“Ranggaaa, Gaaa, kau membuatku basah sayang,” rintih Zahra, meski tertahan oleh gaun yang ketat, Zahra masih bisa merasakan bagaimana jari-jari Rangga mengusapi vagginanya. Putting mungilnya yang mengeras tak lepas dari remasan tangan kiri Rangga.
“Ranggaa, Aku ngga tahan, sayaang,” mata indahnya menatap Rangga, meminta sebuah penyelesaian, berharap lelaki itu membawa tubuhnya ketempat yang sunyi dan memberikan kenikmatan yang tengah diidamkan oleh vaggina mungilnya.
“Jangaaann, cukup seperti ini ya sayang,” jawab Rangga, mengangetkan Zahra.
Berbagai pertanyaan berseliweran diotak dokter cantik itu, Apakah Rangga tidak mencintainya lagi, Apakah Rangga sudah tidak menginginkan tubuhnya lagi,
Zahra termenung, kembali merapatkan tubuhnya kedadda si lelaki, nafsu yang bergemuruh dengan cep