Matahari sudah mulai nampak memperlihatkan sinarnya yang paling terang. Tentu saja pagi mulai menyapa makhluk di muka bumi ini. Tapi sayangnya membuat pemuda yang tengah asik bergulung di bawah selimut itu harus terusik. Seketika mata bulan yang terpejam itu langsung tersadar. Dia bangun dengan cemberut sambil memegangi dahinya, tidak panas. Lalu kenapa suara gedoran pintu itu sangat keras sekali. Oh, jangan!
Wajahnya nampak pucat. Dia harus apa sekarang? Yang terpenting harus menghindari orang yang berada di Mansion mewah ini. Mau jadi apa jika sudah berurusan dengan semua orang yang berada di rumah ini.
Dengan napas memburu, tanpa meraup wajahnya dengan air terlebih dahulu—boro-boro sikat gigi dia langsung berlari ke arah balkon dengan cepat.
"Iqbal?"
Tunggu, suara itu sangat terdengar keras dan tak henti-hentinya menggedor pintu kamarnya. Sampai membuat Iqbal yang berada di tepi balkon semakin menguatkan nyalinya.
"Aduh, Iqbal harus gimana nih?" Tanyanya entah ke siapa.
"Iqbal buka pintunya sayang! Mama udah tahu kalau kamu sudah bangun."
"Iqbal buka pintunya atau papa yang bakal dobrak?"
Iqbal tersenyum, dia sudah memiliki ide. Tapi apakah mungkin dia akan melakukannya, bukankah ini terlalu tinggi? Ayolah, dia laki-laki harus berani tidak boleh takut.
Iqbal menarik napas panjang lalu mengeluarkannya dengan perlahan. Semoga saja hal yang tidak diinginkan tidak terjadi.
"Iqbal!"
Keringat dingin sudah menempel pada wajah tampan Iqbal. Angin pagi pun menyibak rambutnya yang langsung berantakan. Perlahan dan sangat hati-hati, dengan tangan yang menopang sisi batang pohon yang menjulang di dekat balkonnya Iqbal memutuskan turun lewat situ.
Iqbal gelagapan sendiri melihat ke arah bawah. Terlebih dahulu dia mengambil ancang-ancang untuk anjlok ke bawah. Oke, nyalinya perlu diperbesar!
1... 2... 3...
Brukkk
Oh, ya Tuhan ini sangat sakit sekali. Iqbal mengelus kedua lututnya karena salah bertumpuan pada tanah. Tidak apa, yang penting dia bisa menghindar dari kedua orang tuanya bila keselamatannya mulai terancam.
Yang harus Iqbal lakukan saat ini adalah mengumpet. Tapi di mana? Iqbal berjalan dengan mengendap ke arah dekat kolam renang, mungkin di sini Iqbal akan bersembunyi.
"Iqbal?"
Gawat! Iqbal menggigit jari tangannya. Bagaimana ini? Kakinya semakin gemetaran, sampai tidak disadari dirinya terlalu dekat dengan kolam renang. Sampai kakinya melangkah mundur dan—
Byurrrrr
Iqbal kelimpungan sendiri kala tubuhnya terhempas ke kolam renang. Mungkin ini karma karena dia belum mandi dan malah menghindar dari kedua orang tuanya. Untung Iqbal sedikit bisa berenang jadi dia tidak tenggelam.
"Tante! Om! Iqbal ada di bawah nih, dia kecebur ke kolam renang, hahaha..."
Bukannya menolong Iqbal, cewek tadi yang berteriak sampai hampir membuat Iqbal mati tenggelam malah tertawa cekikikan. Huh, Iqbal sangat dibuat kesal sekali.
Lalu datanglah lelaki paruh baya dengan setelan jas hitamnya dan wanita paruh baya diikuti dengan beberapa orang di belakangnya.
"Mana-ya ampun Iqbal kamu ngapain sayang di situ." Mama Iqbal merubah raut wajahnya menjadi sangat panik.
Iqbal naik dibantu uluran tangan papanya. Saat sudah ada di permukaan lantai terlebih dahulu Iqbal menenangkan detak jantungnya yang terpompa kencang sambil menyetabilkan deru napasnya yang tidak karuan.
"Bi, tolong bawain handuk!" Perintah Mama Iqbal pada wanita yang lebih tua darinya dengan pakaian khas maid.
Iqbal berdiri dipapah oleh papanya. Tapi Iqbal kicep, bagaimana kalau dia dimarahi? Sudah nasib.
"Kamu ini bandel banget sih." Serang papanya tiba-tiba. Mamanya hanya geleng-geleng kepala sambil berkaca pinggang.
Pembatu yang disuruh tadi datang dengan terburu-buru, takut anak majikannya kedinginan. Lalu langsung memberikan handuk berwarna biru dongker itu pada Mia, mama Iqbal.
"Marahi tuh om, ngeyel tuh anak." Kompor cewek yang sedari tadi hanya berdiam di situ tanpa mengubah posisinya.
Iqbal melotot, "Enggak kok, Iqbal gak bandel pa..." Ucapnya sedikit memelas. Dia juga agak membenahkan letak handuk yang diselimutkan mamanya.
"Kenapa kalau gak bandel bisa ada di sini? Enggak buka pintunya tadi?" Tanya papanya semakin menjadi-jadi.
"Iqbal... Iqbal... Iqbal-"
"Tuh kan om, ngeyelnya mulu."
"Milay ngapain sih ikut-ikutan?" Gerutu Iqbal sebal.
"Yah, serah gue lah." Jawab cewek tadi yang bernama Milay sambil melipat kedua tangannya di bawah d**a.
Iqbal sangat sebal, wajahnya kini dia tekuk. "Iqbal ngambek." Ucapnya lalu pergi.
Kedua orang tuanya yang mengetahui kelakuan Iqbal hanya bisa geleng-geleng kepala sambil membuang napas berat.
"Om, tante. Tenang aja, Iqbal biar aku aja yang urus."
"Ya udah sana!" Jawab Papa Iqbal.
Kini Milay juga mengikuti langkah Iqbal yang ternyata kembali ke dalam kamarnya. Iqbal pun juga belum sadar bahwa dia diikuti seseorang di belakangnya. Sampai dia tiduran di kasur pun Iqbal masih belum sadar.
"Bocah!" Iqbal terperanjat, pasalnya suara itu merangsang sampai ke seluruh tubuhnya.
"Milay ngapain ngikutin Iqbal?" Iqbal bangkit menatap Milay tidak suka.
"Kalo baju basah ya ganti dulu. Lo bisa sakit bodoh!" Bisa dikatakan mulut Milay ini sangat pedas.
Wajah Iqbal bertambah murung, "Iqbal bukan anak kecil!"
"Bukan anak kecil kok kalo ngomong masih pakek panggilan nama." Remeh Milay.
"Kata Kak Naro enggak sopan kalau pakek elo-gue." Jawab Iqbal tak mau kalah.
"Ya elah, umur lo udah 16 tahun. Lo udah dewasa kan kalau pakek panggilan kayak gitu. Udah tua juga, masih kayak bocah."
Iqbal melotot, "Iqbal sama Milay tuaan siapa, tuaan Milay kan?"
"Kita itu cuma beda 10 jam Iqbal!" Gemas Milay.
Iqbal mengacuhkan Milay dia membuang muka ke sembarang arah, lebih tepatnya dia menatap pohon mangga yang pakai untuk turun ke bawah. Yang penting bukan menatap Milay.
"Mau ikut gak?" Ucap Milay dalam posisi bersandar di ambang pintu sambil melipat kedua tangannya di bawah d**a. Itu sudah menjadi kebiasaannya.
"Ke mana?"
"Banyak tanya sih lo. Mau ikut atau gak nih?"
"Kan kalau Iqbal gak tanya jadinya Iqbal ragu Milay mau ngajak ke mana. Iqbal gak mau." Jawabnya polos.
"Iqbal, gue cuma ngajak lo jalan elah. Gue gak bakal ngajak lo yang aneh-aneh."
"Beneran? Gak ngajak Iqbal ke tempat itu kan?" Tanya Iqbal menyelidik.
Milay menatap Iqbal dengan tatapan datar lalu memutar kedua bola matanya malas. "
"Gue bukan orang tua lo ya. Mana mungkin gue ngajak lo ke sana."
"Ya udah Iqbal, mau. Tapi beneran kan-"
"Iya Iqbal, lama-lama mulut lo gue jahit ya."
"Mulut Iqbal bukan kain Milay mana bisa dijahit."
"Serah!"
Iqbal terkikik geli. Dia langsung pergi ke kamar mandi tentu saja untuk mandi dan beres-beres supaya tidak lengket. walaupun Iqbal tadi secara tidak langsung sudah mandi.
Lalu Milay memasuki kamar Iqbal yang sedikit berantakan dan merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur bocah itu. Menurutnya menunggu Iqbal mandi itu seperti menunggu donasi satu milyar. Lama sekali! Sungguh Milay tidak kuat.
∆∆∆
TBC