Suara pertama yang menyusup ke alam bawah sadarnya pukul 05.23 pagi adalah kokok ayam.
Bukan bunyi alarm ponsel yang melengking, bukan notifikasi pesan, apalagi deru mesin kopi otomatis. Hanya suara ayam jantan yang berkokok dengan penuh keyakinan di luar jendela, seolah tugas tunggalnya hari itu adalah memastikan seluruh semesta terjaga.
Perempuan tanpa nama itu membuka mata.
Pemandangan pertama yang menyambutnya masih sama: langit-langit putih kusam dengan retakan menyerupai delta sungai. Namun, kualitas cahayanya kini berbeda. Tak ada lagi pendar neon yang berkedip sekarat. Cahaya fajar yang tipis merayap masuk melalui celah gorden krem, menciptakan garis-garis emas yang membelah lantai keramik dingin.
Kepalanya masih berdenyut. Namun, sakitnya sudah menyusut; dari rasa dihantam martil, kini tinggal menyisakan rasa pegal yang tumpul di pelipis kiri.
Ia mencoba duduk. Lehernya terasa kaku, tetapi ia menyadari neck collar yang semalam mengganjal dagunya sudah rapi diletakkan di atas nakas. Dengan gerakan hati-hati, ia mengamati ruangan itu dalam terang yang lebih jujur. Ruangan ini mungil. Hanya ada dua ranjang, dan hanya miliknya yang terisi. Di sudut, sebuah lemari besi tua berdiri berdampingan dengan meja kayu berisi peralatan medis standar.
Ia melangkah menuju jendela. Di luar sana, sepetak halaman puskesmas yang dipenuhi rumput basah tampak berkilau terkena sisa embun. Di baliknya, deretan pohon pisang dengan daun-daun lebar yang melambai pelan menjadi pagar alami.
Ada sesuatu tentang pohon pisang di pagi hari yang membuatnya tertegun. Rasanya seperti mencoba memanggil kembali potongan mimpi yang baru saja lewat—hampir tergapai, namun kemudian menguap begitu saja.
Magelang di pagi hari ternyata didominasi warna hijau.
Bukan hijau kota yang tertata rapi di dalam pot atau taman kompleks. Ini adalah hijau yang liar dan melimpah. Hijau yang tumbuh tanpa perlu izin, merayap ke setiap jengkal tanah yang ada. Di seberang jalan aspal sempit depan puskesmas, terbentang ladang penduduk dengan tanaman berdaun lebar. Di kejauhan, di balik beberapa lapis perbukitan yang masih berselimut kabut, tampak sebuah gundukan besar berwarna abu-abu kehijauan yang permukaannya dipenuhi tonjolan-tonjolan kecil.
Borobudur.
Kata itu muncul otomatis dari laci otaknya. Pengetahuan umum yang masih utuh: candi Buddha terbesar di dunia, abad ke-8, warisan dunia. Namun, sekujur tubuhnya tak memberikan reaksi apa pun. Ia tahu tempat itu ada, tapi ia tak ingat apakah ia pernah bernapas di sana.
"Oh, sudah bangun, Nona?"
Ia menoleh pelan. Bu Parti, perawat paruh baya yang semalam menemaninya, berdiri di ambang pintu. Tangannya membawa nampan berisi segelas air hangat dan semangkuk bubur ayam yang mengepulkan aroma gurih.
"Saya pikir Nona masih terlelap. Biasanya pasien baru bangun kalau matahari sudah tinggi," ujar Bu Parti ramah.
"Saya terbiasa bangun pagi," jawabnya datar.
Bu Parti tertegun sejenak. "Nona ingat kebiasaan itu?"
Perempuan itu terdiam. Ia tidak melihat gambar apa pun, tapi tubuhnya memiliki ritme sendiri yang memberi tahu bahwa merebah di kasur setelah pukul lima adalah sebuah kesalahan. "Bukan ingat," bisiknya. "Lebih seperti... otot saya yang tahu."
Bu Parti tersenyum maklum, senyum tulus yang biasa diberikan penduduk desa kepada orang asing yang sedang kemalangan. "Makan dulu, Nona. Pak Dokter sudah datang sejak subuh tadi. Beliau selalu yang paling rajin. Kalau Nona sudah selesai, beliau mau memeriksa kondisi Nona."
Bubur ayam itu sangat bersahaja. Teksturnya lembut, dengan suwiran ayam kampung, taburan bawang goreng yang melimpah, dan kerupuk yang sedikit layu karena udara lembap. Tidak ada yang istimewa dari rasanya, namun entah mengapa, ia menyendoknya hingga tak tersisa. Seperti ada kekosongan lain di dalam dirinya yang sedang menuntut untuk diisi dengan hal-hal yang nyata dan sederhana.
Tak lama setelah ia meletakkan mangkuk kosong, pintu diketuk. Devano Prakasa melangkah masuk.
Dalam cahaya pagi, dokter itu terlihat lebih nyata. Kemeja putih di balik jas dokternya tampak sedikit pudar di bagian kerah, tanda baju yang sudah sering dicuci. Rambutnya tidak tersisir rapi, namun matanya yang jernih menunjukkan ketajaman yang tidak bisa disembunyikan.
"Bagaimana kondisinya?" tanya Reyna, ia telah menerima nama itu sebagai identitas sementara.
Devano menarik kursi, duduk di sisi ranjang sambil membuka map medis. "Sakit kepalanya?"
"Tiga dari sepuluh. Jauh lebih baik."
"Mual? Penglihatan kabur?"
"Tidak. Hanya sedikit limbung saat pertama kali berdiri."
Pemeriksaan berlangsung dalam keheningan yang sedikit kaku. Devano memeriksa pupil matanya dengan senter kecil, mengukur tekanan darah, dan memeriksa refleks saraf motoriknya. Setiap gerakan Devano terasa sangat berhati-hati, hampir seperti sedang menyentuh barang pecah belah yang sangat berharga.
"Secara fisik, pemulihanmu sangat cepat," ujar Devano sambil mencatat di kertas. "Tapi kita tetap butuh observasi di Rumah Sakit kota. Saya ingin memastikan tidak ada perdarahan dalam yang terlewat."
"Anda janji akan memberitahu nama saya hari ini," tagih Reyna. Matanya mengunci tatapan dokter itu.
Devano menarik napas panjang, seolah sedang mengumpulkan keberanian. "Reyna. Reyna Kirana Aditya. Kamu dari Jakarta."
Reyna mencicipi nama itu di lidahnya. Reyna. Terasa asing. Seperti memakai sepatu milik orang lain; pas di kaki, tapi tidak terasa benar. "Pekerjaan?"
Devano terdiam selama dua detik. Terlalu lama untuk sebuah pertanyaan sederhana. "Tidak ada keterangan pekerjaan di KTP-mu."
Reyna menyipitkan mata. Ia menangkap keraguan itu. "Dokter menyembunyikan sesuatu."
Itu bukan tuduhan emosional, melainkan observasi dingin. Instingnya yang entah dari mana asalnya mengatakan bahwa pria di depannya ini sedang menyaring informasi.
"Saya hanya menyampaikan apa yang perlu kamu tahu saat ini, Reyna. Otakmu butuh ketenangan, bukan tumpukan fakta yang bisa memicu trauma baru," jawab Devano diplomatis.
Reyna tidak puas, tapi ia tahu kapan harus berhenti mendesak. Ia memandang tangannya yang terbaring di atas selimut. "Ada yang hilang, Dok. Bukan cuma memori. Tapi seperti... kemampuan. Rasanya seperti saya biasanya punya 'mata ketiga' untuk melihat dunia, dan sekarang mata itu tertutup rapat. Saya merasa buta sekaligus telanjang."
Devano menatapnya lama. Ada gurat kesedihan yang lewat di matanya, sangat cepat hingga hampir tak terlihat. "Tidakkah itu bagus? Untuk sementara, kamu tidak perlu melihat hal-hal yang tidak ingin kamu lihat."
Pukul delapan tepat, sebuah mobil SUV tua berwarna abu-abu sudah terparkir di depan puskesmas. Devano membukakan pintu untuk Reyna. Ia tidak ingin mengambil risiko membawa pasien dengan gegar otak ringan menggunakan motor di jalur pegunungan yang berliku.
Reyna duduk di kursi penumpang, mengenakan sandal jepit pinjaman dan kaus longgar pemberian Bu Parti. Saat mobil mulai melaju, ia memandang keluar jendela.
Dunia di sini bergerak sangat lambat. Di pinggir jalan, seorang nenek berjalan dengan keranjang bambu di punggung. Anak-anak berseragam merah-putih berlarian di pematang sawah. Bau tanah basah dan aroma kayu bakar yang terbakar menyusup melalui ventilasi mobil.
"Tadi Dokter bilang, 'Kamu tidak berubah'," ujar Reyna memecah keheningan kabin mobil. "Artinya, Dokter mengenal saya sebelum kecelakaan ini terjadi."
Genggaman tangan Devano pada setir tampak mengencang. Buku-buku jarinya memutih. "Saya hanya pernah membaca tentangmu. Kamu orang terkenal di Jakarta."
"Jangan bohong," potong Reyna cepat. "Nada suara Dokter semalam saat menyebut nama saya... itu bukan nada suara orang yang cuma membaca berita. Itu nada suara orang yang punya urusan yang belum selesai."
Mobil itu terus melaju melewati jalanan desa yang diapit tebing dan jurang. Di kejauhan, Gunung Merapi berdiri gagah dengan puncak yang sedikit berasap, seolah sedang mengawasi perjalanan mereka.
Devano tidak menjawab. Ia terus memandang lurus ke aspal di depan.
Reyna menyandarkan kepalanya ke kaca mobil yang dingin. Di bawah bayang-bayang pepohonan jati yang rimbun, ia menyadari satu hal. Identitasnya mungkin terkunci di dalam kepalanya yang rusak, tapi kunci itu ada di tangan pria yang sedang menyetir di sampingnya ini.
Dan ia tidak akan berhenti sebelum pria itu menyerahkannya.