Sudah hampir dua jam Iqbal tertidur pulas. Milay sendiri pun ragu, Iqbal ini sedang pingsan atau tidur. Ah, kan tidak ada tanda-tanda Iqbal sakit. Jadi Milay masih bisa santai.
Berulang kali Milay menguap dia juga merasakan kantuk dan ingin cepat-cepat tidur. Karena sore-sore begini enaknya untuk istirahat. Tapi mengingat dirinya mempunyai amanah untuk menjaga Iqbal. Jadi Milay harus rela membelalakkan kedua matanya.
"Kapan bangun sih?" Milay membuang napasnya berat dia menopang dagunya dengan tangan kiri.
Rasanya melihat Iqbal yang tengah tertidur pulas seperti ini mengingatkannya akan mereka waktu masih kecil. Iqbal tetaplah Iqbal yang selama ini Milay kenal. Tetap polos dengan kelakuan masih seperti anak kecil.
Tin... tin...
Milay terkejut, dia sempat akan terjungkal kalau saja tidak cekatan berpegangan pada kasur Iqbal. Milay bangkit berniat melihat siapa yang baru saja membunyikan klakson mobil dengan keras.
Milay berjalan dengan pelan menuruni tangga dan sampailah dia di depan pintu megah. Milay memegang gagang pintu besar itu dan perlahan menariknya.
"Eh, Kak Naro." Milay meringis sambil menggeser badannya ke samping guna tidak menghalangi Naro untuk masuk ke dalam rumah.
"Iqbal gimana?"
Milay mengigit bibir bawahnya sambil menatap Naro namun bola matanya berubah tidak beraturan menatap sekitaran.
"Gak Kenapa-napa sih kak. Mungkin cuma kecapean aja." Jawab Milay sambil nyengir kuda.
Naro terlihat enggan dia menatap Milay lekat dengan ekspresi datar. Ditatap seperti ini membuat Milay membeku. Bagaimana tidak wajah Narolan Ken Saska yang begitu tampan dengan hiasan otak cerdas, apalagi anak dari keluarga terpandang yang memiliki segalanya. Satu-satunya orang yang bisa diandalkan Tobi karena keseriusan dalam bekerja. Intinya kalau seperti itu Milay maulah menjadi istrinya.
"Memangnya kamu ajak Iqbal ke mana?" Suara Naro yang terkesan dingin menyadarkan Milay dari lamunannya.
"Eh, eum... Milay ajak, Milay ajak. Ke Mall." Kata Milay dengan terbata-bata.
Naro memiringkan kepalanya, tangannya perlahan membuka kancing jas biru dongkernya. Sangat menambah karisma seorang Naro.
"Kenapa kamu ajak ke Mall?"
"Tadinya sih, Milay mau belanja tapi enggak ada temen jadi ajak Iqbal aja." Cicitnya mengundang decakan dari dua belah bibir Naro.
"KAK NARO."
Naro dan Milay spontan membalikkan badannya untuk melihat siapa makhluk yang berteriak kencang itu. Dan ternyata makhluknya ada di tepi tangga dan tak lain adalah Iqbal.
"Kakak udah pulang?" Iqbal buru-buru turun dari tangga.
Naro tersenyum melihat adiknya, "Udah."
"Kenapa turun? Enggak istirahat?" Tanya Naro khawatir.
"Iqbal laper." Iqbal memanyumkan bibirnya membuat Naro gemas dengan adik kecilnya ini.
Naro menatap Milay lagi. Tapi Milay belum sadar kalau dia sedang ditatap. Buktinya Milay masih mendumel sebal tanpa suara.
"Ekhem..." Dehaman Naro membuat Milay terlonjak.
"Sebagai hukumannya, kamu harus masakin buat Iqbal!"
Milay hampir saja tersedak air liurnya sendiri. Dia tidak terima, ya jelas karena Milay tidak bisa memasak. Sudah dipastikan dapur di rumah ini bakalan hancur lebur karena Milay tidak bisa sekedar menyalakan kompor.
"Lah, kok gitu sih kak?"
"Gak ada bantahan cepat kamu masak!"
Milay menghentakkan kakinya di hadapan Iqbal dan seperti biasa Iqbal hanya akan menyimak dengan ekspresi polos. Milay langsung saja pergi ke arah dapur.
Baru kali ini Milay mencoba memasak di dapur orang lain. Di dapur sendiri saja membuat maminya marah, apalagi ini di dapur orang lain.
Milay celingak-celinguk di dalam dapur yang luas ini. Dia merasa heran dengan keluarga Iqbal. Dapur hanya untuk memasak saja luasnya minta ampun. Bagaimana dengan keseluruhan kediaman Saska.
"Pembantu banyak tapi gak ada yang jaga di dapur." Gerutunya.
Milay saat ini ingin sekali menangis lantaran dia benar-benar tidak tahu harus memasak apa untuk Iqbal. Dia hanya mengibas-ngibaskan daun seledri saja.
Dan sampai suara bentakan seseorang membuatnya kaget setengah mati.
"WAAAA..."
"ANJIRRR!"
Milay melotot ternyata ada mahluk selundupan di dapur. Dan ternyata Adeeren Prince Saska anak ketika sekaligus kakak termuda Iqbal.
"Hehe, sorry. Lo ngapain sih di sini, laper? Kenapa gak pesen aja sih."
"Adek lo tuh yang laper." Kata Milay dengan wajah ditekuk.
"Kenapa lo yang masak? Biasanya lo yang makan."
Milay melotot.
"Kak Deren!"
Lelaki yang dipanggil Milay Deren itu malah tertawa terbahak-bahak. Membuat Milay gemas dan mencubit perut Deren yang masih tertutup dengan seragam putih abunya.
"Aduh sakittt..."
"Biarin, biar gak rese."
"Iya-iya sori. Ya udah sini gue bantuin masak buat adek gue tersayang."
"Idih..."
***
Iqbal menutup matanya rapat-rapat sambil meraba di sekitarnya. Naro yang berada di sampingnya dan melihat dengan jelas kelakuan adiknya itu hanya geleng-geleng kepala.
"Iqbal?"
Iqbal membuka matanya dan beralih menatap Naro. "Kenapa?"
"Kamu ngapain kayak gitu?"
Iqbal menggeleng, Naro hampir kewalahan dengan tingkah ajaib sang adik sungguh Iqbal adik kesayangannya.
Naro tersenyum tipis.
"Dari pagi kamu belum makan?" Iqbal menggelengkan kepalanya lagi. "Dan belum minum obat juga?" Iqbal menggelengkan kepalanya lagi dan lagi.
Naro menghela napas. Selalu seperti ini. Bila kedua orang tuanya sudah berurusan dengan pekerjaan mereka dengan entengnya melupakan rutinitas Iqbal selama ini.
Naro terlihat sangat marah namun dia tahan. Bagaimana tidak Iqbal dari pagi belum menyentuh makanan sedikit pun. Anak itu bisa sakit dan berujung drop seperti minggu kemarin.
"Kenapa tadi pagi gak makan dulu?"
"Karna Iqbal belum laper."
"Teng, teng... Masakan chief Milay sama chief resek sudah selesai. Silahkan bocah dimakan." Milay berucap ngawur.
"Kok gue resek sih."
"Bercanda elah." Cengirnya.
Deren tersenyum.
Sedangkan Iqbal menyambut dengan girang dia mencoba mencicipi sup ayam yang dimasak Deren dan Milay. Ya lumayanlah, tidak enak-enak juga.
"Gimana Bal?" Tanya Deren.
"Bias aja."
"Dihabiskan!"
Iqbal menatap Naro dengan lekat lalu dia memicingkan kedua matanya. Selepas itu mengangguk dengan enteng.
Milay, Deren dan Naro hanya memutar bola matanya malas. Iqbal tetaplah Iqbal si bocah polos dengan tingkah yang menyebalkan.
"Ya udah kakak balik ke kantor lagi." Naro bangkit mengulurkan tangannya untuk mengacak-acak rambut Iqbal. Tapi dengan kasar Iqbal langsung menepisnya.
"Nanti Iqbal jadi jelek kalau rambutnya berantakan."
"Gimana pun lo itu tetep jelek kali!"
Semua pun tertawa. Iqbal cemberut dan langsung menghentikan misi makannya. Wajahnya sudah murung dengan mata yang berkaca-kaca. Perubahan mood Iqbal yang terlalu tiba-tiba ini yang membuat Naro selalu mengkhawatirkan adik bungsunya.
"Jangan lupa obatnya diminum."
"Tentang aja kak nanti biar gue yang urus." Kata Deren percaya diri.
Walaupun dalam hati mereka mengurus Iqbal itu seperti mengurus bayi besar yang merepotkan. Memang menyebalkan tapi siapa sangka Deren sangat menyayangi adik kecilnya.
***