Rumah sakit selalu memiliki aroma yang sama: campuran tajam antiseptik, udara yang dipaksa bersirkulasi melalui mesin hingga kehilangan kehangatan, dan di balik itu semua—bau kecemasan yang melekat pada kursi-kursi plastik.
Reyna duduk di salah satu kursi itu, menunggu hasil pemeriksaan yang katanya butuh empat puluh menit. Ia memperhatikan segala sesuatu—karena memperhatikan adalah satu-satunya hal yang bisa ia lakukan dengan benar saat ini. Ia melihat pasangan tua di pojok kanan; sang bapak dipapah perlahan, sementara sang ibu menggenggam tangannya seolah-olah jika ia melepasnya sedetik saja, pria itu akan hilang.
Semua terlihat normal. Namun, bagi Reyna, dunia ini terasa seperti film yang kehilangan suaranya.
Ia menunggu sinestesianya—kemampuan yang samar-samar ia ingat pernah ada, yang membuatnya bisa melihat kebohongan di udara seperti kabut tipis—untuk muncul. Namun, udara di sekitarnya tetap jernih dan hampa. Kebutaan ini lebih menjengkelkan daripada amnesianya. Bagaimana menjelaskan pada orang lain bahwa ia merindukan warna biru, sementara ia sendiri bahkan tidak ingat bagaimana rupa warna biru itu?
"Mau minum?"
Devano muncul dari arah koridor, membawa dua botol air mineral dingin. Ia meletakkan satu di samping Reyna tanpa menunggu jawaban, lalu duduk dua kursi di sebelahnya. Ada jarak yang terjaga—sebuah perimeter yang sengaja dibuat agar mereka tidak bersentuhan.
Reyna meraih botol itu. Permukaannya yang berembun terasa dingin di telapak tangannya. "Berapa lama lagi?"
"Sekitar dua puluh menit," jawab Devano. Ia membuka botolnya, minum seteguk, lalu menutupnya kembali dengan gerakan yang terlalu presisi. Ia tampak sedang menghitung detik. "Dokter radiologi masih memeriksa hasil pasien lain."
Reyna menatap profil wajah pria itu dari samping. "Dokter belum menepati janji."
"Janji apa?"
"Bercerita yang sebenarnya."
Devano memutar botol di tangannya. Matanya terfokus pada label merek air mineral itu seolah ada jawaban rahasia di sana. "Ada yang kamu ingat dari semalam sampai sekarang?"
"Dokter sedang mengalihkan topik," potong Reyna dingin.
"Saya hanya bertanya."
Reyna menghela napas, menyandarkan kepalanya ke dinding yang dingin. "Hanya bayangan. Potongan-potongan yang tidak nyambung. Meja kerja yang sangat besar, jendela yang menghadap hutan beton, suara orang-orang yang saling berdebat. Dan..." Ia berhenti sejenak. "Sesuatu yang selalu saya cari di udara, tapi tidak ada."
Devano menoleh, matanya menyempit. "Kemampuan yang hilang itu lagi?"
"Ya. Rasanya seperti saya biasanya tahu jika seseorang berbohong hanya dengan melihat mereka. Sekarang? Saya merasa telanjang di tengah keramaian."
Devano terdiam cukup lama. "Mungkin itu cara otakmu melindungimu. Terkadang, tidak tahu adalah sebuah berkah."
Percakapan itu terputus ketika seorang pria melangkah masuk ke ruang tunggu.
Usianya pertengahan empat puluhan. Ia mengenakan kemeja batik lengan panjang yang disetrika sangat rapi, jam tangan yang elegan namun fungsional, dan sepatu pantofel yang sedikit berdebu di bagian ujung. Wajahnya terasa seperti kunci yang tidak pas pada lubangnya; Reyna merasa seharusnya ia tahu siapa pria ini, tapi pintunya tetap terkunci.
Reyna tidak mengenalinya, tapi Devano mengenalnya.
Bahu Devano yang biasanya rileks kini naik satu senti. Sangat cepat, sebuah reaksi bawah sadar yang hanya bisa ditangkap oleh mata yang sangat teliti.
Pria itu melangkah mendekat. Matanya langsung tertuju pada Devano, lalu beralih ke Reyna. Di sana, di dalam mata pria itu, meledak sebuah emosi yang sangat kuat: kelegaan yang nyaris membuatnya jatuh terduduk.
"Pak Heru," kata Devano, suaranya sedingin es. "Apa yang membawa Anda sejauh ini?"
Pria bernama Heru itu berhenti dua langkah di depan mereka. Napasnya pendek-pendek. "Saya... saya dapat kabar dari warga semalam. Kecelakaan di tikungan perbatasan. Mobil SUV perak dengan pelat Jakarta." Suaranya bergetar. "Saya tidak yakin sebelumnya. Saya hanya berharap..."
"Anda kenal saya?" Reyna memotong, suaranya tajam seperti silet.
Heru menatap Reyna. Ada retakan emosional di wajah pria yang biasanya tampak tangguh itu. "Saya Heru Santoso, Nona. Direktur Operasional Aditya Group. Saya sudah mengabdi pada keluarga Anda selama dua puluh tahun."
Aditya Group. Nama itu menggema di kepala Reyna, tapi tidak memicu ledakan memori apa pun.
"Dan saya?" tanya Reyna.
Heru menelan ludah, menatap Reyna dengan tatapan yang hampir menyerupai pemujaan sekaligus ketakutan. "Nona adalah Reyna Kirana Aditya. CEO Aditya Group."
Di sebelahnya, Devano tetap mematung.
Reyna tidak menunjukkan reaksi berlebihan. Ia hanya mengangguk pelan, seolah-olah ia sudah menduga hal itu. "Duduk, Pak Heru."
Pria itu duduk dengan kaku, meremas dompet kulit di tangannya. "Nona baik-baik saja? Ponsel Nona mati, dan sinyal GPS di mobil... terputus tepat sebelum kecelakaan."
"Terputus?" Reyna mengulang kata itu. "Bukan rusak karena benturan?"
"Terputus secara sistem," koreksi Heru pelan. "Itu yang membuat kami khawatir."
"Siapa 'kami'?"
"Saya dan Pak Wiranto, Komisaris Utama."
"Apakah mereka tahu saya di sini?"
Heru menggeleng cepat. "Belum. Saya datang sendiri untuk memastikan. Saya tidak berani melapor ke siapa pun sebelum melihat Nona dengan mata kepala saya sendiri."
"Bagus," ujar Reyna. Nadanya tiba-tiba berubah—lebih dalam, lebih berwibawa, nada yang terasa sangat alami baginya. "Untuk sementara, jangan beri tahu siapa pun bahwa saya ada di sini. Bisa Anda lakukan itu, Pak Heru?"
Heru tampak ragu. "Tapi Nona, urusan di Jakarta—"
"Berapa lama urusan itu bisa menunggu?"
"Satu minggu, mungkin. Tapi kontrak akuisisi Farmasindo—"
"Pak Heru." Reyna mencondongkan tubuhnya ke depan. "Saya mungkin kehilangan ingatan, tapi saya tidak kehilangan kemampuan untuk memberi perintah. Beri saya waktu satu minggu. Jangan beri tahu siapa pun lokasi saya. Mengerti?"
Hening panjang menyelimuti mereka. Heru akhirnya mengangguk pelan. "Baik, Nona. Tapi ada satu hal... Kecelakaan semalam, kami tidak yakin itu murni kecelakaan."
"Jelaskan," titah Reyna.
Heru merendahkan suaranya, melirik Devano dengan curiga sebelum kembali menatap Reyna. "Tiga hari sebelum Nona berangkat, seseorang meretas server internal kita. Data akuisisi rahasia dicuri. Hanya tiga orang yang punya akses penuh: Nona, saya, dan Pak Wiranto. Jika data itu bocor, perusahaan akan hancur."
Reyna menatap ubin rumah sakit yang putih dan membosankan. Pikirannya menyusun pola: Peretasan. Perjalanan sendirian. GPS yang sengaja diputus. Jurang.
"Siapa yang tahu saya akan lewat jalan itu semalam?" tanya Reyna.
"Hanya Andra, asisten pribadi Nona."
"Dan Pak Wiranto? Apakah dia tahu tujuan saya?"
Heru terdiam sejenak. "Saya... tidak tahu pasti."
Reyna menangkap keraguan itu. Meski matanya tidak bisa melihat kabut kebohongan, logikanya masih bekerja dengan sangat tajam. "Baik. Pak Heru, silakan kembali ke Jakarta. Ingat, satu minggu. Jangan hubungi saya kecuali mendesak."
Heru berdiri, membungkuk sedikit, lalu berjalan keluar. Sebelum mencapai pintu, ia berhenti dan berujar tanpa menoleh, "Nona... tolong, jangan percaya pada siapa pun."
Setelah Heru pergi, suasana di antara Reyna dan Devano menjadi semakin menyesakkan.
"Kamu tidak seharusnya memberitahunya bahwa kamu hilang ingatan," ujar Devano tiba-tiba.
"Kenapa?"
"Kalau benar ada sabotase, memberitahu orang bahwa kamu lupa ingatan adalah informasi yang sangat mahal. Itu berarti si pelaku aman karena kamu tidak bisa mengenali mereka."
Reyna menatap Devano lurus-lurus. "Jadi Dokter juga berpikir ini sabotase?"
"Saya hanya berpikir logis."
"Dan Dokter," lanjut Reyna, "Anda tidak terkejut melihat Pak Heru. Anda mengenalnya, bukan?"
Devano menarik napas panjang, lalu berdiri. "Hasil CT scan-mu sudah keluar. Mari kita lihat hasilnya, baru kita bicara soal masa lalu."
Pemeriksaan itu menunjukkan hasil yang "bagus" secara medis: tidak ada perdarahan, hanya pembengkakan di area hipokampus yang menyebabkan akses memorinya terhambat. Namun bagi Reyna, hasil itu tetap saja berarti ia masih menjadi orang asing bagi dirinya sendiri.
Di Parkiran
Matahari Magelang mulai terasa terik di kulit. Devano membukakan pintu mobil SUV abu-abu miliknya untuk Reyna.
"Kamu tidak menangis," ujar Devano saat ia mulai menyalakan mesin mobil.
"Apakah menangis akan membuat ingatan saya kembali?" balas Reyna datar.
Devano terdiam, lalu mulai menjalankan mobil keluar dari area rumah sakit. Mobil melaju stabil di jalanan yang diapit sawah-sawah hijau. Reyna menyandarkan kepalanya, mematung menatap Gunung Merapi di kejauhan.
"Malam ini," bisik Reyna, hampir tidak terdengar namun penuh penekanan. "Setelah puskesmas tutup. Saya ingin kebenaran yang utuh, Devano."
Devano tidak menjawab. Ia hanya mempererat genggamannya pada kemudi mobil. Namun Reyna tahu, ada sesuatu dalam cara pria itu memandang jalanan di depan yang menunjukkan bahwa pelarian yang selama ini ia lakukan telah mencapai garis finis.
Reyna menutup matanya, merasakan getaran mobil dan aroma tanah basah yang menyusup masuk. Untuk sesaat, ia merasa aneh. Di tengah ancaman sabotase dan kehilangan jati diri, ia merasa... belum mau pulang.