Ruang pribadi Benzie, pukul 20.00 WIB. Doujav Corp.
Sebuah robot dengan teknologi rendah dan tinggi memiliki beberapa spek yang dapat dimanipulasi dengan jenis yang sama.
Berdasarkan riset yang sudah terbukti kebenarannya, beberapa aspek untuk memanipulasi perangkat robot tersebut hanya digunakan pada beberapa bagian yang penting saja.
Berdasarkan kasus yang sering terjadi atau dialami bagi perancang robot, khususnya yang membuat robot jenis humanoid dan robot mobile. Mereka akan merancang manipulasi mulai dari struktural sampai pada susunan rangkaian robot itu sendiri.
Beberapa hal yang mencakup manipulasi robotik adalah karena ditemukannya komponen-komponen dasar sistem sensor yang tidak dapat bekerja dengan maksimal sehingga, dengan melakukan manipulasi tersebut beberapa aspek memungkinkan akan mengalami peningkatan yang drastis.
Bagi seorang robotik Enginer, merancang sebuah robot bukanlah hal yang rumit. Ilmu pengetahuan, pengalaman, dan praktek kerja nyata yang sudah mereka tempuh terlebih dahulu mengajarkan banyak hal dalam merancang robot yang sesungguhnya.
Jenis-jenis robot di muka bumi ini pun banyak sekali. Berbagai macam bentuk, karakter, dan keahlian serta fungsinya masing-masing.
Pada layar komputer yang tersaji di hadapan Benzie saat ini, benda elektronik tersebut menampilkan pembahasan tentang mengenai rancangan robot dengan teknologi tinggi yang dipelopori oleh para petinggi robotik Enginer dari seluruh dunia.
Salah satu pokok pembahasan yang menerangkan tentang bahwa setiap robot hasil manipulasi teknologi canggih akan memiliki beberapa titik kelemahan dan kelebihannya masing-masing.
Dilihat dari perkembangan zaman yang semakin maju saja, memungkinkan di masa depan bahwa robot-robot yang saat ini dibuat oleh para ahli tidak akan begitu penting dalam kehidupan sehari-hari manusia kecuali, mereka yang mempunyai integritas yang tinggi.
Dan melalui integritas itulah manusia akan memikirkan ulang dengan manipulasi robot yang mereka buat sendiri.
Begitupun yang terjadi dengan Benzie saat ini, mungkin hari ini dia memang sedang berada dalam titik suksesnya yang paling tinggi namun, tidak ada yang bisa menebak masa depan akan seperti apa. Sekeras apapun usahanya jika garis takdir berkata lain mungkin tidak akan pernah bisa sampai.
Dan ketakutan yang seperti itu seringkali bahkan hampir setiap hari terjadi pada Benzie. Bagaimana dengan kehidupannya di masa depan, karirnya yang mungkin saja akan meredup, dan yang paling menakutkan bagi Benzie sendiri adalah bahwa adanya penghianatan di antara relasi-relasi kerjanya yang lain.
98% dari 100% yang menjadi pokok utama kekhawatirannya saat ini adalah itu.
Oleh sebab itu, mulai dari sekarang Benzie banyak menyusun taktik dan strategi yang akan menguntungkan dirinya sendiri di masa depan.
Dunia semakin kejam, dan teknologi teknologi canggih yang lain pun akan bermunculan sendiri nantinya. Untuk sekarang yang menjadi di kepentingan utama Benzie adalah, dirinya yang mulai menyusun prospek-prospek proyeknya yang baru.
Mr. Jazz sudah memberikan proyek kerjasama yang menurutnya sangatlah bagus. Namun, alih-alih menerima semuanya dengan mudah begitu saja, Benzie justru melihat dari sudut pandangnya yang lain.
Mungkin Jika dia tergila-gila dengan uang dan harta, Benzie akan menerimanya dengan cepat namun sayang, bukan itu yang menjadi prioritasnya sekarang.
Kehidupan yang cerah serta masa depan yang bagus nantinya akan lebih menjamin kehidupan yang cemerlang untuk dirinya dari segala-galanya.
Oleh sebab itu Benzie tidak mudah percaya dengan banyak orang. Meskipun dia terlihat dekat dengan petinggi perusahaan tempatnya kerja sekarang, bukan berarti Benzie menyerahkan begitu saja segala kepentingannya hanya untuk konsumsi publik. Justru itu, akalnya dapat bekerja dengan cepat untuk memilah mana yang kiranya baik atau tidak.
Seperti yang sering terjadi saat ini misalnya.
Pesan teks, panggilan masuk, dan undangan-undangan penting dari perusahaan ternama yang tidak jarang Benzie abaikan begitu saja.
Drrtt drrtt ...
Seperti saat ini, ya, sekarang. Menit ini, detik ini.
Nama Mr. Jazz tertera di sana, panggilan masuk suara yang jelas-jelas merupakan dari bosnya di Doujav Corp. Tidak mau ambil pusing, Benzie mengambil benda pipih tersebut dan langsung mengangkatnya.
"Halo, Sir," ucapnya melalui panggilan telepon.
Mungkin orang lain bisa ia abaikan begitu saja tapi, untuk CEO Doujav Corp sekarang agaknya Benzie akan mengikuti permainan bosnya itu terlebih dahulu.
Mencari titik lengah baru setelahnya Benzie yang akan maju sendiri. Well, ia hanya ingin mencari kebenaran. Bukan menusuk atau menjebak siapa pun. Fungsinya tidak terlalu penting di sini, Benzie menyadari dirinya hanyalah figuran. Tapi, lebih dari karakter utama, pikirannya menangkap banyak sinyal dari orang-orang di sekitarnya selama ini.
Benzie yang diam tapi memerhatikan, Benzie yang selalu berkata iya padahal tengah mencari kepastian, dan Benzie yang kerap kali dicap anak emas Mr. Jazz, faktanya hanyalah boneka yang siap di lempar ke sana kemari.
Itulah Benzie yang sesungguhnya. Dan dia sudah mulai bosan dengan kehidupannya yang seperti itu terus jadi, sekarang mari hidupkan sedikit jiwa kompetitif dalan diri.
"..."
"Baik, Sir. Tapi maaf sebelumnya mungkin aku akan datang sedikit terlambat. Masih banyak sekali sisa pekerjaanku yang belum beres, Sir."
Iya, tepatnya masih banyak yang harus ia selidiki.
"..."
"Baik, Sir baik akan saya kirimkan secepatnya kepada Anda."
Klik!
Sambungan pun terputus. Perhatiannya kembali tertuju pada layar komputer dan beberapa berkas yang ada dihadapannya.
Sampai pada sebuah pesan teks baru kembali menyambangi ponsel genggamnya. Yang tertera nama pengirimnya adalah Justin. Tanpa pikir panjang langsung saja Benzie buka pesan tersebut.
"Nomor serinya bercabang?" gumam Benzie.
Segera ia ketik balasan pesan teks kepada Justin. Tak lama setelahnya kembali masuk pesan teks masih dari orang yang sama.
Kali ini yang masuk berupa pesan gambar dan segera Benzie lihat isinya.
"Jadi betul nomor serinya sudah dimanipulasi."
Pesan gambar tersebut menampilkan kode-kode dan jejak pelacakan yang berasal dari suatu sistem yang terkunci.
Membuka salah satu menu pada aplikasi yang terdapat di dalam komputernya, Benzie segera melakukan pelacakan tunggal disana. Nomor seri dan kode EvexC yang tertera di sana pun Benzie buat sama dengan hasil yang Justin kirimkan kepadanya.
Sepuluh menit ia fokus pada layar komputernya dan jemari yang terus menari di atas keyboard.
Tap!
Enter!
Drrtt ...
Dengungan kecil terdengar dari salah satu aplikasi yang Benzie dibuka. Tidak lama setelahnya muncul deretan huruf dan angka lengkap dengan kode-kode dan simbol yang menjabarkan serta mengungkapkan identitas kode serta nomor nomor seri tersebut.
Berlanjut ke halaman berikutnya, Benzie membuka sistem akses rahasia yang hanya bisa dibuka oleh para anggota hacker handal. Salah satu halaman tersebut ternyata kosong dan hanya berisi sisa-sisa penelusuran tak Bertuan.
Dengan kesal Benzie mengklik cepat ikon enter sampai halaman berikutnya muncul dan mengeluarkan data yang ia cari. Namun tetap tidak berhasil.
"Ck, ini kenapa masih belum bekerja juga sih? Seharusnya ada beberapa jejak yang dapat terlacak," gerutunya.
Padahal dari awal jejak yang ditinggalkan para hacker tidak bertanggung jawab itu masih ada di sana. Benzie pun masih sempat membaca datanya, tapi kenapa tiba-tiba saja menghilang tanpa kejelasan seperti ini.
"Kalau begitu perkiraanku tidak salah, selain dimanipulasi, data dari beberapa jaringan yang terputus ini cukup valid."
Klik!
Enter!
Dan ...
"Oh! Apa ini?!" histeris Benzie.
Matanya menatap penuh pada layar kamputer yang menampilkan potongan-potongan kecil suatu kerangka makhluk tertentu.
"KYZe9090, ini nomor seri yang pertama."
Kemudian berlanjut pada penelusuran berikutnya. Bahasa-bahasa pemrograman bermunculan memenuhi screen komputer. Tak terlihat kesulutan sama sekali, Benzie langsung mengupas habis semua yang ia ketahui.
Axedc231, dvE82y3, dan lain-lain sebagainya kode yang Benzie catat pada kertas di sebelahnya. Ya, semua anggota tubuhnya bekerja.
Mata bergerak fokus pada layar komputer dan kertas bergantian. Jemari yang lihai menari di atas keyboard dan juga berpindah menyalin sesuatu menggunakan pena. Di baeah sana juga kakinya tidak bisa bergenti bergerak karena saking fokusnya.
Sampai pada sebuah ketukkan dari arah pintu ruangannya terdengar, pada saat itu juga fokus Benzie terpecah.
"Ck, siapa sih," emosinya.
Tatapan sedingin gunung es pun Benzie hunuskan pada daun pintu yang menimbulkan suara tersebut. Saking tajamnya tatapan yang Benzie buat seseorang yang muncul setelah pintu terbuka pun langsung tersentak ke belakang.
"Ha ... hai Kak. Sepertinya aku mengganggu Kakak ya?"
Fiuh!
Mau tidak mau, sabar atau tidak Benzie terpakasa melunturkan tatapan mautnya tersebut. Di depan sana, Clava muncul bersama dengan map cokelat di tangannya.
"Clava, masuk dulu," katanya lembut.
Tidak mungkin kan dia bersikap sesukanya di depan Clava yang jelas-jelas adalah keponakan dari bosnya.
Clava berjalan masuk, mendekat dan duduk di kursi yang berhadapan langsung dengan Benzie setelah si pemilik ruangan mempersilahkannya terlebih dahulu.
"Maaf ya kalau membuatmu terkejut tadi," ungkap Benzie menyatakan permohonan maafnya.
"Tidak, Kak. Seharusnya aku yang meminta maaf karena sudah mengganggu Kakak." Clava menjawab dengan nada penyesalan.
Hening. Detik jarum jam pada meja kerja Benzie sampai terdengar lebih jelas dari sebelumnya. Karena di antara mereka benar-benar tidak ada yang membuka suara. Tenggelam dalam suasana hening nan canggung yang menggelitik.
Tidak tahan dengan situasi yang terjadi, Clava berinisiatif terlebih dahulu dengan meletakkan amplop yang ia bawa ke atas meja.
"Ini berkas dari kepala audit white hat hack yang harus Kakak baca. Bapak Axel sendiri yang memberikannya langsung kepadaku atas saran dari Mr. Jazz," jelas Clava.
Yang Benzie terima dengan kepala mengangguk. Dan ia raih amplop tersebut untuk ia lihat dalamnya.
Sementara Benzie melihat isi dari amplop tersebut, Clava justru sibuk dengan benak dan batinnya yang gundah.
"Selama ini Kak Benzie sudah mengetahui jati diri Megan yang sesungguhnya tapi, kenapa dia masih bisa bersikap setenang ini? Apa dia juga memiliki tujuan yang sama dengan Paman? Oleh karena itu mereka sepakat menyenbunyikan fakta tentang jati diri Megan?"
Tapi, kalau dipikir-pikir untuk apa juga Benzie memberitahukan kepada publik kalau Megan adalah bangsa the future yang datang dati masa depan. Bukannya percaya, yang ada orang-orang malah menertawakan pernyataannya.
Kalaupun memang ada yang percaya, kemungkinan terburuk yang terjadi adalah media yang menyelidiki tanpa kenal lelah mengenai siapa Megan yang asli. Mencari informasi sampai ke akarnya.
"Dan Kak Benzie juga buka tipe orang yang akan merasa bangga dengan apa yang ia temukan. Kalau faktanya saja jati diri Megan masih belum jelas sepenuhnya."
Iya, Clava yakin 100% kalau Benzie dan pamannya pun sampai detik ini masih mencari jati diri Megan yang sesungguhnya.
"Sistem dan akses mereka sangat sulit ditembus. Selain itu juga, untuk meretas data yang ada pun mustahil. Aku yakin kalau Kak Benzie pasti juga tengah mencari tahu itu."
Tidak jauh berbeda dengan pemikiran Clava yang rumit, otak tampan penuh ilmu milik Benzie pun sedang memusingkan hal yang sama.
Matanya memang terlihat awas pada berkas yang Clava bawa tapi, sebenarnya pikirannya justru melanglang buana ntah kemana-mana.
"Kalau memang benar data itu sudah dimanipulasi oleh seseorang pasti, dia adalah sosok yang cukup berpengaruh. Sejauh ini Sitra tidak ada dalam daftar, tapi bisa saja suatu saat media mengabarkan berita tentang makhluk planet dari masa depan."
Kekhawatiran utama yang Benzie rasakan saat ini ketika publik tahu bahwasannya ada manusia robot dari masa depan dan datang dari planet lain, yaitu privasinya yang akan terancam. Dan tentunya para tokoh robotik dunia juga akan turun tangan langsung.
Bertahun-tahun sudah mereka menyembunyikan fakta mengenai keberadaan Megan. Mereka juga sudah memalsukan data Megan dan menjadikannya robot yang mempunyai kewaganegaraan.
Fakta ini bisa dikatakan sebagai perbuatan yang ilegal.
Memalsukan data yang merupakan bukan manusia menjadi manusia.
"Tapi karena apa mereka memalsukan data itu? Tidak mungkin ada asap tanpa adanya api. Pasti yang paling penting adalah kalau orang itu memiliki maksud tententu."
"Kak, yasudah kalau begitu aku pamit dulu ya." Setelah sekian lama keheningan yang tercipta akhirnya Clava membuka suara.
"Oh iya, terima kasih berkasnya," kata Benzie datar.
"Permisi, Kak."
Clava mulai beranjak dan meninggalkan ruangan tersebut.
Usai kepergian Clava, Benzie yang hendak kembali fokus pada pekerjaannya pun tidak bisa. Semua terasa buyar dan ide-ide yang ada di kepalanya mendadak menguap begitu saja.
Berkas yang Clava berikan padanya ia singkirkan, menutup komputernya kemudian beranjak menuju jendela. Mungkin drngan menatap sejenak pemandangan di luar dapat merefresh kembali pikirannya yang suntuk.
Oleh sebab itu Benzie menepi sejenak. Namun, begitu saja pikirannya langsung tertuju pada Mr. Jazz.
"Sepertinya memang ada yang harus kutanyakan secara jelas dengan Mr. Jazz. Walaupun katanya dia tidak mengetahui apa-apa, justru kecurigaanku bersarang besar pada Mr. Jazz," monolog Benzie.
Dengan kedua tangan yang ia masukkan ke dalam saku celananya, Benzie membalikkan badan dan segera menuju ruangan Mr. Jazz.
***
Di koridor, Megan, Clava, dan Alan justru sedang terlihat di sana. Ketiganya sama-sama memasang wajah kaku tanpa senyum sedikit pun.
Terlebih Megan, wanita itu menjadi objek pandang Alan dan Clava. Keduanya menatap Megan seolah-olah wanita itu adalah hal yang begitu menakjubkan sebab, jangankan mengalihkan pandangan mengerjap pun mereka tidak.
Lewat gerakan non verbal lirik-lirikan yang Alan dan Clava lakukan saat itu, seakan keduanya sedang terlibat perdebatan batin. Tidak tidak diungkapkan tapi mendekam dalam d**a dan membuat gemuruh yang mengusik ketenangan pikiran satu sama lain.
"Kalian ..."
Suara lain mendistraksi kegiatan saling pandang di sana. Alan adalah orang pertama yang mengalihkan tatapannya ke asal suara tersebut. Dan mendapati sosok tinggi menjulang yang sedikit tidak ia sukai.
"Sepertinya sedang terjadi adu argumen di sini?"Lagi-lagi kalimat itu keluar dari lisan Benzie.
"Tidak!" sahut Clava cepat.
"Kenapa harus beradu argumen kalau menyindir secara halus saja bisa lebih efektif," sambungnya.
Hal yang tidak terduga keluar dari lisan seorang Clava yang terkenal lembut. Dan membuat Alan yang berada di sana pun ikut mengalihkan tatapannya kepada gadis itu.
Well, apakah dia sadar sedang berbicara dengan siapa? Fix! Justru Alan yang merasa agak canggung di sana, dan sebaliknya Clava justru terlihat biasa-biasa saja. Seperti sedang tidak berkata apa-apa.
"Menyindir ya ..." Benzie menanggapi.
"Iya, manusia zaman sekarang kan kalau menyampaikan suaranya harus dengan cara menyindir baru bisa didengar," celetuk Clava.
"Kenapa begitu?"
Suasana terpantau tegang. Alan dan Megan hanya bisa diam menyaksikan kedua orang itu bercakap-cakap dengan agak sarkas. Atau mungkin lebih tepatnya disebut cek-cok alih-alih berbincang.
Memasang wajah tenang tak terbantahkan, Clava mengendikkan bahunya asal.
"Biasalah, Kak. Ego dan gengsi memang beda tipis. Tapi kalau sindrom kejiwaan bisa saja tabiat, karena mereka melakukannya secara sadar meski sering kali mengatakan di luar kendali. Cih!" Diakhiri dengan decihan kecil.
"Kalau begitu aku pamit ya semua. Selamat malam," tutup Clava dan melanjutkan langkahnya.
Menghiraukan ketiga orang lainnya di sana.
***