Makan malam kali ini adalah ayam kampung yang dibumbui kuning ala masakan Bu Parti. Hidangan yang rupanya sudah jadi legenda di lingkungan sekitar. Bumbunya meresap sampai ke tulang, digoreng kering di menit terakhir hingga kulitnya kecokelatan dan renyah.
Bagas makan dengan semangat luar biasa untuk ukuran tubuh kecilnya. Pak Warto menghabiskan tiga piring tanpa banyak bicara, tapi ekspresi puasnya lebih jelas daripada kata-kata. Devano makan dengan kecepatan teratur. Tidak terburu-buru, tapi efisien. Cara makan seseorang yang tubuhnya telah terbiasa disiplin, bahkan untuk hal yang seharusnya dinikmati santai.
Reyna memperhatikan semua itu. Tanpa sadar, tangannya bergerak mengambilkan sepotong ayam bagian d**a untuk Devano, bagian yang tidak terlalu Reyna suka karena kering, dan mengambil potongan paha yang lebih kecil untuk dirinya sendiri.
Devano menatap piringnya, lalu menatap Reyna. Saat itu Reyna sedang mengambil nasi tambahan dan tidak menoleh.
"Kamu tidak suka bagian d**a," kata Devano pelan, cukup pelan agar tidak terdengar Bu Parti yang sedang sibuk mencegah Bagas mengambil ayam keempat.
"Tidak tahu," sahut Reyna sambil duduk kembali. "Mungkin."
"Dulu kamu selalu pilih paha atau sayap."
"Itu ingatanmu, bukan ingatanku."
"Tapi barusan kamu melakukannya lagi."
Reyna menatap piring Devano yang kini berisi potongan paha, lalu beralih ke piringnya sendiri yang berisi potongan d**a. Dia tidak menjawab. Namun, ada sesuatu di dadanya yang berdesir. Sesuatu yang kecil, yang tidak meminta izin untuk hadir dan telah bergerak bahkan sebelum dia sempat melarangnya.
"Pak Dok!" teriak Bagas dari ujung meja. "Besok Bagas boleh ikut ke puskesmas tidak?"
"Masih mau mengoleksi jarum suntik?"
"Bukan. Mau lihat Mbak Reyna kerja."
Semua orang di meja menoleh ke arah Bagas. Anak itu menatap balik dengan kepolosan absolut khas bocah delapan tahun yang belum tahu ada kalimat yang lebih baik disimpan sendiri.
Bu Parti tertawa, Pak Warto mengambil paha ayam terakhir dengan tenang, dan Devano, dia meminum air putihnya dengan saat yang terlalu tepat, seolah sedang menyembunyikan sesuatu di wajahnya.
Lalu lukul 20.30 Bagas telah tidur. Bu Parti dan Pak Warto juga sudah masuk ke kamar setelah berpamitan hangat. Rumah itu kini tenggelam dalam keheningan yang berbeda dari siang tadi. Lebih berat dan terasa lebih penuh.
Reyna duduk di teras belakang ketika Devano keluar membawa dua gelas teh. Ini malam kedua, namun ritual singkat ini sudah terasa seperti kebiasaan yang telah lama ada. Devano duduk di kursi yang sama dan menyerahkan gelas yang sama.
Langit malam ini sangat bersih. Tanpa awan, bintang-bintang terlihat berkilauan dengan cara yang mustahil ditemui di kota. Langit benar-benar penuh bintang, seperti seseorang menumpahkan butiran garam di atas beludru hitam.
Reyna mendongak. "Di Jakarta, langitnya tidak kelihatan seperti ini," katanya. Sebuah keyakinan yang muncul entah dari mana.
"Tidak akan," jawab Devano sambil ikut menatap langit. "Pertama kali aku ke sini, aku diam di halaman hampir satu jam hanya untuk melihat ini."
Reyna menoleh. "Kamu tidak biasanya memakai kata 'aku'."
Devano terdiam sejenak. Ekspresi tipis melintas di wajahnya. "Kebiasaan lama."
"Dulu kamu memakai 'aku'?"
"Dulu." Devano meneguk tehnya. "Saat sedang tidak bertugas."
"Ini bukan jam kerja."
"Kamu pasienku, Rey."
"Malam ini kamu mau bercerita tentang sinestesiaku," Reyna menatapnya lurus. "Itu bukan percakapan antara dokter dan pasien."
Devano tidak langsung menjawab. Di atas mereka, bintang-bintang seolah membeku.
"Baiklah," kata Devano akhirnya. "Aku."
Kata itu terdengar sangat berbeda dari 'saya'. Lebih kecil, lebih hangat, dan jauh lebih dekat. Sebuah kata yang sanggup mengubah jarak di antara mereka. Reyna merasakannya, tapi dia memilih untuk tetap diam.
"Ceritakan padaku," pinta Reyna.
Devano meletakkan gelasnya di lantai teras dan bersandar. Dia menatap kebun yang gelap di depannya.
"Kamu menceritakannya pertama kali saat kita baru kenal," kenang Devano. "Semester tiga. Aku di kedokteran, kamu di manajemen bisnis. Kita di kantin yang sama, di meja yang penuh sesak kecuali satu kursi di depanku. Kamu duduk tanpa bertanya, membuka buku, dan mulai membaca. Kita tidak bicara selama dua puluh menit pertama."
Sudut bibir Devano bergerak tipis. "Aku yang akhirnya bicara duluan karena merasa aneh. Kamu berkali-kali melirik ke arah meja sebelah. Bukan ke orangnya, tapi ke udara di atas mereka."
"Dan kamu bertanya?"
Devano mengangguk. "Awalnya kamu bilang tidak ada apa-apa. Aku bilang kamu bohong karena aku sudah menghitung kamu melirik ke sana sampai tujuh kali."
Reyna merasakan gema dari ingatan itu. "Kamu sampai menghitungnya."
"Kebiasaan buruk." Devano memutar gelasnya di lantai dengan satu jari. "Akhirnya kamu bercerita. Tidak langsung. Kamu memang tidak pernah bicara blak-blakan. Kamu menceritakannya sedikit demi sedikit, malam demi malam."
"Berapa lama sampai kamu tahu semuanya?"
"Tiga bulan." Ada nada antara gemas dan sayang dalam suara Devano. "Kamu adalah orang yang paling sulit diajak bicara tentang dirimu sendiri."
Reyna menatap teh di gelasnya. "Tapi akhirnya aku cerita."
"Ya. Kamu bilang kemampuan itu sudah ada sejak kecil. Saat orang berbohong, kamu melihat sesuatu di udara sekitar mereka. Seperti retakan kaca yang berwarna abu-abu."
"Lalu warna biru kehijauan tadi?"
"Itu berbeda." Devano menoleh ke arahnya. "Itu bukan bagian dari cerita yang pernah kamu bagi tentang pembohong. Kamu tidak pernah bercerita tentang warna lain."
Reyna menatapnya dalam. "Tapi kamu tidak terkejut saat aku mengatakannya."
"Aku..." Devano memilih kata dengan hati-hati. "Aku punya dugaan. Tapi dugaan itu milikku, bukan milikmu. Rasanya tidak adil kalau aku yang menentukan artinya untukmu."
"Katakan saja dugaanmu, Dev."
Nama itu, diucapkan Reyna dengan lembut namun tegas, membuat Devano terdiam. Angin malam lewat membawa bau tanah basah.
"Sinestesia itu," kata Devano akhirnya dengan suara pelan, "mungkin bukan cuma soal bohong atau tidak. Tapi tentang apa yang tersembunyi. Apa yang seseorang tutupi di bawah permukaan. Abu-abu retakan itu warna kebohongan aktif—niat untuk menipu. Tapi warna lain mungkin..."
"Mungkin apa?"
"Mungkin sesuatu yang disembunyikan bukan karena ingin menipu, tapi karena belum siap untuk dilepaskan."
Hening tercipta di antara mereka. Reyna menatap profil wajah Devano di bawah cahaya lampu teras yang remang.
"Kamu sedang menyembunyikan sesuatu," simpul Reyna. "Dan itulah yang aku lihat. Bukan kebohongan, karena sejak aku bangun di puskesmas, kamu tidak pernah berbohong padaku. Kamu hanya menahan sesuatu."
Devano akhirnya menoleh. Di bawah langit penuh bintang Magelang, mata mereka bertemu. Tidak ada yang berpaling.
"Apa yang kamu sembunyikan, Dev?"
Devano menarik napas panjang. "Banyak hal. Tapi yang paling besar adalah... fakta bahwa aku tidak pernah bisa marah padamu."
Reyna tidak bergerak sedikitpun.
"Sepuluh tahun," lanjut Devano, suaranya kini bergetar samar di balik ketenangannya. "Semua orang yang tahu cerita kita bilang aku seharusnya benci padamu. Aku seharusnya sudah lama selesai denganmu. Tapi aku tidak bisa. Dan itu jauh lebih menyakitkan—tidak bisa marah pada orang yang sudah menyakitimu. Marah itu ada ujungnya, tapi apa yang kurasakan ini... tidak punya batas."
Reyna merasa sesak. "Aku menyakitimu, kan?"
"Ya."
"Dan kamu tetap merawatku? Menjagaku? Memastikan aku punya baju dan tempat tinggal? Melindungi identitasku?"
"Kamu pasienku, Rey."
"Dev." Panggilan itu terdengar seperti peringatan lembut.
Devano memejamkan mata sejenak. "Kebiasaan," gumamnya pelan.
Angin terasa makin dingin. Reyna menarik cardigan pinjaman dari Bu Parti. Tanpa kata, Devano berdiri, masuk ke rumah, dan kembali membawa selimut tipis yang ia letakkan di sandaran kursi Reyna.
"Aku tidak kedinginan," elak Reyna.
"Ambil selimutnya, Rey." Suaranya tidak keras, tapi penuh perhatian yang tidak bisa ditolak.
Reyna mengambil selimut itu, melipatnya di pangkuan. "Dulu kamu juga begini. Perhatian pada hal-hal kecil tanpa diminta."
"Kamu ingat?"
"Tidak. Tapi tubuhku yang ingat."
Mereka kembali terdiam. Menatap langit yang luas.
"Di Jakarta dulu, saat kita masih bersama... apa kamu bahagia?" tanya Reyna jujur.
Devano tidak langsung menjawab. Sebuah bintang jatuh melintasi langit. "Waktu itu, aku tidak punya kata lain selain 'iya'."
"Tapi sekarang?"
"Sekarang kata itu terlalu sederhana. Dulu aku pikir bahagia itu stabil, bisa dipegang. Ternyata tidak. Bahagia itu seperti cahaya yang masuk dari celah. Tidak konstan, tapi saat cahaya itu ada, dunia terlihat berbeda."
"Dan sekarang?"
Devano menoleh. "Celahnya masih ada. Hanya tidak aku buka."
Reyna menatap langit lagi. "Aku tidak ingat menyakitimu, tapi aku tahu aku melakukannya. Dan aku tidak tahu apakah nanti saat ingatanku kembali, aku punya alasan yang cukup baik untuk itu." Reyna menoleh ke arah Devano. "Aku cuma minta satu hal. Kalau nanti ingatanku kembali, jangan langsung pergi. Beri aku waktu untuk menjelaskan."
Devano menatapnya lama sebelum akhirnya menjawab, "Ya." Satu kata yang terasa seperti janji berat.
Reyna mengangguk. Tanpa direncanakan, tangannya di sandaran kursi bergeser mendekat ke arah tangan Devano. Hanya tersisa jarak setengah jengkal. Devano menatap jarak itu, tidak menjauh, tapi juga tidak menyentuhnya.
"Dev, terima kasih. Karena tidak meninggalkanku di tikungan itu."
Devano berdiri, mengambil gelas kosong. "Tidak ada yang kutinggalkan di sana. Sudah malam, istirahatlah."