Tubuhnya bangun sebelum pikirannya siap.
Matanya terbuka dan langit-langit terasa asing. Ada noda berbentuk negara tidak bernama di pojok kanan. Lalu, seperti komputer yang butuh beberapa detik untuk booting, semuanya kembali. Magelang. Puskesmas. Devano. Teras semalam. Hujan. Dan panggilan Dev.
Reyna duduk. Di luar jendela langit masih abu-abu dengan semburat oranye di ujung timur yang belum sepenuhnya menyala. Embun menempel di daun-daun pepaya di kebun belakang. Ayam yang kemarin berkokok dengan penuh keyakinan, kini telah lebih awal dari yang Reyna duga. Rupanya ayam ini tidak mengenal konsep lembur. Ayam itu berdiri dan berjalan ke jendela.
Magelang di ambang pagi terlihat seperti dunia yang sedang mengumpulkan nyalinya. Langit yang belum memutuskan mau jadi warna apa, tanah yang masih basah dari semalam, dan udara yang sangat dingin sekaligus bersih. Menghirupnya terasa seperti minum air dari sumber yang belum pernah tersentuh tangan manusia.
Ada sesuatu dalam dirinya yang terbiasa dengan pemandangan berbeda di jam ini. Selama ini hanya ada langit kota, gedung-gedung, dan lampu-lampu yang tidak pernah mati. Tapi yang berdiri di depan jendela kini tidak merindukan itu.
Bu Parti sudah ada di dapur sejak pukul lima tiga puluh. Reyna menemukannya sedang menanak nasi dan merebus air sekaligus, bergerak dengan efisiensi orang yang sudah melakukan rutinitas yang sama ribuan kali.
"Nona sudah bangun!" Bu Parti menoleh dengan ekspresi senang yang tulus. "Duduk dulu, saya buatkan teh—"
"Saya bantu."
Bu Parti berhenti, menatap Reyna ragu. "Nona tidak perlu—"
"Saya butuh sesuatu untuk dikerjakan," potong Reyna. "Kalau tidak, saya hanya akan duduk dan berpikir. Dan saat ini berpikir tidak menghasilkan apapun yang berguna."
Bu Parti mempertimbangkan ini selama dua detik, lalu mengalah. ia menunjuk ke arah talenan. "Bawang merahnya dikupas dulu. Banyak, kira-kira segini."
Reyna mengambil posisi di depan talenan. Mengupas bawang ternyata bukan hal yang hilang bersama ingatannya. Tangannya tahu caranya, meski lambat dan tidak seefisien Bu Parti. Bau bawang yang menyengat langsung menyerang matanya.
"Menangis itu wajar," kata Bu Parti sambil mengaduk sesuatu di wajan. "Namanya juga bawang."
"Saya tidak menangis."
"Matanya merah, Nona."
"Itu bawang."
"Ya, itu yang saya bilang." Bu Parti terkekeh kecil.
Mereka bekerja dalam diam yang nyaman. Di luar, suara kokok ayam digantikan suara motor yang lewat dan suara azan subuh dari masjid yang jauh. Desa ini pelan-pelan mulai mengumpulkan kesadarannya.
"Bu Parti. Pasar di sini bukanya jam berapa?" tanya Reyna.
"Jam lima sudah buka. Tapi paling ramai jam enam sampai delapan. Nona mau ke pasar?"
"Butuh baju."
"Nanti saya antar. Nona belum hapal jalan. Nanti nyasar," kata Bu Parti dengan nada yang tidak memberi ruang negosiasi. "Pak Dok juga bilang semalam, jangan biarkan Nona ke mana-mana sendirian dulu."
Reyna menaruh bawang yang sudah dikupas ke mangkuk. "Pak Dok bilang itu?"
"Lewat pesan. Semalam sebelum saya tidur."
Reyna tidak berkomentar. Tapi ada sesuatu—sangat kecil, seperti lilin yang baru dinyalakan di ruangan gelap—yang bergerak di dalam dadanya.
Pasar Borobudur terletak di persimpangan jalan utama desa. Lapak-lapaknya berdiri tidak dalam barisan rapi, tapi mengikuti kontur tanah. Reyna mengikuti Bu Parti, memakai kaos abu-abu dan celana panjang kain yang ikat pinggangnya dikencangkan lebih dari seharusnya. Sandal jepit Bu Parti masih kebesaran satu nomor di kakinya.
Pasar ini berbau khas campuran tanah basah, ikan segar, asap dari gerobak gorengan, dan wangi bunga sesaji. Warga yang berpapasan dengan Bu Parti selalu menyapa, dan mereka semua menatap Reyna dengan campuran penasaran dan ramah.
"Itu siapa, Bu Parti?"
"Tamu. Dari Jakarta, sedang istirahat di sini."
"Sakit?"
"Kecelakaan. Sudah mendingan."
"Cantik, ya."
Reyna mendengar semuanya. Percakapan yang dilakukan seolah dia tidak ada di sana. Tapi itu tidak menyinggungnya. Lebih terasa seperti ketulusan warga desa yang belum mengenal konsep privasi kota.
Di lapak baju, Reyna berhenti. Ada daster motif bunga, kemeja batik, hingga kaos polos. Tangannya bergerak otomatis ke arah yang paling sederhana. Dua kaos polos, satu kemeja batik, dan satu celana panjang katun.
"Total seratus delapan puluh ribu, Mbak."
Reyna menghentikan gerakannya. Seratus delapan puluh ribu untuk semua itu? Ada refleks perhitungan di kepalanya yang tahu bahwa angka itu sangat jauh dari harga pakaian yang biasanya dia beli. Tapi bukan karena mahal, justru karena terlalu murah.
"Saya tidak bawa dompet," kata Reyna, baru sadar.
Bu Parti langsung menyodorkan uang. "Nanti diganti kalau sudah ada. Pak Dok sudah titip uang tadi pagi sebelum ke puskesmas. Katanya untuk keperluan Nona dulu."
Reyna terdiam. Tadi pagi sebelum ke puskesmas. Artinya sebelum jam lima tiga puluh, Devano sudah memikirkan ini. Refleks pertamanya ingin menolak, tapi Reyna sadar, dalam kondisi ini menolak adalah kemewahan yang tidak dia punya.
"Catat," katanya ke Bu Parti. "Semuanya nanti saya kembalikan."
Sambil menunggu Bu Parti menawar ikan, Reyna duduk di bangku kayu lapak gorengan dengan sebungkus tahu isi panas. Dia memakannya pelan. Di sekelilingnya, pasar bergerak bebas. Tidak ada yang menuntut apapun darinya. Tidak ada yang menunggu keputusan atau tanda tangannya.
"Mbaknya dari mana?" tanya seorang perempuan muda di sebelahnya.
"Jakarta," kata Reyna.
"Wah, jauh. Sudah ke Borobudur?" tanya perempuan itu ramah. "Harus ke sana pagi-pagi sebelum ramai turis. Mbaknya menginap di mana?"
"Di rumah Bu Parti."
"Oh, Bu Parti perawat? Kenal! Mbaknya beruntung, Bu Parti baik sekali. Pak Dok Devano juga baik. Ibu saya pernah ditolong waktu tensinya naik malam-malam, Pak Dok datang dan tidak minta bayaran lebih. Dokter kayak gitu sekarang langka, Mbak. Jarang ada yang mau susah-susah tinggal di desa."
Reyna tidak menjawab. Dia hanya menatap sisa tahu isi di tangannya. Jarang ada yang mau susah-susah tinggal di desa.
Pilihan. Semuanya adalah pilihan. Dan ada sesuatu dalam cara orang-orang di sini bicara tentang Devano yang membuat Reyna merasakan sesuatu yang tidak bisa dia beri nama. Bukan cemburu, tapi sebuah pertanyaan: Apakah hidupku juga pernah membuat orang bisa bicara tentangku dengan cara seperti itu?
....
Bu Parti masuk kerja pukul delapan. Reyna ikut karena duduk diam di kamar dengan langit-langit polos terasa seperti hukuman yang tidak ia mengerti alasannya.
Puskesmas di pagi hari sangat hidup. Kursi tunggu terisi penuh, suara anak kecil yang menolak diukur badannya, dan perawat yang bergerak cekatan.
Devano sudah ada di sana. Tentu saja.
Reyna menemukannya sedang menjelaskan sesuatu kepada seorang bapak tua. Suara Devano terdengar sabar, tidak menggurui, memilih kata-kata sederhana tanpa membuat lawan bicaranya merasa diperlakukan seperti anak kecil. Reyna duduk di kursi tunggu paling ujung, mengamati cara Devano memeriksa bayi yang rewel dengan gerakan yang terbiasa. Seperti seseorang yang tidak takut pada hal-hal yang kecil dan rapuh.
"Kamu tidak berubah,"
Itu kata Devano semalam, tapi Reyna berpikir siapa yang sebenarnya tidak berubah? Dia yang amnesia, atau laki-laki itu yang memilih untuk tidak berubah dengan sangat sadar?
"Nona Reyna," Bu Parti muncul dari koridor. "Pak Dok tanya kalau Nona mau, bisa bantu di sini. Tidak yang berat. Cuma bantu rekam medis atau input data."
Reyna mengangguk. Sesuatu dalam dirinya tidak bisa duduk diam.
Sistem rekam medis di sana ternyata gabungan antara buku tulis lusuh dan spreadsheet Excel di komputer tua. Bu Parti mengajarinya hanya sepuluh menit, lalu meninggalkan Reyna dengan tumpukan map plastik. Begitu menyentuh keyboard, sesuatu dalam diri Reyna yang terbiasa dengan data dan sistem langsung bekerja otomatis.
Pukul 11.30 WIB, ruang tunggu telah lengang. Reyna sudah selesai dengan mapnya, tapi dia malah asyik melihat data kunjungan pasien tiga bulan terakhir. Pikirannya mulai melihat pola.
"Kamu sedang menganalisis data pasien saya."
Reyna menoleh. Devano berdiri di ambang pintu, sudah melepas jas putihnya.
"Pola kunjungannya menarik," kata Reyna. "Ada spike (lonjakan) di minggu kedua bulan lalu. Dua kali rata-rata normal. Kasusnya apa?"
Devano mendekat dan duduk di kursi sebelahnya. Tidak terlalu dekat, tapi dalam jarak yang bisa melihat layar yang sama. "Wabah diare kecil-kecilan. Sumber air di dusun sebelah terkontaminasi."
"Kalau data ini dilaporkan dengan format kementerian, ada kemungkinan dapat anggaran tambahan untuk perbaikan sistem air," Reyna menjelaskan. "Tapi pelaporan selama ini belum pakai format itu."
Devano diam sebentar. "Kamu tahu tentang format pelaporan kesehatan pemerintah."
"Tampaknya begitu. Saya tidak tahu dari mana."
"Memori prosedural," kata Devano tenang. "Kemampuan teknis tersimpan di jalur otak yang berbeda dari memori pribadi. Makanya kamu masih bisa analisis data, tapi tidak ingat pernah belajar melakukannya."
Reyna menoleh ke arahnya. Dari jarak satu kursi, dia bisa melihat detail yang tak terlihat dari jauh: garis-garis halus di sudut mata Devano dan bekas luka kecil di bawah alis kirinya.
"Dev," katanya.
Devano menoleh. Tepat saat mata mereka bertemu, sesuatu terjadi. Sangat kecil dan sebentar. Reyna melihat persepsi aneh di tepi penglihatannya: sesuatu seperti cahaya atau retakan tipis di sekitar Devano. Warnanya biru kehijauan yang sangat pucat, seperti warna langit dua menit sebelum matahari terbit. Begitu cepat ia melihatnya, warna itu hilang.
Reyna berkedip, jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. "Tidak... tidak ada," katanya sambil mengalihkan pandang kembali ke layar.
Pukul 13.00 WIB.
Mereka makan nasi bungkus di teras belakang puskesmas. Bu Parti bercerita tentang pasien, dan Devano mendengarkan sambil tersenyum di waktu yang tepat.
"Nona Reyna tadi jago banget input data," puji Mbak Sari, perawat lain. "Kerja di bidang apa di Jakarta, Mbak?"
Reyna membuka mulut, tapi Devano memotong halus. "Bisnis," katanya.
Hanya satu kata, tapi Reyna tahu itu adalah perlindungan yang tidak diminta namun diberikan. Devano tahu bisnis adalah versi paling aman dari kenyataan yang belum siap dijelaskan.
Pukul 15.45 Devano sedang menulis laporan di ruang periksa, pintu setengah terbuka. Reyna di depan komputer, baru saja menyelesaikan template laporan Kemenkes.
"Dev," panggil Reyna tanpa mengangkat mata dari layar.
"Hm."
"Di Jakarta dulu—apa yang sering kita lakukan?"
Suara mengetik di ruang sebelah berhenti. "Banyak hal," jawab Devano akhirnya. "Kamu suka ke toko buku. Masuk tidak niat beli apa-apa, tapi keluar selalu bawa tiga buku. Tidak pernah dua atau empat."
Reyna diam, tangannya membeku di atas keyboard.
"Kamu suka makan di tempat yang tidak terlalu terang. Dan kamu tidak suka kalau ada yang membuat keputusan untukmu, meski keputusan itu bermaksud baik. Kamu selalu perlu merasa bahwa pilihan itu milikmu."
"Itu masih berlaku sekarang," kata Reyna pelan.
"Tahu."
"Tapi kamu tetap kirim uang tadi pagi untuk belanja. Dan minta Bu Parti menjaga saya."
"Kondisimu belum stabil. Itu alasan medis."
"Bukan karena alasan lain?"
Jeda itu terlalu panjang untuk dianggap netral. Devano akhirnya mengalihkan topik. "Tidur cukup semalam?"
"Cukup. Tapi sebelum tidur, ada suara yang hampir terdengar. Suaramu, bilang sesuatu yang tidak jelas."
Hening.
Kali ini hening yang terlalu penuh untuk diisi kata-kata.
Lalu pukul 17.30 Reyna berdiri di ambang pintu belakang, menatap kucing oranye di atas dinding bata. Devano muncul di belakangnya.
"Siap pulang?"
"Sebentar. Dev, tadi di dalam, aku melihat sesuatu. Di sekitarmu. Warna biru kehijauan yang sangat pucat."
Langkah kaki Devano berhenti. Matanya menatap Reyna dengan cara yang berbeda. "Artinya mulai kembali," katanya pelan.
"Kamu tahu tentang ini?"
"Kamu yang cerita padaku. Dulu. Itu bukan tidak normal, hanya langka."
"Ceritakan."
Devano menatap langit yang hampir habis jingganya. "Malam ini. Di teras lagi. Karena ceritanya panjang dan kamu butuh perut kenyang untuk mendengarnya."
Reyna menatapnya beberapa detik, lalu berjalan masuk ke dalam. Devano tinggal sebentar di ambang pintu, menatap kepalan tangannya sendiri yang terasa hangat. Dia mengambil tasnya, siap menuju rumah Bu Parti untuk makan malam yang sudah pasti disiapkan dengan porsi berlebih.