Rumah Bu Parti berbau kemukus dan bawang goreng.
Bukan bau yang aneh, tapi justru sebaliknya, ada rasa hangat di dalamnya. Seperti rumah yang sudah lama diisi masakan, tawa, dan orang-orang yang tidak peduli soal kemewahan. Cat temboknya kuning muda yang sudah pudar menjadi krem di beberapa bagian. Lantai terasonya terasa dingin di telapak kaki. Jendela-jendela di sana tidak punya tirai yang serasi, tapi semuanya terbuka lebar, membiarkan angin sore Magelang masuk dan keluar sesukanya.
Di ruang tamu, ada sofa bermotif bunga yang busanya sudah agak kempes. Meja kacanya dialasi tatakan gelas hasil rajutan. Foto-foto keluarga di dinding dipajang tanpa bingkai yang seragam, tapi memancarkan rasa sayang yang sangat terasa.
Reyna duduk di sofa itu sekarang, memegang secangkir teh jahe yang langsung ada di depannya tanpa perlu diminta.
Bu Parti adalah tipe perempuan yang gerakannya selalu cepat sejak lahir—dari pintu ke dapur, lalu ke ruang tamu, terus ke kamar belakang—sambil bicara tanpa henti memberikan informasi:
"—Kamar di belakang itu kamar anak saya yang sudah menikah dan pindah ke Yogya, jadi kosong. Nona bisa pakai selama butuh. Kasurnya lumayan empuk kata keponakan saya waktu menginap. Baju saya mungkin agak kebesaran, Nona kurus sekali, tapi saya ada kain batik panjang yang bisa dipakai dulu sebelum beli yang proper. Anak saya dulu juga pernah—"
"Bu Parti." Reyna memotong pelan.
Perempuan itu berhenti.
"Terima kasih," kata Reyna tulus. Dia tidak tahu apakah dia tipe orang yang sering berterima kasih, tapi saat ini, dia merasa perlu mengucapkannya. "Sungguh."
Bu Parti tersenyum lebar sampai matanya hampir menutup. "Ah, Nona ini. Tidak usah sungkan. Pak Dok sudah banyak bantu keluarga saya, ini giliran saya balas sedikit." Dia duduk di kursi rotan di seberang sofa. Tangannya langsung mengambil cucian kecil dari keranjang di sampingnya dan mulai melipat sambil bicara—sebuah kebiasaan multitasking yang sudah jadi refleks. "Pak Dok yang telepon tadi siang, minta tolong titipkan Nona di sini sementara waktu. Saya ya langsung bilang iya, tidak perlu pikir panjang."
"Pak Dok sering minta tolong seperti ini?"
"Pertama kali." Bu Parti melipat sebuah kaos oblong. "Biasanya Pak Dok tidak pernah minta apa-apa. Tiga tahun kerja sama, saya yang malah sering kasih titipan—kalau masak lebih, saya bawa ke puskesmas. Kalau suami saya potong ayam, saya kirim seporsi. Pak Dok itu tipe yang terima saja, tidak pernah minta." Dia berhenti melipat sebentar. "Makanya waktu dia telepon tadi, saya langsung tahu ini pasti sesuatu yang penting."
Reyna memegang cangkir tehnya dengan kedua tangan. Rasa hangat yang merembes ke telapak tangannya terasa sangat nyata di tengah semua yang terasa asing.
"Dokter Devano sudah lama di sini?"
"Tiga tahun lebih. Datang waktu puskesmas kami lagi kekurangan tenaga. Dokternya pensiun, dan tidak ada yang mau ditempatkan di desa." Bu Parti melanjutkan melipat. "Pak Dok datang cuma bawa koper satu, terus langsung kerja. Tidak banyak tanya, tidak banyak keluhan. Warga di sini awalnya sungkan—namanya orang kota, lulusan UI pula katanya—tapi lama-lama ya sudah seperti orang sini sendiri."
"Lulusan UI?"
"Bukan cuma itu. Dia dokter umum, tapi pintar sekali, Nona. Kadang ada kasus yang harusnya langsung dirujuk, tapi Pak Dok tangani dulu sampai stabil. Kalau langsung dikirim tanpa distabilkan, jalannya jauh, pasiennya tidak akan sampai dalam kondisi baik." Bu Parti menggelengkan kepala dengan ekspresi kagum. "Pernah ada ibu mau melahirkan, bayinya sungsang, bidan tidak sanggup, Pak Dok yang turun tangan. Selamat dua-duanya. Nama bayinya sekarang Devano juga—anak Pak Kepala Dusun."
Reyna menatap teh di cangkirnya. Seseorang meninggalkan Jakarta dan lulusan FK UI untuk jadi dokter di desa terpencil. Karena di sini dibutuhkan. Itu yang Devano katakan tadi, dan sekarang Reyna mendengar buktinya dari orang yang tidak punya kepentingan untuk berbohong.
Tapi tetap saja, ada yang tidak lengkap.
"Bu Parti kenal Pak Dok dari luar puskesmas juga?"
"Ya, kadang. Kalau ada kenduri atau acara desa, Pak Dok selalu datang. Tidak pernah menolak kalau diundang." Bu Parti meletakkan tumpukan lipatan yang sudah selesai. "Orangnya pendiam, tapi bukan dingin. Bedanya, pendiam itu berarti tidak bicara kalau tidak perlu. Dingin itu tidak peduli. Pak Dok peduli—hanya tidak menunjukkannya dengan banyak kata."
Reyna menaruh cangkirnya ke meja. "Ada yang tahu tentang hidupnya sebelum ke sini? Di Jakarta?"
Gerakan Bu Parti berhenti sebentar, nyaris tidak terlihat.
"Pak Dok tidak pernah cerita banyak soal itu," katanya akhirnya. Nadanya berubah hati-hati, seperti tahu lebih banyak tapi enggan berbagi. "Dan kami orang sini tidak biasa tanya yang bukan urusan kami." Dia tersenyum kecil. "Tradisi Jawa, Nona. Apa yang tidak dikasih tahu, tidak perlu dicari tahu."
Sebuah penolakan yang halus. Reyna mengenalinya—meski tanpa ingatan, ada bagian dari dirinya yang sangat terbiasa dengan basa-basi seperti ini dan tahu bahwa memaksanya tidak akan menghasilkan apa pun.
"Baik," katanya, membiarkan topik itu berlalu.
Kamar di belakang itu kecil dan bersih. Kasurnya memakai sprei bunga-bunga biru. Ada lemari kayu yang pintunya tidak bisa menutup rapat, cermin bulat, dan jendela yang menghadap ke kebun belakang. Di sana ada pohon pepaya dan pohon kamboja yang bunganya sudah rontok setengah.
Reyna berbaring sambil menatap langit-langit yang polos. Tidak ada pola retakan yang bisa dia petakan, hanya noda di pojok yang bentuknya seperti negara asing. Dia menghitung napasnya, mencoba menyusun apa yang dia tahu hari ini: Dia adalah Reyna Kirana Aditya yang amnesia, ada kemungkinan mobilnya disabotase, dia memutuskan menghilang selama seminggu, dan dia punya urusan yang belum selesai dengan Devano Prakasa.
Dia memejamkan mata. Dalam kegelapan, dia mencoba mencari sesuatu—seperti meraba-raba isi kantong di tempat gelap. Dia merasakan sebuah sensasi: telapak tangan seseorang di atas tangannya. Jari-jari yang lebih besar. Hangat.
Lalu hilang. Reyna membuka mata, kembali menatap langit-langit yang kosong.
Pukul 16.30 WIB, Devano muncul membawa kantong plastik berisi sikat gigi, sabun, dan baju darurat: kaos abu-abu polos dan celana kain ukuran terkecil.
"Ukurannya pasti tidak pas," kata Reyna saat menerima kantong itu.
"Tali pinggangnya bisa dikencangkan." Devano menjawab tanpa ekspresi. "Besok kita ke pasar beli yang benar."
"Dokter yang traktir?"
"Dicatat sebagai utang. Kalau ingatanmu sudah balik, tagihan dikirim ke Aditya Tower lantai empat puluh tujuh."
Reyna diam sebentar. "Dokter tahu nomor lantainya."
Devano menyadari kalimatnya salah sedetik terlambat. "Berita bisnis," kilahnya.
"Berita bisnis sampai menyebut nomor lantai kantor CEO?"
Tidak ada jawaban. Reyna mengambil kantong itu dan menutup pintu kamarnya dengan pelan. Klik. Bunyi kunci itu terasa lebih tajam daripada bantingan pintu. Di balik pintu, dia mendengar Devano berdiri diam sejenak sebelum langkah kakinya menjauh.
Makan malam di rumah Bu Parti terasa hangat. Ada tumis kangkung, tempe goreng, dan ikan asin renyah. Suami Bu Parti, Pak Warto, makan dengan tenang tanpa banyak komentar. Devano juga datang membawa tahu bakso.
Mereka duduk berlima, termasuk Bagas, cucu Bu Parti yang berumur delapan tahun. Bagas menatap Reyna terus-menerus.
"Mbak dari mana?" tanya Bagas tiba-tiba.
"Bagas, tidak sopan," tegur Bu Parti.
"Tidak apa-apa." Reyna menatap anak itu. "Mbak dari Jakarta. Tapi Mbak sedang lupa."
"Lupa gimana? Lupa nama sendiri juga?"
"Ya."
Bagas mengunyah tempe sambil berpikir keras. "Kayak di film ya," simpulnya.
"Ya, kayak di film."
Reyna melirik Devano di seberang meja. Dokter itu fokus pada piringnya, tapi ada gerakan kecil di sudut bibirnya—seperti menahan senyum—sebelum kembali datar.
"Nona makan yang banyak ya. Kata Pak Dok, obat paling ampuh itu makan enak dan tidur nyenyak," ujar Bu Parti sambil menyodorkan ikan asin.
"Saya tidak pernah bilang persis seperti itu," sahut Devano.
"Tapi intinya sama, kan?"
"...Kurang lebih."
Reyna menggigit ikan asin itu. Rasanya sederhana tapi enak. Untuk alasan yang dia sendiri tidak tahu, makan malam ini terasa jauh lebih nyaman daripada gaya hidup mewahnya yang hilang. Meja kayu kecil, piring yang tidak seragam, dan orang-orang yang tulus. Dia memperhatikan cara Devano makan dengan tenang, dan sesekali mata mereka hampir bertemu sebelum salah satu membuang muka.
Selalu hampir.
Pukul 20.14 WIB. Hujan gerimis turun konsisten. Bu Parti, Pak Warto, dan Bagas sudah masuk ke kamar. Reyna duduk di teras belakang yang beratap seng. Suara rintik hujan terdengar nyaring namun berirama.
Ada langkah kaki. Devano datang membawa dua gelas teh hangat dan duduk di kursi plastik sebelah Reyna.
"Dokter akan cerita sekarang?" tanya Reyna.
"Tergantung apa yang mau kamu dengar."
"Semuanya. Mulai dari yang paling relevan."
Devano memutar gelas tehnya. "Kita pernah kenal di Jakarta, sebelum saya pindah ke sini."
"Seberapa dekat?"
"Sangat dekat. Tiga tahun kita bersama."
Kalimat itu terasa berat di udara. "Terus kenapa selesai?"
Devano menjawab dengan suara datar, terlalu tenang. "Kamu yang memutuskan untuk berhenti."
Reyna merasakan sesuatu di dadanya. Bukan ingatan, tapi seperti gema suara dari lorong yang jauh. "Saya? Kenapa?"
"Itu yang saya tidak tahu sepenuhnya. Yang jelas, kamu memutuskan pergi, dan saya memutuskan memulai hidup baru di sini. Kamu melanjutkan hidupmu jadi CEO, persis seperti yang direncanakan keluargamu."
"Keluarga saya?"
"Ayahmu masih ada. Ibumu sudah meninggal sejak kamu kecil. Ayahmu tahu soal kita, dan dia tidak suka karena saya dianggap tidak setara."
Reyna menatap kukunya yang mulai terkelupas. "Dan Dokter menerima itu?"
"Kamu yang memutuskan. Saya tidak punya pilihan selain pergi."
"Tapi itu sakit, kan?"
Devano terdiam lama. Suara hujan di atap seng mengisi keheningan itu. "Ya," katanya akhirnya. "Sakit."
Reyna menatapnya dari samping. Laki-laki ini menyimpan rasa sakit itu selama sepuluh tahun. "Maaf," kata Reyna pelan.
Devano menoleh. "Kamu minta maaf padahal tidak ingat apa-apa."
"Tapi saya tahu saya pernah menyakiti Dokter. Itu cukup buat saya minta maaf."
Devano menatap Reyna, lalu tersenyum tipis yang nyaris tak terlihat. "Kamu tidak berubah. Selalu langsung kalau ambil keputusan. Kamu dulu juga begitu, tidak ada yang bisa membantah kalau kamu sudah mau sesuatu. Termasuk saya."
"Itu bagus atau buruk?"
"Tergantung keputusannya. Waktu itu... buruk." Devano berhenti sejenak. "Sebenarnya saya tidak tahu apa itu keputusanmu sepenuhnya. Ada hal-hal yang mungkin tidak sempat kamu ceritakan. Tapi sepuluh tahun sudah cukup lama untuk berhenti mencari tahu."
"Tapi Dokter masih ingin tahu."
Devano tidak menjawab. Dalam keremangan lampu teras, Reyna melihat sesuatu di mata laki-laki itu. Bukan sekadar cinta, tapi sesuatu yang belum punya nama.
"Ada satu hal lagi," kata Devano kembali ke nada profesionalnya. "Proses ingatanmu balik nanti bisa terasa tidak enak. Saat ingatan emosional kembali, kamu akan merasa seperti mengalaminya lagi untuk pertama kali. Trauma, konflik... semuanya."
"Dokter memperingatkan saya?"
"Saya cuma mau bilang, kamu tidak harus menghadapinya sendirian."
Reyna menatapnya. "Dokter menawarkan diri?"
"Saya doktermu sekarang. Itu tanggung jawab saya."
Reyna tidak memaksa. Dia tahu ada alasan lain di balik kata "tanggung jawab" itu. Mereka duduk dalam diam yang nyaman, belajar untuk berada di ruang yang sama lagi.
"Dokter," panggil Reyna.
"Hm?"
"Dulu Dokter panggil saya apa?"
Devano diam sebentar. "Rey."
"Boleh panggil begitu lagi?"
Ekspresi Devano berubah sedikit, seperti ada sesuatu yang melintas di matanya. "Terserah kamu."
"Saya tanya boleh atau tidak."
"...Boleh."
"Terima kasih... Dev."
Reyna menyebut nama itu secara spontan. Nama yang tidak ada dalam ingatannya, tapi tersimpan di tempat yang lebih dalam. Devano tidak bergerak, tapi bahunya sedikit menegang.
"Waktu kamu bilang 'sakit' tadi," lanjut Reyna pelan, "itu adalah hal paling jujur yang kamu ucapkan sejak kita ketemu."
"Ya," sahut Devano serak. "Mungkin iya."
Pukul 23.47 WIB. Reyna berbaring di kamar. Nama Dev terus berputar di kepalanya. Dia memejamkan mata dan tiba-tiba melihat sepasang tangan yang saling bertautan dengan sangat alami. Lalu terdengar suara redup:
"Rey. Jangan pergi."
Reyna membuka mata. Dadanya terasa sesak. Di luar gerimis masih turun. Dia tahu di suatu tempat di rumah ini atau di luar sana, Devano juga sedang terjaga. Ada keheningan yang kini terasa berisi. Reyna kembali memejamkan mata, membiarkan kantuk membawanya ke dalam kegelapan yang kini terasa sedikit lebih akrab.