Milay berulang kali mengangkat pergelangan tangannya yang terlilit jam tangan berwarna hitam kecil, guna melihat sudah seberapa lamanya dia menunggu. Tiga puluh empat menit. Oke, Iqbal sedang bersemedi di dalam kamar mandi. Milay mendengus sebal.
"Lama banget sih tuh bocah." Gerutu Milay sambil menendang meja.
Milay sekarang sudah berganti tempat, 15 menit yang lalu Milay memilih turun menunggu di ruang tamu daripada harus berdiam diri di kamar Iqbal.
Sesekali Milay sambil memakan keripik kentang yang diambilnya dari dalam dapur. Jangan heran, Milay sudah biasa melakukan hal seperti itu di rumah Iqbal.
Tiba-tiba suara dentuman sepatu terdengar dari lantai atas. Iqbal buru-buru turun dari tangga, bukannya menghampiri Milay, bocah itu malah pergi menyelonong ke arah ruang tengah.
Milay hampir marah banget, menunggu lama sekali berujung diabaikan. Milay memilih bangkit sambil mendengus dengan wajah masam.
"IQBAL!!!"
Iqbal berhenti, meringis sambil menutup kedua telinganya dengan erat karena pekikan Milay tidak main-main. Dia berbalik dan menghampiri Milay yang sudah berkaca pinggang menatapnya marah.
"Kenapa Milay?" Cicit Iqbal pelan sambil menunduk.
"Lo bilang kenapa anjing? Woy! Gue udah nunggu lo mandi yang lama banget dan sekarang lo main nyelonong gitu aja?" Bentak Milay membuat Iqbal semakin menunduk takut.
"Iqbal mau ijin ke mama papa dulu." Jawabnya lesu.
Milay menghela napas karena melihat Iqbal yang ketakutan, "Iqbal, om sama tante dari tadi udah berangkat ke kantor katanya ada urusan mendadak."
"Oh, ya udah. Ayo Milay berangkat sekarang." Iqbal menggenggam tangan Milay lalu mengajaknya keluar dari rumah. Milay tidak meronta dia pasrah daripada banyak cek-cok yang berujung Iqbal menangis karena bentakan. Asal kalian tahu nyali Iqbal sangat ciut jika sudah dibentak.
Iqbal celingak-celinguk, matanya mencari sesuatu. Melihat itu Milay menautkan kedua alisnya heran.
"Lo cari apa?"
"Kita pake apa?"
"Pakek mobillah! Ogah gue jalan kaki." Milay berjalan duluan dan masuk ke dalam mobil porch yang sudah terparkir apik di depan mansion megah Iqbal.
Iqbal mengikuti saja lalu ikut masuk ke dalam mobil dan duduk di samping kemudi. Setelah memakai sabuk pengaman Milay langsung mengemudikan mobilnya dengan santai.
"Milay?" Panggil Iqbal kemudian.
"Apa?" jawab Milay jutek.
"Hari ini hari apa, kok Milay gak sekolah?" Tanya Iqbal dengan memasang wajah polos, sepolos-polosnya.
"Kepo banget lo."
"Iqbal gak kepo, cuma pengen tau aja."
"Sama aja kali." Milay masih mengemudi dengan tenang sesekali dia menatap Iqbal yang jengkel.
"Beda!" Sergah Iqbal.
Milay memutar bola matanya malas dan berucap dengan malas pula, "Hari ini hari senin Iqbal, gue gak sekolah karna kelas sepuluh sama kelas sebelas diliburin."
"Kok diliburin, kenapa emang?" Tanya Iqbal dengan wajah terkejut.
"Lebay lo. Gak tau lah, tanya aja sama bokap lo."
Iqbal cemberut enggan menanggapi perkataan Milay lagi. Dia memilih melihat ke luar kaca mobil sambil memicingkan matanya karena sinar matahari yang menyilau.
Panas banget, gerutunya dalam hati.
Milay mengerem mobilnya. Kali ini mereka berdua sudah sampai di tempat yang ingin dituju Milay sejak kemarin malam. Menurut Milay tidak masalah Iqbal yang harus menemaninya. Wajahnya tidak buruk, malah sangat tampan apalagi ditambah kulit Iqbal yang sangat putih bersih dan sedikit pucat.
Tapi satu hal yang membuat Milay sebal. Sedari tadi kepolosan Iqbal tidak bisa dicegah. Bagaimana bisa Iqbal berucap dengan mata berkedip lucu dan tidak merasa malu.
"Milay ini di Mall ya?" Iqbal sambil celingak-celinguk melihat orang-orang yang lalu lalang.
"Iqbal kalo udah tau gak usah nanya. Bikin malu aja." Milay mendumel tidak jelas dirinya langsung meninggalkan Iqbal begitu saja menuju salah satu toko boneka.
Mengetahui itu Iqbal langsung mengikuti Milay. Menurutnya kali ini Iqbal sangat menyesal sekali. Dia sedari tadi hanya mengikuti Milay yang masuk toko ini keluar toko itu dan seterusnya.
"Milay? Milay mau beli apa sih?" Tanya Iqbal yang sudah lelah menemani Milay berbelanja. Masih untung kalau membeli, lalu ini? Milay hanya melihat dan belagak ingin membeli saja.
"Lihat-lihat dulu aja Bal." Milay menaiki eskalator lalu diikuti Iqbal dengan wajah berlipat-lipat cemberutnya.
Kali ini Iqbal tidak mau mengalah, hampir dua jam dia menemani Milay mengelilingi Mall sebesar ini namun belum juga membeli sesuatu. Tenaganya sudah hilang sekarang. Napas Iqbal perlahan ikut memburu.
"Milay?" Panggil Iqbal membuat Milay berhenti di depan salah satu toko pakaian dan berbalik melihatnya dengan sebal.
"Apa sih Bal?"
"Iqbal tadi udah ngitung berapa toko yang Milay masuki, terus ini toko ke 23 Milay masuk dan gak beli apa-apa." Sungut Iqbal marah dengan bibir pucat yang bergetar.
"Ya emang kenapa? Kita kan cuma liat-liat doang aja, gak beli."
Milay malah semakin menyelonong pergi melanjutkan misi ingin tahu ke setiap toko di dalam Mall. Melihat-melihat bran apa saja yang keluar hari ini dan barang-barang terbaru dari perancang yang tersohor.
Iqbal tidak ada pilihan lagi selain mengikutinya.
Setelah masuk dan melihat baju-baju mahal—tidak membelinya—tapi Milay hanya memfotonya untuk pamer ke teman-temannya.
Entah kenapa kali ini Iqbal sungguh sangat lelah sekali. Dia mengatur napasnya yang mulai sesak. Kali ini kepalanya juga pusing ditambah Iqbal belum menyentuh makanan sepeserpun hanya minum air putih saja.
"Milay?" Panggil Iqbal lirih hampir terdengar seperti bisikan.
Milay masih fokus menatap dress yang terpajang di kaca balik standing. Dirinya menjawab hanya sebatas dehaman tanpa menatap Iqbal.
"Milay!"
"Pulang!"
"Ayo pulang Milay.."
Berulang-kali Iqbal merengek ingin pulang tapi Milay lagi-lagi hanya mendengus.
"Bentar, gue masih pengen liat-liat kalo ada yang bagus beli abis ini kita makan."
"Pulang Milay!"
Milay menghela napas dia menghentikan aksinya lalu berbalik menatap Iqbal, namun sedetik kemudian raut wajahnya berubah panik.
"Iqbal, lo... gak papa kan?"
"Pulang!"
"Eh, iya-iya kita pulang sekarang."
Wajah Iqbal terlihat sangat pucat sekali. Bisa dia rasanya kepalanya sedikit berputar. Milay yang melihat itu cepat-cepat langsung membawa Iqbal ke basement tempat mobilnya terparkir.
Milay menggandeng tangan Iqbal, takut-takut tubuh Iqbal hilang keseimbangan.
"Milay panas." Ucap Iqbal dengan wajah tertunduk.
Milay dibuat bingung sendiri dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal, tapi dengan cepat Milay langsung mengangguk dan tersenyum.
"Kita lari ya?"
Iqbal menggeleng.
"Ayolah Bal, panas sedikit gak pa-pa."
"Iqbal nyesel ikut Milay ke Mall."
Iqbal langsung berlari dengan langkah pendek-pendek menuju mobil Milay yang terparkir di ujung.
"Lo kata gue gak nyesel apa. Gue nyesel kali ngajak lo Bal!" Teriak Milay langsung mengundang pasang mata melihatnya membuatnya malu setengah mati, daripada berlama-lamaan di sini Milay langsung ikut berlari mengikuti Iqbal.
Setelah sampai di depan mobil mewahnya, terlebih dahulu Milay mengatur napasnya lalu mengetuk kaca mobil. Iqbal sudah ada di dalam. Milay pun masuk dan memakai sabuk pengaman.
"Iqbal are you okay?" Milay menggoyangkan lengan Iqbal sedikit kencang.
"Iqbal mau tidur jangan ganggu." Syukurlah Iqbal merespon ucapannya walaupun terlihat jelas betapa pucatnya wajah Iqbal sekarang.
"Tapi jangan pingsan ya, awas aja lo kalo pingsan." Ancam Milay.
"Panas Milay, kepada Iqbal jadi pusing."
Milay meneguk ludahnya susah-susah dan memilih langsung tancap gas.
###