alan, Andrew, dan Clava tapi juga pada Future yang sejak tadi merekam dengan baik pembicaraan mereka bertiga di sana. Yang bisa ia input ke datanya untuk menjadi memory yang pernah ia pelajari di bumi.
Jika nanti ia kembali, maka hikmah kemanusiaan itu akan tetap tertanam dalam dirinya.
***
Waktu berlalu dengan cepat, sekarang hari sudah beranjak malam. Mengenai rumah baru sudah beres dan kini ketiga muda-mudi itu minus Future sedang berada di Doujav Corp.
Ruang laboratorium masih terpantau ramai dengan hilir mudik para pekerja yang memadati kubiknya masing-masing. Bagian tim penelitian alat berat juga tampak konsen pada pekerjaan mereka. Dan pada bagian yang lainnya.
Di sana, di salah satu sudut ruangan yang terdapat meja kerja tunggal dengan buku-buku yang menumpuk rapi di atasnya, ada Alan yang tengah memeriksa beberapa laporan kerjanya.
“Kalau ini kubuat yang seperti ini saja bagaimana ya? Beberapa rancangan pusatnya juga belum diverifikasi pasti oleh perusahaan. Jadi akan lebih bagus kalau aku membuat langkah barunya saja.” Alan fokus pada materi yang ia baca sembari memahami konsep dan berunding dengan dirinya sendiri.
Jam di dinding menunjukkan pukul setengah delapan malam, karena malam ini ia tidak kebagian shif malam itu berarti Alan tidak lembur. Jadi, setengah jam lagi ia akan pulang.
Dua buah cup kopi bahkan sudah habis Alan tenggak demi mengusir rasa kantuk yang menyambanginya, padahal masih jam setengah delapan. Tapi, karena kesibukkannya yang padat beberapa hari ini membuatnya sering kali tidur sampai larut atau bahkan hanya kebagian tidur selama 3 jam saja.
Namun, saat itu ketika Alan sedang fokus pada kegiatannnya yang menyusun ulang konsep, salah satu pekerja menghampirinya.
“Alan, Mr. Jazz memanggilmu. Di ruangannya katanya,” ucap orang tersebut kemudian langsung pergi begitu saja tanpa menunggu balasan kalimat Alan sebelumnya.
Alan yang agak terkejut pu tentu saja merasa bingung. Kenapa geragan Mr. Jazz memanggilnya secara tiba-tiba seperti ini? Dia masih banyak pekerjaan yang belum selesai.
Alan mengusap wajahnya kasar, “Apa ingin menanyakan robotku lagi ya? Astaga masih cukup waktu kenapa harus ditanya terus-terusan sih,” omelnya sembari menutup berkas yang ia baca.
Kemudian beranjak dengan wajah malas-malasan. Dalam hati Alan berdoa semoga saja tidak ada hal yang begitu penting sehingga akan memakan waktu yang lama untuk mereka berbincang. Dia sangat menginginkan pulang cepat. Tidur dan dapat beristirahat dengan cukup.
Semoga saja kesampaian.
“Kak, Alan?”
Di tengah perjalanan, seseorang memanggil namanya dari arah yang berlawanan dengannya. Karena terlalu lelah dan malas lagi banyak bicara, Alan sampai tidak memerhatikan jalannya di depan. Ia juga tidak peduli simpangan dengan siapa saja.
Namun saat orang ini memanggil namanya, mau tidak mau Alan menatapnya.
“Clava?” Adalah orang yang memanggil namanya barusan dan saat ini sedang berdiri di hadapannya.
“Hai, Kak lembur ya?”
“Tidak, seharusnya sebentar lagi aku pulang tapi, Pa- ekhem!” Mereka sedang berada di kawasan kantor dan Alan harus bisa menjaga sikapnya.
“Mr. Jazz memanggil ke ruangannya. Kau sendiri, lembur?” tanya Alan balik.
“Tidak, Kak. Ngomong-ngomong aku juga baru habis dari ruangan Paman. Kakak ada keperluan apa?”
Alan mengendikkan kedua bahunya. “Mudah-mudahan saja bukan persoalan yang berat. Aku sudah bahagia sekali diberi kabar tidak harus lembur dan bisa pulang cepat,” ungkap Alan.
“Semangat ya, Kak. Aku dan Paman hanya membicarakan soal proyek baru yang akan segera Doujav Corp terima tapi, dari cara bicaranya Paman seperti mengandung makna lain. Sebaiknya Kakak hati-hati, jagan sampai terpancing dengan kalimatnya yang menjebak.”
Pasti soal Future, apakah Mr. Jazz dan Megan sudah menelusuri area kawasan rumah sewanya yang lama? Apakah mereka menemukan bukti kecil yang menunjuk kalau mereka ada sangkut pautnya dengan ini semua?
Oh pikiran berkecamuk itu lagi yang memenuhui serebrum Alan. Mengganggu aktifitasnya yang sudah rumit saja.
“Oke, baik. Terima kasih informasinya, Va.”
“Kalau begitu aku duluan ya, Kak.”
“Iya, silahkan,” jawab Alan singkat.
Disaat keduanya akan melanjutkan perjalanan mereka, Megan datang menghampiri. Perempuan yang merupakan sebangsa Future itu berhenti tepat di sebelah keduanya.
Deg!
Ketika menoleh ke sisi masing-masing, baik Alan maupun Clava sama-sama terkejut dengan kehadiran Megan yang tiba-tiba. Terlebih Clava, sekarang ia mengetahui siapa jati diri perempuan yang berdiri di sebelahnya ini. Setelah beberapa tahun mereka bekerja bersama, dan ternyata semuanya adalah permainan pamannya.
Clava terlihat tenang mesi sebenarnya ia cukup terkejut. Sementara di sebelahnya, Alan sedikit terlihat seperti sedang canggung.
Dalam situasi seperti ini seharusnya ia pandai mengendalikan diri. Tapi, mendadak pikirannya langsung tertuju pada Future dan ia juga mengingat kalau Megan adalah bangsa yang sama dengan Future. Itu membuatnya sedikit merasa terbebani.
“Selamat malam, Ibu Megan ...”
Benar, bersikap biasa saja.
***